UNTUK APA JADI LIBERAL?

Oleh: Dr. Adian Husaini, MA

Filosof Perancis, Jean-Paul Sartre (1905-1980), membuat pernyataan provokatif tentang Tuhan: “even if God existed, it will still necessary to reject him, since the idea of God negates our freedom.” (Karen Amstrong, History of God, 1993: 378). Jadi, kata Sartre, ide tentang Tuhan akan membatasi atau mengganggu kebebasan manusia. Maka, demi kebebasan (freedom), bebaskan manusia dari Tuhan! Lupakan Tuhan, agar manusia dapat menikmati kebebasan yang sempurna.

Gagasan “Tolak Tuhan” inilah yang sejatinya kemudian menjadi jati diri peradaban Barat, peradaban yang kini mendominasi umat manusia. Manusia Barat-setelah sempat terkungkung dan tertindas oleh agama (Kristen) selama ratusan tahun-akhirnya merasa lahir kembali (renaissance). Maka, gagasan “tolak Tuhan” atau “tolak agama” menjadi isu sentral dalam peradaban mereka. Leopold Weiss (Muhammad Asad) merumuskan, bahwa saripati peradaban Barat adalah ‘iireligious’. (… so characteristic of modern Western Civilization, is as unacceptable to Christinity as it is to Islam or any other religion, because it is irreligious in its very essence). (Muhammad Asad, Islam at The Crossroads, (Kuala Lumpur: The Other Press).

Kata liberal kemudian menjadi sangat populer. Manusia dijadikan Tuhan, Tuhan dimanusiakan. Akal manusia dipuja. Wahyu ditolak, karena dianggap sebagai pengganggu kebebasan dan penghambat kemajuan ilmu pengetahuan. Kamups-kampus dan ilmu pengetahuan dibebaskan dari ajaran agama. Para imigran Amerika dari Eropa yang trauma dengan dengan konflik agama dan amerika kemudian menggelorakan semangat kebebasan dengan membuat simbol “patung liberty”. Kata “Freedom” kemudian dijadikan sebagai dasar berdirinya negara AS. Revolusi Perancis yang menggelorakan semboyan “liberty, egality, fraternity” (kebebasan, persamaan, dan persaudaraan).

Jangan heran, jika paham liberalisme kemudian menjadi paham global yang dijejalkan kepada umat manusia. Agama-agama pun dipaksa mengikuti derap irama liberalisme. Kaum Yahudi adalah yang tercatat pertama kali melakukan liberalisasi terhadap agamanya. Kaum Yahudi liberal yang mulai muncul pada abad ke-19, berupaya menyesuaikan dasar-dasar ajaran agama Yahudi dengan nilai-nilai zaman pencerahan Eropa (Enlightenment) tentang pemikiran rasional dan bukti-bukti sains.
Kaum Yahudi liberal berharap mereka dapat menyesuaikan agama mereka dengan masyarakat modern. Kaum Yahudi liberal juga percaya bahwa kitab-kitab Yahudi (Hebrew Scriptures) – termasuk Taurat – adalah upaya manusia untuk memahami Kehendak Tuhan, dan karena itu, mereka menggunakan kitab-kitab itu sebagai titik awal dalam pengambilan keputusan. Mereka pun sadar akan kemungkinan kesalahan Kitab mereka dan menghargai nilai-nilai pengetahuan di luar Kitab agama mereka. (Liberal Judaism believes that the Hebrew Scriptures including the Torah are a human attempt to understand the Divine Will, and therefore uses Scripture as the starting point for Jewish decision making, conscious of the fallibility of scripture and of the value of knowledge outside of Scripture).

Organisasi Yahudi Liberal didirikan tahun 1902 oleh orang-orang Yahudi yang memiliki komitmen terhadap filsafat liberal, dengan tujuan memelihara kepercayaan, tradisi, praktik ritual, dan etika Yahudi dalam dunia kontemporer. Kaum Yahudi Liberal bertekad bahwa mereka adalah bagian dari sejarah perjalanan dan dinamika agama Yahudi. Mereka mengaku siap berdialog dengan aliran-aliran lain dalam agama Yahudi, atau dengan agama lain, atau dengan sekularisme. Dan, yang penting, mereka juga selalu siap untuk senantiasa meninjau kemabali, memodifikasi, dan melakukan inovasi dalam agama Yahudi. Kata mereka: “Ini adalah agama Yahudi yang dulu yang sedang dalam proses menjadi agama Yahudi masa depan.” (It is the Judaism of the past in process of becoming the Judaism of the future).

Setelah Yahudi, kaum Kristen juga kemudian menyusul membentuk aliran dan kelompok liberal. Sebuah gagasan Kristen Liberal di Amerika Serikat, misalnya, mendasarkan gagasannya pada ‘progresivitas politik’, ‘kepercayaan pada akal sains, dan demokrasi’ serta ‘rekonstruksi iman Kristen’. Kata kunci pada upaya rekonstruksi agama Kristen dilakukan dengan menggunakan metode sosio-historis. Teologi liberal ini juga memandang agama Kristen sebagai gerakan sosio-historis. Charles A. Briggs, seorang Kristen Liberal, menyatakan: “It is sufficient that Bibel gives us the material for all ages, and leaves to an the noble task of shaping the material so as to suit the wants of his own time.” (Lihat, Alister E. McGrath, The Blackwell Encyclopedia of Modern Thought, (Oxford: Blackwell, 1993).

Liberalisme pada intinya adalah gagasan yang meletakkan ajaran agama dalam dinamika sejarah. Jadi, nilai-nilai agama harus tunduk kepada dinamika perkembangan zaman. Tidak ada ajaran agama yang dianggap tetap. Semua harus berubah, mengikuti zaman. Dalam kaitan inilah, maka peran tokoh Yahudi Barukh Spinoza (1632-1677) menjadi penting. Dalam bukunya, The Bible, Karen Amstrong memaparkan kronologis muncul dan berkembangnya penggunaan “metode kritik sejarah” (historical-critical method) dalam interpretasi Bibel. Tokoh yang pertama menggunakan metode ini adalah seorang cendekiawan Yahudi bernama Barukh Spinoza.
Kata Amstrong: “He had become the pioneer of the historical-critical method that would later be called the Higher Criticism of the Bible.” Perkembangan metode ini di Barat tidak lepas dari tren empirisisme dan rasionalisme di Barat yang secara tegas meminggirkan Bibel. Francis Bacon (1561-1626), misalnya, menyatakan, bahwa doktrin suci harus tunduk kepada metode sains empiris. Jika kepercayaan-kepercayaan itu bertentangan dengan panca indra, maka harus ditinggalkan. (Even the most sacred doctrines must be subjected to the stringent methods of empirical sciences. If these beliefs contradicted the evidence of our senses, they had to go).

Rene Descartes (1596-1650) secara tegas menolak Bibel dan mengajak manusia untuk percaya kepada akal semata. Kata dia: “There was no need for revealed scripture, since reaason provided us with ample information about God.” Upaya menundukkan agama dalam nilai-nilai medernitas Barat kemudian juga dilakukan oleh cendekiawan Yahudi bernama Moses Mendelssohn yang membentuk ‘Haskalah’, suatu gerakan pencerahan Yahudi yang berupaya menundukkan agama Yahudi ke dalam konteks modernitas Barat. Menurut Amstrong, semangat gerakan pencerahan (Enlightenment) di Barat telah mendorong semakin banyak sarjana untuk mengkaji Bibel secara kritis. Selanjutnya, kata Amstrong, pada akhir abad ke-18, sarjana-sarjana Jerman mulai mengembangkan metode kriik-sejarah dalam studi Bibel.

Gerakan rasionalisme ini kemudian melahirkan aliran Kristen Liberal yang dimotori oleh Bapak hermeneutika Modern, Friedrich Schleirmacher (1768-1834). Karen Amstrong meresume pandangan Schleirmacher terhadap Bibel sebagai berikut: Bahwa Bibel adalah sangat penting bagi kehidupan kaum Kristen, karena ia adalah satu-satunya sumber informasi tentang Yesus. Tapi, karena penulis-penulis Bibel terkondisi dalam lingkungan sejarah dimana mereka hidup, maka adalah sah-sah saja untuk mengkritisi dengan cermat karya mereka.

Schleirmacher mengakui bahwa kehidupan Yesus adalah wahyu suci, tetapi para penulis Bibel adalah manusia biasa yang bisa salah dan bisa terjebak dalam dosa. Karena itulah, mereka mungkin saja berbuat kesalahan. Karena itulah, menurut Schleirmacher, tugas para sarjana Bibel adalah membuang aspek-aspek kultural dari Bibel dan menemukan intisarinya yang bersifat abadi. Tidak setiap kata dalam Bibel adalah otoritatif, karena itu, kata Schleirmacher, seorang penafsir harus mampu membedakan mana ide-ide yang marginal dan ide inti dalam Bibel. (Scripture was essential to the Christian life because it provided us with our only access to Jesus. But because its authors were conditioned by the historical circumstances in which they lived, it was legitimate to subject their testimony to critical scrutiny). (Lebih jauh tentang problem Bibel dan modernitas, lihat Karen Amstrong, The Bible, (New York: Atlantic Monthly Press, 2007).

Menyimak ide-ide dan metodologi penafsiran kaum liberal Yahudi dan Kristen, tidaklah sulit untuk menemukan bentuk keterpengaruhan kaum liberal dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an. Mereka hanya mengikuti saja metode tafsir yang kemudian dikenal sebagai “hermeneutika” yang telah diterapkan kaum Yahudi dan Kristen liberal dalam menafsirkan Bibel mereka. Kekeliruan yang mendasar dari orang-orang ini adalah mereka menyamakan kondisi dan karakter teks al-Qur’an dengan Bibel. Padahal, al-Qur’an tidak ada pengarangnya. Al-Qur’an bukanlah teks sejarah (nasshun tarikhiyyun) atau teks manusia (nasshun insaniyyun), tetapi teks wahyu (nasshun ilahiyyun). Karena itu, teks al-Qur’an bersifat final dan universal.

Dengan sifatnya seperti itu, hukum-hukum al-Qur’an bersifat abadi, melintasi zaman, tempat, dan budaya. Dalam Islam, babi hukumnya haram. Begitu juga hukum zina, riba khamr, pornografi, kawin sesama jenis, dan sebagainya. Islam tidak tunduk kepada sejarah dan budaya, karena sifat teks al-Qur’an adalah final dan universal. Islam juga agama fithri, yang ajaran-ajarannya sesuai dengan fithrah manusia, dimanapun dan kapanpun. Apalagi, syariat Islam diturunkan kepada Nabi akhir zaman yang ditujukan kepada seluruh umat manusia. Ini berbeda dengan hukum-hukum Taurat yang memang dikhususkan oleh Allah untuk kaum Yahudi.
Dari sudut sejarah, sejarah Yahudi dan Kristen memang berbeda dengan sejarah perkembangan Islam. Begitu juga dengan karakteristik kitabnya masing-masing. Islam merupakan agama wahyu yang sempurna dari awal. (QS 5:3). Karena itu, Islam tidak mungkin ditundukkan oleh sejarah. Islam adalah satu-satunya agama yang kokoh berpegang kepada wahyu dalam konsep ketuhanan dan ibadahnya. Begitu juga, Islam dilengkapi dengan contoh (uswah), sehingga tidak mudah bagi seorang untuk membuat tata aturan dan peribadatan baru dalam Islam.

Ini bisa dibuktikan. Konsep ibadah dalam Islam tetap kokoh berdasarkan pada wahyu (Al-Qur’an dan Sunnah). Hingga kini, umat Islam shalat lima waktu, tidak berubah sepanjang zaman. Konsep dan nama Tuhan dalam Islam juga tunduk oleh wahyu, dan sama sekali tidak tunduk oleh zaman atau budaya. Sejak awal, nama agama ini (Islam) juga tidak berubah.
Konsep Islam yang tetap seperti ini menyebabkan setiap usaha untuk meliberalkan Islam akan selalu sia-sia sepanjang zaman. Meski, tentu saja, ada saja orang-orang yang mengikuti kesesatan. Pengikut aliran sesat seperti nabi palsu Musailimah Al-Kadzab jumlahnya mencapai ribuan. Toh, aliran Musailimah akhirnya sirna dan berganti dengan aliran sejenis, di masa kemudian.

Wabah liberal dan relativisme

Wabah liberal yang dibawa oleh peradaban Barat modern memang telah menjadi fenomena global. Dampaknya bisa dilihat sekarang ini. Umat manusia digiring untuk “berjingkrak-jingkrak” dan mereguk kenikmatan dunia, dengan tujuan unutk melupakan Tuhan. Keraguan dan kerelatifan dijadikan dasar nilai. Manusia digiring untuk tidak lagi meyakini kebenaran agama tertentu. Relativisme dijadikan sebagai paradigma . Bukan keyakinan.

Penyair terkenal Pakistan, Dr. Muhammad Iqbal, yang hidup pada tahun 1940-an, mengingatkan umat Islam dalam sebuah puisinya, Bal-e-Jibril, bahwa pendidikan Barat modern membawa dampak terhadap hilangnya keyakinan kaum muda Muslim terhadap agamanya. Padahal, menurut Iqbal, keyakinan adalah aset yang sangat penting dalam kehidupan seorang manusia. Jika keyakinan hilang dari diri seorang manusia, maka itu lebih buruk ketimbang perbudakan. Dikatakan Iqbal dalam puisinya: “Conviction enabled Abraham to wade into the fire; conviction is an intoxicant which makes men self-sacrificing; Know you, oh victims of modern civilization! Lack of conviction is worse than slavery.”

Relativisme biasanya didefinisikan sebagai “the doctrine that knowledge, truth, and morality exist in relation to culture, society, or historical context, and are not absolute.” (Relativisme adalah doktrin dimana ilmu, kebenaran, dan moralitas yang berlaku selalu terkait dengan budaya, sosial, dan konteks sejarah, dan tidak bersifat absolut). Jadi, jika dikatakan, bahwa kebenaran adalah relatif, maka artinya, kebenaran itu hanya berlaku temporal, personal, parsial, atau terkait dengan budaya tertentu. Tidak ada kebenaran abadi atau kebenaran bersama.

Contohnya, Kebenaran Islam dianggap hanya berlaku untuk orang Islam saja. Kebenaran Kristen juga hanya untuk orang Kristen. Dan sebagainya. Apakah zina itu buruk? Penganut relativisme moral akan menyatakan, bahwa itu tergantung pada konteks budaya atau situasi tertentu. Maka, bagi orang Barat sekular, kejahatan zina tidak berlaku mutlak. Jika zina dilakukan dengan suka sama suka, dan sama-sama dewasa, mak itu bukan tindak kejahatan. Jika zina dilakukan dengan anak-anak barulah dikatakan sebagai kejahatan. Bahkan, bagi mereka, walaupun menikah secara sah dengan wanita dibawah 18 tahun, masih dianggap sebagai kejahatan.
Adalah sangat fatal jika seseorang sampai menyatakan, bahwa “saya tidak tahu kebenaran” dan “saya tidak tahu dia sesat atau tidak”. Sebab, seorang Muslim setiap hari berdoa: “YA Allah Tunjukkanlah aku jalan yang lurus. Yaitu jalannya orang-orang yang Engaku beri kenikmatan, dan bukannya jalan orang-orang yang Engaku murkai dan bukan pula jalannya orang-orang yang tersesat!”
Banyak juga yang berdoa: “Ya Allah tunjukkanlah kepada kami bahwa yang benar itu benar dan berilah kemampuan keapda kami untuk mengikutinya; dan tunjukkanlah kepada kami bahwa yang salah itu salah dan berilah kemampuan kepada kami untuk tidak mengikutinya”.

Jika seorang berdoa seperti itu, bukankah sangat aneh, jika kemudian dia mengatakan “yang tahu kebenaran hanya Allah!” lalu, untuk apa dia berdoa? untuk apa dia diberi akal untuk mengerti mana yang benar dan mana yang salah. Untuk apa Allah menurunkan wahyu yang salah satu fungsinya adalah sebagai “al-Furqan” yang membedakan mana yang benar dan mana yang salah? Jika manusia tidak dapat memahami kebenaran, lalu untuk apa Allah memerintahkan agar manusia mengajak manusia kepada jalan Allah? (QS 16:125).

Maka, ujung dari pemahaman relativisme ini adalah sikap apatis terhadap kebenaran. Sikap bebal, sikap masa bodoh. Tidak peduli mana iman dan mana kufur, mana tauhid dan mana syrik. Tidak peduli mana haq dan mana bathil. Juga tidak peduli mana halal dan mana haram. Mana baik dan mana buruk. Manusia seperti ini tidak mungkin bisa diajak untuk beramar ma’ruf dan nahi munkar. Sebab, dia akan menyatakan, bahwa “Hanya Allah yang tahu kebenaran”.

Jadi, itulah bahaya virus relativisme kebenaran. Pertanyaan tersebut perlu dicermati dengan seksama. Apaka manusia bisa memahami kebenaran secara mutlak? Jawabnya tegas: Bisa! Tentu kebenaran mutlak sebatas kemampuan manusia, sebab manusia tidak diciptakan Allah untuk bisa menandingi Allah. Justru, dalam batas manusialah, Allah mengaruniai kemampuan akal unutk menerima kebenaran yang mutlak. Dari akal yang menerima kebenaran itulah lahir sebuah keyakinan. Maka, syarat iman adalah yakfur bit-thaghut, ingkar kepada thaghut. Iman menyaratkan yakin, dan tidak ada keraguan.
Kaum Muslim saat ini perlu terus mewaspadai berbagai upaya penyesatan dengan berbagai cara. Sebab, Allah sudah mengingatkan dalam al-Qur’an, bahwa setan dari jenis manusia dan jin akan selalu berusaha menyesatkan manusia. Caranya, dengan menyebarkan kata-kata indah dengan tujuan untuk menipu (zukhrufal qauli ghuruura). (QS 6:112).

Lagi pula, moyang setan, yakni Iblis sudah bersumpah di hadapan Allah: “Iblis berkata: Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutukan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlish diantara mereka”. (QS 15: 39-40).

Paham relativisme iman dan relativisme kebenaran bisa dikatakan sebagai salah satu contoh bentuk tipu daya setan. Kini, banyak buku-buku kaum liberal yang mengajarkan paham relativisme iman, dimana setiap pemeluk agama dilarang untuk meyakini kebenaran agamanya sendiri. Ada sebuah buku karya Prof. Abdul Munir Mulkhan, guru besar di UIN Yogyakarta, berjudul Kesalehan Multikultural (2005) yang isinya banyak menggugat keyakinan umat Islam atas agamanya sendiri.

Sebagai ganti dari pendidikan Tauhid, dia mengajukan gagasan ‘Pendidkan Islam Multikultural’. Munir menulis: “Jika tetap teguh pada rumusan tujuan pendidikan (agama) Islam dan tauhid yang sudah ada, makna fungsional dan rumusan itu perlu dikaji ulang dan dikembangkan lebih substantif. Dengan demikian diperoleh suatu rumusan bahwa Tuhan dan ajaran atau kebenaran yang satu yang diyakini pemeluk Islam itu bersifat universal. Karena itu, Tuhan dan ajaran-Nya serta kebenaran yang satu itu mungkin juga diperoleh pemeluk agama lain dan rumusan konseptual yang berbeda. Konsekuensi dari rumusan diatas ialah bahwa Tuhannya pemeluk agama lain, sebenarnya itulah Tuhan Allah yang dimaksud dan diyakini pemeluk Islam. Kebenaran ajaran Tuhan yang diyakini pemeluk agama lain itu pula sebenarnya yang merupakan kebenaran yang diyakini oleh pemeluk Islam.” (hal. 182-183).

Profesor UIN Yogya itu juga menegaskan : “Surga dan penyelamatan Tuhan itu adalah surga dan penyelamatan bagi semua orang di semua zaman dalm beragam agama, beragam suku bangsa, dan beragam paham keagamaan. Melalui cara ini, kehadiran Nabi Isa AS atau Yesus, Muhammad SAW, Buddha Gautama, Konfusius, atau pun nabi dan rasul agama-agama lain, mungkin menjadi lebih bermakna bagi dunia dan sejarah kemanusiaan… Tuhan semua agama pun mungkin begitu kecewa melihat manusia menggunakan diri Tuhan itu untuk maksud meniadakan manusia lain hanya karena berbeda pemahaman keagamaannya.” (hal. 190).

Pendapat profesor tersebut jelas keliru, sebab masing-masing agama memiliki keyakinan yang khas. Islam yakin bahwa Muhammad SAW adalah nabi terakhir. Kita, sebagai Muslim, yakin bahwa setelah diutusnya Nabi Muhammad SAW, maka semua manusia harusnya juga mengikuti ajaran dan perilaku utusan Allah tersebut. Tentu, sebuah kejahatan kepada Allah jika manusia menolak untuk mengikuti utusan-Nya. Jika mereka mengakui Tuhannya adalah Allah, mak konsekuensinya, mereka harus mengikuti uytusan-Nya. Jika tidak, maka mereka disebut sebagai pembangkang atau kafir. Itu keyakinan kita sebagai Muslim, yang pasti, dan tidak bersifat relatif. Maka sangatlah merugi jika seseorang menjadi liberal. Sebab, dia tidak lagi menemukan kebenaran dan keyakinan sejati.

Upaya untuk membendung liberalisme memang harus dilakukan oleh seluruh komponen umat Islam. Sebab, liberalisme mendapatkan dukungan yang sangat besar dari sistem dan kekuatan-kekuatan global. Para penguasa dunia mendidik para sarjana Muslim dan tokoh-tokoh Islam agar mau mengikuti “sunnah” (tradisi) liberal. Kucuran dana yang sangat besar tak segan-segan dikucurkan untuk memuluskan misi liberalisasi agama. Para pengikut liberal tak jarang yang mendapatkan anugerah duniawi-baik materi maupun kehormatan duniawi-karena gigih menyebarkan paham liberal.

(Dikutip dari kata pengantar penulis buku “Membendung Arus Liberalisme di Indonesia”, Pustaka Al Kautsar, 2009)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: