Sejarah Rahasia Freemasonry dan Iluminati (15)

Surat panjang ini ditemukan di Perancis dan nyaris dihilangkan oleh seorang misionaris konservatif, namun berhasil diselamatkan oleh anggota Masonic Fraternity. Beberapa salinannya lenyap secara misterius dan dalam edisi Indonesia juga beredar sangat terbatas di kalangan tertentu. Untung saya memiliki salinannya.
Diduga kuat, inilah salah satu dokumen kuno yang paling dicari oleh Vatikan untuk dimusnahkan sampai hari ini, selain tentunya naskah-naskah Injil terlarang yang tidak sesuai dengan hasil Konsili Nicea 325 M. Atas kemurahan hari seorang kawan, saya diberi kesempatan untuk mengkopi buku tersebut.

Di dalam buku kecil tersebut secara jelas dipaparkan bagaimana proses penyaliban dan penyelamatan Yesus. Atas bantuan kelompok Esenes, Yesus berhasil diselamatkan dan diselundupkan ke sebuah tempat di dekat Laut Mati. Di daerah inilah, Yesus meningal dunia enam bulan setelah peristiwa penyalibannya. Dua orang pembantunya, Yusuf Arimathea dan Nicodemus, menemani Yesus hingga akhir.

Daerah Laut Mati dan Selatan Perancis memang menjadi dua tempat tersendiri bagi peneliti tentang sejarah awal kekristenan. Jika Yesus dikabarkan meninggal dunia di dekat Laut Mati yang dipenuhi dengan gua-gua batu dan juga lokasi tempat tinggal kelompok Esenes, maka Maria Magdalena dipercaya meninggal di Marseilles, Selatan Perancis.
Di Provence yang juga berada di selatan, daerah ini dikenal sebagai pusat Magdalenaisme dan di sini pula tradisi lisan Kabbalah dibukukan. Selain Magdalenaisme, di sini juga merupakan pusat pemujaan terhadap Yohanes Pembaptis. Banyak gereja yang didedikasikan kepada Maria Magdalena dan Yohaes Pembaptis bertebaran di daerah ini.

Lynn Picknett dan Clive Prince, penulis The Templar Revelation, saat mengunjungi daerah ini menulis: “Di Marseilles, selain sebuah gereja yang didedikasikan kepadanya, terdapat Ordo Ksatria Dermawan Santo Yohanes[1], yang hinga kini masih menjadi penjaga pintu masuk pelabuhan. Di Aix-en-Provence, kami mengunjungi gereja Santo Yohanes dari Malta yang sangat besar; dan di sebuah dinding rumah yang terletak di jalan menuju gereja tersebut, terdapat relief yang mengisahkan peristiwa pemenggalan Yohanes Pembaptis.”[2]

Daerah Selatan Perancis yang umum disebut sebagai daerah Languedoc-Roussillon, para penduduknya memang tidak begitu patuh pada Vatikan[3]. Setiap tahun, pada tanggal 22 Juli, di wilayah ini para penduduk menggelar hari pesta Maria Magdalena secara besar-besaran dan meriah. Oleh Lynn Picknett dan Olive Prince, wilayah ini disebut sebagai jantung heresy Eropa.
Selain pemujaan terhadap Maria Magdalena dan Yohanes Pembaptis, di daerah ini juga terkenal dengan ajaran paganisme (penyembahan kepada Alam) dan okultisme dengan segala legenda dan mitosnya.

Salah satu kegenda yang masih hidup di masyarakat sekitar adalah tentang legenda “Ratu dari Selatan” (Reine du midi) yang sebenarnya merupakan gelar dari para countess dari Toulouse. Di selatan pulau Jawa, juga ada legenda serupa, “Ratu dari Selatan” yang memuja Nyi Loro Kidul, seorang Dewi. Adakah ini berhubungan? Tidak ada penelitian mengenai hal ini. “Dan, fakta tunggal inilah yang menyebabkan pemiskinan sistematis atas wilayah selatan Perancis tersebut.”[4]
Dan, Languedoc inilah ‘rumah besar’ para Templar di Eropa hingga mereka diburu oleh Phillipe le Bel. Lebih dari 30 persen benteng dan markas Templar yang tersebar di Eropa, terletak di sini. Bukan itu saja, di selatan Perancis ini pula, banyak kalangan meyakini, para Templar telah menguburkan dan menyembunyikan harta karunnya yang dibawa lari dari Yerusalem.
Misteri tentang harta karun dan Desa Rennes-le-Château memang selalu menarik. Prof. Mariano Bizari menyatakan bahwa desa ini dengan segala riwayatnya memiliki jejak sejarah yang amat panjang.

“Kisah mengenai Rennes-le-Château dimulai pada tahun 1200 SM dengan campur tangan orang Beaker, juga Celts, jadi ini merupakan kisah yang panjang! Di sana terdapat jaringan saluran bawah tanah, juga goa, goa di mana beberapa ritual dilakukan, goa yang membuka jalan ke tempat lain, misalnya tempat yang memungkinkan pelaksanaan upacara tertentu, dan Pendeta Boudet, teman sekaligus penasehat Sauniére, menulis buku berkode untuk mengidentifikasi jalan masuk ke rute-rute ini.”[5]
“The Da Vinci Project: Seeking the Truth” juga membuat daftar pertanyaan yang mengusik keingintahuan orang tentang pendeta dan desa yang penuh misteri ini:

• Mengapa Sauniére menulis “ini tempat yang buruk (sebenarnya “Menyeramkan” atau “mengerikan”, pen) di atas pintu masuk gereja itu?
• Mengapa Sauniére menghabiskan hari-harinya di Museum Louvre , di depan lukisan Poussin tahun 1640 yang berjudul “Arcadian Shepreds”, yang nampaknya menggambarkan daerah sekeliling Rennes-le-Château dan sebuah nisan bertuliskan “Et In Arcadia Ego”?
• Mengapa penjaga rumah Sauniére, Marié Denarnaud, selalu mengatakan, “Di sini orang berjalan di atas emas, namun mereka tak mengetahuinya!”
• Mengapa kota ini memiliki peraturan khusus yang melarang penggalian tanah, walau hanya untuk menanam bunga?
• Mengapa mangkuk air suci di gereja Rennes diangkat oleh mahluk bernama “Asmodeus”, yang menurut mitologi Ibrani merupakan penjaga harta karun Salomo?
• Mengapa gambar mosaik di atas altar menggambarkan Perjamuan Terakhir dengan seorang wanita mengangkat sebuah cawan di kaki Kristus?
• Apakah ini petunjuk adanya kaitan antara Perjamuan Terakhir dengan Maria Magdalena?
• Mengapa patung-patung santo dalam gereja sedemikian diatur sehingga huruf awal nama mereka membentuk kata GRAAL bila dihubungkan membentuk huruf M dari kata Maria Magdalena?
• Mengapa tempat-tempat salib diletakkan dengan urutan terbalik?
• Mengapa kaca jendela yang menggambarkan Kristus selalu memiliki bulan[6] di latar belakangnya?
• Mengapa Sauniére membangun patung Magdalena yang besar dan menurut buku hariannya menyembunyikan sebuah peti di dasarnya?[7]

Posisi Patung:
1. Santo Germaine
2. Santo Rocco
3. Santo Antoine Ermite
4. Santo Antoine de Padoue
5. Santo Lucca

Profesor Roberto Giacobbo, penulis buku “’Il Segreto Di Leonardo’ juga mengamini kemisteriusan Rennes-le-Château. “Wilayah ini adalah tempat yang aneh—begitu Anda memasuki kota, ada tanda bertuliskan “Dilarang menggali di sini”. Mengapa? Siapa yang meletakkan tanda ini? Rennes-le-Château banyak mengangkat pertanyaan spontan, seperti mengenai sebuah legenda yang terulang…atau mungkin juga tidak.”[8]

Amat mungkin, karena kemisteriusan desa inilah yang membuat seorang Francois Mitterand, beberapa pekan sebelum terpilih presiden Perancis di tahun 1981, mengunjungi Rennes-le-Château dan berfoto di Menara Magdala dan di samping patung Asmodeus, Raja Iblis Penjaga Harta Karun Sulaiman. Adakah Mitterand yang dikenal sebagai pemerhati okultisme juga merupakan bagian dari kemisteriusan wilayah ini?

Rennes-le-Château dengan Pastur Berenger Sauniére memang menjadi misteri tersendiri. Para peneliti menyatakan bahwa tidaklah mungkin Pastur Sauniére sendirian dalam menjalankan pekerjaannya yang begitu misterius. Apalagi dalam radius tiga mil sekitar Rennes-le-Château terdapat sekurangnya dua daerah dan dua pastur yang juga aneh.
Yang pertama, Pastur Antoine Gelis yang menjadi Gembala Sidang di daerah Coustaussa yang terletak persis di bawah Rennes-le-Château. Pastur Gelis tinggal sendirian di sebuah rumah kecil yang berjarak hanya beberapa langkah dari gerejanya. Selain sebagai pastur, Gelis terkenal sebagai lintah darat. Ia dikenal memiliki banyak uang yang sumbernya juga tak jelas dari mana. Kabarnya Gelis juga telah menemukan koin emas dalam jumlah banyak di gerejanya, sama seperti rekannya, Sauniére. (Bersambung/Rizki Ridyasmara)

[1] Ordo Ksatria Dermawan Santo Yohanes juga dikenal sebagai Ksatria Malta, yang berasal dari para pelarian Templar dari Perancis yang menyelamatkan diri dari upaya penumpasan yang dilancarkan Phillipe le Bel dan Paus Clement V. Kini, Ksatria Malta dikenal sebagai sebuah ordo yang memusatkan aktivitasnya dengan membangun berbagai instalasi kesehatan dan rumah sakit di seluruh dunia. Film dokumenter berjudul Sovereign Order of The Knights of Malta (Ksatria-Ksatria Malta) produksi Emperor Edutainment (2003) bisa dijadikan referensi awal bagi yang ingin mengetahui lebih lanjut tentang keberadaan salah satu ordo pewaris para Templar ini.

[2] Lynn Picknett dan Olive Prince; The Templar Revelation; hal.131.

[3] Ketidakpatuhan, bahkan kebencian, warga selatan Perancis ini kepada Vatikan sangat beralasan karena nenek moyang mereka telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana Paus memerintahkan pembantaian massal lebih dari 10.000 orang Kathari atas nama kesucian gereja dalam peristiwa Perang Salib Albigensian. Kota Albi merupakan salah satu kubu terkuat kaum Kathari di abad ke-13 (22 Juli 1209, Hari Raya Maria Magdalena!). Sejarah mencatat, inilah kali pertama terjadi pembasmian etnis di Eropa yang secara ironi malah dilakukan oleh Paus yang banyak mengklaim sebagai Bapak kasih dan cinta damai.

[4] Ibid, hal. 138.

[5] The Da Vinci Project “Seeking the Truth”; hal. 50.

[6] Lukisan-lukisan gereja yang dibuat dari kaca maupun kanvas yang menggambarkan adanya latar belakang bulan merupakan sebuah gambaran yang mendukung keyakinan Injil Gnostik yang mengatakan bahwa Yesus sebenarnya mewariskan gerejanya kepada perempuan, Maria Magdalena, bukan Saint Peter yang kini berada di Vatikan.

[7] The Da Vinci Project: Seeking the Truth; hal. 50-51.

[8] Ibid; hal. 52.

http://www.eramuslim.com/berita/nwo-untold/sejarah-rahasia-freemasonry-dan-iluminati-15.htm#.VK5–MndXhA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: