MACAM-MACAM LIBERAL

Dalam al-Qur’an disebutkan, bahwa orang-orang beriman tidak satu macam dan dalam satu derajat yang sama, baik di hadapan manusia maupun di sisi Allah. Mereka ada tiga macam, yaitu;

– Mukmin yang suka menzhalimi dirinya sendiri
– Mukmin yang biasa-biasa saja,
– Dan Mukmin yang senang berlomba-lomba dalam kebaikan

Allah SWT berfirman,
“Kemudian Kami wariskan al-Kitab (al-Qur’an) kepada orang-orang terpilih dari hamba-hamba Kami. Maka, diantara mereka ada yang menzhalimi sendiri. Di antara mereka ada yang tengah-tengah. Dan di antara mereka ada yang bersegera dalam kebaikan dengan izin Allah.” (Fathir: 32)

Begitu pula dengan orang kafir, ia pun ada beberapa macam. Ada kafir dzimmi, kafir harbi, kafir mu’ahad, dan ada juga kafir murtad. Kafir dzimmi adalah orang non-muslim yang hidup di negeri muslim dan membayar jizyah. IA mendapatkan perlakuan sebagaimana orang muslim di negeri tersebut.
Kafir harbi adalah non-muslim yang memerangi kaum muslimin. Kafir jenis ini boleh diperangi. Sedangkan kafir mu’ahad adalah orang non-muslim di suatu negeri yang mempunyai ikatan perjanjian damai dengan kaum muslimin; ia tidak boleh diperangi. Adapun kafir murtad, yaitu seorang yang tadinya muslim namun keluar dari agama Islam. Kafir jenis ini boleh dibunuh!

Rasulullah SAW bersabda,
“Barangsiapa yang mengganti agamanya (murtad), maka bunuhlah ia.” (HR. Bukhari, Abu Dawud, Tirmidzi, Ahmad, dan lain-lain dari Ibnu Abbas R.A.)

Bagaimana dengan orang-orang liberal? Ternyata mereka juga tak berada dalam satu tingkatan dan macam yang sama. Secara fakta, kalangan kaum liberal terbagi dalam empat kategori, yaitu: Pertama; Liberal profesional. Orang liberal jenis ini adalah mereka yang hidup dan matinya diperuntukkan bagi “sang pemesan” alias si penyandang dana. Orang jenis ini pemikirannya sangat liberal, selalu menyebarkan paham liberal dalam tulisan-tulisan dan ceramahnya, berusaha meliberalkan orang lain, merasa paling benar dengan keliberalannya, dan menganggap orang yang tidak liberal adalah salah, bahkan tak sungkan-sungkan ia serang siapa pun yang mengganjal liberalisme.
Seorang liberal profesional sangat mahir menulis. Atau lebih tepat jago menjungkir-balikkan fakta, menggiring opini, menggelincirkan dalil, dan mengesankan ilmiah lagi objektif serta proporsional dalam tulisannya. Selain itu, ia juga mahir berbicara di depan publik, atau lebih pas jika dibilang pintar bersilat lidah dan bermain kata-kata. Dan secara ekonomi, biasanya orang liberal profesional hidupnya cukup mapan. Kalaupun toh aslinya hidup kekurangan, dia relatif akan cepat mendapatkan kekayaan.

Kedua; Liberal amatir. Ia adalah seorang liberal yang masih kacangan dan keliberalannya masih cetek. Sikap dan pemikiran liberalnya cuam ikut-ikutan. Ia jarang bahkan belum tentu bisa menulis hal-hal yang berbau liberal. Ia belum bisa menuangkan pemikiran liberalnya dalam bentuk tulisan, namun senantiasa membela liberalisme. Untuk itu, orang liberal amatir ini juga bisa disebut sebagai liberal follower atau liberal bebek. Ia sama sekali tidak mendapatkan keuntungan yang bersifat materi maupun benefit dalam bentuk apa pun. Kasihan sekali orang ini.

Ketiga; Liberal freelance. Karakteristik liberal jenis ini mirip-mirip dengan liberal profesional. Hanya saja ia adalah seorang liberal yang pragmatis dan tidak “ikhlas”. Ia sebetulnya ingin menjadi liberal sejati seperti liberal profesional, tetapi nasib tidak berpihak kepadanya, ia menjadi semacam liberal yang marjinal. Ia tidak digaji oleh lembaga penyandang dana kaum liberal. Ia hanya mendapatkan imbalan ‘ala kadarnya’ dari media yang memuat tulisan-tulisan pemikiran liberalnya. Orang ini juga perlu dikasihani karena tidak mendapatkan apa yang dia harapkan dari si penyandang dana sebagaimana kaum liberal profesional.

Dan keempat; Liberal volunteer. Ia adalah seorang liberal sukarelawan. Biasanya orang-orang dalam kategori ini adalah mereka yang sudah mapan secara materi, pemikiran, status sosial (bahkan ditokohkan), dan relatif berusia lanjut. Seorang liberal volunteer tidak dibayar dengan keliberalannya. Ia menjadi liberal dengan sendirinya karena basic pendidikan dan pergaulannya, tanpa harus terpengaruh dengan liberal profesional. Orang jenis ini adalah liberalis yang “ikhlas”. Dia mengacak-acak tatanan agama dan syariat bukan dalam posisinya sebagai seorang tokoh liberal, melainkan sebagai tokoh masyarakat yang dituakan. Orang liberal jenis ini jauh lebih berbahaya daripada liberal profesional, karena umat tidak mau tahu dengan keliberalannya.

(Dikutip dari “Pengantar Penerbit” untuk buku “MEMBENDUNG ARUS LIBERALISME DI INDONESIA” Karya Dr. Adian Husaini, MA, Pustaka Al-Kautsar; Mei 2009)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: