Serial Bahasan tentang Baiat: Bolehkah Berbaiat Amal? (2)

Beberapa kalangan menilai bahwa baiat hanya berlaku dari rakyat untuk khalifah. Sedangkan baiat amal dalam sebuah jamaah minal Muslimin, dianggap bid’ah.

Pemahaman ini bisa ditanggapi dari beberapa sisi:

Pertama, anggapan bahwa tidak ada baiat jenis ini pada masa dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bertolak belakang dengan kenyataan yang ada. Justru, para ulama dan ahli tarikh menyebutkan adanya pernyataan “saling setia” antara Muhammad bin Suud—pelopor Daulah Saudi I—dan Syaikh Muhammad rahimahumallah.
Bahkan, Syaikh Abdul Aziz bin Baz menukilnya dalam risalah beliau yang berjudul Al-Imam Muhammad bin Abdul Wahhab: Da’watuhu wa Siratuhu, hlm. 38-39, Cet. Kerajaan Arab Saudi.
Ibnu Suud berkata, “Wahai Syaikh, saya akan berbaiat (menyatakan setia) kepada Anda untuk membela agama Allah dan Rasul-Nya dan untuk berjihad di jalan Allah. Namun, saya khawatir, jika Anda kami dukung dan kami bela lalu Allah memenangkan Anda atas musuh-musuh Islam, jangan-jangan Anda akan memilih negeri lain untuk berpindah ke sana dan meninggalkan negeri kami.”.
Syaikh menjawab, “Saya tidak berbaiat kepada Anda untuk tujuan semacam itu. Saya berbaiat kepada Anda untuk menegaskan tekad bahwa darah harus dibayar dengan darah, penghancuran harus dibalas penghancuran. Saya tidak akan keluar dari negeri Anda selamanya.”

Kedua, perbuatan atau perkataan para ulama dan dai pada dasarnya bukanlah dalil syar’i yang bisa dijadikan hujjah dalam permasalahan syar’i. Pendapat mereka diikuti sepanjang kesesuaiannya dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Atau sebagaimana perkataan Imam Malik, “Setiap perkataan seseorang bisa diterima dan ditolak kecuali pemilik kubur ini (Rasulullah) Shallallahu ‘alahi wa sallam.” [1]

Berargumen dengan sikap dan perbuatan ulama dan para dai untuk mendukung pendapat tidak adanya baiat shugra/amal jelas telah bertentangan dengan Al-Qur’an dan Al-Hadits yang dikemukakan di atas. Bahkan, bertentangan dengan perbuatan sahabat ketika perang Yarmuk yang terjadi pada tahun 13 H.
Saat itu, pasukan muslim yang berjumlah 40.000 orang menghadapi 240.000 pasukan Romawi. Setelah pecah pertempuran dengan dahsyatnya, Ikrimah Radhiyallahu ‘anhu membaiat 400 pasukan muslim ‘alal maut (siap untuk mati). Kemudian pasukan ini menyerbu musuh hinggga seluruh pasukan ini mendapatkan gugur atau dalam keadaan luka parah. Sedang korban di fhak musuh ada 120.000 orang.[2]

Perlu kita tegaskan pula bahwa jumlah sahabat yang ikut dalam perang ini berjumlah sekitar seribu, namun tidak seorang pun di antara mereka yang mengingkari perbuatan Ikrimah, sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Katsir.[3]

Penulis: Fahruddin

[1] Siyaru A’lamin Nubala’, Adz-Dzahabi: VIII/93
[2] Lihat: Fathul Bari: XIII/63
[3] Lihat: Al-Bidayah wa An-Nihayah: VII/9

http://www.kiblat.net/2014/12/23/serial-bahasan-tentang-baiat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: