Serial Bahasan tentang Baiat: Beberapa Penyelewengan dalam Baiat (4)

Baiat adalah salah satu syariat dalam Islam. Baik itu baiat sughra maupun kubra, keduanya dapat dipraktekkan sesuai kondisi. Namun, terkadang ada penyelewengan dalam menyikapi keduanya. Di antara bentuk penyelewengan dalam persoalan baiat ini adalah:
Pertama, menyalahgunakan hadits baiat kubra untuk melegitimasi baiat sughra, ditambah lagi kesalahan dalam mengartikan kalimat “mitatan jahiliyyatan”. Hasilnya, orang yang tidak bergabung dianggap kafir dan syahadatnya tidak berguna. Tidak jarang terjadi permusuhan antara orang tua dan anak karena kesalahan ini.

Orang tua dikafirkan karena tidak bergabung dengan jamaahnya. Tahun 2011 lalu, umat Islam dihebohkan oleh banyaknya korban baiat NII. Sejarah juga mencatat jamaah LDII yang menganggap orang tua, saudara, dan siapa pun di luar jamaah mereka diyakini sebagai orang kafir yang najis. Maka, bekas tempat duduknya pun dipel karena kenajisannya.
Karena pihak di luar jamaahnya diyakini kafir, maka harta dan properti mereka halal diambil dan tidak ada dosa. Kesalahan ini pun semakin kompleks karena menggunakan dalil-dalil fa’i untuk mengambil harta orang lain.
Kedua, memaksa kelompok lain agar mau bergabung dan berbaiat kepada pimpinannya. Baiat tidak boleh dipaksakan kecuali dalam baiat kubra kepada imam yang telah disepakati oleh ahlul halli wal aqdi maupun cara lain sesuai syariat. Sedangkan dalam baiat sughra, sifatnya adalah ajakan dan nasihat.

Pada dasarnya suatu kepemimpinan akan sah jika telah diakui oleh mayoritas umat karena salah satu syarat mutlak dalam kepemimpinan adalah adanya syaukah (kekuatan). Dan itu akan terwujud jika mayoritas telah menyetujuinya.[1]
Dalam kasus baiat dan proyek Daulah Islam Irak dan Syam (ISIS) di Suriah maupun di Irak, kelompok maupun faksi-faksi jihad lain, seperti Ahrar Syam, Liwa Tauhid dan lainnya, juga memiliki syaukah (kekuatan). Maka pendekatan yang terbaik adalah persuasif, selain bahwa baiat yang diserukan adalah baiat sughra.[2]

Selain itu, ketika persetujuan mayoritas umat tidak terwujud dalam kepemimpinan tersebut maka akan timbul kekacauan dan fitnah di tengah-tengah umat. Dan ini jelas terjadi di Suriah. Banyak tokoh dari kedua pihak yang dibunuh tanpa ada penyelesaian, dengan salah satu alasan menolak tahkim karena daulah tidak mungkin bertahkim kepada organisasi.[3]
Jadi prinsip Islam dalam pengangkatan imam adalah adanya persetujuan mayoritas umat —terukur dengan terwujudnya syaukah— yang ditempuh melalui jalur musyawarah bukan dengan pemaksaan. Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Barang siapa membaiat seseorang tanpa musyawarah dari kaum muslimin maka ia tidak boleh diikuti, dan tidak pula mengikuti para pendukungnya, karena khawatir mereka akan dibunuh (yang berbaiat dan yang dibaiat).” (HR. Al-Bukhari no. 6442)

Bahkan lebih tegas lagi Umar Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Barang siapa membaiat seorang laki-laki tanpa didahului musyawarah dengan umat Islam, maka tidak halal bagi kalian kecuali membunuhnya.” Pada hajinya yang terakhir, sebagaimana yang disebutkan dalam Shahih Bukhari, Umar berkata, “Sesungguhnya, sore ini aku berdiri dan mengingatkan umat Islam tentang orang-orang yang hendak merampas pemerintahan mereka”.

Umar menganggap baiat yang dilakukan oleh sebagian sahabat kepada sebagian yang lain, tanpa didahului musyawarah dengan umat adalah merupakan bentuk perampasan hak umat. Tidak ada istilah baiat kepada orang yang merampas, apalagi kalau merampasnya dengan pedang bukan dengan baiat, meskipun hanya baiat minoritas.
Adalah Umar bin Abdul Aziz, ketika beliau diangkat menjadi khalifah beliau berkata, “Wahai manusia aku telah diuji dengan jabatan ini tanpa pernah dimintai pendapatku tentangnya, bukan juga karena aku yang memintanya dan bukan juga berdasarkan hasil musyawarah kaum muslimin. Sesungguhnya aku tidak memaksa kalian untuk membaiatku. Oleh karena itu, pilihlah orang yang pantas memimpin kalian.”

Maka seketika itu juga mereka berkata, “Sungguh kami telah memilih engkau wahai amirul mukminin dan kami ridho dengan kepemimpinanmu. Oleh karena itu pimpinlah kami dengan adil dan baik.”[4]

Penulis: M. Fahrudin

Sumber: Majalah Kiblat berjudul “ISIS, Baiat, Daulah, dan Khilafah”

Footnote:
[1] Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menerangkan, “Kepemimpinan, menurut mereka (Ahlus Sunnah, pen.), ditetapkan dengan persetujuan yang memiliki kekuatan. Seseorang tidak menjadi imam hingga disetujui oleh pemilik kekuatan, yang dengan ketundukan mereka akan terwujud tujuan kepemimpinan. Sebab, tujuan kepemimpinan dapat terwujud dengan kekuatan dan kekuasaan. Maka jika seseorang dibai’at dan bersamaan dengan itu terwujud kekuatan dan kekuasaan, maka dia menjadi pemimpin (yang sah). Oleh karenanya berkata para imam salaf: ‘Siapa yang memiliki kekuatan dan kekuasaan, yang dengan keduanya terwujud tujuan kepemimpinan, maka dia menjadi ulil amri yang Allah Jalla wa ‘ala Azza wa Jalla perintahkan taat kepada mereka selama mereka tidak memerintahkan kepada maksiat kepada Allah Jalla wa ‘ala Azza wa Jalla’.” (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Minhajus Sunnah An-Nabawiyyah, 1/527. Lihat pula pada hal. 553, 550, jilid 4/388)
[2] Syaikh Abu Ja’far Al-Haththab, Anggota Lajnah Syar’iyyah Pada Anshar Syari’ah Tunisia, dalam bukunya Bai’atul Amshaar Lil Imaam Al Mukhtaar, menyimpulkan bahwa baiat kepada Syaikh Al-Baghdadi adalah baiat umum (baiat kubra). Namun pendapat ini lemah dan dibantah oleh kenyataan dan para ulama. Salah satunya ialah Syaikh Abu Laits Al-Anshari dalam bukunya Tabyin Az-Zaif wal Jahl wa izhharul Awar.
[3] Lihat kembali catatan Syaikh Al-Maqdisi tentang ISIS di mimbar tauhid dan jihad.
[4] Ali Muhammad Ash-Sholabi, Umar bin Abdul Aziz, terj: chep M.faqih FR, (Jakarta Timur: Yayasan Ash-shilah: tt), hal: 64

http://www.kiblat.net/2014/12/26/serial-bahasan-tentang-baiat-beberapa-penyelewengan-dalam-baiat-4/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: