Serial Bahasan tentang Baiat: Kewajiban, Aplikasi, dan Penyelewengan (1)

Baiat adalah salah satu elemen dalam sebuah jamaah yang mengikat antara pemimpin dan jamaahnya. Maknanya, tujuan baiat adalah mempersatukan umat Islam dalam satu pemimpin dan jamaah. Sebab esensi dari baiat adalah ketaatan dan kesetiaan kepada pemimpin selama tidak dalam maksiat.
Berjamaah adalah perintah Islam, “Dan berpeganglah kalian kepada tali (agama) Allah dan janganlah berpecah belah.” (Ali Imran: 103).

Banyaknya perselisihan dan perbedaan manhaj akibat pemahaman yang keliru tentang Islam maka lahirlah Manhaj Ahlu Sunnah wal Jamaah. Ulama salaf menjelaskan bahwa berjamaah adalah: mengikuti sunnah meskipun engkau sendirian.
Maka, ketika ada dua orang yang mengikuti sunnah, keduanya harus bergabung dalam satu jamaah sebagai pelaksanaan perintah berjamaah dalam Al-Qur’an. Bila tidak, yang terjadi adalah perpecahan. Sebab masing-masing pihak akan mengklaim kebenaran. Ini baru dua orang.

Bagaimana bila dari dua ini berkembang dan banyak pengikut? Tulisan ini mengajak pembaca untuk berdiskusi tentang baiat sebagai elemen untuk mewujudkan kehidupan berjamaah, yang kemudian dalam praktiknya justru perpecahan yang terjadi. Kemudian, kita akan mencoba mengurai di manakah kesalahan itu dan bagaimana perbaikan yang mesti kita lakukan untuk kembali kepada tujuan awal, yaitu berjamaah dalam kebenaran.

Definisi Baiat

Ibnu Al-Atsir mengatakan, “Baiat ialah ungkapan tentang akad dan perjanjian, seolah-olah masing-masing pihak menjual apa yang ada pada dirinya dan memberikan jiwa dan ketaatannya secara tulus dari dasar hatinya.”[1]
Ibnu Khaldun mengatakan, “Baiat ialah janji untuk taat. Orang yang berbaiat itu berjanji kepada pemimpinnya untuk menyerahkan kepadanya segala kebijaksanaan tentang urusan dirinya dan urusan kaum muslimin, sedikit pun tanpa menentangnya; serta taat kepada perintah pimpinan yang dibebankan kepadanya, suka maupun tidak.”[2]
Baiat adalah bagian dari syariat Islam sudah dilaksanakan sejak masa Rasulullah. Bahkan diabadikan di dalam Al-Qur’an.
إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ فَمَنْ نَكَثَ فَإِنَّمَا يَنْكُثُ عَلَى نَفْسِهِ وَمَنْ أَوْفَى بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا
“Bahwasanya orang-orang yang berbaiat kepada kamu, mereka berbaiat kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barang siapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barang siapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar.” (Al-Fath:10)
Sepeninggal beliau, umat Islam membaiat Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai khalifah dan pemimpin umum bagi umat Islam. Maka dengan proses ini umat Islam bersatu dalam barisan.

Baiat Sughra dan Kubra

Dari peristiwa sejarah dan dalil-dalil nash, para ulama membagi baiat menjadi dua, yaitu baiat kubra dan sughra. Baiat kubra adalah baiat kepada pemimpin kaum muslimin (khalifah). Sedangkan baiat sughra adalah baiat untuk tetap setia dalam perkara tertentu yang tidak bisa dikuasakan kepada orang lain. Baiat ini berlaku terhadap penguasa dan juga terhadap selain mereka.[3]

KUBRA —- Kepada seseorang yang disepakati diangkat sebagai pemimpin.

SUGHRA —– Baiat untuk tetap setia dalam perkara tertentu yang tidak bisa dikuasakan kepada orang lain. Baiat ini berlaku terhadap penguasa dan juga terhadap selain mereka. Contohnya adalah baiat untuk hijrah, baiat nushrah (pertolongan), baiat amar ma’ruf nahi munkar, jihad fi sabilillah, dll.

Banyak orang belum memahami tentang syariat baiat sughra ini, terutama dalam amal berjamaah. Baiat sughra adalah baiat atau ‘ahdun (perjanjian) yang diambil atas amal makruf syar’i. Dalam ungkapan lain, merupakan akad, janji, dan ikatan yang bersyarat. Termasuk jenis ini adalah baiat untuk melakukan bentuk amal saleh apa saja.[4]
Di antara dalil yang menunjukkan adanya baiat sughra adalah fIrman Allah dalam surat Al-Fath ayat 10 dan 18.
“Bahwasanya orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barang siapa yang melanggar janjinya niscaya akibatnya akan menimpa diri sendiri dan barang siapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar.” (Al-Fath: 10)

“Sesungguhnya Allah telah rida terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dengan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).” (Al-Fath: 18)

Peristiwa baiat yang disebutkan dalam ayat di atas adalah Baiatur Ridwan yang terjadi pada tahun 6 Hijriah. Tidak diragukan lagi–sebagaimana yang disebutkan para sejarah Muslim–bahwa baiat tersebut bukanlah baiat dalam rangka mendaulat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pimpinan tertinggi kaum muslimin.
Baiat tersebut merupakan sikap pembelaan para sahabat terhadap Utsman bin Affan yang diisukan telah dibunuh oleh kafr Quraisy. Baiat untuk membela darah Utsman bin Affan sampai titik darah penghabisan. [5]

Selain itu ada juga Baiatun Nisa sebagaimana diterangkan dalam firman Allah Surat Al-Mumtahanah ayat 12. Selain ayat Al-Qur’an di atas, hadits yang diriwayatkan Abu Daud dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah juga mendukung adanya baiat sughra secara eksplisit, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا كَانَ ثَلَاثَةٌ فِي سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ
“Apabila ada tiga orang dalam safar maka hendaknya mereka mengangkat amir (pimpinan) salah satu di antara mereka.” (Sunan Abu Dawud no. 2608)
Ibnu Taimiyyah berkata, “Apabila telah diwajibkan mengangkat seorang amir dalam perkumpulan dan masyarakat yang paling kecil dan bersifat sementara (dalam safar), maka hal ini menunjukkan lebih wajibnya mengangkat amir dalam skala yang lebih besar darinya.”

Qiyas Imam Safar?

Jika ada yang mengatakan bahwa imarah safar tidak dapat diqiyaskan dengan imarah amal islami yang lain, maka dapat diterangkan sebagai berikut:
1. Imarah jamaah-jamaah Islam tidak hanya bersandar pada hadits safar, namun ada dalil-dalil lain.
2. Qiyas imarah jamaah-jamaah Islam terhadap imarah safar merupakan qiyas shahih (benar) lantaran kesamaan ‘illat (sebab).
3. Sesungguhnya jamaah yang berlangsung terus menerus lebih utama untuk menyelenggarakan imarah untuk menata kerapian dan ketertibannya daripada jamaah yang bersifat sementara sebagaimana safar.
4. Baiat sughra/baiat amal jama’i juga tidak berlaku untuk selamanya meskipun rentang waktunya lebih lama dari imarah safar. Imarah amal jama’i juga akan berakhir, yaitu ketika seorang khalifah syar’i telah dibaiat.
Di antara dalil lebih khusus dan spesifk yang menunjukkan adanya baiat ini adalah hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan Imam Muslim. Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata
جَاءَ عَبْدٌ فَبَايَعَ النَّبِيَّ عَلَيْهِ السَّلامُ عَلَى الْهِجْرَةِ
“Datang seorang hamba sahaya lalu berbaiat kepada Nabi saw atas hijrah.” (Shahih Muslim no. 4113)

Karakter Baiat Sughra dan Kubra

Baiat Sughra
Dalam baiat sughra, orang yang dibaiat (mubaya’) bisa saja khalifah atau kaum muslimin sebagian dengan sebagian lainnya.[6]
Ini adalah baiat yang dilakukan sebagian manusia, baik tiga orang maupun lebih banyak untuk berjanji dan menaati dalam urusan ketaatan. Tidak terbatas pada Ahlul Halli wal ‘Aqdi, tetapi siapa saja yang terlibat dalam suatu perjanjian.
Baiat ini berlaku bagi mereka untuk berjanji dalam ketaatan apapun tanpa adanya batas, seperti jihad, dakwah, amar ma’ruf nahi munkar, menyelamatkan orang yang teraniaya dan menolong orang yang dizalimi. Bahkan menyingkirkan duri dari jalan—bila menuntut ikatan baiat—maka ini termasuk Baiat Sughra.
Komitmen terhadap Baiat Sughra sifatnya wajib bagi orang yang telah suka rela bergabung di dalamnya, dan tidak mengikat orang di luar baiat tersebut. Jika seseorang telah mengikat janji setia, maka wajib baginya untuk memenuhi ikatan janji tersebut.[7]
Keluar dari Baiat Sughra adalah maksiat karena telah mengingkari janji yang mengikat antara sesama muslim. Dan ini telah jelas dalam syariat tentang hukum mengingkari janji dalam perkara ketaatan.
Berdasarkan sifat tersebut, maka dalam satu wilayah bisa terjadi banyak baiat dengan arah masing-masing. Maka ketika ada dua jamaah —atau lebih— dari sebagian umat Islam dengan baiat masing-masing, hubungannya bersifat kerja sama dan nasihat, bukan perintah dari atas ke bawah.
Jamaah-jamaah ini bisa mengarah kepada penggabungan (tansik) untuk membentuk jamaah umat Islam yang satu bila terjadi kesepakatan. Atau terbentuk jamaah yang memiliki kekuatan (syaukah), sehingga jamaah yang menyelisihi tunduk di bawahnya.
Hal ini telah ditunjukkan oleh sejarah. Setelah kaum Anshar dan Muhajirin bersatu di bawah kepemimpinan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kekuatan (syaukah) pun terwujud. Sampai Rasulullah wafat, kelompok yang menyelisihi atau orang-orang munafk tetap ada, tetapi syaukah tidak ada pada mereka, sehingga tunduk di bawah otoritas kaum muslimin, yakni Daulah Nabawiyah n.

Baiat Kubra
Dalam Baiat Kubra, orang yang dibaiat adalah Imam A’dham (khalifah).[8] Pihak yang membaiat adalah Ahlul Halli wal Aqdi dari umat ini atau seorang khalifah sebelumnya setelah melakukan pertimbangan dan syura di antara kaum muslimin. Orang yang dibaiat atau dinobatkan menjadi khalifah wajib memenuhi syarat-syarat baiat.[9]
Baiat Kubra mengharuskan orang yang dibaiat untuk menerapkan segala ketentuan syariat bagi kaum muslimin.[10]
Di sisi lain, umat wajib mendengar dan taat kepada imam serta menolongnya selama tidak dalam maksiat.

Kewajiban dan komitmen baiat kubra

Imam Al-Qurtubi berkata, “Dan jika imamah (khilafah) telah terwujud dengan kesepakatan Ahlul Halli wal Aqdi atau dengan salah satu seperti penjelasan yang lalu, maka wajib bagi seluruh rakyat membaiatnya untuk mendengar dan taat dan untuk menegakkan kitab Allah ta’ala dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Barang siapa tidak berbaiat karena ada uzur, ia diberi uzur (maaf). Barang siapa tidak berbaiat tanpa uzur maka dia dipaksa (untuk berbaiat), agar kesatuan kaum muslimin tidak terpecah.”[11]
Setiap muslim wajib memegang teguh baiatnya. Berdasarkan hadits:
مَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً
“Barang siapa mati dan belum berbaiat, maka matinya seperti mati dalam keadaan jahiliah.” (HR. Muslim dari Ibnu Umar).
Dan hadits, “Wajib beriltizam terhadap jamaah dan imamnya.” (HR. Muttafaq ‘Alaih dari Hudzifah).[12]
Syaikh Abdul Qadir bin Abdul Aziz berkata, “Kesimpulannya, bahwa baiat imam kaum muslimin adalah wajib menurut syar’i.”[13]
Setelah berbaiat, komitmen selanjutnya ialah mendengar dan taat, serta tidak melepaskan baiatnya kecuali dengan alasan yang telah ditetapkan syariat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ لَقِىَ اللَّهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَ حُجَّةَ لَهُ
“Barangsiapa melepaskan tangan dari ketaatan (kepada Amir), maka dia berjumpa dengan Allah di hari kiamat dalam keadaan tidak memiliki hujjah.” (HR. Muslim dari Ibnu Umar).
Maksud tidak ada hujjah, seperti dijelaskan oleh Imam Nawawi, ialah tidak ada alasan baginya di dunia dengan tindakannya itu. Sedangkan maksud tidak ada ‘uzur adalah tidak ada alasan yang berguna baginya untuk menyelamatkan dari ancaman Allah pada hari kiamat.[14]
Al Hafidz Ibnu Hajar (wafat 852 H) dalam Fathul Bari mengatakan, “Yang dimaksud dengan al miitah al jaahiliyyah (mati dalam keadaan jahiliah) adalah keadaan mati seperti matinya orang jahiliah. Yakni mati dalam kesesatan; tidak mempunyai imam yang ditaati karena mereka dulu tidak tahu yang demikian. Ia tidak mati kafir, namun mati dalam keadaan maksiat.”

Beliau melanjutkan, “(Ungkapan al miitah al jahiliah) mengandung makna tasybih (penyerupaan) atas zahirnya, yang maknanya dia mati seperti mati jahiliah walaupun dia bukan orang jahiliah.”[15]
Imam Ahmad ditanya tentang makna hadits “Barang siapa mati, sedang dia tidak memiliki imam, maka matinya seperti mati dalam keadaan jahiliah.”
Beliau bertanya, “Tahukah kamu, siapakah imam itu?” Yaitu imam yang telah disepakati oleh kaum muslimin. Mereka semua menyatakan, “Ini imam,” Inilah maknanya.”[16]
Dengan memahami perbedaan antara Baiat Kubra dan Baiat Sughra, maka jelaslah bahwa imam kaum muslimin yang dimaksudkan dalam hadits tersebut bukan pemimpin kelompok atau jamaah yang ada saat ini. Akan tetapi maksud imam di sini adalah pemimpin yang disepakati oleh seluruh kaum muslimin dengan memenuhi segala syarat yang ada. Dan yang menjadi titik tekan juga adalah pemimpin tersebut merupakan pemimpin yang menjalankan syariat islam.
Jadi, kedudukannya benar-benar menjadi khalifah yang menjalankan fungsi kepemimpinan, yaitu menjaga agama (menjalankan hukum islam) dan mengatur kemaslahatan dunia.[17] Karena pemimpin yang demikianlah yang wajib ditaati oleh seluruh kaum muslimin.

Penulis: M. Fahrudin
Sumber: Majalah Kiblat berjudul “ISIS, Baiat, Daulah, dan Khilafah”

Footnote:
[1] Baiah fi Al-Islam; Mafhumuha, Ahammiyatuha, wa syurutuha, Dr. Raghib As-Sirjani.
[2] Muqaddimah Ibnu Khaldun, hal.299
[3] Yahya Ismail, Manhaj As-Sunnah f Al-‘Alaqoh baina Al-Haakim wal Mahkum, terj.Andi Suherman (Jakarta:Gema Insani Press,1995), hal.153
[4] Lihat kitab Al-Mausu’ah Al-Muyassarah f Al-Adyan wa Al-Madzahib wa Al-Ahzab Al-Mu’ashirah (II/1000-1006) yang diterbitkan oleh WAMY (World Assembly of Moslem Youth)
[5] Lihat: Ar-Rahiq Al-Makhtum hal. 298
[6] Abdurrahman Bin Mu’alla Al-Waihaqi, Al-Ghullu fe Dien, (Beirut: Muasasah Ar-Risalah, 1992), cet. I, hal. 235
[7] Idem
[8] Idem
[9] Al-Mawardi, Al-Ahkam as-Sulthaniyyah, hal. 7.
[10] Imam Al-Mawardi menyebutkan sepuluh kewajiban, lihat Al-Ahkam as-Sulthaniyyah, hal. 15-17.
[11] Al-Qurthubi, Jami’ li-Ahkam al-Qur’an, juz 1, hal: 302, Maktabah Syamilah
[12] Lihat dalam Al-Ahkam as-Sulthaniyyah, hal. 20-23.
[13] Lihat: Abdul Qadir bin Abdul Aziz, al-Umdah fi I’dadil Uddah: 1/144
[14] An-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, vol. 6, hal. 323.
[15] Ibnu Hajar Al-Asqolani, Fathul Bari, (Beirut: Dar Ma’rifah, ), vol. 13, hal. 7
[16] Dinukil dari al-Wajiz fi Fiqhil Khilafah, hal. 77-78, lihat ats-Tsawabit wal Mutaghayyirat, hal. 230.
[17] Lihat: Al-Mawardi, Al-Ahkam as-Sulthaniyyah, hal. 7

http://www.kiblat.net/2014/12/23/serial-bahasan-tentang-baiat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: