Serial Bahasan tentang Baiat: Dualisme Kepemimpinan dalam Islam (3)

Islam menghendaki umatnya bersatu dalam jamaah dan satu pemimpin. Karena itulah, Islam melalui lisan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan sanksi berat terhadap upaya yang mengarah kepada dualisme kepemimpinan. Hal ini tampak dalam hadits-hadits berikut:

وَمَنْ بَايَعَ إِمَامًا فَأَعْطَاهُ صَفْقَةَ يَدِهِ، وَثَمَرَةَ قَلْبِهِ، فَلْيُطِعْهُ إِنِ اسْتَطَاعَ، فَإِنْ جَاءَ آخَرُ يُنَازِعُهُ فَاضْرِبُوا عُنُقَ الْآخَرِ
Barang siapa telah membaiat imam serta memberikan kesetiaan dan loyalitas kepadanya, maka hendaklah dia menaatinya semampu mungkin, kemudian bila datang orang lain yang menyainginya maka penggallah lehernya.” (Riwayat Muslim).

إِذَا بُويِعَ لِخَلِيفَتَيْنِ، فَاقْتُلُوا الْآخَرَ مِنْهُمَا
“Bila dilakukan baiat kepada dua khalifah, maka bunuhlah yang paling akhir dari keduanya.” (Riwayat Muslim).

سَتَكُونُ هَنَاتٌ وَهَنَاتٌ فَمَنْ أَرَادَ أَنْ يفُرِّقَ هَذِهِ الْأُمَّةِ وَهِيَ جمِيعٌ فَاضْرِبُوه بِالسَّيْفِ كَائِنًا مَنْ كَانَ
“Akan terjadi kekacauan dan kekacauan, barang siapa ingin memecah persatuan umat ini sedangkan umat itu sedang bersatu, maka penggallah lehernya dengan pedang siapa pun orangnya.” (Riwayat Muslim).

مَنْ أَتَاكُمْ وَأَمْرُكُمْ جَمِيعٌ عَلَى رَجُلٍ وَاحِدٍ، يُرِيدُ أَنْ يَشُقَّ عَصَاكُمْ، أَوْ يُفَرِّقَ جَمَاعَتَكُمْ، فَاقْتُلُوهُ
“Barang siapa datang kepada kalian sedangkan urusan kalian itu bersatu di bawah kepemimpinan seorang pria, dan ia ingin membelah tongkat (kepemimpinan) kalian atau memecah barisan kalian, maka bunuhlah.” (Riwayat Muslim).
Para ulama menetapkan kaidah-kaidah yang jelas pula dalam perkara ini. Al-Mawardi berkata, “Dan bila kepemimpinan disematkan kepada dua imam di dua negeri, maka kepemimpinan mereka itu tidak sah, dikarenakan tidak boleh bagi umat ini ada dua imam di waktu yang sama.” [1]

Al-Qurthubi menjelaskan alasan pelarangan tersebut, “Ini adalah dalil yang paling jelas menunjukkan larangan pengangkatan dua imam, karena itu bisa menyebabkan timbulnya kemunafikan, perselisihan, perpecahan, kekacauan dan lenyapnya kenikmatan.”[2]
Namun, menurut Al-Qurtubi juga dan beberapa ulama lain, dualisme kepemimpinan dibolehkan bila wilayahnya berjauhan dan dipisahkan oleh perjalanan yang jauh. Tetapi, Al-Juwaini melihat kebolehan ini berada di luar permasalahan yang telah pasti hukumnya.[3]

“Para ulama mazhab kami berpendapat pelarangan penyematan imamah kepada dua orang di semua penjuru dunia, sedangkan menurut saya bahwa penyematan imamah kepada dua orang di satu wilayah yang berdekatan itu tidak boleh dan ijma telah terjalin terhadap hal itu. Adapun bila jaraknya berjauhan dan dua imam itu dipisahkan oleh perjalanan yang sangat jauh, maka di dalam hal itu ada kemungkinan (boleh). Dan ini di luar permasalahan yang qath’i.”[4]

Baiat dalam Kondisi Imam Belum Pasti

Ada yang menarik dalam hal ini. Abdullah bin Umar adalah sahabat yang meriwayatkan hadits ancaman mati jahiliyah bagi orang yang tidak berbaiat kepada imam kaum muslimin. Namun bagaimana sikapnya ketika kekhilafahan belum jelas? Mari kita lihat!
Diriwayatkan bahwa Muawiyah menunaikan ibadah haji pada tahun 51 H. Selain itu ia juga berkeinginan mengambil baiat kaum muslimin untuk anaknya, Yazid. Lalu ia mengirim utusan untuk memanggil Ibnu Umar. Setelah bertemu, Muawiyah mengucapkan syahadat dan berkata, “Wahai Ibnu Umar! Kamu pernah berkata kepadaku bahwa kamu tidak ingin tidur satu malam pun tanpa ada pemimpin (khalifah). Aku ingatkan kepadamu agar kamu mencegah perselisihan kaum muslimin, atau kamu akan menyebabkan pertikaian di antara mereka!

Ibnu Umar mengucapkan tahmid dan memuji Allah, lalu berkata, ‘Amma ba’du, sebelum dirimu, banyak khalifah yang mempunyai anak, dan anakmu tidak lebih baik daripada anak-anak mereka. Akan tetapi mereka tidak melakukan untuk anak-anak mereka sebagaimana yang kamu lakukan untuk anakmu. Mereka membiarkan kaum muslimin untuk memilih orang pilihan mereka. Engkau mengingatkan agar aku mencegah perselisihan kaum muslimin. Aku tidak akan melakukan hal itu. Aku hanyalah seorang dari kalangan kaum muslimin. Jika mereka telah sepakat akan suatu perkara, maka kau sepakat dengan mereka. Semoga kamu dirahmati oleh Allah!’ Lalu Ibnu Umar ke luar.”[5]

Hal yang sama juga terjadi pada masa sesudahnya. Abdullah bin Umar, pada mulanya tidak berbaiat kepada Abdullah bin Zubair ataupun Abdul Malik bin Marwan. Namun ketika umat sepakat kepada Abdul Malik bin Marwan, beliau pun berbaiat kepadanya.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Dinar, ia berkata, “Aku melihat —pada saat umat berkumpul untuk berbaiat kepada Abdul Malik bin Marwan sebagai khalifah— Ibnu Umar berkata, “Sesungguhnya aku menyatakan mendengar dan taat kepada hamba Allah Jalla wa ‘ala, Abdul Malik, Amirul Mukminin, di atas ketetapan Allah Jalla wa ‘ala Azza wa Jalla dan Sunnah Rasul-Nya selama aku mampu, dan sesungguhnya anak-anakku telah menyatakan hal yang sama.”(HR. Al-Bukhari no. 7203 dan 7205)

Menurut Dr. Yahya Ismail, salah satu karakteristik syariat Islam adalah menghilangkan segala kesempitan dan kesulitan dalam beribadah. Begitu juga halnya dalam urusan baiat. Seseorang tidak boleh dipaksa untuk berbaiat kepada salah seorang imam jika mayoritas rakyat belum setuju dengan kepemimpinan tersebut.

Lebih lanjut beliau mengungkapkan beberapa alasan bahwa Islam membolehkan seorang muslim untuk meninggalkan baiat dan kepatuhan, apabila berada dalam kondisi sebagai berikut:
• Terjadi perebutan kekuasaan antara dua penguasa yang sah dan belum jelas siapakah di antara keduanya yang lebih berhak menerima baiat.
• Terjadi fitnah peperangan internal umat Islam dan diyakini bahwa hal itu bisa diredakan jika tidak ada baiat.[6]
Baiat Zaman Fitnah

Sudah hampir satu abad, kaum muslimin kehilangan kepimpinan Islam yang dikenal dengan kekhilafahan. Ahli hadits Basrah dan yang lainnya menyatakan bahwa ketika tidak ada pemimpin umum bagi umat Islam maka zaman itu disebut zaman fitnah.[7] Dalam masa fitnah, perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Hendaknya kalian mengikuti sunnahku dan sunnah khulafaur rasyidin setelahku.”

Dari uraian sebelumnya, terlihat jelas bagaimana petunjuk Islam dalam perkara ini. Tidak ada perdebatan dalam baiat ketika imam (khalifah) benar-benar ada dan diakui di tengah-tengah kaum muslimin. Namun yang menjadi polemik adalah bagaimana menyikapi seruan baiat dari suatu jamaah.

Apalagi ketika seruan baiat itu dikuatkan dengan dalil-dalil baiat kubra, baik kewajiban berbaiat maupun ancaman bagi yang enggan melakukannya, seperti disebutkan sebelumnya. Walhasil, yang terjadi ialah klaim kebenaran dan kepemimpinan. Dampaknya ialah perpecahan dan perselisihan. Maka tujuan baiat sebagai elemen jamaah menuju persatuan tidaklah terwujud.

Penulis: M. Fahrudin
Sumber: Majalah Kiblat berjudul “ISIS, Baiat, Daulah, dan Khilafah”
Footnote:

[1] Al-Mawardi, Al-Ahkam As-Sulthaniyyah, hal: 9
[2] Imam Al-Qurthubi, Tafsir Al Qurthubi, 1/273
[3] Al-Juwaini, Al Irsyaad Ilaa Qawathii’il Adillah Fi Ushulil I’tiqad, hal: 425
[4] Idem
[5] Imam Suyuti, Tarikh khulafa, hal: 150
[6] Minhajul I’tidal, hal. 176, An-Nadhariah Siyasah Islamiah, hal. 195, Mukaddimah Ibnu Khaldun, Hal. 178
[7]Ibnu Taimiyah, Minhajus sunnah, Riyadh:Jami’ah Imam Muhammad bin Su’ud Al-Islamiyah, 1986, vol 1, 144.

http://www.kiblat.net/2014/12/23/serial-bahasan-tentang-baiat-dualisme-kepemimpinan-dalam-islam-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: