Sejarah Rahasia Freemasonry dan Iluminati (36)

Pada malam-malam gelap yang hanya diterangi cahaya bulan purnama, selama masa pemerintahan King George III dari Inggris, anggota-anggota Pemerintahan yang berpengaruh, para intelektual penting, dan artis-artis terkenal, sering terlihat melintasi Sungai Thames dengan gondola yang berjalan pelan menuju sebuah reruntuhan biara kuno di dekat West-Wycombe. Di sana, para tokoh masyarakat ini mengenakan jubah biarawan dan membunyikan lonceng biara yang bersuara berat. Acara ritualnya sungguh aneh.
Setelah bersenang-senang tanpa batas dan sama sekali tidak memperdulikan moral, mereka berdiri membuat sebuah lingkaran dan sebuah Misa Hitam pun dilaksanakan, yakni persetubuhan yang diawali oleh seorang perempuan ningrat dengan pemimpinnya, Sir Francis Dashwood.

Kebaktian setan ini pun berakhir pagi hari dan mereka akan mengadakan ritual yang sama pada waktu yang telah ditentukan sebelumnya. Mirip dengan yang telah dilihat Sophie Neveu dalam novel The Da Vinci Code. Nama lain dari kelompok ini, seperti yang mereka akui sendiri, adalah, “Rahib-rahib St. Francis dari Medmenham.”

The Hell-Fire Club ini didirikan sekitar tahun 1719 di London oleh Philip, Duke of Wharton (1698-1731). Saat itu usia Philip baru 21 tahun! Philip adalah seorang Mason dan kemudian menjadi Grand Master Mason dari The Great Lodge of London pada tahun 1722. Perkembangan Freemasonry di Inggris begitu cepat dan tetap dalam kerahasiaan. Walau demikian, organisasi itu sudah berhasil merekrut para tokoh masyarakat tersohor dan perlahan namun pasti menyeret masyarakat menjauhi agamanya.

Selain Inggris, para Mason juga banyak yang kembali ke Perancis untuk menyusun kekuatannya kembali. Dari konspirasi mereka inilah, setelah meletus Revolusi Inggris, disusul pula dengan meletusnya Revolusi Perancis dengan semboyan “Liberte, Egalite, en Fraternite” (Kemerdekaan, Persamaan, dan Persaudaraan) yang sesungguhnya memiliki arti ganda yang amat sangat menguntungkan para Mason dan Yahudi sebagai kelompok yang di saat itu telah menguasai sisi finansial.

Kedua revolusi besar di Eropa dalam waktu yang tidak terkait jauh sengaja dikobarkan oleh mereka untuk menghancurkan Gereja Katolik dan bentuk negara monarki, dan mempromosikan nasionalisme. Di masa itu, kedua negara tersebut merupakan dua negara terkuat di Eropa dan juga dunia. Negara Amerika sendiri belum berdiri dan baru diproklamasikan pada tahun 1776.
Dengan ‘dihantam serta direkonstruksinya’ Inggris dan Perancis, maka konstelasi kekuatan di Eropa, dan juga dunia, akan berubah dan menciptakan peluang-peluang yang kian besar untuk disusupi dan bahkan dikuasai para Mason yang merupakan gabungan dari para petualang, pengusaha, dan tokoh-tokoh Yahudi. Hal ini merupakan bagian dari konspirasi besar para Freemason untuk menguasai dunia. Terhadap Gereja, jika tidak bisa disusupi, maka tiada jalan lain harus dihancur-leburkan.

HIERARKI FREEMASONRY

Istilah Freemason awalnya hanya ‘Mason’ yakni sebutan untuk tukang batu yang konon berasal dari istilah para tukang batu yang ikut membangun Haikal Sulaiman di Yerusalem. Para Mason ini biasa berkumpul, melepas lelah, atau menggelar pertemuan di sebuah pemondokan yang disebut Lodge. Di kemudian hari, istilah Mason dan Lodge telah menjelma menjadi lebih politis. Lodge menjadi tempat berkumpul orang-orang yang tidak puas dengan kekangan indoktrinasi Gereja Katolik di abad pertengahan di Eropa. Lodge menjadi tempat aman untuk bertukar pikiran dengan bebas, menjadi tempat yang bebas untuk mengutarakan pendapat, dan sebagainya.
Singkatnya, Lodge telah menjelma menjadi tempat di mana para Free-Thinkers berkumpul. Jadilah Mason kemudian menjadi Free-Mason. Para Mason yang bebas.

Ada yang berpandangan bahwa istilah Freemasonry awalnya adalah Bluemasonry. Istilah Bluemasonry berubah menjadi Freemasonry setelah disusupi oleh gerakan Illuminati pada abad ke-18. Menurut mereka, Freemason awal merupakan organisasinya kaum Esenes yang berasal dari Qumran. Kaum Esenes ini terkenal sebagai kelompok yang zuhud, cinta damai, setia, dan sebab itu tidak aneh jika salah satu tuhan mereka adalah Venus, Sang Dewi Cinta, yang merujuk pada istilah ‘Blue’. Itu sebabnya, mereka bernama Bluemason.

Sebenarnya, pandangan ini berasal dari The Hiram Keys yang ditulis oleh Knight dan Lomas, yang menyatakan bahwa Freemasonry berasal dari suku Esenes. Peneliti lainnya, Picknett dan Prince yang menulis The Templar Revelation menolak anggapan tersebut. Bahkan dengan tegas mereka menyatakan masih ragu bahwa suku yang menemukan gulungan Laut Mati adalah Esenes.
“Belum ada bukti tertulis yang memperkuat dugaan ini. Hal tersebut masih berupa asumsi karena kebetulan ditemukan di wilayah di mana mereka tinggal, yakni di tepi Laut Mati, suatu daerah yang banyak bukit-bukit batu dan gua,” jelas Picknett dan Prince.
Sebenarnya, sampai sekarang belum ada yang berani memastikan apakah Freemason dahulu sungguh-sungguh bernama Bluemason? Atau apakah sejak awal memang bernama Freemason? Atau Bluemason merupakan salah satu faksi dari Freemason? Atau Bluemason sesungguhnya bukanlah nama organisasinya, melainkan nama tingkatan dalam Freemasonry, karena di dalam organisasi ini dikenal satu tingkatan yang disebut Blue Lodge, lantas apakah dengan demikian sebutan bagi para Mason yang masih berada di tingkat Blue-Lodge ini disebut Bluemason?

Perbedaan istilah ini pada dasarnya tidak memiliki pengaruh banyak pada pengkajian tentang para Mason karena esensi dari organisasi rahasia ini tidaklah berubah.
Kesimpang-siuran nama ini, antara BlueMasonry dengan Freemasonry, agaknya mendapat jawaban yang agak jelas dari penuturan William G. Carr, seorang peneliti Zionisme. Menurutnya, dalam satu pertemuan yang diadakan oleh Mayer Amshell Rothschild atau yang bergelar Rothschild I (ayah dari kelima Rothschild yang menguasai lembaga perbankan dunia) dengan para tokoh pemilik modal Yahudi di Frankfurt tahun 1773—tiga tahun sebelum Amerika Serikat mengumumkan kemerdekaannya dari jajahan Inggris dan duabelas tahun sebelum para tokoh Yahudi itu meletupkan Revolusi Perancis—Rothschild I setelah mengevaluasi hasil-hasil dari Revolusi Inggris, mengeluarkan sebuah dokumen yang berisi 25 butir pandangannya tentang gejolak Eropa paska Revolusi Inggris dan dalam menghadapi Revolusi Perancis yang akan dibuatnya.
Dalam butir ke-16 dari dokumen itu, Rothschild menyatakan bahwa kelompoknya, yang disebut sebagai kelompok Konspirasi, harus melakukan penyusupan ke jantung Freemason di Eropa untuk memantau sejauhmana efektivitas organisasi itu dalam perannya mengabdi Konspirasi.

Jelas, di sini kita ketahui bahwa posisi Konspirasi lebih tinggi dan berpengaruh dibanding Freemasonry. Dalam butir itu, Rothschild memerintahkan agar Konspirasi mendirikan organisasi sejenis Freemasonry lain, The Grand Eastern Lodge, yang dikelola langsung oleh Konspirasi, yang kemudian diberi nama Bluemasonry. Rothschild juga mengatakan bahwa semua anggota yang tergabung dalam The Bluemasonry akan ditatar dan dididik secara khusus, agar mereka bisa berperan sebagai propagandis yang sempurna di tengah masyarakat Gentiles (Ghoyim).[1]

Inilah asal muasal nama Bluemasonry, yakni sebagai ‘Freemasonry’ yang lebih efektif dalam menjalankan order dari Konspirasi Yahudi Internasional. Jadi, menurut pendapat Carr, Bluemason merupakan sebuah organisasi yang sengaja dibuat kelompok Illuminati, untuk mengefektifkan kelompok Freemasonry yang sudah ada, menjelang pecahnya Revolusi Perancis.
Nama Freemasonry sebagai organisasi modern, walau tetap dalam kerahasiaannya, diduga secara resmi mulai dipakai pada tahun 1673 dengan jumlah anggota rahasianya 27 orang di Inggris. Namun sebuah dokumen rahasia yang ditemukan mengungkap bahwa sesungguhnya organisasi modern dari gerakan ini berdiri di Inggris pada tanggal 24 Juni 1717. Gerakannya kian berkembang setelah Duke of Sussex menjadi Grand Masternya sekaligus melepaskan segala atribut keterkaitannya dengan Gereja.
Sebagai sebuah organisasi, Freemasonry juga memiliki tingkatan-tingkatan atau istilahnya derajat keanggotaan. Dalam Kongres Freemasonry di London tahun 1717 diputuskan sebuah struktur organisasi yang tingkatan-tingkatannya menyerupai sebuah piramida yang tersusun dari 33 lapisan (Scottish Rite atau Sekte Skotlandia) dan 13 tingkatan (York Rite atau Sekte York). (Bersambung/Rizki Ridyasmara)

——————–
[1] William G. Carr, Yahudi Menggenggam Dunia; Pustaka Alkautsar, cet.7; 2005, hal. 99.
============
Artikel ini bekerjasama dengan Eramuslim Digest: Resensi Buku : Jejak Berdarah Yahudi Sepanjang Sejarah , Eramuslim Digest

http://www.eramuslim.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: