Tradisi Natal Kaum Kafir

Oleh Dr. Adian Husaini

Rabu, 07 Januari 2004

Natal merupakan tradisi kafir (pagan) di Romawi. Literatur menyebutkan, 25 Desember merupakan peringatan Dewa Matahari yang dikenal sebagai Sol Invictus. Baca CAP ke-38 Adian Husaini, MA Remi Silado, seorang budayawan Kristen, menulis kolom yang menarik di majalah Gatra, edisi 27 Desember 2003. Judulnya “Gatal di Natal”. Beberapa kutipan kolomnya kita petik di sini:

(1) “Sebab, memang tradisi pesta ceria Natal, yang sekarang gandrung dinyanyikan bahasa kereseh-reseh Inggris, belum lagi terlembaga. Sapaan Natal, “Merry Christmas” –dari bahasa Inggris Lama, Christes Maesse, artinya “misa Kristus”– baru terlembaga pada abad ke-16, dan perayaannya bukan pada 25 Desember, melainkan 6 Januari.”

(2) “Dengan gambaran ini, keramaian Natal sebagai perhitungan tahun Masehi memang berkaitan dengan leluri Barat, istiadat kafir, atau tradisi pagan, yang tidak berhubungan dengan Yesus sendiri sebagai sosok historis-antropologis bangsa Semit, lahir dari garis Ibrahim dan Daud, yang merupakan bangsa tangan pertama yang mengenal monoteisme absolut lewat Yehwah.”

(3) Saking gempitanya pesta Natal itu, sebagaimana yang tampak saat ini, karuan nilai-nilai rohaninya tergeser dan kemudian yang menonjol adalah kecenderungan-kecenderungan duniawinya semata: antara lain di Manado orang mengatakan “makang riki puru polote en minung riki mabo” (makan sampai pecah perut dan minum sampai mabuk).

(4) “Demikianlah, soal Natal sekali lagi merupakan gambaran pengaruh Barat, dan persisnya Barat yang kafir, yang dirayakan dengan keliru.”

Kritikan tajam terhadap budaya Natal dari kalangan Kristen itu sebenarnya sudah banyak dilakukan. Seorang pendeta bernama Budi Asali M.Div., menulis artikel panjang tentang Natal berjudul Pro-Kontra Perayaan Natal, dan disebarluaskan melalui jaringan internet.

Pendeta ini membuka tulisannya dengan ungkapan:

“Akhir-akhir ini makin banyak orang-orang kristen yang menentang perayaan Natal, dan mereka menentang dengan cara yang sangat fanatik dan keras, dan menyerang orang-orang kristen yang merayakan Natal. Kalau ini dibiarkan, maka Natal bisa berkurang kesemarakannya, dan menurut saya itu akan sangat merugikan kekristenan. Karena itu mari kita membahas persoalan ini, supaya bisa memberi jawaban kepada orang-orang yang anti Natal.”

Jelas, banyak kalangan Kristen yang “anti-Natal”, meskipun mereka tenggelam oleh gegap gempita peringatan Natal, yang begitu gemerlap. Di Malaysia, 27 Desember 2003, ada perayaan Natal Bersama di Lapangan Olahraga Kinabalu, Sabah, yang dihadiri ratusan ribu orang. Selain ada pawai lampion, nyanyi-nyanyi lagu-lagu Natal, ada juga acara peragaan busana batik, yang dilakukan oleh beberapa peserta lomba ratu kecantikan dari berbagai negara. Acara ini disiarkan langsung oleh TV1 Malaysia. Seperti halnya di berbagai belahan dunia lainnya, sosok Santaklaus sudah jauh lebih popular daripada sosok Jesus. Pohon cemara yang sulit dicari di Palestina, sudah menjadi simbol Natal.

Sebenarnya, jika ditelusuri, kisah Natal itu sendiri sangat menarik. Bagaimana satu tradisi kafir (pagan) di wilayah Romawi kemudian diadopsi menjadi tradisi keagamaan Kristen. Banyak literatur menyebutkan, bahwa tanggal 25 Desember memang merupakan hari peringatan Dewa Matahari yang di Romawi dikenal sebagai Sol Invictus. Setelah Constantine mengeluarkan the Edict of Milan, pada 313 M, maka ia kemudian mengeluarkan sejumlah peraturan keagamaan yang mengadopsi tradisi pagan. Pada 321, ia memerintahkan pengadilan libur pada hari “Hari Matahari” (sunday), yang dikatakan sebagai “hari mulia bagi matahari”. Sebelumnya, kaum Kristen – sama dengan Yahudi – menjadikan hari Sabbath sebagai hari suci. Maka, sesuai peraturan Konstantine, hari suci itu diubah, menjadi Sunday. Sampai abad ke-4 M, kelahiran Jesus diperingati pada 6 Januari, yang hingga kini masih dipegang oleh kalangan Kristen Ortodoks tertentu. Namun, kemudian, sebagai penghormatan terhadap Dewa Matahari, peringatan Hari Kelahiran Jesus diubah menjadi 25 Desember.

Ada sebagian kalangan Kristen yang berargumen, bahwa tanggal 25 Desember itu diambil supaya perayaan Natal dapat menyaingi perayaan kafir tersebut. Tetapi, apa yang terjadi sekarang, tampaknya seperti yang dikatakan oleh Remi Silado, bahwa perayaan Natal sudah didominasi oleh tradisi perayaan kaum kafir. Maka, muncullah, di kalangan Kristen, gerakan untuk menentang perayaan Natal pada 25 Desember. Apalagi ada yang kemudian melihat, penciptaan tokoh Sinterklass, sebenarnya merupakan bagian dari rekayasa Barat untuk melanggengkan hegemoni imperialistiknya, yakni ingin menciptakan image, bahwa Barat adalah dermawan, baik hati, suka bagi-bagi hadiah, seperti Sinterklas itu.

Begitulah bagian dari tradisi Kristen. Kaum Muslim seyogyanya mengambil ibrah dari kisah ini, dan kemudian tidak menjadi latah untuk mengambil apa saja yang datang dari kaum Kristen, yang sebenarnya mereka sendiri juga mengadopsi tradisi itu dari kaum kafir pagan (penyembah berhala).

Di dalam Islam, ada hal yang menarik jika dicermati, bagaimana dalam soal perayaan Hari Besar, sejak awal mula, Rasulullah saw sudah memberikan garis yang tegas, agar kaum Muslim merayakan hari besarnya sendiri. Jangan meniru-niru atau mengambil hari yang sama dengan kaum musyrik atau kaum Yahudi dan Nasrani.

Dalam Islam ada satu batasan yang ketat dalam soal ibadah, bahwa haram hukumnya melakukan ibadah yang tidak ada contohnya dari Rasulullah saw. Islam memiliki Kitab Suci yang terpelihara terjada otentisitasnya.

Bahkan, sikap dilarang meniru-niru tradisi kaum kafir itu sangat ditekankan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya.

Dalam sehari, minimal 17 kali, di dalam salat wajib, kaum Muslim selalu meminta petunjuk kepada Allah agar diberi petunjuk jalan yang lurus, dan dijauhkan dari jalan kaum yang dimurkai Allah dan jalan kaum yang sesat. Karena itulah, Islam memiliki tata cara ubudiyah yang terjaga. Kitab suci Islam, tetap berbahasa Arab, sampai sekarang, dan bahasa ritual Islam adalah bahasa Arab.Ini yang tidak dimiliki kaum Kristen. Sebab, kalangan sejawaran Kristen masih berdebat tentang bahasa Ibu dari Jesus itu sendiri, apakah bahasa Syriac, Aramaic, Greek, Hebrew. Bahkan ada yang menyebut mungkin bahasa Ibu Jesus adalah bahasa Latin.

Ketika berbicara tentang teks Bible, muncul lebih banyak masalah lagi. Perjanjian Baru (New Testament) ditulis dalam bahasa Greek. Remi Silado mencatat bahwa Injil sekarang diterjemahkan ke dalam semua bahasa, yaitu 2.062 bahasa di dunia dan 135 bahasa di Indonesia. Gereja Vatikan sendiri sekarang tidak lagi menggunakan bahasa Greek (Yunani) sebagai bahasa ritual keagamaan, tetapi menggunakan bahasa Latin.Padahal, banyak keterbatasan bahasa Latin dalam terjemahan dari bahasa Greek.

Dalam buku the Early Versions of the New Testaments karya Bruce M. Metzger (Oxford: Clarendon Press, 1977), disebutkan sejumlah teks Bible awal, seperti Syriac versions, Coptic versions, Armenian versions, Georgian versions, Ethiopic versions, Arabic versions, Latin versions, Gothic versions, dan beberapa bahasa Eropa lainnya. Bonifatius Fischer, dalam tulisannya berjudul, “Limitation of Latin in Representing Greek”, yang dimuat dalam buku Metzger ini mencatat, “Although the Latin language is in general very suitable for use in making a translation from Greek, there still remain certain features which can not be expressed in Latin.” (hal. 362-365). Jadi, meskipun bahasa Latin cukup memadai sebagai terjemahan dari Bible bahasa Yunani, tetapi tetap ada banyak hal yang tidak mampu diekspresikan oleh bahasa Latin.

Ini sebenarnya problema dari setiap terjemahan. Karena itulah, sehingga kini, ada ulama yang mengharamkan menerjemahkan al-Quran. Yang boleh adalah menafsirkan al-Quran. Sekalipun disebut sebagai terjemahan al-Quran, teks asalnya tetap terjaga, dan bahasa Arab masih tetap terjaga hingga sekarang, karena adanya al-Quran ini. Bahkan, bahasa Hebrew modern saat ini pun, dikembangkan dengan asas tata bahasa dan kosa kata bahasa Arab. S.D. Goitein, seorang professor Yahudi mengakui, bahwa bahasa Yahudi, pemikiran Yahudi, hukum Yahudi, dan filsafat Yahudi, disusun di bawah pengaruh Muslim-Arab. (“There, under Arab-Muslim influence, Jewish thought and philosophy, and even Jewish law and religious practice were systematized and finally formulated. Even the Hebrew language developed its grammar and vocabulary on the model of the Arab language.” (Lihat bukunya, yang berjudul Jews and Arabs, Their Contacts through the Ages, (New York: Schocken Books, 1974).

Profesor Bruce M. Metzger, guru besar bahasa Perjanjian Baru di Princeton Theological Seminary, menulis beberapa buku tentang teks Injil. Satu bukunya berjudul “The Text of the New Testament: Its Transmission, Corruption, and Restoration” (Oxford University Press, 1985). Jadi, memang ada korupsi dalam penyusunan teks Bible ini. Dalam bukunya yang lain, yang berjudul “A Textual Commentary on the Greek New Testament”, (terbitan United Bible Societies, corrected edition tahun 1975), Metzger menulis di pembukaan bukunya, ia menjelaskan ada dua kondisi yang selalu dihadapi oleh penafsir Bible, yaitu (1) tidak adanya dokumen Bible yang original saat ini, dan (2) bahan-bahan yang ada pun sekarang ini bermacam-macam, berbeda satu dengan lainnya.

Inilah realitas Bible yang dinyatakan oleh seorang sarjana terkemukanya. The Encyclopaedia of Religion juga memberikan paparan yang cukup jelas tentang transmisi dan kodifikasi teks Bible ini. Problema teks Bible inilah yang kemudian dicoba dibawa-bawa ke dalam teks al-Quran oleh sebagian kalangan Muslim. Pada tahun 1927, Alphonse Mingana, pendeta Kristen asal Iraq dan guru besar di Universitas Birmingham Inggris, sudah menyatakan, “sudah tiba saatnya untuk melakukan kritik teks terhadap al-Qur’an sebagaimana telah kita lakukan terhadap kitab suci Yahudi yang berbahasa Ibrani-Arami dan kitab suci Kristen yang berbahasa Yunani (The time has surely come to subject the text of the Kur’an to the same criticism as that to which we subject the Hebrew and Aramaic of the Jewish Bible, and the Greek of the Christian scriptures).” (Bulletin of the John Rylands Library (Manchester, 1927) XI: 77).

Lalu, website http://www.islamlib.com pada 17-11-2003 meluncurkan artikel berjudul Merenungkan Sejarah Alquran tulisan seorang dosen Universitas Paramadina, yang antara lain memuat ungkapan berikut: “Sebagian besar kaum Muslim meyakini bahwa Alquran dari halaman pertama hingga terakhir merupakan kata-kata Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad secara verbatim, baik kata-katanya (lafdhan) maupun maknanya (ma’nan). Kaum Muslim juga meyakini bahwa Alquran yang mereka lihat dan baca hari ini adalah persis seperti yang ada pada masa Nabi lebih dari seribu empat ratus tahun silam.

Keyakinan semacam itu sesungguhnya lebih merupakan formulasi dan angan-angan teologis (al-khayal al-dini) yang dibuat oleh para ulama sebagai bagian dari formalisasi doktrin-doktrin Islam. Hakikat dan sejarah penulisan Alquran sendiri sesungguhnya penuh dengan berbagai nuansa yang delicate (rumit), dan tidak sunyi dari perdebatan, pertentangan, intrik, dan rekayasa.”

Serangan terhadap al-Quran dari kalangan sarjana Muslim sendiri, belum pernah dihadapi oleh kaum Muslim Indonesia sepanjang sejarahnya. Jadi, bisa dikatakan, ini merupakan babak baru dalam sejarah Islam Indonesia. Memang, al-Quran sudah menggariskan, bahwa Islam akan senantiasa diserang. (QS 2:120, 217).

Namun, belum pernah terjadi dalam sejarah kaum Muslim Indonesia, muncul begitu ramai cendekiawan (ulama) dan misionaris Kristen pada waktu bersamaan menggugat dan menyerang otentisitas al-Quran. Jika al-Quran, fondasi Islam utama, diserang, maka unsur-unsur bangunan Islam lainnya – hadith, ijma’, sunnah sahabat, otoritas ulama – akan dengan mudah diruntuhkan.

Ini memang era baru. Sama dengan saat Belanda menjejakkan kakinya pertama di Banten, 1596. Serangan terhadap al-Quran dilakukan dengan sangat serius dan menyita energi yang sangat besar. Sudah ratusan tahun hal ini disiapkan. Para penyerang itu menguasai ilmu-ilmu tentang a-Quran. Biasanya, para orientalis ini memahami bahasa Arab, Inggris, Hebrew, Syriac, dan mungkin beberapa bahasa lain. Tak hanya itu, bahan-bahan dalam bentuk manuskrip pun sudah mereka boyong ke Barat. Dan yang lebih hebat, mereka sudah didik anak-anak Muslim untuk belajar dan menguasai jurus-jurus serangan terhadap al-Quran – dari berbagai sudut. Tentu, serangan dari dalam tubuh umat Islam akan membawa dampak yang jauh lebih dahsyat terhadap umat.

Menghadapi semua ini, kaum Muslim tidak cukup hanya melakukan aksi demonstrasi. Ini memang aksi intelektual, dan wajib dihadapi dengan cara yang sama.

Wallahu a’lam.

(KL, 31 Desember 2003).

hidayatullah.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: