Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer

Wawancara bersama Dr. Hamid Fahmy Zarkasih, M.Ed, M.Phil

Berikut ini adalah jawaban dari banyaknya pertanyaan yang berkaitan dengan wacana Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer.

1. Dari mana sebenarnya asal gagasan Islamisasi ilmu Pengetahuan Kontemporer?

Gagasan ini dilontarkan untuk pertama kalinya oleh Prof. Dr. Syed Moh. Naquib al-Attas, seorang pakar filsafat Islam, kalam, dan tasawuf. Gagasan ini kemudian dipopulerkan oleh Ismail Raji al-Faruqi.
Namun, sebenarnya sebelum itu proses Islamisasi ilmu pengetahuan telah ada dalam sejarah Islam. Surah al-‘Alaq (96): 1-5, itu mencerminkan semangat Islamisasi ilmu pengetahuan, sebab sebelum itu ide bahwa Allah adalah sumber dan asal ilmu manusia belum ada.
Ismail Raji al-Faruqi juga mengakui bahwa Islamisasi ilmu modern merupakan satu tugas yang pernah “dimainkan oleh nenek moyang kita yang mencerna ilmu zaman mereka dan mewariskan kepada kita peradaban dan kebudayaan Islam, walaupun ruang lingkupnya kini lebih luas”. Ide ini kemudian diikuti oleh pemikir-pemikir masa kini.

2. Tahun berapa gagasan ini dicetuskan dan bagaimana perkembangannya hingga kini?

Gagasan al-Attas dimulai sejak tahun 70an, dimana dia sebagai ahli sejarah Melayu menemukan teori Islamisasi worldview dunia Melayu. Ide ini kemudian dikembangkan oleh al-Attas menjadi Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer dan puncaknya adalah gagasan perlu didirikannya universitas Islam.
Ide ini dicetuskan al-Attas pada Konferensi Dunia Tentang Pendidikan Islam Pertama tahun 1977 di Makkah. Realisasi ide ini adalah berdirinya Universitas Islam Internasional Islamabad Pakistan dan diikuti oleh Universitas Islam Internasional Malaysia, pada tahun 80an.
Sementara Ismail Rajhi al-Faruqi mendirikan International Institute of Islamic Thought (IIIT) di Amerika dan selama dua dekade telah melaksanakan berbagai seminar, konferensi dan simposium mengenai Islamisasi. Hingga kini gagasan ini terus berkembang pada komunitas tertentu, meskipun terdapat pendapat yang pro dan kontra.

3. Mengapa ilmu harus di-Islamkan?

Sedikitnya ada tiga alasan : Pertama, Problem terpenting yang dihadapi umat Islam saat ini adalah masalah ilmu pengetahuan; Kedua, Ilmu pengetahuan kontemporer tidaklah bebas nilai (netral), sebab ia dipengaruhi oleh pandangan-pandangan keagamaan, kebudayaan, dan filsafat, yang mencerminkan kesadaran dan pengalaman manusia Barat.
Ketiga, Ilmu pengetahuan yang dimiliki dan dikembangkan oleh umat Islam saat ini dihegemoni (dikuasai) oleh ilmu pengetahuan Barat yang sekuler tersebut. Maka dari itu ilmu pengetahuan kontemporer yang ditangan orang Islam itu harus di-Islamkan.

4. Apa yang dimaksud dengan kesadaran manusia Barat? dan apa salahnya?

Kesadaran manusia Barat adalah cara pandang yang mengandalkan akal semata-mata untuk membimbing manusia mengarungi kehidupan yang melihat realitas dan kebenaran secara dualistis, maksudnya selalu memandang segala sesuatu secara mendua seperti agama dan politik, ilmu dan agama, jiwa dan raga, dan sebagainya.
Demikian pula realitas empiris dipisahkan dari realitas rasional dan masing-masing dianggap memiliki tingkat kebenarannya masing-masing, kebenaran obyektif dan kebenaran sobyektif. Selain itu dengan doktrin humanisme manusia diletakkan sebagai ukuran segala sesuatu.
Akibatnya, yang menentukan apakah sesuatu itu riil atau tidak, benar atau salah, baik atau buruk dan seterusnya adalah manusia. Disini agama tidak lagi menjadi ukuran dan dasar cara pandang terhadap segala sesuatu.

5. Apa maksud worldview dan Islamisasi worldview?

Worldview adalah konsep umum yang dimiliki setiap peradaban. Hanya saja istilah dan definisinya bervariasi. Maka ada istilah dan pengertian umum dan ada pula yang Islam. Secara umum worldview adalah asas bagi perilaku semua manusia, termasuk aktifitas ilmiah dan teknologi.
Pandangan Islam (worldview) adalah visi tentang realitas dan kebenaran yang menjelaskan hakekat wujud. Kesadaran manusia Barat yang disebutkan diatas adalah diantara gambaran worldview Barat. Dan worldview itulah yang menjadi dasar dari lahirnya ilmu pengetahuan Barat.
Dalam buku Worldview, History of Concept, karya David K. Naugle, dinyatakan bahwa ilmu pengetahuan apapun pasti dihasilkan oleh worldview masing-masing. Maka dari itu mengislamkan ilmu pengetahuan Barat berarti mengislamkan worldview atau cara pandangnya terlebih dahulu. Jadi Islamisasi worldview adalah penggantian cara pandang atau konsep yang tidak sesuai dengan Islam dengan konsep-konsep Islam.

6. Lebih kongkritnya, cara pandang terhadap apa saja yang terkandung di dalam konsep worldview itu?

Kandungan elemen worldview berbeda dari satu peradaban dengan peradaban lain. Ada yang lebih banyak kandungannya ada yang kurang. Istilah worldview sendiri sebenarnya berarti pandangan dunia, artinya sebatas pandangan terhadap dunia.
Maka dari itu secara umum elemen worldview terdiri dari cara pandang tentang: 1) Kehidupan, 2) Dunia, 3) Manusia, 4) Nilai dan 5) Ilmu Pengetahuan. Tapi dalam Islam cara pandang itu tidak hanya terbatas tentang dunia tapi juga termasuk tentang akhirat.
Lebih lengkapnya elemen worldview Islam itu terdiri dari pandangan tentang hakekat Tuhan, tentang Wahyu (al-Qur’an), tentang penciptaan, tentang hakekat kejiwaan manusia, tentang ilmu, tentang agama, tentang kebebasan, tentang nilai dan kebajikan, tentang kebahagiaan dan sebagainya yang meliputi seluruh aspek kehidupan material dan spiritual.

7. Lebih kongkrit lagi, apa hubungan worldview dengan ilmu pengetahuan?

Hubungannya jelas sekali, karena worldview berbicara mengenai cara pandang terhadap berbagai hal dalam kehidupan termasuk didalamnya obyek-obyek ilmu pengetahuan, maka sudah pasti ada kaitannya dengan ilmu.
Bahkan pandangan suatu bangsa terhadap ada tidaknya Tuhan yang merupakan dasar dari setiap worldview sangat mempengaruhi konsep ilmunya. Thomas F. Wall dalam buku Thinking about Philosophical Problem menyatakan dengan tegas : “Jika orang percaya pada Tuhan.. niscaya ia akan percaya bahwa sumber moralitas itu dari Tuhan… dan ilmu itu tidak hanya sebatas pengetahuan empiris, tapi juga non empiris yaitu dunia supernatural”. Disini filosofinya ilmu tidak bisa dipisahkan dari iman atau agama.

8. Bagaimana lebih jelasnya dalam konteks pemikiran Islam?

Dalam Islam realitas alam fisik yang nampak (sensible world) dipandang sebagai realitas relatif yang berhubungan dan bergantung pada realitas metafisis yang absolute. Pencarian ilmu dalam Islam tidaklah sekedar melibatkan panca indera dan akal yang obyeknya tidak dibatasi oleh realitas alam dan pengalaman inderawi.
Pencarian ilmu dalam Islam melibatkan realitas yang tertinggi yaitu Tuhan, sebab realitas empiris tidak dapat dipahami secara sempurna kecuali dengan melibatkan realitas non-empiris.
Inilah rahasianya mengapa dalam Islam bertambahnya ilmu tentang alam semesta membawa pada bertambahnya ilmu tentang alam transenden silahkan baca QS. Ali Imran: 190-191. Oleh sebab itu, jika orang melihat dunia ini secara sekuler alias tidak mengaitkannya dengan Tuhan atau agama, maka sifat dan fungsi ilmu itu akan berbeda.

9. Apa contoh masuknya worldview Islam kedalam worldview bangsa Indonesia?

Karena worldview itu mengandung cara pandang yang berasal dari kepercayaan dasar (basic belief) maka ciri suatu worldview dapat diketahui melalui istilah-istilah khas yang hanya dimiliki oleh worldview tersebut. Ketika worldview itu masuk kedalam peradaban lain maka ia masuk bersama terminologinya.
Contoh masuknya worldview Islam dapat dibuktikan dengan masuknya istilah-istilah yang khas hanya dimiliki Islam kedalam cara bepikir bangsa Melayu. Istilah-istilah Islam yang masuk dan menggeser istilah Melayu atau Jawa adalah roh (ruh), akal (‘aql), kalbu (qalb), nafsu (nafs), paham (fahm), jasad (jasad), jisim (jism), jasmani (jusmani), jauhar (jawhar), juz (juz’), kuliah (kulliyah), ilham (ilham), sedar (dari bahasa Arab sadr = dada), pikir (fikr), zikir (dhikr), ilmu (‘ilm), yakin (yaqin), shak (shakk), zann (zann), jahil (jahl), alam (alam), pengalaman (dari bahasa Arab: ‘alam), sebab (sabab), musabab (musabbab), akibat (aqibah), hikmah (hikmah), adab (adab), martabat (maratib), derajat (darajat), maudu’ (maudu’), adil (adl), zalim (zulm), ma’rifat (ma’rifah), ta’rif (ta’rif), hakekat (haqiqah), kertas (qirtas), sharah (sharh), bahas (bahth), hukum, hakim. Mahkamah (dari Arab: hukm), murid (murid), tarekh (tarikh), zaman (zaman), awal (awwal), akhir (akhir), sejarah (shajarah), abad (‘abad), waktu (waqt), saat (sa’ah), kursi (kursiy), dan banyak lagi lainnya.

10. Apakah dengan masuknya istilah itu sudah dapat dikatakan telah terjadi Islamisasi?

Sudah! Sebab penggunaan istilah dan konsep-konsep kunci tersebut telah mengindikasikan adanya perubahan cara pandang bangsa Melayu terhadap realitas. Menerima istilah roh (ruh), akal (‘aql), kalbu (qalb), nafsu (nafs) berarti menerima konsep jiwa dalam Islam.
Hanya saja seberapa besar porsi konsep-konsep itu dibanding konsep-konsep yang lain juga menentukan apakah sudah terjadi atau sedang terjadi. Rumusnya begini jika cara pandang suatu bangsa atau masyarakat didominasi oleh konsep atau cara pandang asing maka identitas bangsa dan masyarakat itu akan hilang digantikan oleh konsep dan cara pandang asing yang lebih dominan. Jika yang terjadi sekarang adalah masuknya istilah-istilah Barat maka kita juga bisa katakan sedang terjadi Westernisasi.

11. Kembali ke masalah worldview Apa yang salah dalam ilmu pengetahuan yang lahir berdasarkan worldview Barat? Apakah dengan masuknya cara berpikir Barat bukan justru menambah maju umat Islam?

Menggunakan cara berpikir Barat akan membawa akibat yang oleh al-Attas disebut de-islamisasi pemikiran umat Islam. Masalahnya ada pada presupposisi kajian sains Barat dan metodologi pengkajian ilmu-ilmu sosial yang sekuler.
Akibat yang utama adalah hilangnya adab, yang oleh SH. Nasr disebut desacralization of knowledge. Hilangnya adab berimplikasi pada hilangnya sikap adil dan kebingungan intelektual (intellectual confusion), yaitu tidak mampu membedakan antara ilmu yang sesuai dengan Islam dan yang tidak.
Disini ilmu hanya untuk ilmu. Bahkan ilmu adalah kekuasaan (knowledge is power). Ilmu sudah tidak ada hubungannya dengan iman, amal, ibadah, maslahat dan sebagainya. Jika model ilmu pengetahuan seperti ini dimiliki umat Islam maka umat Islam mungkin bisa “maju” dalam standar Barat, tapi tidak “maju” dalam perspektif Islam.

12. Apa contoh yang jelas dari desakralisasi ilmu dan hilangnya adab seseorang?

Jika ilmu itu tidak lagi sakral, maka seorang yang ‘alim atau berilmu tidak perlu berakhlaq. Itu yang paling ringan. Yang berat akan menganggap segala sumber ilmu di dunia ini, termasuk al-Qur’an dan Hadis tidak sakral lagi dan dapat diragukan dikritik dengan rasio mereka sebagaimana teks-teks manusia biasa.
Kasus di IAIN Surabaya dan STAIN Jember yang melecehkan (menginjak) lafadh Allah adalah akibat dari desakralisasi itu tadi. Thesis-thesis yang menyoal otentisitas Wahyu akibat nyata dari hilangnya adab.
Jika sumber Islam sudah dilecehkan maka para ulama akan mendapat gilirannya, karena mereka dianggap manusia biasa. Ulama besar sekelas Imam al-Syafi’i misalnya bisa dianggap sama dengan mahasiswa S1 atau orang awam yang tidak perlu dihormati dan dijadikan sumber ilmu. Inilah contoh nyata dari kehilangan adab.

13. Jadi apa sebenarnya yang diislamkan dari sebuah ilmu itu? Apakah setelah diislamkan akan lahir disipllin ilmu Islam, dan bahkan pesawat terbang Islam, mobil Islam dan sebagainya?

Pertama kita harus paham dulu bahwa ilmu dalam worldview Islam itu adalah representasi makna sesungguhnya dari realitas sesuatu oleh jiwa yang rasional lagi tenang (al-nafs al-nathiqah al-muthma’innah). Jadi ilmu itu ada dalam jiwa, akal, qalb dan sebagainya.
Para ulama dalam tradisi intelektual Islam juga berpendapat bahwa ilmu tidak berada dalam buku-buku tapi dalam dada, yaitu sadr, tempat kesadaran (al-‘ilmu fi al-sudur la fi al-sutur). Jadi mengislamkan ilmu berarti mengislamkan sesuatu yang ada dalam pikiran, jiwa, akal dan qalb, bukan mengislamkan teknologi atau hasil teknologinya.
Jika sesudah itu akan lahir disiplin ilmu yang sesuai dengan worldview Islam adalah konsekuensi logis. Sebab epistemologi dalam Islam berkaitan erat dengan struktur metafisika dasar Islam yang telah terformulasikan sejalan dengan wahyu, hadis, akal, pengalaman dan intuisi.

14. Lalu bagaimana mengislamkan ilmu yang tidak Islami yang ada dalam pikiran kita?

Menurut teori al-Attas pikiran kita harus dibebaskan dari kebiasaan berpikir magis, mitologis, animistis, kultur-nasional yang bertentangan dengan Islam, dan berpikir sekuler. Juga harus dibebaskan dari dorongan fisik kita yang cenderung sekuler dan tidak adil terhadap hakekat diri atau jiwa kita.
Sebab, menurut al-Attas, manusia dalam wujud fisiknya cenderung lupa tentang hakekat dirinya yang sebenarnya, menjadi bodoh tentang tujuan hidup yang sebenarnya dan lupa berbuat tidak adil terhadapnya. Jika dikaitkan dengan jiwa atau akal manusia Islamisasi adalah mengarahkan cara berpikir seseorang sesuai dengan kecenderungan nuraninya. Islamisasi juga berarti proses menuju bentuk asalnya alias menuju fitrah manusia.

15. Apa bedanya Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer dengan istilah “Pengilmuan Islam” yang dilontarkan Prof. Kuntowijoyo?

Saya rasa gagasan umumnya tidak berbeda dengan Islamisasi. Bahkan dalam pengantar bukunya yang berjudul Islam Sebagai Ilmu, Kuntowijoyo menerima Islamisasi ilmu pengetahuan sebagai perlu, meskipun menurutnya tidak semua ilmu perlu diislamkan. Disini ia tidak menggunakan asas worldview dan epistemologi Islam.
Sebab ia masih terjebak oleh pertanyaan, bagaimana mengislamkan teknologi dan bagaimana mengislamkan novel dan kritik sastra. Ia juga tidak menyinggung bahwa di masa lalu proses Islamisasi ilmu pengetahuan asing juga terjadi. Yang sangat berbeda dari al-Attas, Prof. Kunto lebih menggunakan pendekatan sosiologis daripada epistemologis. Wallalu alam

16. Bagaimana contoh bepikir yang sesuai dengan ajaran Islam?

Contohnya adalah dalam melihat sumber ilmu pengetahuan. Dalam Islam terdapat dua jenis kitab yaitu wahyu al-Qur’an sebagai kitab tertulis, dan alam semesta sebagai kitab tidak tertulis. Seperti halnya kitab al-Qur’an, alam semesta ini juga mempunyai ayat-ayat yang jelas dan pasti (muhkamaat) dan ada pula ayat-ayat yang mutasyabihaat (ambigu).
Untuk memahami ayat-ayat (muhkamaat) dipergunakan metode tafsir, sedangkan untuk memahami ayat-ayat mutasyabihaat digunakan metode ta’wil. Dalam alam semesta ini memang terdapat obyek-obyek yang dapat diindera secara langsung (self evident) dan ada pula obyek-obyek yang abstrak dan tidak dapat diindera kecuali dengan intuisi, dan intuisi itu berdasarkan pada iman.

17. Bagaimana posisi Islam dalam menyikapi perseteruan antara paham rasionalisme dan empirisisme?

Islam mengkombinasikan antara paham rasionalisme dan empirisisme. Tapi tidak sekedar menyatukannya seperti pola Kantianisme. Islam menambahkan wahyu sebagai sumber ilmu pengetahuan tentang sesuatu yang tidak dapat dijangkau oleh metode empiris-rasional.
Perbedaan utamanya terletak pada asumsi dasarnya, dan asumsi dasar itu dipengaruhi oleh konsep-konsep kunci dalam pandangan hidup masing-masing. Konsep-konsep tentang alam, manusia, ilmu, nilai, kehidupan dan sebagainya misalnya Islam berbeda secara diametris dari Barat.
Jadi secara garis besar kerja epistemologis dalam Islamisasi ilmu pengetahuan melibatkan struktur ilmu pengetahuan dalam pandangan hidup Islam, dimana wahyu merupakan salah satu sumber terpentingnya.

18. Bagaimana membebaskan unsur sekuler dari dalam disiplin ilmu Barat kontemporer?

Disini unsur-unsur sekuler dalam ilmu sosial lebih banyak ketimbang ilmu alam atau fisika. Sebab ilmu alam terikat oleh sunnatullah dan tidak bisa dimanipulasi. David K. Naugle dalam karyanya Worldview, History of Concept menyatakan bahwa worldview kurang berpengaruh terhadap ilmu eksak, tapi lebih banyak pengaruhnya pada ilmu sosial. Meskipun demikian, untuk ilmu fisika atau applied science yang harus diislamkan adalah kerja interpretasi fakta-fakta dan formulasi teori-teorinya.
Untuk kedua ilmu sosial dan eksak yang perlu diuji secara kritis diantaranya adalah metode-metodenya; konsep-konsepnya, teori-teorinya, dan simbol-simbolnya; aspek-aspek empiris dan rasional, dan aspek-aspek yang bersinggungan dengan nilai dan etika; interpretasinya tentang asal-usul; teorinya tentang ilmu pengetahuan; pemikirannya tentang eksistensi dunia nyata, tentang keseragaman alam raya, dan tentang rasionalitas proses-proses alam; teorinya tentang alam semesta; klasifikasinya tentang ilmu; batasan-batasannya dan kaitannya antara satu ilmu dengan ilmu-ilmu lain, dan hubungan sosialnya.
Jika semua itu tidak sejalan dengan worldview Islam maka harus dibersihkan atau disesuaikan dengan Islam. Itu semua dapat disebut juga sebagai proses de-westernisasi.

19. Lalu apa proses selanjutnya?

Baik, proses selanjutnya adalah memasukkan elemen-elemen dan konsep-konsep kunci Islam kedalam setiap cabang ilmu pengetahuan masa kini yang relevan. Konsep-konsep dasar Islam yang harus dimasukkan kedalam tubuh ilmu apapun yang dipelajari umat Islam diantaranya adalah konsep tentang din, manusia (insan), ilmu (ilm dan ma’rifah), keadilan (‘adl), amal yang benar (amal sebagai adab) dan semua istilah dan konsep yang berhubungan dengan itu semua.
Konsep tentang universitas (kulliyah, jami’ah) dianggap sebagai penting sebab ia berfungsi sebagai bentuk implementasi semua konsep-konsep itu dan menjadi model sistem pendidikan. Konsep-konsep itu semua adalah bagian integral dari pandangan hidup Islam. Dalam kaitannya dengan pandangan hidup Islamisasi ilmu berarti juga mengaitkan konsep ilmu dengan konsep adab secara benar.

20. Apakah Islamisasi konsep akan meningkat menjadi Islamisasi bahasa atau istilah?

Benar, dalam teori al-Attas Islamisasi diawali dengan Islamisasi bahasa dan ini dibuktikan oleh al-Qur’an ketika diturunkan kepada orang Arab. Sebab alasannya, “Bahasa, pemikiran dan rasionalitas berkaitan erat dan saling bergantung dalam memproyeksikan worldview atau visi Hakikat kepada manusia.
Pengaruh Islamisasi bahasa menghasilkan Islamisasi pemikiran dan penalaran. Karena dalam bahasa terdapat istilah dan dalam setiap istilah mengandung konsep yang harus dipahami oleh akal pikiran. Jika sesorang berusaha menggunakan bahasa dan konsep yang berdasarkan worldview Islam maka dengan ia sedang dan telah melakukan proses Islamisasi ilmu.

21. Sampai disini apakah kemudian kita bisa membedakan ilmu Islam dan ilmu Barat?

Sudah tentu, dari gambaran diatas ilmu menjadi berkaitan dengan aqidah dan iman, diikuti oleh amal. Sebab tidak ada ilmu yang berguna tanpa amal, dan tidak ada amal yang berfaedah tanpa ilmu.
Maka dari itu tujuan mencari ilmu dalam Islam adalah “untuk menjadi manusia yang baik” berdasarkan pada pandangan hidup Islam. Sementara tujuan mencari ilmu menurut worldview Barat adalah “untuk menjadi warganegara yang baik dari suatu negara sekuler”.
Pendidikan Islam lebih universal, sebab sistem pendidikan dalam Islam harus merefleksikan manusia dan bukan negara. Maka universitas dalam Islam pun harus didesain agar merefleksikan sesuatu yang universal, yaitu Manusia Sempurna Universal (al-Insan al-Kamil) yang dalam Islam telah direalisasikan dalam diri pribadi Nabi Muhammad SAW.

http://hamidfahmy.com/islamisasi-ilmu-pengetahuan-kontemporer-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: