Orientalis dan Studi Alquran (Tanggapan atas Tanggapan)

Kamis, 14 April 2005

Adnin Armas
Kandidat Doktor di ISTAC, Malaysia

Mun’im A Sirry dan Pradana Boy telah menanggapi tulisan saya di
Republika (01-04-2005) yang berjudul Selamat Datang, Profesor
Azami!. Ketika mengkritik Prof Azami, Mun’im menulis bahwa bagi
mereka yang sempat membaca karya-karya Barat tentang studi Alquran,
walaupun tidak mendalam, tentu akan merasa aneh jika tidak menyebut
Richard Bell, Montgomery Watt, Toshihiko Izutsu, Alford Welch,
Daniel Madigan, atau Kenneth Cragg yang banyak menulis karya-karya
simpatik tentang Alquran. Pernyataan Mun’im tersebut telah
membelokkan masalah yang sebenarnya.

Bukan pakar

Prof Azami dalam karyanya memfokuskan kajiannya kepada perbandingan
historisitas Alquran, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Dalam
studi historisitas Alquran, Azami telah membahas pendapat orientalis
terkemuka dunia dalam sejarah Alquran seperti Noldeke, Mingana, dan
Jeffery. Sedangkan orientalis yang disebutkan oleh Mun’im bukanlah
orientalis terkemuka dalam studi sejarah Alquran. Judul buku Richard
Bell dan Montgomery Watt (Introduction to the Quran, 1970) saja
sudah menunjukkan bahwa karya Bell dan Watt adalah karya pengenalan
kepada Alquran. Bell dan Watt hanya mengulangi pendapat para
orientalis sebelumnya. Pendapat Bell yang menganggap Mushaf Abu Bakr
RA adalah mushaf pribadi, misalnya, merupakan pengulangan dari
pendapat para orientalis sebelumnya seperti Noldeke, Caentani,
Schwally, Mingana, Jeffery dan lain-lain.

Mun’im juga tidak tepat ketika memasukkan nama Toshihiko Izutsu,
Alford Welch, Daniel Madigan, dan Kenneth Cragg dalam kritikannya
kepada Azami. Sebabnya, kesemua orientalis tersebut bukanlah sarjana
apalagi pakar dalam studi sejarah Alquran. Padahal, karya Azami
adalah membahas sejarah Alquran.

Selain itu, Mun’im dengan mengutip pendapat Arkoun, menyayangkan
kaum Muslim karena mentashbihkan Mushaf Utsmani. Dalam pandangannya,
para sahabat terkemuka mengeluh dengan terwujudnya standartisasi
Mushaf Utsmani. Kesimpulan Mun’im terhadap Mushaf Usmani menunjukkan
ketidaktahuannya tentang berbagai fakta dan pendapat para sahabat
yang telah menerima Mushaf Utsmani dengan sepenuh hati.

Mus’ab ibn Sa’d menyatakan bahwa tidak seorangpun dari Muhajirin,
Ansar, dan orang-orang yang berilmu mengingkari perbuatan Utsman RA.
Ali bin Abi Talib menyatakan, ”Seandainya aku yang berkuasa,
niscaya aku akan berbuat mengenai mushaf sebagaimana yang Utsman
buat.” Thabit ibn imarah al-Hanafi menyatakan bahwa ia mendengar
dari Ghanim ibn Qis al-Mazni yang menyatakan, ”Seandainya Utsman
belum menulis Mushaf, maka manusia akan mulai membaca puisi.”
Selanjutnya, Abu Majlaz mengatakan, ”Seandainya Utsman tidak
menulis Alquran, maka manusia kan terbiasa membaca puisi.” (Lihat
karya ibn Abi Daud Sulaiman al-Sijistani, Kitab al-Masahif dan juga
karya Abu ‘Ubayd, Fadail Alqur’an).

Bahkan Abu Ubayd (224 H), sejak kurang lebih 1.200 tahun yang lalu,
telah menghimpun pernyataan beberapa sahabat mengenai Mushaf Utsmani
dan menyimpulkan bahwa hukumnya kafir bagi siapa yang mengingkari
Mushaf Utsmani. Jadi, para sahabat menyepakati tindakan Utsman untuk
menghimpun Alquran. Kesepakatan tersebut juga tercermin di dalam
salah satu syarat sahnya sebuah qiraah, yaitu harus sesuai dengan
ortografi Mushaf Utsmani. Syarat ini merupakan ijma ulama.

Keraguan pada Bibel Tanggapan kepada artikel Selamat Datang, Prof
Azami! juga dikemukakan oleh Pradana Boy. Dalam pandangannya, dialog
antarkitab perlu dilakukan secara akademis. Sebenarnya, pernyataan
Pradana menunjukkan ketidaktahuannya akan sejumlah permasalah
mendasar dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Perjanjian Lama,
misalnya, juga merupakan kitab yang sangat tua dan mungkin paling
banyak dikaji manusia, tetapi tetap masih merupakan misteri hingga
kini.

Richard Elliot Friedman, dalam bukunya, Who Wrote the Bible, menulis
bahwa hingga kini siapa yang sebenarnya menulis kitab ini masih
merupakan misteri. (It is a strange fact that we have never known
with certainty who produced the book that has played a central role
in our civilization). Ia mencontohkan, The Book of Torah, atau The
Five Book of Moses, diduga ditulis oleh Moses. Book of Lamentation
ditulis Nabi Jeremiah. Separuh Mazmur ditulis King David. Tetapi,
kata Friedman, tidak seorang pun tahu, bagaimana penyandaran itu
memang benar. The Five Book of Moses, kata Friedman, merupakan teka-
teki paling tua di dunia. Tidak ada satu ayat pun dalam Torah yang
menyebutkan, bahwa Moses adalah penulisnya. Sementara di dalamnya
dalam teks-nya dijumpai banyak kontradiksi.

Teks Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani Kuno yang pertama kali
mendapat sambutan di pasaran adalah edisi naskah yang diterbitkan
pada tahun 1516 oleh Desiderius Erasmus (1536). Tahun 1519, terbit
edisi kedua Teks Bible dalam bahasa Yunani Kuno. Teks ini digunakan
oleh Martin Luther dan William Tyndale untuk menerjemahkan Bible
dalam Bahasa Jerman (1522) dan Inggris (1525). Tahun-tahun
berikutnya banyak terbit Bible bahasa Yunani Kuno yang berbasis pada
teks versi Byzantine. Antara tahun 1516 sampai 1633 terbit sekitar
160 versi Bible dalam bahasa Yunani Kuno. Dalam edisi Yunani Kuno
ini dikenal istilah Textus Receptus yang dipopulerkan oleh
Bonaventura dan Abraham Elzevier. Namun, edisi ini pun tidak jauh
berbeda dengan 160 versi lainnya. (Lihat, Bruce M. Metzger, A
Textual Commentary on the Greek New Testament, hlm xxii-xxiv). Jadi,
meskipun sekarang talah ada kanonisasi, tetapi menurut Metzger,
adalah mungkin untuk menghadirkan edisi lain dari The New Testament.
Selain itu, para sarjana Bibel terkemuka seperti Karl Lachmann
(1851), Lobegott Friedrich Constantin von Tischendorf (1874), Samuel
Prideaux Tregelles (1875), Henry Alford (1871), Brooke Foss Westcott
(1901), Bernhard Weiss (1918), Hermann Freiherr von Soden (1914)
telah meninggalkan Textus Receptus edisi Erasmus. Menurut Johann
Salomo Semler (1791), bagian-bagian dari Perjanjian Baru bukanlah
wahyu. Oleh sebab itu, menurut Semler, isi Perjanjian Baru tidak
dapat diterima sebagai otoritatif [Lihat Werner Georg Kummel, The
New Testament: The History of the Investigation of Its Problem
(1972)].

Jadi, kalangan sarjana Bibel sendiri sudah menyimpulkan bahwa Bibel
memuat sejumlah permasalahan mendasar yang tidak mungkin untuk
diselesaikan. Bibel bukanlah sebuah kitab suci yang dipahami
masyarakat Kristen awam. Studi kritis Bibel (Biblical criticism)
telah berkembang dengan begitu mapan. Kajian historis terhadap Bibel
yang telah dilakukan oleh para sarjana Bibel telah menunjukkan bahwa
teks resmi/teks standart Bibel sama sekali tidak bisa diterima.
Jadi, dialog mengenai sejarah Bibel perlu diselesaikan terlebih
dahulu oleh kalangan sarjana Bibel, sebelum melakukan dialog
antarkitab. Sebabnya, banyak sarjana Kristen yang sudah pun menolak
otentisitas Bibel. Jika sarjana Bible sendiri menunjukkan begitu
seriusnya problema yang dihadapi teks Bible, maka sekarang sarjana
dari kalangan Muslim yang mencoba-coba menyeret problema itu untuk
diaplikasikan dalam studi Alquran.

Pengaruh orientalis

Selain itu, baik Mun’im atau Pradana menyebutkan beberapa orientalis
seperti Watt, Madigan, Kenneth Cragg bersikap simpatik kepada
Alquran. Padahal, Watt dan Cragg tetap menyatakan bahwa Nabi Isa AS
mati di tiang salib, suatu kepercayaan yang secara diametral
bertentangan dengan penjelasan Alquran. Sedangkan Madigan
berpendapat para sahabat melakukan bid’ah karena telah menghimpun
Alquran ke dalam sebuah kitab. Lebih jauh lagi, dalam pandangan
Madigan, Alquran yang dihimpun dalam sebuah kitab merupakan sumber
dari faham fundamentalisme agama. Sebenarnya, adalah hal yang normal
dan bisa dipahami, bahwa para orientalis akan selalu mengkritik
Alquran. Sepanjang sejarah, sejak Leo III (741) sehingga abad ke-21
ini, kajian orientalis terhadap Alquran selalu diwarnai dengan
paradigma Yahudi-Kristen. Mereka menggunakan metodologi Bibel untuk
diterapkan kepada Alquran. Mereka tidak akan menerima kebenaran
Alquran. Jika mereka menerima kebenaran Alquran, konsekwensinya
mereka akan masuk Islam dan meninggalkan agama mereka yang dengan
sangat jelas disalahkan oleh Alquran.

Pendapat-pendapat yang menolak otentisitas Mushaf Utsmani telah
dilakukan oleh para ulama sepanjang masa. Abu ‘Ubayd, misalnya, pada
abad ke-2 H pernah menyatakan, ”Usaha Utsman mengkodifikasi Alquran
akan tetap dan sentiasa dijunjung tinggi, karena hal itu merupakan
sumbangannya yang paling besar. Memang dikalangan orang-orang yang
menyeleweng ada yang mencelanya, namun kecacatan merekalah yang
tersingkap, dan kelemahan merekalah yang terbongkar.” (Lihat al-
Qurthubi, al-Jaami’ li Ahkam al-Quran, 1: 84).

Selain itu, Abu Bakr al-Anbari, pada abad ke-3 H telah menulis buku
berjudul al-Radd ‘ala Man Khaalafa Mushaf Utsmaniy (Sanggahan
Terhadap Orang yang Menyangkal Mushaf Utsmani). (al-Qurthubi, 1:5).
Begitu juga dengan al-Qurthubi, pada abak ke-7 H, seorang ahli
tafsir berwibawa dan masyhur, dalam mukadimah kitab tafsirnya
menyediakan satu bab khusus tentang hujah dalam menyanggah orang
yang mencela Alquran dan menyangkal Mushaf Utsmani dengan [dakwaan]
adanya penambahan dan pengurangan. (al-Qurthubi, 1:80-86). Begitu
juga dengan Prof Azami, pada abad ke-21 ini.

Sarjana Muslim mestinya memiliki pendekatan tersendiri terhadap
kajian Alquran. Jika kita bersikap kritis maka kita harus terlebih
dulu memiliki cara-pandang seorang Muslim, bukan cara pandang yang
netral atau cara pandang yang cenderung dipengaruhi orientalis atau
Islamolog Barat. Sebab ilmu itu sendiri tidak netral. Selama ini
kajian para orientalis lebih bersifat empiris yang positivistik yang
diwarnai oleh pandangan hidup Barat sekuler-liberal. Ini menunjukkan
krisis epistemologis yang serius. Wallahu a’lam.

http://permalink.gmane.org/gmane.culture.region.indonesia.ppi-india/6047

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: