17 ALASAN MEMBENARKAN WANITA MENJADI PEMIMPIN DAN ANALISISNYA

Oleh: Muhammad Tholib / Publikasi: Sabtu, 30 Agustus 2014 14:13

1. Alasan ke 1 Tidak ada ayat yang secara tegas melarang wanita menjadi pemimpin
Analisis : Pola kalimat dalam al-Qur’an dalam menetapkan suatu larangan ada kalanya dalam bentuk fiil nahi (larangan) atau fiil nafi (pembatalan umum) atau berupa kalimat berita tetapi maksudnya mengandung larangan. Mengenai larangan dan pembatalan hal ini telah kita fahami bersama, adapun contoh mengenai pengabaran yang bersifat larangan adalah firman Allah surat al baqoroh ayat 228 dan abasa ayat 1-2.
Adapun dalil menenai mengenai larangan wanita menjadi pemimpin pemerintah atau negara disebutkan dalam kalimat berita sebagaimana termaktub dalam al baqoroh ayat 228 :
“Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Syeikh Muhammad Abduh rahimahullah menjelaskan dalam kitabnya bahwa yang dimaksud dengan derajat dalam ayat ini adalah kepemimpinan dan melaksanakan kebaikan .
Orang yang menentang hal ini perlu mendalami bahasa arab supaya mengerti al-Qur’an dan pola-pola kalimat bahasa arab yangberlaku di lingkungan ahli bahasa arab.

2. Alasan ke 2 Surat an Nisa ayat 34 hanya berkaitan dengan kepemimpinan keluarga
Analisis : untuk menguji logika tersebut perlu kita ketahui bersama dengan pikiran yang logis :
• Bila dalam ruang lingkup yang kecil saja Allah Subhanahu wa Ta’alatelah memberikan hak kekuasaan pada laki-laki lantas bagaimana dengan perkara yang besar seperti mengatur negara?
• Pendapat yang mengatakan ayat itu hanya membatasi kekuasaan dalam keluarga maka kita perlu tengok kembali para ulama salaf bahkan ulama sekarang dalam menafsirkan ayat tersebut. Mereka para ulama memberikan penjelasan bahwa kepemimpinan itu adalah kepemimpinan dalam segala aspek kehidupan tidak hanya terbatas pada keluarga. Diantara para ulama tafsir yang berpendapat demikian adalah Syihabuddin al Baghdadi rahimahullah dalam ruhul ma’ani, imam as Syaukani rahimahullah dalam fathul qodir serta imam Thobathaba’I rahimahullah dalam tafsir mizan.

3. Alasan ke 3 Perempuan dan laki-laki sama sebagai kholifah
Analisis : Kata kholifah memiliki tiga makna yaitu :
• Pengganti, seperti termaktub dalam surat al baqoroh ayat 30, dan yunus ayat 14.
• Nabi, seperti termaktub dalam shaad ayat 26.
• Penghuni, seperti termaktub dalam surat al a’raf ayat 129
Dengan demikian jelaslah bahwa apa yang dikoarkan oleh orang-orang bahwa yang dimaksud kholifah adalah pemimpin tidaklah terbukti, karena kholifah sama sekali tidak ada yang bermakna pemimpin. Adapun jika yang dimaksud kholifah adalah Nabi maka sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mengakat dari para Rosul dan Nabi-Nya dari golongan wanita sebagaimana firman-Nya dalam surat Al Anbiya ayat 7 :
“Kami tiada mengutus Rasul Rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang-laki-laki yang kami beri wahyu kepada mereka, Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada Mengetahui”.
Adapun kata kholifah dalam surat al Baqoroh adalah pengganti, dan tidak ada yang mengetahui siapa yang telah digantikan oleh manusia. Akan tetapi sebagian ahli tafsir mengatkan bahwa yang diganti adalah mahluk yang sebelumnya yaitu jin.

4. Alasan ke 4 Laki-laki dan perempuan sama martabat dan harkatnya
Allah Ta’ala berfirman dalam surat al Mukmin ayat 40 :
“Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, Maka dia tidak akan dibalasi melainkan sebanding dengan kejahatan itu. dan barangsiapa mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, Maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezki di dalamnya tanpa hisab”.
Dan dalam surat an Nisa ayat 32 :
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu”.

Analisis : Martabat dan harkat laki-laki dan perempuan dalam mendapatkan pahala dan siksa memang dinyatakan sama oleh Islam. Akan tetapi posisi laki-laki dan perempuan berbeda. Dan ayat 40 surat al Mukmin sama sekali tidak memberikan dasar pengakuan terhadap hak kepemimpinan perempuan dalam masalah pemerintahan dan kenegaraan.
Gerakan perempuan yang menuntut persamaan mutlak dengan laki-laki yang dikenal dengan gerakan gender bukanlah gerakan modern akan tetapi hal ini telah ada sejak zaman jahiliyah yang muncul ditengah-tengah kaum muslimin pada awal berdirinya masyarakat Islam di Madinah seperti tersebut dalam haidits riwayat Tirmidzi dan Hakim.

5. Alasan ke 5 Perempuan juga bertanggung jawab membangun pemerintah
Allah Ta’ala berfirman dalam surat at Taubah ayat 71:
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.
Analisis : Ayat 71 surat at Taubah menegaskan bahwa perempuan sebagai pembantu dan penolong kaum laki-laki dalam membangun masyarakat yang islami tidak lah dituntut untuk beramai-ramai terjun ke masyarakat dengan meninggalkan urusan keluarganya. Dalam praktek riil pada masa Rosulullah Shalallahu ‘alaihi wa Salam yang melaksanakan tugas jihad melawan orang-orang kafir dan munafiq beliau selalu bebankan kepada kaum laki-laki adapun perempuan mereka hanya membantu merawat dan menyiapkan logistic pasukan.
Jika ada yang berkata, kalau begitu dalam urusan menegakan sholat, zakat, menaati Allah Ta’ala dan Rosul-Nya peran wanita juga hanya sebagai pembantu terhadap kaum laki-laki?
Maka hal ini kita jawab bahwa perkara ini adalah berbeda karena sholat, zakat, dan taat kepada Allah Ta’ala dan Rosul-Nya adalah perkara yang fardu a’in (wajib bagi setiap orang) dan tidak dapat dilimpahkan kepada orang lain. Oleh karena itu memahamai ayat 71 di atas tidak lepas sendiri dari kaitan permasalahannya dengan ayat 73.

6. Alasan ke 6 Islam memberi hak politik kepada wanita
Allah Ta’ala berfirman dalam surat As Syuraa ayat 38 :
“Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang kami berikan kepada mereka.”
Analisis : Hak musyawarah bagi perempuan sebagaimana disebut pada ayat tersebut tidak sendirinya dapat dijadikan dasar hukum bahwa perempuan juga mempunyai hak memimpin pemerintah dan negara. Hak seperti ini telah Allah Ta’ala khususkan bagi laki-laki seperti tersebut dalam uraian point 1 dan 2.

7. Alasan ke 7 Al Qur’an mengisahkan adanya kerajaan yang dipimpin oleh seorang wanita Allah berfirman dalam surat Al Naml ayat 22-23 :
Artinya : Maka tidak lama kemudian (hudhud) datang, lalu berakata:”Aku telah mengeathui seseuatu yang tidak engaku ketahui dan aku membawa keapadamu dari negeri saba’ sebuah berita yang benar. Sesungguhnya aku menjumpai seorang perempuan yang memerintah negeri mereka dan dia diberi segalanya serta mempunyai singgahsana yang besar.
Analisis : Bilqis menjadi ratu di negeri Saba’ yang masyarakatnya musyrik. Setelah Bilqis masuk Islam di hadapan Nabi Sulaiman ‘alaihisalam ia tidak lagi kembali menjadi ratu di Saba’. Hal ini menunjukan bahwa syariat pada masa Nabi Sulaiman ‘alaihisalam juga tidak membenarkan wanita untuk menjadi pemimpin negara.

8. Alasan ke 8 Perempuan boleh menjadi imam sholat
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا غَزَا بَدْرًا قَالَتْ قُلْتُ لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ائْذَنْ لِي فِي الْغَزْوِ مَعَكَ أُمَرِّضُ مَرْضَاكُمْ لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَرْزُقَنِي شَهَادَةً قَالَ قَرِّي فِي بَيْتِكِ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَرْزُقُكِ الشَّهَادَةَ قَالَ فَكَانَتْ تُسَمَّى الشَّهِيدَةُ قَالَ وَكَانَتْ قَدْ قَرَأَتْ الْقُرْآنَ فَاسْتَأْذَنَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ تَتَّخِذَ فِي دَارِهَا مُؤَذِّنًا فَأَذِنَ لَهَا قَالَ وَكَانَتْ قَدْ دَبَّرَتْ غُلَامًا لَهَا وَجَارِيَةً فَقَامَا إِلَيْهَا بِاللَّيْلِ فَغَمَّاهَا بِقَطِيفَةٍ لَهَا حَتَّى مَاتَتْ وَذَهَبَا فَأَصْبَحَ عُمَرُ فَقَامَ فِي النَّاسِ فَقَالَ مَنْ كَانَ عِنْدَهُ مِنْ هَذَيْنِ عِلْمٌ أَوْ مَنْ رَآهُمَا فَلْيَجِئْ بِهِمَا فَأَمَرَ بِهِمَا فَصُلِبَا فَكَانَا أَوَّلَ مَصْلُوبٍ بِالْمَدِينَةِ
“Dari Ummu Waroqoh puteri Abdullah bin Naufal al Anshori, sesungguhnya ketika Nabi perang badar, saya berkata kepada beliau :”Wahai Rosulullah izinkanlah saya ikut berperang bersama tuan supaya saya dapat merawat orang-orang yang sakit, sehingga mudah-mudahan Allah memberikan kepadaku kematian syahid. Beliau bersabda :”tinggalah di rumahmu! Sesungguhnya Allah akan memberikan kepadamu kematian syahid. Rawi berkata :” Maka kemudian ia disebut perempuan syahid”. Rawi berkata :”Dia adalah perempuan yang biasa membaca al-Qur’an lalu ia minta izin kepada Rosulullah agar dirumahnya diangkat seorang laki-laki sebagai muadzin. Beliaupun memberi izin. Pada waktu itu ia telah menetapkan seorang budak laki-laki dan budak perempuan menjadi merdeka setelah ia meninggal. Ternyata kedua budak ini pada malam hari pergi ketempatnya, lalu menyekapnya dengan selimutnya sampai mati, lalu kedua orang itu pergi dan pada pagi harinya Umar (mengetahui, lalu dia) memberi tahu kepada orang banyak. Ia berkata :”Barang siapa yang mengetahui atau melihat dua orang budak tersebut, hendaklah dia membawanya kepadaku. Kedua orang itupun ia perintahkan untuk disalib. Inilah kedua orang yang pertama dihukum salib di kota madinah…..”.
Analisis : Keluarga Ummu Waroqoh ketika itu terdiri dari seorang budak laki-laki remaja, seorang budak perempuan remaja dan seorang budak laki-laki yang sudah berusia lanjut. Budak laki-laki yang tua inilah yang ditunjuk oleh Rosulullah Shalallahu ‘alaihi wa Salam menjadi muadzin. Perlu kita ketahui bahwa sekalipun dalam keluarganya terdapat laki-laki tetapi mereka adalah para budak dan karena status budaknya mereka lebih rendah dari pada wanita yang merdeka seperti Ummu Waroqohx.
Pengarang kitab ‘aunul ma’bud mengatakan : “Hadits ini menerangkan bahwa seorang wanita sah mengimani anggota keluarganya sekalipun diantara mereka itu ada lelakinya. Karena Ummu Waroqoh menjadi imam bagi lelaki tua, seorang remaja lelaki budaknya, dan seorang wanita remaja budaknya. Yang berpendapat demikian adalah Abu Tsaur t, Muzani t, dan imam at Thobari t.
Hadits Abu Daud t diatas sama sekali tidak dapat dijadikan dalil oleh para ulama untuk membenarkan perempuan menjadi imam sholat secara umum bagi laki-laki seperti yang telah lumrah berjalan. Akan tetapi hadits tersebut adalah khusus bagi Ummu Waroqoh. Banyak contoh mengenai hal ini diantaranya adalah Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Salam membolehkan Sahlan puteri Suhail c, istri Abu hudzaifah c menyusui seorang pembantunya yang remaja yang bernama Salim sebagaimana dalam Shohih Muslim dan Muatho Imam Malik.

9. Alasan ke 9 Hadits yang melarang wanita menjadi pemimpin adalah palsu atau ahad
لَقَدْ نَفَعَنِي اللَّهُ بِكَلِمَةٍ سَمِعْتُهَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيَّامَ الْجَمَلِ بَعْدَ مَا كِدْتُ أَنْ أَلْحَقَ بِأَصْحَابِ الْجَمَلِ فَأُقَاتِلَ مَعَهُمْ قَالَ لَمَّا بَلَغَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ أَهْلَ فَارِسَ قَدْ مَلَّكُوا عَلَيْهِمْ بِنْتَ كِسْرَى قَالَ لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً
“Dari Abu Bakroh ia berkata :”Sungguh Allah telah memberiku manfaat dengan kata-kata yang telah aku dengar dari Rosulullah ketika perang jamal, setelah aku hampir saja bergabung dengan kelompok jamal umtuk berperang bersama mereka. “Ia berkata :”Ketika sampai berita kepada Rosulullah bahwa penduduk bangsa Parsi telah mengangkat putri kisro menjadi raja mereka, beliau bersabda :”Tidak akan pernah beruntung sautu kaum yang menjadikan seorang perempuan memimpin urusan mereka”.
Analisis : Utsman bin Haitsamz,Aufz, Al Hasanz, dan Abu Bakrohz adalah orang-orang yang dinilai jujur, adil dan terjamin otentitasnya dalam menyampaikan sabda Rosulullah diatas.
Hadits ini memang benar hanya diriwayatkan oleh Abu Bakrohz, dan ini berarti hadits ahad. Akan tetapi kita tidak boleh langsung menghukumi tertolaknya hadits ahad karena riwayat tentang sholat Zuhur, Ashar, Magrib dan Isya adalah juga hadits ahad, apakah lantas kita menolak untuk melakukan sholat Zuhur dengan empat rokaat? Begitu pula dengan tata cara ibadah haji semuanya bersumber dari hadits ahad.

10. Alasan ke 10 Hadits yang melarang hanya berkaitan dengan kasus tertentu
لَقَدْ نَفَعَنِي اللَّهُ بِكَلِمَةٍ سَمِعْتُهَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيَّامَ الْجَمَلِ بَعْدَ مَا كِدْتُ أَنْ أَلْحَقَ بِأَصْحَابِ الْجَمَلِ فَأُقَاتِلَ مَعَهُمْ قَالَ لَمَّا بَلَغَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ أَهْلَ فَارِسَ قَدْ مَلَّكُوا عَلَيْهِمْ بِنْتَ كِسْرَى قَالَ لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً
“Dari Abu Bakroh ia berkata :”Sungguh Allah telah memberiku manfaat dengan kata-kata yang telah aku dengar dari Rosulullah ketika perang jamal, setelah aku hampir saja bergabung denga keompok jamal umtuk berperang bersama mereka. “Ia berkata :”Ketika sampai berita kepada Rosulullah bahwa penduduk bangsa Parsi telah mengangkat putri kisro menjadi raja mereka, beliau bersabda :”Tidak akan pernah beruntung sautu kaum yang menjadikan seorang perempuan memimpin urusan mereka”.
Analisis : Memang benar hadits Rosulullah Shalallahu ‘alaihi wa Salam tersebut berkaitan dengan kasus bangsa Parsi yang kerajaannya menjadi hancur karena telah merobek-robek surat Rosulullah kepadanya. Akan tetapi, sabda beliau tidak hanya tertuju untuk kasus kisra, tetapi berlaku umum. Pernyataan beliau menggunakan lafadz umum yaitu “Tidak akan pernah beruntung sautu kaum yang menjadikan seorang perempuan memimpin urusan mereka”. Dalam sabda beliau ini tidak disebut bangsa Parsi, tetapi kaum secara umum.

11. Alasan ke 11 Redaksi hadits tidak melarang hanya meniadakan keberuntungan
لَقَدْ نَفَعَنِي اللَّهُ بِكَلِمَةٍ سَمِعْتُهَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيَّامَ الْجَمَلِ بَعْدَ مَا كِدْتُ أَنْ أَلْحَقَ بِأَصْحَابِ الْجَمَلِ فَأُقَاتِلَ مَعَهُمْ قَالَ لَمَّا بَلَغَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ أَهْلَ فَارِسَ قَدْ مَلَّكُوا عَلَيْهِمْ بِنْتَ كِسْرَى قَالَ لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً
“Dari Abu Bakroh ia berkata :”Sungguh Allah telah memberiku manfaat dengan kata-kata yang telah aku dengar dari Rosulullah ketika perang jamal, setelah aku hampir saja bergabung denga keompok jamal umtuk berperang bersama mereka. “Ia berkata :”Ketika sampai berita kepada Rosulullah bahwa penduduk bangsa Parsi telah mengangkat putri kisro menjadi raja mereka, beliau bersabda :”Tidak akan pernah beruntung sautu kaum yang menjadikan seorang perempuan memimpin urusan mereka”.
Analisis : Redaksi hadits Rosulullah Shalallahu ‘alaihi wa Salam yang bersifat pengingkaran dan pernyataan negative bahwa tidak akan beruntung atau selamat kaum yang mengangkat perempuan sebagai pemimpinnya merupakan kalimat yang bobot hukumnya lebih berat daripada bentuk larangan biasa.

12. Alasan ke 12 Aisyah memimpin perang jamal
عَصَمَنِي اللَّهُ بِشَيْءٍ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا هَلَكَ كِسْرَى قَالَ مَنْ اسْتَخْلَفُوا قَالُوا ابْنَتَهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً قَالَ فَلَمَّا قَدِمَتْ عَائِشَةُ يَعْنِي الْبَصْرَةَ ذَكَرْتُ قَوْلَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَصَمَنِي اللَّهُ بِهِ
“Dari Abu Bakrah, ia berkata :”Allah telah melindungiku dengan suatu kata yang aku dengar dari Rosulullah ketika kisra binasa, beliau bersabda :Siapakah yang mereka jadikan pengganti? Mereka menjawab :”Anak perempuannya. Nabi kemudian bersabda : Tidak pernah akan beruntung suatu kaum yang mengangkat seorang perempuan yang menjadi pemimpin mereka. Abu Bakrah berkata : Oleh karena itu ketika Aisyah sampai di Basroh saya ingat sabda Rosulullah, maka Allah telah menyelematkan aku dengan mengingat hadits ini”.

Analisis : Keterlibatan Aisyah radhiallahu ‘anha dalam perang jamal tidak dapat dijadikan sebagai bukti yang sah bahwa perbuatannya dibenarkan oleh hukum Islam, sebab ternyata kemudian Aisyah sendiri menyesal dan bertaubat. Selain itu, perbuatannya itu mendapat kecaman dari istri-istri Rosulullah yang lain. Bukti dari penyesalan Aisyah adalah :
لَمَّا أَتَتْ عَلَى الْحَوْأَبِ سَمِعَتْ نُبَاحَ الْكِلَابِ فَقَالَتْ مَا أَظُنُّنِي إِلَّا رَاجِعَةٌ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَنَا أَيَّتُكُنَّ تَنْبَحُ عَلَيْهَا كِلَابُ الْحَوْأَبِ فَقَالَ لَهَا الزُّبَيْرُ تَرْجِعِينَ عَسَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُصْلِحَ بِكِ بَيْنَ النَّاسِ
“Dari Qois bin Abi Hazim, sesungguhnya Aisyah berkata ketika ia tiba di kampung Hauab, saat mendengar gonggongan anjing : Saya kira saya harus kembali (ke madinah) karena Rosulullah pernah bersabda kepada kami (para istri) : Siapa diantara kalian kelak yang akan digonggong anjing kampung Hauab? Zubair lalu berkata kepadanya :”engkau agar kembali, semoga Allah melalui dirimu menjadikan orang-orang banyak berdamai”.
Oleh karena itu tidak tidak layak perbuatan Aisyah itu dijadikan sebagai pembenar bagi pendapat yang secara apriori menolak hadits Abu Bakrah diatas.

13. Alasan ke 13 Beberapa sahabiyah ikut dalam perang uhud bersama Rosulullah
Ummu Amarah seorang ibu Anshor dan Ummu Aiman seorang ibu Muhajir mereka berdua ikut dalam perang uhud untuk membantu para mujahidin, hal ini menunjukkan bahwa Islam membolehkan kaum perempuan dalam ketentaraan, apalagi dalam bidang politik dan kenegaraan demi membela kepentingan kaum muslimin.
Analisis : Para sahabiyah Rosulullah Shalallahu ‘alaihi wa Salam yang diizinkan oleh Rosulullah Shalallahu ‘alaihi wa Salam ikut dalam perang uhud pada dasarnya adalah menjadi perawat dan pelayan kesehatan prajurit. Mereka pada prinsipnya tidak dilibatkan sebagai prajurit tempur di medan perang menghadapi musuh. Apa yang terjadi pada diri Ummu Umarah dan Ummu Aiman adalah keadaan yang darurat karena mereka berdua melihat keadaan kaum muslimin yang terjepit pada peperangan itu.

14. Alasan ke 14 Pada masa Umar perempuan ada yang menjadi pengawas pasar (pegawai hisbah)
Analisis : Pengangkatan seorang perempuan menjadi pegawai hisbah pada masa Umar merupakan berita sejarah yang kebenarannya secara sanad sulit dibuktikan karena tidak adanya sanad dari riwayat tersebut. Juga jabatan kepala pasar dapat disamakan dengan jabatan kepala puskemas, kapala sekolah atau kepala rumah sakit. Jabatan seperti ini sama sekali bukan jabatan pemerintahan dalam arti politik atau jabatan kenegaraan yang sarat dengan politik.

15. Alasan ke 15 Imam at Thobari dan Malik membolehkan wanita menjadi hakim/qodli
Ibnu Tin mengatakan bahwa hadits Abi Bakrah yang dijadikan hujah adalah hanya sebatas larangan menjadi qodli (hakim). Ini adalah pendapat mayoritas ulama, tetapi Ibnu Jarir dan mengatakan : Perempuan dibenarkan mengadili perkara-perkara yang perempuan diterima menjadi saksinya, sebagian pengikut Maliki membenarkan seorang wanita menjadi qodli secara mutlak.
Analisis : Pernyataan Ibnu Tin tersebut tidak menyebutkan di kitab mana dari kitab-kitab imam Thobari yang memuat hal itu. Karena ternyata pernyataan tersebut tidak ditemukan dari sekian kitab-kitab yang telah beliau tulis? Adapaun pendapat pengikut Imam Malik yang membenarkan secara mutlak seorang wanita menjadi qodli bukanlah pendapat Imam malik sendiri. Oleh karena itu perlu dibedakan antara pendapat Imam Malik dan pendapat pengikutnya.
Dan sekiranya benar pernyataan tersebut kedua beliau telah menegaskan ruang lingkup pengadilan yang diurusnya, yaitu pada perkara-perkara yang mana perempuan sebagai saksi utamanya. Beliau tidak mengatakan bahwa perempuan dapat menjadi hakim dalam semua perkara.

16. Alasan ke 16 Larangan wanita menjadi pemimpin itu karena pemikiran barat
Analisis : tuduhan yang dilontarkan oleh Hibah Rauf kepada kaum muslimin sama sekali tidak benar, karena :
• Barat menguasai dunia Islam melalui penjajahan barulah sekitar abad 17 s/d pertengahan 1960-an. Adapun sebelum itu ditengah umat Islam telah tertahan suatu praktek politik dan kenegaraan.
• Masyarakat timur seperti Arab jahiliyah, Persi, India dan Cina sebelum mereka mengenal peradaban barat dan pemikirannya sudah hidup dalam satu tradisi yang tidak menyertakan perempuan dalam aktivitas social dan politik, bahkan mereka tidak memberikan hak kebendaan seperti waris dll.

17. Alasan ke 17 Karena keadaan darurat
Ini adalah alasan terakhir yang mereka lontarkan untuk mendukung pendapat mereka yaitu karena darurat dan kondisi yang mendesak, sebagaimana kaidah usul fiqh :
الضرورة تبيح المحضورات
“Darurat membenarkan semua hal yang tadinya terlarang”.
Analisis : Untuk menetapkan suatu keadaan itu darurat atau tidak, haruslah berlandaskan ketentuan syariat itu sendiri. Suatu keadaan dianggap darurat kalau telah mengancam nyawa manusia atau menurut dugaan kuat keadaan tersebut benar-benar mengancam nyawa dan jiwa manusia. Hal ini berdasrkan firman Allah dalam surat al baqoroh : 173 dan surat al an’am : 145.

Artinya : Barang siapa dalam keadaan darurat tanpa ia kehendaki dan tidak pula melampaui batas , tidaklah ia berdosa (memakan babi dab bangkai).
Artinya : Barang siapa dalam keadaan darurat yang tidak ia kehendaki dan tidak melampaui batas, maka sesungguhnya Robmu maha Pengampun dan Maha Belas kasih. Wallahu a’lam bis showab.

http://www.alislamu.com/8328/17-alasan-membenarkan-wanita-menjadi-pemimpin-dan-analisisnya/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: