BENTURAN PERADABAN: PERTARUHAN BARAT MENGHADANG ISLAM

“Civilizations are dynamic; they rise and fall; they divide and merge.”
Samuel P. Huntington –Clash of Civilization

Nasionalisme merupakan akar dari perpecahan dan melemahnya dunia islam. Dalam pandangan masyarakat barat nasionalisme merupakan bentuk perubahan dari sistem kerajaan menuju sistem kerakyatan. Karena bersamaan dengan ide ini, muncul perlawaan rakyat terhadap kaum bangsawan. Sejak saat itu benturan yang terjadi di dalam masyarakat eropa dianggap sebagai peperangan rakyat. Sebagaimana diungkapkan R.R. Palmer (1793), dikutip di dalam Clash of Civilization, “The wars of kings were over; the wars of peoples had begun”. Lahirnya konsep negara bangsa menjadi titik awal dari kolonialisasi Negara Barat terhadap Non-Barat, dan berhasil mempengaruhi orang-orang Arab untuk melakukan perlawanan kepada Pemerintahan Turki Utsmani dengan alasan yang sama. Penerapan hukum dan administrasi pemerintahan dalam urusan riayah yang buruk menjadi pemicu kemarahan dan permusuhan terhadap pemerintahan Islam. Kemudian, berbagai upaya terus dilakukan oleh barat untuk membiaskan gambaran mengenai daulah islam (Islamic State) ketika pemerintahan Islam melemah sedangkan para aktivis gerakan kebangkitan memperdebatkan dua buah konsep yang sama-sama menolak keberadaan pemerintahan islam; Pan Islamisme ataukah Pan Arabisme[1]. Polemik antara dua konsep ini dipelihara dalam waktu yang lama, mengisi berita utama di koran-koran dan majalah pada saat itu, sehingga tercipta opini umum bahwa masyarakat sudah tidak peduli lagi dengan pemerintahan islam (Khilafah). Akibatnya masyarakat di negeri-negeri muslim tidak memiliki gambaran yang jelas mengenai sistem pemerintahan islam.

Sifat Alami Peradaban

Setiap peradaban memiliki fase kehidupan, karena mereka lahir, tumbuh dan berkembang, kemudian mengalami kemunduran dan kehancuran. Jika kita berkaca kepada sejarah peradaban yang ada, kemunduran suatu peradaban disebabkan oleh dua hal mendasar. Pertama, adanya pemikiran rusak yang menyebabkan rusaknya cara berpikir masyarakat. Kedua, adanya ancaman musuh baik tersembunyi ataupun yang nampak.

Pertama, kehancuran suatu peradaban disebabkan oleh adanya pemikiran rusak di tengah-tengah masyarakat. Pemikiran tersebut dapat berupa filsafat, budaya asli penduduk, agama, dan ideologi. Pemikiran itulah yang membentuk cara berpikir masyarakat, sekaligus membawanya ke arah kebangkitan atau kehancuran. Kejatuhan Uni Soviet disebabkan oleh Komunisme yang melandasi pemikiran masyarakatnya. Meski ideologi ini (komunis) sempat mengantarkan Soviet kepada kemajuan industri yang hebat namun hal ini tidak berlangsung lama, karena kemajuan teknologi yang gemilang itu berdiri di atas ketertindasan masyarakatnya. Prinsip “sama rata sama rasa” yang identik dengan persamaan kelas dalam komunis sering kali dianggap sebagai penyebab utama kehancuran peradaban ini. Karena pada hakikatnya telah mengabaikan fitrah manusia yang menginginkan segala sesuatu secara mudah dan instant.
Sama halnya dengan apa yang menimpa Amerika Serikat dengan ideologi Kapitalisme nya, meskipun memiliki pengaruh yang tidak kecil bahkan dengan kekuatannya mampu mengintervensi laju pemerintahan berbagai negara di dunia, tidak dapat dipungkiri bahwa eksistensinya tinggal menunggu waktu. Kesenjangan sosial karena penerapan sistem ekonomi Kapitalis telah mengantarkan AS kepada krisis multi dimensi. Kehancuran itu semakin jelas terlihat dalam kurun dua dekade terakhir.

Kedua, adanya ancaman musuh yang tersembunyi ataupun yang nampak. Pergulatan dalam memperebutkan pengaruh dan wilayah (dominasi) kekuasaan menjadi dinamika kehidupan manusia. Hal itu didorong oleh keyakinan terhadap apa yang telah diyakini kebenarannya. Standar kebenaran setiap ideologi yang berbeda menjadi pemicu benturan atar peradaban (clash of civilization). Sebagaimana Demokrasi yang menentukan nilai kebenaran berdasarkan pendapat mayoritas bertentangan dengan Islam yang menentukan nilai kebenaran berdasarkan hukum syara’. Oleh karena itu benturan peradaban pada hakikatnya adalah benturan ideologi.
Benturan ideologi berubah menjadi pertarungan pemikiran yang bertujuan untuk memperebutkan tempat di hati dan pikiran masyarakat[2]. Inilah yang menjadi faktor utama terjadinya pergolakan antara muslim dengan barat. Permusuhan yang ditunjukan masyarakat di negeri-negeri muslim kepada barat dan kebencian juga permusuhan masyarakat barat terhadap islam merupakan hasil dari perang pemikiran.

Barat yang diwakili oleh AS secara langsung menyerang kaum muslimin di negeri-negeri mereka, mengintervensi pemerintahan mereka dengan menempatkan antek-antek mereka di dalam pemerintahan, sehingga dominasi barat atas negeri-negeri kaum muslimin menjadi sangat kuat. Padahal kenyataan hari ini adalah bahwa imperium AS tidak sekuat dulu, finansial AS tengah jatuh (collapse) akibat biaya perang yang membengkak serta krisis ekonomi yang melanda negeri paman Sam tersebut. Meski demikian, AS masih memiliki pengaruh di mata dunia sebagai Negara super power karena memiliki hak Veto yang mendukung mereka untuk mengarahkan opini sesuai kepentingan mereka.

Sementara itu kesadaran akan perlawanan terhadap penjajahan ala kapitalisme semakin menguat di negeri-negeri muslim. Kesadaran itu ditunjukan dalam berbagai tindakan seperti penolakan kedatangan Hilary dan Obama di Indonesia, perlawanan Taliban di Pakistan, bahkan penolakan bantuan PBB dan AS oleh kaum muslim dan mujahidin di Suriah. Semua itu meski dengan bentuk yang berbeda namun menunjukan keinginan muslim terbebas dari dominasi Barat. Bahkan kesadaran ini dilandasi oleh kesadaran untuk mengembalikan kehidupan islam dengan menjadikan islam sebagai pengatur bagi kehidupan dunia maupun ruhiyah mereka. Kesadaran ini menjadi sumber kekuatan utama bagi muslim sekaligus motivasi mereka untuk terlepas dari pemikiran Sekuler. Sebagaimana dikatakan seorang peneliti barat Gilles Kepel, di dalam bukunya yang berjudul “The Revenge of God: Revergence of Islam, Christianity, and Judism”, bahwa islam termasuk agama yang diuntungkan dari tumbuhnya ketidaksukaan terhadap ideologi politik dan utopia Kapitalisme.

Bagaimana pun Barat memiliki kepentingan nasional (National Interest), yaitu keamanan nasional dan kemakmuran domestik[3]. Dengan munculnya kekuatan islam di negeri-negeri muslim akan berdampak signifikan terhadap laju kepentingan nasional AS. Selama ini AS mengamankan kepentingannya dengan menempatkan orang-orang suruhan mereka di pemerintahan. Mereka tidak akan mampu lagi memanfaatkan orang-orang kepercayaannya itu ketika islam berkuasa. Berkenaan dengan hal ini Hutington berpendapat, “Bagi Barat, yang menjadi musuh utama bukanlah fundamentalisme islam, tapi Islam itu sendiri…”[4]. Maka tidak heran apabila perang pemikiran menjadi dinamika politik di negeri-negeri muslim.

Akilnov (2005) mengatakan, “Permasalahan utama bagi kepentingan nasional AS saat ini adalah potensi munculnya pemerintahan yang tidak kooperatif di negeri-negeri muslim. Pemerintahan di negeri-negeri muslim umumnya kooperatif dalam melindungi kepentingan nasional AS di wilayahnya, hanya saja, saat ini, semakin banyak elemen masyarakat menunjukan permusuhan terhadap AS baik dengan serangan fisik atas kepentingan-kepentingan AS maupun dengan seruan-seruan permusuhan”[5]. Dalam merespon hal ini AS menyusun berbagai strategi untuk mempertahankan ideologinya di negeri-negeri jajahan mereka. Adapun upaya-upaya yang dilakukan akan selalu berporos kepada dua hal; (1) melancarkan propaganda perang melawan terorisme yang pada hakikatnya adalah perang melawan islam, (2) menjalankan politik belah bambu.

Islam dan Terorisme
Deklarasi perang melawan terorisme (war on terror) ramai dibicarakan setelah terjadi peristiwa 9/11. Peristiwa ini mendorong AS untuk meningkatkan kerjasama antar negara guna memburu dan menghilangkan para pelaku teror. Namun kenyataannya pemerintah AS tidak sekedar mendeklarasikan perang melawan terorisme akan tetapi juga melakukan propaganda yang menyerang islam. Hal ini dikarenakan tindakan penyerangan itu sendiri tidak menjadi ancaman bagi AS atau bagi AS yang menjadi ancaman sebenarnya adalah motif dari penyerangan tersebut.
Motif dari penyerangan dianggap lebih berbahaya karena memperlihatkan adanya kesadaran nyata yang mengharuskan pelaku penyerangan melakukan aksinya. Di samping itu, para pelaku penyerangan hanya menggunakan bahan-bahan yang minim sehingga dampak dari penyerangan itu sendiri tidak signifikan mengancam keamanan mereka. Oleh karena itu, propaganda war on terror pada hakikatnya adalah war on idea yang menempatkan islam sebagai musuh utama. Bukti lain yang memperkuat hal ini adalah penelitian yang dilakukan Joan Cole, seorang guru besar di University of Michigan, mengenai pelaku pembantaian terbesar di abad 20 ternyata dilakukan oleh masyarakat peradaban lain dan bukan muslim[6]. Dengan demikian dapat kita tarik kesimpulan bahwasanya pengaitan terorisme dengan islam memang memiliki tujuan lain; sumber daya alam.

Tidak dapat dipungkiri bahwa negeri-negeri muslim adalah pemilik kekayaan alam yang melimpah. Sebaliknya negara-negara eropa justru sangat kekurangan sumber daya alam. Fakta lain menyebutkan bahwa kekayaan sumber daya alam sebuah Negara merupakan faktor pendukung yang menjadikan negara itu unggul, maju, dan berkembang. Di masa lalu, sumber daya alam menjadi alasan utama pendudukan barat terhadap wilayah-wilayah lain. Begitu pula hari ini sumber daya alam masih menjadi sasaran utama bagi negara-negara industri terutama Barat. Oleh karena itu barat terutama AS sangat berkepentingan untuk memastikan bahwa kekayaan alam yang ada hanya jatuh ke tangan mereka. Invasi militer ke Iraq adalah untuk mengamankan minyak, sedangkan ke Afghanisthan adalah untuk mengamankan uranium. AS menjadikan isu terorisme sebagai alasan untuk menjastifikasi tindakan mereka menjarah sumber daya alam kedua negeri tersebut.
Politik belah bambu

Seorang pakar Sosiologi AS, Cheryl Benard, menyatakan: “There is no question that contemporary Islam is in a volatile state, engaged in an internal and external struggle over its values, its identity, and its place in the world. Rival versions are contending for spiritual and political dominance.[7][“Tidak diragukan lagi bahwa saat ini (masyarakat) Islam dalam keadaan labil, mereka terlibat dalam perjuangan -internal dan eksternal – atas nilai-nilai, identitas, dan posisinya di dunia. Musuh kita adalah mereka yang bersaing untuk mewujudkan dominasi spiritual dan politik. “]. Hal ini mengindikasikan bahwa munculnya pemerintahan (islam) yang tidak kooperatif akan menjadi bencana bagi AS. Oleh karena itu, permasalahan utama AS dalam mempertahakan peradabannya adalah dengan mengatasi ancaman ideologis yang datang dari orang-orang yang menyerukan kebangkitan islam.

Respon AS terhadap hal ini yaitu memetakan kecenderungan masyarakat muslim di negeri-negeri mereka. Berdasarkan pengkajian Cheryl Benard bersama RAND dihasilkan empat kelompok dalam masyarakat muslim; 1) kelompok fundamentalis, 2) kelompok tradisionalis, 3) kelompok moderat, 4) kelompok liberal. Menurutnya salah sau langkah penting yang harus dilakukan adalah dengan mendorong tokoh-tokoh moderat dan liberal agar menjadi rujukan dan model islam yang menerima keterbukaan, yakni menerima nilai nilai kebebasan dan demokrasi. Dengan demikian upaya mereka mempertahankan kepentingannya di negeri-negeri tersebut akan lebih terjamin.[*]

*Oleh Muhammad Lukman
*Aktivis KAJIAN ISLAM MAHASISWA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA (KALAM UPI)
Dipresentasikan dalam Kajian NGOPI KALAM UPI, Oktober 2013

________________________________________

[1] Lihat at Takatul al Hizbiy, Taqiyuddin an Nabhani hal. 8, edisi mu’tamadah (revisi) cetakan ke 4.
[2] Akilnov Kevin. (Mei, 2005). “Perang Pemikiran: AS vs Islamist”.
[3] Ibid.
[4] Hutington S. P. (1996). The Clash of Civilization?.
[5] (Akilnov, Kevin. (2005, June 2). Re: [Surau] FW: Perang Pemikiran: AS vs Islamist [electronic mailing list message]. Retrieved from Surau mailing list, http://groups.yahoo.com/group/surau/message/25402)
[6] Lihat http://www.juancole.com/2013/04/terrorism-other-religions.html atau versi terjemahan http://muslimdaily.net/opini/opini/terorisme-dan-sejarah-agama-agama.html
[7] Civil Democratic Islam, Partners, Resources, and Strategies, hal: ix

http://kalam-upi.blogspot.com/2013/10/benturan-peradaban-pertaruhan-barat_5635.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: