Hermeneutika Metodologis F.D.E. Schleiermacher Dan Dampaknya Terhadap Tafsir Al Quran

A. Selayang Pandang Biografi Schleiermacher (1768-1834 M)
Nama lengkapnya adalah Friedrich Daniel Schleiemarcher lahir di Breslau 21 November 1768 dari keluarga yang taat dalam agama Protestan. Tahun 1783 ia mengikuti pendidikan menengah di sekolah Moravian di Niesky. Alasan ia masuk sekolah tersebut, selain karena mengikuti tradisi keluarganya, adalah terutama karena motivasi yang sangat kuat untuk mencari pengalaman iman yang mendalam dalam hidup Kristen. Di sekolah tersebut, pelajaran Bahasa Latin dan Yunani dijadikan sebagai dasar pendidikan humanistik, di samping pelajaran matematika, Botani dan Bahasa Inggris. Kemudian, pada tahun 1785 ia melanjutkan studinya ke Barby bersama teman-temannya. Tahun 1787 ia menjalani matrikulasi di universitas Halle yang berkembang di bawah filsafat Christian Wolf dan Semler.

Di universitas tersebut, di bawah bimbingan Johann August Eberhard, ia mempelajari dan mengevaluasi filasafat Kant melalui tulisannya yang berjudul “Kritik Atas Akal Murni” (Criric of Pure Reason). Ia juga menerjemahkan tulisan Aritoteles yang berjudul “Ethica Nicomachea”. Dan di bawah bimbingan F.A. Wolf ia mempelajari gagasan-gagasan Filsuf Yunani.

Singkat cerita, pada perjalanan intelektualnya, setelah pada tahun 1789-1790 M ia pindah ke Drossen, ia sempat bersikap skeptik terhadap semua ajaran yang dipelajarinya. Namun karena desakkan kuat dari ayah dan pamannya, tahun 1790 ia pindah ke Berlin untuk mengikuti ujian teologi di Direktorat Gereja Reformasi selama 6 hari, dan ternyata hasil ujiannya itu sangat memuaskan. Selanjutnya ia tinggal di Schlobitten di wilayah Prusia Timur, tempat di mana kehidupan religiusnya tumbuh kembali.
Persahabatannya dengan seorang ahli filsafat Alam Kodrat bernama Steffens, merupakan faktor penting dalam pembentukan pandangan kefilsafatannya, yaitu pandangan filsafat kebudayaan sejarah. Namun sebenarnya, sebagai dosen ia sangat antusias terhadap etika, dogma, dan hermeneutik. Kemudian dalam persahabatannya dengan Wilhelm Von Humbolt dan sebagai anggota komisi, Schleiermacher mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap pengorganisasian awal berdirinya Universitas Berlin. Bahkan September 1810 ia diangkat menjadi Dekan yang pertama pada fakultas teologi hingga tahun 1820. Pada tahun 1815-1816 ia menjadi Rektor di Universitas tersebut.
Ia meninggal dunia pada hari rabu 12 februari 1834 karena radang paru-paru.

B. Hermeneutika Schleirmacher

1. Pengaruh Friedrich Ast dan Friedrich August Wolf
Ada dua ahli filologi yang tidak mungkin diabaikan dalam gagasan hermeneutika Schleiermacher, yakni Friedrich Ast (1778-1841 M) dan Friedrich August Wolf (1759-1824 M). Sebagai gambaran, tugas Hermeneutika menurut Ast dirumuskan dalam 3 bentuk pemahaman, yaitu pemahaman materi yang dirumuskan dalam karya, pemahaman bahasa, dan pemahaman roh karya; yakni pemahaman roh zaman dan pandangan semesta dari si pengarang yang saling berinteraksi serta saling menerangi. Bentuk ketiga (pemahaman roh) lah yang dikembangkan oleh Schleiermacher. 3 tingkat pemahaman ini, juga membawa Ast pada pembedaan terhadap 3 tingkat penjelasan; hermeneutika huruf (hermeneutik des Buchstabens), hermeneutika makna (hermeneutik des sins), dan hermeneutika roh (hermeneutik des geistes). Namun menururt Schleiermacher, hermeneutika makna yang mengangkat masalah polisemilah yang merupakan hermeneutika yang sebenarnya. Pengaruh Ast ini, kelak dapat dikenali sebagai melatarbelakangi diskusi Schleiermacher tentang aspek-aspek gramatikal dan teknikal atau psikoligikal serta diskusi tentang metode-metode divinatorik dan komparatif. Pencapaian Ast lainnya yang penting dan dijumpai dalam hermeneutika Schleiermacher adalah bahwa pemahaman merupakan pengulangan proses kreatif (Nachbildung). Usaha memahami teks tidak hanya sekedar menganalisis kata.

Sedangkan Wolf, menyebut hermeneutika sebagai “ilmu tentang aturan-aturan untuk mengenali makna (die bedeutung) tanda-tanda”. Tujuan hermeneutika sendiri menurutnya adalah “menangkap pikiran-pikiran seseorang yang tertulis bahkan yang diucapkan sebagaimana orang terebut menghendaki untuk ditangkapnya. Dengan ini, Wolf merancang hermeneutika yang praktis, factual, dan bersifat regional, yakni setiap objek mempunyai aturan sendiri; baik itu sejarah, hukum, karya sastra, dan sebagainya.
3 tingkat hermeneutika menurut Wolf adalah interpretatio gramatical, interpretatio historica, interpretatio philosophica. Interpretasi adalah pemahaman yang diartikulasikan. Interpretasi hanya dapat dilaksanakan apabila pemahaman dilakukan dengan cermat dan seksama, Niemand kann interpretari, nisi subtiliter intellexterit.

Namun demikian, kendati dapat dikenali masukan-masukan yang produktif bagi rekonsepsi Schleiermacher tentang hermeneutika, belum dapat dilihat masalah pemahaman, hermeneutika belum mengembangkan seperangkat aturan yang taat asas dan lengkap, serta belum pula berada dalam bentuk yang umum; masih terpisah-pisah.

2. Rekonsepsi Hermeneutika
Schleiermacher melihat kesatuan yang lebih mendasar pada semua jenis teks. Fenomena bahasa tampil menonjol dalam hermeneutika. Teks apapun memakai bahasa, bahasa ada tata bahasanya, dan tata bahasa dapat dipakai untuk menemukan arti suatu kalimat; arti adalah interaksi antara pikiran dan struktur tata bahasa yang sudah menjadi perjanjian. Begitulah hakikat dari dokumen apapun. Dengan demikian, jika prinsip-prinsip semua pemahaman bahasa dapat dirumuskan, dapat dipegang kesatuan yang mendasari semua hermeneutika khusus dan kesinambungan sistematik dari berbagai hermeneutika yang mempunyai kumpulan aturan sendiri.

Dalam konteks ini, 3 unsur yang sebelumnya, yakni memahami teks, menjelaskan yang terpahami, dan aplikasi yang terpahami pada hidup si interpretator tidak dilihat sebagai suatu masalah bagi proyek hermeneutika umum. Konfrontasi masa kini dan masa lalu tidak dibicarakan karena masalah aplikasi tidak dilihatnya sebagai masalah. Hermeneutika okasional pedagogis tidak relevan bagi suatu hermeneutika umum maka terlampaui lah perolehan studi hermeneutika saat itu. Hal itu juga disebabkan perbedaan antara hermeneutika sacra dan hermeneutika profana disingkirkan.
Kitab suci tidak dipandang lagi sebagai buku wahyu yang khas. Ia adalah dokumen di samping dokumen lainnya.

3. Inti Gagasan Hermeneutika Schleiermacher
Dalam perkembangan pemikirannya, Schleiermacher melepaskan gagasan bahwa hakikatnya, secara intrinsik pikiran dan pengungkapannya ke dalam bahasa adalah identik. Setelah itu semakin tegaslah pendapat Schleiermacher bahwa objek hermeneutika ada dalam dua bidang, yakni bahasa dan pikiran. Pada bahasa ada metode gramatikal (menyoroti segi objektif) sedang pada pikiran ada metode teknikal (menyoroti segi subjektif). Keduanya merupakan inti organisasi hermeneutika Schleiermacher.
Metode teknikal yang tujuannya adalah memahami gaya (styl), oleh Schleiermacher—dalam ceramahnya di depan akademi Prusia—disebut dengan metode psikologikal. Ini adalah saham orisinal Schleiermacher dan secara bertahap menguasai perkembangan Schleiermacher. Namun agaknya, ini juga merupakan pengaruh dari filsafat hidup (philosophy Of Lebens) Shlegel yang mengatakan bahwa objek filsafat adalah hidup kejiwaan (Gestige Leben) dengan segala daya tenaganya yang kaya dan beragam.

Interpretasi psikologikal yang selalu merupakan dialektika sifat komparatif dan divinatorik, berusaha memahami individualitas pengucap ungkapan, bagaimana cara merumuskan pengalaman dan pikirannya ke dalam bahasa. Adapun interpretasi gramatikal yang juga bersifat komparatif dan divinatorik, suatu ungkapan ditentukan identitasnya menurut ketentuan-ketentuan objektif dan umum yang berlaku. Keduanya adalah sama sehingga keliru jika dikatakan interpretasi gramatikal lebih rendah sedang gramatikal lebih tinggi.
Suatu struktur bahasa yang memuat pemikiran tertentu diuraikan sehingga dapat ditarik sesuatu. Berdasarkan ketentuan suatu bahasa, pikiran yang hendak disampaikan, agar dimengerti maksudnya harus diungkapkan dalam struktur kebahasaan tertentu. Schleiermacher melihat hal itu sebagai pembatasan karena hal yang khas terpaksa dituang dalam struktur yang sifatnya umum. Padahal. Setiap individu adalah manifestasi tertentu dari sang hidup, yang mempunyai kekhasan (Eugentumlichkeit) tersendiri. Oleh karena itu dibutuhkan interpretasi psikologikal yang dirancangkan untuk mencari kekhasan individualitas yang ternyata merupakan suatu misteri. Tampillah subjektivasi pendekatan bahasa. Di sini dibutuhkan semacam kesamaan kejiwaan dengan pencipta. Perlu meletakkan diri setingkat dengan pencipta. Oleh karena itu, barang siapa membaca, ia harus keluar dari dunia perasaannya (Gesinung) untuk membuka diri terhadap dunia perasaan pencipta dan terhadap dunia kejiwaan pencipta. Sasarannya adalah untuk “memahami teks lebih baik dari pada si penulisnya” serta “memahami si penulis lebih baik dari pada si penulis memahami dirinya sendiri”.

Bagaimana memahami penulis dengan lebih baik dari pada penulis itu sendiri?. Sebagai contoh, seorang sejarawan yang menulis sejarah zamannya sendiri akan bercorak subjektif dan kurang lengkap, sebab ia akan melihat berbagai peristiwa dalam rangkaian yang tertutup. Ia tidak memiliki persfektif yang luas atau tidak mengambil jarak untuk membuat penilaian yang baik. Sejarawan yang hidup pada zaman sesudahnya akan memahami secara lebih baik dan benar, karena ia hidup sesudah semua peristiwa itu terjadi; sehingga mampu melihat tidak hanya waktu dan tempat, tapi juga keseluruhan gambaran secara global dan menyangkut berbagai seginya. Jadi sebuah teks sejarah yang ditulis oleh sejarawan pada zaman dulu akan dipahami secara lebih baik oleh peneliti yang menggali secara lebih dalam semua peristiwanya dan menemukan interpretasi yang baru dan segar.

Mencari pribadi pengucap atau pengarang, dipandang oleh Schleiermacher sebagai segi yang positif dan bukan kegiatan membatasi. Dengan kegiatan interpretasi gramatikal dan psikologikal, Schleiermacher hendak menegaskan bahwa untuk memahami diperlukan pengalaman kembali atas apa yang dialami oleh pengarang dan tidak melihat pernyataan terlepas dari pengarangnya.

C. Dampak Hermeneutika Schleiermacher Terhadap al Quran
Adnin Armas dalam salah satu artikelnya menjelaskan bahwa pendapat Schleiermacher yang mengasumsikan semua teks itu sama dan tidak memiliki keunikan akan berimplikasi bahwa al Qur’an juga tidak istimewa. Pendekatan penerus dari Schleiermacher; yaitu Dilthey yang menjadikan sejarah sebagai sumber pemahaman teks akan berimplikasi bahwa al Qur’an adalah teks sejarah dan dipengaruhi oleh kondisi sosial budaya pada waktu itu. Ini tentu sangat tidak dapat dibenarkan, karena al Quran adalah wahyu “lafdzan wa ma’nan”.

Selanjutnya, dampak dari pemikiran hermeneutika Schleiermacher—termasuk Dilthey dan tokoh hermeneutik lainnya—adalah berupa pengaruhnya terhadap framework beberapa pemikir dalam memahami al Qur’an. Kendati para pemikir tadi tidak mengutip langsung nama para hermeneut tersebut, namun pernyataan bahwa al Quran perlu dipahami dengan pendekatan historis telah menunjukkan pengaruh tersebut. Demikian ungkap Adnin Armas.
Sebagai contoh, beberapa pemikir yang terpengaruh oleh para hermeneut ini adalah Mohammed Arkoun; seorang seorang guru besar dalam pemikiran Islam di Universitas Sorbon Perancis dan Nashr Hamid Abu Zayd; seorang pemikir modernis yang berasal dari Mesir.

Mohammad Arkoun misalnya menyatakan bahwa Mushaf Utsmani tidak lain hanyalah produk sosial dan budaya masyarakat dan ia telah dijadikan sesuatu yang “tak terpikirkan” disebabkan semata-mata kekuatan dan pemaksaan penguasa resmi. Bahkan secara lebih eksplisit ia juga menyatakan bahwa pendekatan historisitas, sekalipun berasal dari barat, namun tidak hanya sesuai untuk warisan budaya Barat saja. Pendekatan tersebut dapat diterapkan pada semua sejarah umat manusia dan bahkan tidak ada jalan lain dalam menafsirkan wahyu kecuali menghubungkannya dengan konteks historis.
Sejarah al Quran menurut Arkoun dibagi kepada 3 periode, periode pertama berlangsung ketika pewahyuan (Prophetic Discourse. 610-632 H); periode kedua, berlangsung ketika koleksi dan penetapan mushaf (Prophetic Closed Corpus. 12-324 H/632-936 M), dan periode 3 berlangsung ketika masa ortodoks (Prophetic 324 H/936 M). Berdasarkan periode pertama dan kedua, Arkoun mendefiniskan al Qur’an sebagai sebuah korpus yang selesai dan terbuka yang diungkapkan dalam bahasa Arab, di mana kita tidak dapat mengakses kecuali melalui teks yang ditetapkan setelah abad ke 4 H/10 M.

Arkoun membedakan antara periode pertama dan kedua. Menurutnya, pada periode pertama al Quran lebih suci, lebih autentik, dan lebih dapat dipercaya dibanding ketika dalam bentuk tertulis. Sebabnya, al Quran terbuka untuk semua arti ketika dalam bentuk lisan, tidak seperti dalam bentuk tulisan yang telah berkurang dari kitab yang diwahyukan menjadi sebuah buku biasa. Arkoun berpendapat bahwa mushaf itu tidak layak untuk mendapatkan status kesucian, tetapi Muslim ortodoks meninggikan korpus ini ke dalam sebuah status sebagai firman Tuhan.

Sedangkan Nashr Hamid Abu Zayd, sejalan dengan Dilthey ia menyatakan al Qur’an sebagai “Muntaj al Tsaqaafi” (produk budaya) yang terbentuk selama lebih dari 20 tahun. Karena realitas dan budaya tidak bisa dipisahkan dari bahasa manusia, maka ia juga menganggap al Qur’an sebagai teks bahasa (nash lughawi). Realitas, budaya, dan bahasa merupakan fenomena historis dan mempunyai konteksnya masing-masing. Oleh sebab itu, al Qur’an adalah teks historis (a historical text). Historisitas teks, realitas dan budaya sekaligus bahasa, menunjukkan al Qur’an adalah teks masusiawi (nash insani).
Ia juga menyalahkan penafsiran yang telah dilakukan oleh mayoritas mufasir yang selalu menafsirkan al Qur’an dengan muatan metafisis Islam. Menurutnya, hal tersebut tidak akan melahirkan sikap ilmiah. Ia menyatakan: “Saya mengkaji al Qur’an sebagai sebuah teks berbahasa Arab agar dapat dikaji baik oleh kaum Muslim, Kristen, maupun Atheis”.

Pemahaman Arkoun dan Abu Zayd di atas, tidak sesuai dengan apa yang diajarkan oleh al Qur’an sendiri yang menyatakan bahwa al Quran adalah wahyu, bukan perkataan Muhammad saw yang seorang penyair, tukang tenun, atau orang gila. Sekalipun manusia dan jin berkumpul, mereka tidak akan bisa membuat al Quran. Selain itu teorinya juga bertentangan dengan teori para ulama tafsir. Sebab, keimanan merupakan syarat dan metode khusus bagi yang ingin menafsirkan al Quran. Al Thabari misalnya, menegaskan bahwa syarat utama seorang penafsir adalah akidah yang benar dan komitmen mengikuti sunnah. Orang yang akidahnya cacat tidak bisa dipercaya untuk mengemban amanah yang berkaitan dengnan urusan keduniawian apalagi urusan keagamaan. Begitu pula al Suyuthi, mengatakan bahwa sikap sombong, cenderung kepada bid’ah, tidak tetap iman dan mudah goyah dengan godaan, cinta dunia yang berlebihan dan terus-menerus melakukan dosa bisa menjadi hijab dan penghalang dari menerima anugrah ilmu Allah Swt.
Sebagai tambahan, secara umum dampak hermeneutika jika diterapkan kepada al Quran, menurut Dr. Adian Husaini dalam buku “Hermeneutika Dan Tafsir al Quran” ada 3; yaitu:

1. Relativisme tafsir
Para pengaplikasi hermeneutika menganut paham relativisme tafsir. Tidak ada tafsir yang tetap. Semua tafsir dipandang sebagai produk akal manusia yang relatif, kontekstual, temporal, dan personal. Prof. Amina Wadud, seorang tokoh feminis menyatakan, “No method of Quranic exegesis fully objectives, each exegete makes some subjektive choices”. (Tidak ada metode penafsiran al Qur’an yang sepenuhnya objektif, masing-masing penafsir membuat pilihan-pilihan subjektif).
Berangkat dari paham relativisme ini, maka tidak ada lagi satu kebenaran yang bisa diterima semua pihak, semua manusia bisa salah.

2. Curiga dan mencerca ulama
Para pendukung metode ini juga tidak segan-segan memberikan tuduhan yang membabi buta terhadap para ulama Islam yang terkemuka, seperti Imam Syafi’i yang berjasa merumuskan metodologi keilmuan Islam. Contohnya, sebagaimana yang dikutip oleh Dr. Adian Husaini dari buku “Fikih Lintas Agama” yang diterbitkan oleh Paramadina dan The Asian Foundation sebagai berikut:
“Kaum muslim lebih suka terbuai dengan kerangkeng dan belenggu pemikiran fiqih yang dibuat oleh Imam Syafi’i. Kita lupa, Imam Syafi’i memang arsitek ushul fiqih yang paling brilian, tapi juga karena Syafi’ilah pemikiran-pemikiran fiqih tidak berkembang selama kurang lebih dua belas abad. Sejak Syafi’i meletakkan kerangka ushul fiqihnya, para pemikir fiqih muslim tidak mampu keluar dari metodologinya. Hingga kini, rumusan Syafi’i itu diposisikan begitu agung, sehingga bukan saja tak tak tersentuh kritik, tapi juga lebih tinggi ketimbang nash-nash syar’i (al Qur’an dab hadits). Buktinya, setiap bentuk penafsiran teks-teks selalu tunduk di bawah kerangka Syafi’i”.

3. Dekonstruksi konsep wahyu.
Para pendukung hermeneutika memasuki wilayah yang sangat rawan dengan mempersoalkan dan menggugat otentisitas al Qur’an sebagai kitab yang “lafdzan wa ma’nan minallah”.

D. Kesimpulan

Diakhir tulisannya, ketika membahas Dampak Hermeneutika Schleiermacher dan Dilthey terhadap tafsir al Quran, Adnin Armas menyimpulkan: “… bahwa yang paling utama dalam metode atau filsafat hermeneutika adalah teori tentang status suatu teks dan bukan tentang bagaimana metode menafsirkan teks tersebut secara tekstual.”

Dr. Syamsuddin Arif dalam buku “Orientalis dan Diabolisme Pemikiran” menyatakan: “… hermeneutika tidak sesuai untuk diterapkan dalam studi Islam. Kita katakan ‘tidak sesuai’, bukan ‘tidak bisa’ atau ‘tidak mungkin’, karena perkara ini menyangkut dampak dan hasil, ketimbang hukumnya”.
Hermeneutika tidak lahir dari ruang kosong, ada latar belakang yang menjadi sebab kemunculannya, sebagaimana halnya cabang ilmu-ilmu yang lain. Hermeneutika lahir dari kekecewaan terhadap Bible yang diragukan keasliannya. Ini berbeda dengan al Quran yang masih dan akan terus terjaga keasliannya.
Dengan perbedaan mendasar antara Bible—atau teks lainnya—dengan al Quran ini, maka tentu hermeneutika tidak dan tak akan pernah sesuai untuk diterapkan kepada al Qur’an. Pemaksaan penerapan hermeneutika yang dilakukan oleh para orientalis dan pembebek-pembebeknya hanya akan meruntuhkan dan merusak Islam itu sendiri. Dalam konteks ini, gagasan hermeneutika Schleiermacher yang menganggap semua teks sama, adalah pintu pertama untuk menerapkan hermeneutika terhadap al Quran. Ini tentu tidak dapat diterima, karena menerapkan gagasan Schleiermacher terhadap al Quran, sama saja dengan mengingkari keaslian al Quran yang merupakan wahyu baik secara lafadz atau pun maknanya.

Sebut saja contohnya Mohammed Arkoun dan Nashr Hamid Abu Zayd, mereka tidak akan pernah dapat menafsirkan al Quran dengan ala hermeneutika, kecuali dengan terlebih dahulu menurunkan derajat teks al Quran dari teks wahyu menjadi teks yang manusiawi; bahwa al Quran yang keluar dari mulut Nabi Muhammad saw adalah bahasa Arab biasa yang dipahami oleh orang-orang Arab ketika itu. Dan menurunkan derajat al Quran menjadi teks manusiawi biasa, sama saja dengan meruntuhkan dan membubarkan dasar serta pondasi agama Islam.

Daftar Pustaka

Al Quran
Sumaryono E. , Hermeneutik: Sebuah Metode Filsafat, Yogyakarta, Penerbit Kanisius, thn. 1999.
Poespoprodjo W. , Hermeneutika, Bandung, Pustaka Setia, thn. 2004
Armas Adnin, “Dampak Hermeneutika F.D.E Schleiermacher dan William Dilthey Terhadap Studi al Qur’an, hal. 6. (artikel)
Husaini Adian dan al Baghdadi Abdurrahman , Hermeneutika dan Tafsir al Qur’an, Jakarta, Gema Insani Press, thn. 2007.
Arif Syamsuddin, Orientalis Dan Diabolisme Pemikiran, Jakarta, Gema Insani Press, thn. 2008.

http://gusela-slibrary.blogspot.com/2014/06/hermeneutika-metodologis-fde.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: