Benturan Peradaban antara Islam dan Barat Terhadap sebuah Ideologi

I. LATAR BELAKANG

Jauh sebelum Samuel Huntington mengangkat isu “the clash of civilizations” yang arahannya kepada benturan antara Islam dan Barat sebenarnya sudah lama berkembang di kalangan ilmuwan muslim seperti Abu Hasan Ali an Nadwi, Sayyid Qutb dan masih banyak lagi. Mereka melakukan kajian komparatif antara peradaban barat dan peradaban Islam dan mengingatkan kaum muslim untuk tidak gampang mengikuti dan mengambil jalan hidup orang barat. Peradaban barat menurut pemikir muslim asal India Abu Hasan Ali an Nadwi adalah kelanjutan peradaban Yunani dan Romawi yang telah mewariskan kebudayaan politik, pemikiran, dan kebudayaan.

Dunia muslim saat ini sedang melintasi suatu krisis yang belum pernah dialami sepanjang sejarahnya. Krisis ini tiada lain merupakan dari benturan peradaban antara islam dan barat. Sebuah kebudayaan atau peradaban pastinya memilki sejarahnya sendiri-sendiri untuk bangkit dan berkembang. Namun, suatu peradaban tidak mungkin bangkit dan berkembang tanpa adanya pandangan hidup dan aktifitas keilmuan di dalam masyarakatnya itu sendiri. Demikian pula barat sebagai peradaban tidak akan bangkit dan berkembang dan melahirkan berbagai macam keilmuan tanpa memiliki pandangan hidup terlebih dahulu.
Masalah yang berkembang belakangan ini dapat menggiring ke arah konflik baru antar peradaban, khususnya peradaban Barat dan Islam. Jika kecendrungan konflik baru antar peradaban ini harus berlanjut dapat berakibat pada adanya benturan sekaligus menjadi tantangan bagi umat manusia, khususnya umat Islam. Bukan berbuntut pada perpecahan maupun permusuhan saja, akan tetapi merajut pada pada masalah benturan-benturan lainnya. Peradaban barat dalam satu hal adalah anak yang dilahirkan dari Islam. Tetapi ia adalah anak yang tidak patuh karena dari aspek langkahnya telah mengambil jalan yang bertolak belakang pada orang tuanya.

Ketegangan atau konflik antara peradaban Barat dan Islam semakin meningkat volumenya, sejak peristiwa 11 september 2001 lalu, yang diasosiasikan sebagai perwujudan dari skenario yang dibuat oleh Samuel Huntington terhadap “clash of civilization”. Azyumardi Azra menolak “doomed scenario” yang akan membawa manusia dan peradaban ke dalam jurang tanpa dasar. Namun kekhawatiran itu tetap saja mambayang-bayangi mereka yang peduli dengan masa depan kemanusiaan universal dan peradaban. Permasalahannya banyak Negara muslim tetap tergantung secara militer, politik dan ekonomi kepada barat. Ketergantungan itu semakin merdeka bukan semakin hilang akan tetapi semakin kuat hubungan keterikatan antara islam dan barat, baik dari keunggulan tekonologi maupun dari ekonomi baratnya yang terus meningkat dan dunia muslim kian tergantung pada barat itu sendiri.

II. TINJAUAN UMUM
Sebelum saya berbicara jauh tentang benturan-benturan peradaban, saya akan berbicara tentang definisi dari peradaban itu sendiri. Menurut buku yang saya baca yaitu “Benturan peradaban sebuah keniscayaan” yang di keluarkan oleh Hijbut Tahrir Peradaban atau (Hadharah) adalah sekumpulan konsep (mafahim) tentang kehidupan. Yang mana peradaban disini yaitu peradaban spiritual atau diniyah yang mana lahir dari sebuah aqidah (dasar ideology), seperti aqidah islamiyah dan peradaban buatan manusia itu sendiri. peradaban ini bisa lahir dari aqidah seperti peradaban kapitalisme barat yang lahir dari aqidah sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan) dan bisa lahir dari non aqidah seperti peradaban Shinto, Yunani, Babilonia, dan Mesir Kuno. Atau peradaban ini dapat di istilahkan dengan peradaban barat. Sumber peradaban diniyah oleh para pengikutnya biasanya disebut dengan wahyu, sedangkan peradaban buatan manusia yaitu suatu konsep yang mana sudah disepakati secara bersama.[1]
Hadharah menurut bahasa juga bisa diartikan sebagai suatu tempat tinggal di suatu wilayah yang beradab seperti kota sedangkan al hadhir adalah orang-orang yang tinggal di kota-kota dan di desa-desa. Dari kalangan barat Peradaban diistilahkan sebagai civilization di ambil dari kata civilis, yang berarti memiliki kewarganegaraan. Istilah ini pertama kali digunakan dalam bahasa Prancis dan Inggris pada akhir Abad XVIII untuk menggambarkan proses progresif perkembangan manusia sebuah gerakan yang menuntut perbaikan, keteraturan serta penghapusan barbarisme dan kekejaman. Akan tetapi di balik semua ini ada suatu daya tarik yang kuat atau semangat dari bangsa eropa sendiri yang biasa dikenal dengan kata Renaisance atau masa pencerahan dan adanya rasa percaya diri terhadap suatu karakter pada masa itu.

Dari suatu peradaban pastinya akan meninggalkan benda-benda yang merupakan suatu proses dari jalannya peradaban, akan tetapi ini bukan dinamakan peradaban melainkan dengan istilah madaniyah. Contohnya seperti patung, kuil, candi dsb ini merupakan bentuk dari madaniyah khusus, dan madaniyah umum seperti lahirnya dari ilmu pengetahuan dan industry contohnya Televisi, Komputer, Radio, Kulkas dsb. Umat Islam boleh mengambil peradaban umum akan tetapi umat Islam tidak boleh mengambil suatu peradaban yang bersifat khusus atau dengan arti lain dengan cara mengadopsinya. Seperti contoh dari bentuk ideology Islam sudah jelas berbeda dengan ideology barat, ideology barat biasanya berlandaskan asas kompromi dan pemisahan agama dari kehidupan (sekularisme). Peradaban Islam pastinya sering membedakan antara halal dan haram merupakan gambaran kehidupan dan standar perbuatan Sedangkan peradaban barat menjadikan manfaat sebagai standar dalam kehidupan. Begitu pula dalam mengartikan kebahagiaan Islam mengartikan dengan ketentraman yang permanen, yang mana selalu mencari jalan yang di ridhoi Allah sedangkan barat kebahagiaan di artikan sebagai kenikmatan jasadiyah. Menurut Muhamad Asad tuhan mereka yang sebenarnya bukanlah kebahagiaan spiritual melainkan keenakan, kenikmatan duniawi.[2] Ini sudah sangat jelas dari sisi ideology Islam di haramkan mengadopsi pemikiran-pemikiran barat yang sudah jelas berbeda.
Jadi, peradaban (hadhârah) berkaitan dengan pandangan hidup (world view) atau yang oleh an-Nabhani diistilahkan dengan mabda’ (ideologi), yang didefinisikan sebagai: akidah yang lahir dari proses berpikir yang di atasnya dibangun sistem. Ditinjau dari definisi ini, mabda’ menunjukkan kelengkapan konsep yang mencakup akidah dan sistem. Dengan demikian, benturan peradaban pada hakikatnya adalah benturan yang terjadi antara sejumlah pemikiran atau ideologi yang berbeda atau bertolak belakang.

III. KONFLIK ANTARA ISLAM DAN BARAT
Bisa kia kita lihat runtuhnya Uni Sovyet tahun 1990 dan berakhirnya bipolaritas Kapitalisme dan Sosialisme, menurut Josh Bush benturan antara Kapitalisme dan Sosialisme ini semata-mata karena sistem demokrasi liberal dengan Amerika Serikat sebagai kaptennya. Akan tetapi ditentang oleh Samuel Huntington yang mempunyai pikiran lebih universal dengan teorinya benturan antar peradaban-peradaban, ia beranggapan jaringan sistem Kapitalisme global merupakan pola hubungan internasional yang menunjukkan kecenderungan antagonistik dan diwarnai konflik. Dari sinilah akan lahir konflik antara Islam dan pihak barat sendiri.
Benturan peradaban antara Islam dan Barat ini, akan mengarah pada benturan Islam dan modernisasi. Fukuyama memandang benturan Islam ini semata-mata sebagai reaksi keras orang muslim yang merasa terancam dengan modernisasi yang pada akhirnya akan berlanjut pada sekularisasi dan sekularisme.[3] Ini sangat terlihat ketika adanya peristiwa tragedy WTC 11 September 2001. Kasus ini telah berhasil dieksploitasi sedemikian rupa oleh AS dan sebagai jalan bagi pemberlakuan UU antiteroris di seluruh dunia. Aksi teror disini yang di maksudkan adalah kaum Islam. Jadi ketika berbicara masalah fundamentalis, anarkis, dan lain sebagainya pasti akan mengarah pada Negara-negara di timur tengah atau tegasnya Negara Islam. Jadi Islam sudah diklaim dianggap sebagai teroris.
Bahkan Perdana Menteri Inggris Tony Blair menyebut ideologi Islam sebagai ”ideologi setan”. Dalam pidatonya pada Konferensi Kebijakan Nasional Partai Buruh Inggris, Blair menjelaskan ciri ideologi setan, yaitu: (1) Menolak legitimasi Israel; (2) Memiliki pemikiran bahwa syariat adalah dasar hukum Islam; (3) Kaum Muslimin harus menjadi satu kesatuan dalam naungan Khalifah; (4) Tidak mengadopsi nilai-nilai liberal dari Barat.

Ada faktor-faktor pemicu dari adanya benturan peradaban antara Islam dan Barat, di sini saya akan membagi ke dalam tiga bagian yaitu:

1. Faktor Agama
Dari segi agama kita bisa lihat sejarah adanya perang salib. Penyebab utama dari kebencian orang-orang barat kepada Islam adalah permusuhan yang ditanamkan pasukan dari perang salib yaitu dari kalangan barat. Yang mana barat secara tegas ingin menguasai satu ideology pada masa itu. Perang salib di sini sampai terjadi tiga masa atau tiga tahap yang terjadi selama satu abad. Tahap pertama antara tahun 1096–1099 M, tahap kedua antara tahun 1147–1149 M, dan tahap ketiga antara tahun 1189-1192 M, jadi perang salib terjadi dari tahun 1096-1192.
Para missionaries memaksakan opini bahwa permusuhan antara Islam dan Barat merupakan permusuhan agama.[4] Akan tetapi semua ini pada hakikatnya tidak, Ini merupakan hanya sebagai intrik-intrik politik belaka yang menempel di lidah saja. Di sini keruntuhan umat Kristen terhadap orang-orang turki Usmani pada tahun 1453. Pembantaian kaum Muslim oleh tentara salib di Spanyol (Andalusia) abad XV M, termasuk serangan secara pemikiran dan kebudayaan (tsaqâfah) seperti yang dilakukan oleh kaum zindiq serta para misionaris dan orientalis, adalah juga berlatar belakang agama. Pertanyaannya apakah hingga saat ini bercak-bercak semangat dari perang salib masih melekat pada diri kalangan barat?
Apabila kita menganggap ini merupakan factor keduniaan dan bukan factor agama maka para misonaris Islam tidak mungkin berlangsung hingga saat ini. L. Brown berpendapat seandainya orang Islam bersatu padu dalam satu pemerintahan niscaya hal ini akan sangat bahaya bagi seluruh dunia dan akan mendatangkan kenikmatan yang tak terhingga bagi kaum muslim. Akan tetapi apabila mereka masih saling mengandalkan amarah dan egonya maka mereka akan terombang-ambing yang tidak punya arah kehidupan yang jelas dan tidak punya pengaruh yang kuat di dunia luar.
Kalangan barat melakukan misi-misi demi tercapainya target pada keagamaan mereka. Baik melalui gerakan-gerakan tersembuyi ataupun gerakan terang-terangan. Secara singkat Al Attas menyimpulkan sifat-sifat asasi kebudayaan barat:
a. Berdasarkan falsafah bukan agama.
b. Falsafah yang menjelmakan sifatnya sebagai humanisme, mengikrarkan faham dualisme yang mutlak dan bukan kesatuan sebagai nilai serta kebenaran hakikat semesta.
c. Kebudayaan barat berdasarkan pandangan hidup yang tragic. Yakni mereka menerima pengalaman kesengsaraan hidup sebagai suatu kepercayaan yang mutlak yang mempengaruhi peranan manusia dalam dunia.
Melarut di bawah tekanan pengaruh kebudayaan barat dan kebutuhan ekonomi yang muncul, yang mana semua ini diakibatkan oleh penyerahan kita kepada pengaruh-pengaruh tersebut. Orang progresif yang telah terbaratkan bahkan tidak merasa perlu menyanggah hal tersebut umumnya mereka, dengan suatu seringai kepuasan di wajah mereka berkeyakinan bahwa “semangat zaman ini berlawanan dengan pikiran keagamaan”.[5] Dan dari sinilah benturan peradaban yang melalui factor agama, antara islam dan barat terjadi. Dengan memahami hakikat peradaban barat yang tidak berdasarkan agama dan hanya berdasarkan spekulasi semacam itu. Menurut Al Attas problem berat yang dihadapkan manusia saat ini adalah hagemoni dan dominasi keilmuan barat yang mengarah pada kehancuran umat manusia. Maka dari itu, Islam seharusnya memikirkan bagaimana jalan terbaik demi kemajuan Islam itu sendiri.

2. Faktor Ekonomi
Pertarungan demi kepentingan-kepentingan ekonomi sudah ada sejak zaman dulu. Dan semakin kesini pertarungan itu semakin keras, destruktif, komprehensif, dan terorganisir. Dunia menjadi layaknya rimba yang semakin kuat yang kuat menindas kaum yang lemah. Hal ini ditunjukan pada praktek kapitalisme, terutama oleh gembongnya amerika serikat antara lain yaitu :
a. Penguasaan bahan-bahan mentah dimanapun adanya dan dengan jalan apapun.
b. Menggantikan emas dengan dolar sebagai mata uang dunia. Dan masyarakat Eropa berusaha mengembangkan industry berat, dan industry ringan.
c. Penguasaan berbagai kepentingan ekonomi di berbagai Negara melalui apa yang mereka sebut globalisasi, privatisasi, dan penanaman modal yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan kapitalis raksasa.
d. Menerapkan sanksi embargo terhadap Negara-negara tertentu, seperti halnya sanksi AS terhadap Irak. AS melalui dewan keamanan PBB, telah mengeluarkan resolusi nomor 655 untuk menerapkan boikot atas Irak, dan memberikan wewenang kepada angkatan laut AS untuk menggunakan senjata dalam rangka untuk mencegah sebagai sanksi perdagangan dengan Irak. Ini merupakan kemenangan diplomatic terhadap AS, karena menurut bukunya Leader Bob Woodward ini merupakan pertama kalinya PBB menerapkan sanksi ekonomi kepada Negara-negaranya di luar lembaga.
Dan masih banyak lagi praktek kapitalis yang ada di dunia ini. Ketika kita lihat flashback kebelakang terhadap khilafah. Lenyapnya institusi Khilafah telah melebarkan jalan bagi negara imperialis Barat untuk menghisap berbagai kekayaan alam milik umat Islam. Sejak masa penjajahan militer era kolonial hingga saat ini, Barat telah melakukan eksploitasi ‘besar-besaran’ atas sumberdaya alam yang dimiliki umat Islam.
Sebaliknya, jika Khilafah Islam kembali berdiri dan berhasil menyatukan negeri-negeri Islam sekarang, berarti Khilafah Islam akan memegang kendali atas 60% deposit minyak seluruh dunia, boron (49%), fosfat (50%), strontium (27%), timah (22%), dan uranium yang tersebar di Dunia Islam (Zahid Ivan-Salam, dalam Jihad and the Foreign Policy of the Khilafah State).

3. Factor Ideology
Kejengkelan kalangan muslim terhadap barat hanya semakin meningkat dengan kenyataan dukungan barat terhadap rezim-rezim otoriter yang menerapkan ideology-ideologi sekuler di Negara mereka masing-masing. Di timur tengah misalnya, hampir seluruh muslim menerapkan ideology non-Islam, khususnya sosialisme atau belakangan ini juga kapitalisme terselubung. Ideology itu seperti Bathisme di Irak dan Syiria, sosialisme-Nasserisme di Mesir, tidak hanya sekuler, tetapi juga tidak kompatibel dan bahkan bermusuhan (hostile) terhadap Islam. Lebih jauh sebagian rezim-rezim otoriter tersebut mamaksakan ideology-ideologi sekuler dengan penggunaan cara-cara kekerasan yang termasuk ke dalam “terorisme Negara” (state terrorism).[6]
Semua kenyataan ini akan menjadi rezim d’stre kemunculan harkah Islamiyah, gerakan-gerakan garis keras Islam khususnya di timur tengah yang bertujuan tidak hanya menumbangkan rezim-rezim sekuler di Negara mereka masing-masing, tetapi juga, guna menegakkan entitas, tatanan dan system politik Islam. Pada akhirnya akan hadir lingkaran rezim kekerasan dan teror di mana yang berkuasa adalah “regime of terror”.
Desember 2004 lalu, National Intelelligence Council’s (NIC) merilis sebuah laporan yang berjudul, “Mapping the Global Future”. Dalam laporan ini diprediksikan empat skenario dunia tahun 2020, salah satu di antaranya adalah akan berdirinya “A New Chaliphate”, yaitu berdirinya kembali Khilafah Islam sebuah pemerintahan Islam global yang mampu memberikan tantangan terhadap norma-norma dan nilai-nilai global Barat. Terlepas dari apa maksud dipublikasikannya analisis ini, paling tidak, kembalinya negara Khilafah Islam menurut kalangan analisis dan intelejen Barat termasuk hal yang harus diperhitungkan. Pertanyaannya, mengapa harus Khilafah? Jawabannya, karena potensi utama dari negara Khilafah adalah ideologi yang diembannya. Khilafah Islam adalah negara global yang dipimpin oleh seorang khalifah dengan asas ideologi Islam. Ideologi Islam ini pula yang pernah menyatukan umat Islam seluruh dunia mulai dari jazirah Arab, Afrika, Asia, sampai Eropa. Islam mampu melebur berbagai bangsa, warna kulit, suku, ras, dan latar belakang agama yang berbeda. Kelak, Khilafahlah yang ‘bertanggung jawab’ untuk mengemban dan menyebarkan ideologi Islam ke seluruh penjuru dunia dengan dakwah dan jihad.
Tentu saja Barat, dengan ideologi Kapitalismenya yang masih dominan saat ini, tidak akan berdiam diri. Berbagai upaya akan dilakukan Barat untuk menggagalkan skenario ketiga ini (kembalinya Khilafah). Secara pemikiran Barat akan membangun opini negatif tentang Khilafah Islam. Diopinikan bahwa kembali pada Khilafah adalah sebuah kemunduran, kembali ke zaman batu yang tidak berperadaban dan berprikemanusiaan. Sebaliknya, upaya penyebaran ide-ide Barat akan lebih digencarkan, seperti demokratisasi yang dilakukan di Timur Tengah saat ini.

Tragedi Peradaban Barat

Tiga tingkatan yang dilalui peradaban barat semenjak renaisans adalah sekularisme, materialisme, dan komunisme. Sebagai akibatnya, darah kehidupan yang mengaliri budaya nafsu (sensate culture) mereka adalah kredo ”penafsiran tuhan dan ruh”.[7] apabila telah disuntikan ke dalam tubuh politik Islam hanya akan menjadi racun dan bukan obat mujarab.
Sekularisme, materialisme dan komunisme mempunyai sikap saling berkaitan. Tingkat pertama yang dicapai peradaban barat yaitu tingkatan sekularisme yaitu negara dipisahkan dari gereja dan berbagai cabang pengetahuan telah diceraikan dari keyakinan terhadap tuhan. Tingkatan akhirnya yaitu membuka pintu lebar-lebar pada materialisme yang menyatakan pada semua hakikat itu bersifat bendawi dan hanya bendawi semata-mata. ”Materialisme filosofis” ini setelah menembus kehidupan barat maka akan berubah menjadi ”materialisme ilmiah”. Materialisme ini dimulai pada abad ke 19 yang ditokohi oleh Karl Marx.
Perlu di ketahui asas sekularisme itu berutang pada dua faktor, yaitu kekristenan yang menjadi satu-satunya agama dunia barat selama beberapa abad yang lalu, dan telah memberikan hukum kepada kaisar apa yang telah menjadi milik kaisar, dan menjadi milik tuhan apa yang telah menjadi milik tuhan. Jadi, kristen telah membagi dua bagian yang terpisah, satu diantaranya pada bagian ruhaniah dan satu lainnya pada bagian kehidupan duniawi yang telah di tempatkan di bawah tuntunan dan kendali umat manusia.
Sekularisme bisa juga disebut sebagai dogma pada suatu pemikiran manusia. Pemikir barat yang pertama bekerja dalam meletakkan landasan sekularisasi pemikir barat adalah darwin. Ia telah menerangkan fenomena biologis berdasarkan sebab mekanis. Di dalam teorinya kebutuhan bagi penegasan eksistensi tuhan telah dicampakan dan selanjutnya kian semakin lama menjadi semakin sekularistis dan materialistis sedemikian hebatnya, sehingga sekularisme menjadi keyakinan yang mengakar dalam pikiran dan kalbu setiap sarjana barat.

Disini yang ditakutkan dari sekularisme adalah penggumpalan bebagai bagian kegiatan manusia menjadi bagian-bagian yang terpisah menciptakan biasa yang disebut disintegrasi tata sosial dan dissosiasi kepribadian manusia. Pada hal ini terjadi desakan penting dalam etos sosial manusia bagi kesatuan dan koordinasi. Kini, di mana kita dapati semangat materialistis ketidakpaduan cara pandang ataupun spiritualitas yang tidak di pandang sebagai tata nilai tertinggi sebagaimana yang terjadi di barat, di sana aspek material kehidupan menjadi prinsip pengatur dan dengan demikian materialisme adalah hal yang segala-galanya. Dan hal ini telah menjadi konsekuensi di barat yaitu pemilahan pengetahuan dan pemecahan kehidupan telah mengantarkan mereka menuju sekularisme dan sekularisme mengantarkan menuju materialisme dan materialisme menyeret mereka ke dalam suatu malapetaka.
Apabila kita analisis konsep sekularisme kita hanya mungkin menemukan dua madzhab pemikiran, pertama suatu masyarakat yang boleh jadi percaya pada tuhan dan agama, tetapi menceraikan masalah-masalah duniawi dari agama. Kedua, suatu masyarakat yang tidak percaya pada tuhan dan agama sama sekali dan akibatnya cara pandang mereka atas segala sesuatu benar-benar tidak bertuhan dan materialistis. Contohnya yang disebut terdahulu yaitu demokrasi barat dan para penirunya sedang yang disebut kemudian adalah uni soviet dan negara-negara komunis lainnya.
Dalam waktu yang bersamaan secara alami anak sekularisme lahir dalam bentuk komunisme. Sekularisme yang masih menerima konsep tuhan di gulingkan oleh sekularisme yang benci tuhan. Karl Marx meletakan komunisme tak puas dengan membagun rumah yang setengah jadi. Ia mengangkat sampai puncak alamiahnya yaitu ”materialisme tak malu-malu” atau yang biasa di sebut ”materialisme ilmiah”. Komunisme pada dasarnya sebagai dasar ekonomi akan tetapi tidak sampai disitu ia merupakan suatu hal yang menyeluruh bagi kehidupan masyarakat.

Dari penjelasan di atas secara teoritis suatu analitis atas falsafah kehidupan peradaban barat akan menyingkapkan bahwa ia mempunyai landasan sebagai berikut :
a. Dari sudut pandang metafistis pada materialisme
b. Dari sudut pandang psikologis akan berujung pada sensionisme (faham serba inderawi) seni dan modenya membuktikan fakta ini dengan jelas.
c. Dari sudut pandang ekonomi akan berujung pada eksploitasi masyarakat manusia yang belum berkembang tanpa kecuali kapitalisme dan komunisme yang kedua-duanya memperbudak manusia.
d. Dari sudut pandang politik akan berujung pada pertentangan ras dan pemisahan berdasarkan warna kulit.
Sesungguhnya ini merupakan ekspresi dari pada cara pandang materialistis, dan puncaknya ada pada komunisme. jika kita cermati terhadap komunisme pasti kita akan temukan, bahwa dalam ideologi ini akan berujung pada ciri-ciri peradaban modern yang telah di perbesar berlipat ganda. Yang telah terdahulu adalah sebagai budak kecil yang kemudian menjadi sang raksasa. Tetapi keduanya menjadi hal yang sama sudah jelas tanpa peradaban sekular barat modern komunisme tidak akan lahir.

IV KESIMPULAN

Sudah banyak ideologi-ideologi yang telah masuk dibawah naungan penjajahan yang dipolitisi oleh barat, dan rakyat timur yang mana tunduk secara emosional dan intelektual. Banyak kaum intelek yang menerima dengan memikirkannya terlebih dahulu, akan tetapi jumlah mereka yang memikirkannya sangat sedikit, selebihnya mereka menerima dengan terbuka tanpa memikirkan terlebih dahulu apa, dan bagaimana dampak setelah ini.
Benturan peradaban merupakan sebuah keniscayaan yang tak ada habisnya. Mungkin peradaban ini ada dari dulu hingga akhir hayat nanti. Tinggal kita pikirkan apa yang akan orang Islam lakukan dalam mengatasi benturan peradaban ini khususnya dalam kapitalisme barat yang telah menyerang secara perlahan ke pemikiran Islam, masuk baik melalui segi agama, budaya, ekonomi, politik dan lain sebagainya.
Kekuatan imperialis barat melaksanakan strategi mereka dengan semua kebrutalan yang ada sedangkan rencana balik muslim dalam segala hal terbukti tak berdaya dan tak memadai. Disini meskipun muslim telah mencapai kemerdekaan politiknya akan tetapi Islam tak mampu memiliki kemerdekaan secara utuh, karena ia masih menganut apa yang telah di bentuk oleh barat. Sudah barang tentu proses westernisasi berlangsung tanpa terlintangi di dunia muslim malahan ia telah memperoleh momentumnya di banyak daerah muslim semenjak terhentinya perbudakan politik.

DAFTAR PUSTAKA
Azra, Azyumardi. Konflik Baru Antar Peradaban. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002.
Bassam, Tibi. Krisis Peradaban Islam Modern: Sebuah Kultur Praindustri dalam Era Ilmu Pengetahuan dan Tekonologi, Yogyakarta: Tiara Wacana Yogyakarta, 1994.
Hasan, Abu Ali Nadawi, dkk. Benturan Barat dengan Islam. Bandung: Mizan, 1993.
Hasan, Abu Ali Nadawi. Islam membangun Peradaban Dunia. Djambatan: Pustaka Jaya, 1984.
Hizbut Tahrir, Benturan Peradaban Sebuah Keniscayaan. Jakarta: Hizbut Tahrir Indonesia, 2002.
Husaini, Adian. Wajah Peradaban Barat: Dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular-Liberal. Jakarta: Gema Insani, 2005.
Khalidy, Mustafa dan Farrukh, Umar. Imperialisme dan Missionaris Melanda Dunia Islam. Solo: CV Pustaka Mantiq, 1973.
________________________________________
[1] Hijbut Tharir, Benturan Peradaban Sebuah Keniscayaan, (Jakarta: Hizbut Tahrir Indonesia, 2002), hlm. 13
[2] Adian Huaini, Wajah Peradan Barat: Dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Hegemoni Sekular Liberal, (Jakarta: Gema Insani, 2005), hlm. 232
[3] Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA, Konflik baru antar Peradaban: Globalisasi, Radikalisme, & Pluralitas, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002), hlm. 1
[4] Musthafa Khalidy dan Umar Farrukh, Imperialis dan Misionaris Melanda Dunia Islam, (Solo: CV Pustaka Mantiq, 1973), hlm.24
[5] Abu Hasan DKK, Benturan Barat dengan Islam, hlm. 59
[6] Azyumardi Azra, Koflik baru antar peradaban, hlm.5
[7] Abu Hasan Ali an Nadwi DKK, Benturan Barat dengan Islam, (Bandung: Mizan, 1993), hlm.120

http://ardiceper.blogspot.com/2011/01/benturan-peradaban-antara-islam-dan.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: