SEJARAH AL QURAN DALAM PERSEPSI ORIENTALISM

Al Qur’an yang disepakati umat Islam sebagai verbum dei (kalamullah) dan dijamin (mahfudz) oleh Allah SWT otentisitasnya dari segala bentuk distorsi, mistranskripsi, pergantian maupun perubahan, serta sebagai mukjizat Nabi Muhammad SAW yang relevansinya masih terus berlaku di segala zaman dan waktu. Eksistensinya tidak luput dari gangguan – gangguan para orientalism yang berupaya memalingkan pemahaman umat Islam terhadap sejarah Al Qur’an

Hampir sebagian orientalism ketika mengkaji sejarah Al Qur’an cenderung negatif. Hal ini disebabkan pandangan hidup mereka (world view) ketika mengkaji sejarah Al Qur’an lebih didominasi oleh ideologi dan teologi mereka. Banyak ungkapan – ungkapan miring yang mereka lontarkan ketika menelaah sejarah Al Qur’an, seperti apa yang pernah diungkapkan oleh Abraham Geiger (m.1874) seorang reformis yahudi di jerman yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW terpengaruh oleh ajaran yahudi dan salah dalam memahami taurat sehingga Al Qur’an yang dibawanya juga banyak mengandung kesalahan. Bahkan Geiger diakui diakui oleh Andrew Rippin (orientalis kontemporer) sebagai orientalis pertama yang menggunakan pendekatan baru, yaitu dengan menggunakan aspirasi modern dalam memahami Al Qur’an. Geiger menulis karyanya dalam bahasa latin, kemudian dipublikasikan pada tahun 1833 dalam bahasa jerman dengan judul Was hat Mohammed aus dem Judenthume aufgenommen ? (What Did Muhammad borrow from judaism?). dalam karyanya, Geiger berpendapat bahwa kata – kata yang terdapat dalam Al Qur’an seperti Tabut, Taurat, Jannatu’adn, Jahannam, Ahbar, Darasa, Rabani, Sabt, Taghut, Furqon, Ma’un, Masani, dan Malakut berasal dari bahasa Ibrani (Adnin Armas, MA, 2003).

Pemikiran – pemikiran Abraham Geiger tersebut kemudian dikembangkan lagi oleh para orientalis lainnya, dalam satu artikel Encyclopedia Britannica (1891) Noldeke menyebutkan banyak kekeliruan didalam Al Qur’an karena katanya, “kejahilan Muhammad” tentang sejarah awal agama Yahudi – kecerobohan nama-nama dan perincian lain yang ia curi dari sumber-sumber yahudi. Dengan membuat daftar kesalahan ia menyebut :

(Bahkan) orang yahudi yang paling tolol sekalipun tidak akan pernah salah menyebut Haman (menteri Ahasuerus) untuk menteri Fir’aun, ataupun menyebut Miriam saudara perempuan Musa dengan Maryam (Miriam) ibunya al-Masih… (dan) dalam kebodohannya tentang sesuatu diluar tanah Arab, ia menyebutkan suburnya negeri Mesir – dimana hujan hampir-hampir tidak pernah kelihatan dan tidak pernah hilang – karena hujan, dan bukan karena kebanjiran yang disebabkan oleh sungai Nil.

Ini merupakan satu upaya yang menyedihkan hendak mengubah wajah Islam menggunakan istilah orang lain, siapa orangnya yang menyebut bahwa Fir’aun tidak memiliki seseorang menteri bernama Haman, hanya karena tidak disebut dalam kitab suci terdahulu ? Dalam kebohongannya Noldeke tidak mau menunjuk bahwa Al Qur’an menyebut Maryam (Ibu al-Masih) sebagai “saudara perempuan Harun”, bukan Musa (Prof.Mustafa Al-‘Azami, 2005).

Upaya para orientalism dalam mendistorsi Al-Qur’an bukan hanya sekedar menyebarkan pendapat-pendapat yang bohong, tapi mereka juga berusaha untuk mengubah Al – Qur’an, seperti apa yang dilakukan oleh Flugel (1847) mencetak sejenis indeks al Qur’an. Ia juga menguras tenaga ingin mengubah teks – teks al Qur’an yang berbahasa arab dan pada akhirnya, menghasilkan suatu karya yang tidak dapat diterima oleh pembaca al Qur’an di manapun. Adalah sudah menjadi kesepakatan di kalangan kaum muslimin untuk membaca al Qur’an menurut gaya bacaan salah satu dari tujuh pakar bacaan terkenal, yang semuanya mengikuti kerangka tulisan utsmani dan sunnah dalam bacaannya (qiro’ah), perbedaan-perbedaan yang ada kebanyakan berkisar pada beberapa tanda bacaan diakritikal yang tidak berpengaruh sama sekali terhadap isi kandungan ayat – ayat itu.

Setiap mushaf yang dicetak berpijak pada salah satu dari tujuh Qiro’ah yang diikuti secara seragam sejak awal hingga akhir. Tetapi Flugel menggunakan semua tujuh sistem bacaan dan memilih satu qiro’ah di sana sini dengan tidak menetu (tanpa alasan yang benar) yang hanya membuahkan ramuan cocktail tak berharga. Begitu pula apa yang dilakukan oleh Regis Blachere ketika menterjemahkan makna al Qur’an ke dalam bahasa perancis (Le Coran, 1949), bukan hanya sekedar mengubah urutan surat – surat al Qur’an, bahkan juga menambahkan dua ayat fiktif ke dalam batang tubuh teks. Dia berpijak pada cerita palsu dimana – katanya – setan yang memberi “wahyu” kepada Nabi Muhammad SAW yang tampaknya tidak dapat membedakan antara kalam Allah dan ucapan mantera – mantera orang kafir seperti tercatat dalam cerita itu. Tak satu pun jaringan transmisi bacaan maupun 250.000 manuskrip al Qur’an yang masih ada memasukkan dua ayat itu di mana secara keseluruhan berseberangan dengan setiap naskah yang terdahulu dan berikutnya, yang pada dasarnya berseberangan dengan inti al Qur’an yang sesungguhnya (Moh. Mustafa al ‘Azami, 2005).

Tuduhan terhadap Mushaf Utsmani

Dari beberapa kajian para orientalis terhadap sejarah al Qur’an, hal – hal yang sering menjadi gugatan mereka adalah mengenai mushaf Utsmani. Para orientalis meyakini bahwa mushaf Utsmani yang sekarang ini hanya mengandung satu dari ratusan versi bacaan al Qur’an yang ada sebelum standarisasi yang dilakukan Utsman ibn Affan r.a. Bahkan mereka menuduh mushaf Utsmani sebagai rekayasa politik yang proses unifikasinya penuh dengan intrik – intrik. Sehingga keyakinan bahwa Allah SWT telah menjaga al Qur’an seperti janji-Nya dalam surat al-Hijr ayat 9 dianggap hanya sebuah angan – angan teologis (al-khayal ad-diniy) yang diformulasikan menjadi sebuah doktrin keagamaan. (Nur Faizin Muhith, Republika 2005).

Hal yang demikian tentu saja tidak memiliki data yang akurat, karena justru yang terjadi adalah kesepakatan para ulama untuk mengakui eksistensi dan keakuratan mushaf Utsmani.

Mus’ab ibn Sa’d menyatakan bahwa tidak seorang pun dari kaum Muhajirin, Anshor, dan Ahl ‘Ilmi yang mengingkari perbuatan Utsman ibn Affan r.a. Bahkan Ali ibn Abi Thalib pernah menyatakan, “Seandainya aku yang berkuasa, niscaya aku akan berbuat mengenai mushaf sebagaimana yang Utsman buat”. Thabit Ibn Imarah al-Hanafy menyatakan bahwa ia mendengar dari Ghanim Ibn Qis al-Mazni yang menyatakan “Seandainya Utsman belum menulis Mushaf, maka manusia akan mulai membaca puisi”. Selanjutnya, Abu Majlaz mengatakan, “Seandainya Utsman tidak menulis al-Qur’an, maka manusia kan terbiasa membaca puisi”. (Kitab al-Masahif karya Ibn Abi Daud Sulaiman al-Sijistani dan Fadail al-Qur’an karya Abu Ubayd).

Bahkan Abu Ubayd (224 H), sejak kurang lebih 1.200 tahun yang lalu telah menghimpun pernyataan beberapa sahabat mengenai mushaf Utsmani dan menyimpulkan bahwa hukumnya kafir bagi siapa saja yang mengingkari mushaf utsmani. Jadi para sahabat menyepakati tindakan Utsman untuk menghimpun al Qur’an. Kesepakatan tersebut juga tercermin didalam salah satu syarat sahnya sebuah qiro’ah, yaitu harus sesuai dengan ortografi mushaf Utsmani. Syarat ini merupakan ijma’ Ulama. (Adnin Armas, Republika 2005).

Selain itu, Abu Bakr al-Anbari pada abad ke-3 H telah menulis buku berjudul al-Radd ‘ala man khaalafa mushaf utsmani (sanggahan terhadap orang yang menyangkal mushaf utsmani). Begitu juga dengan al-Qurthubi, pada abad ke-7 H, seorang ahli tafsir berwibawa dan masyhur, dalam mukadimah kitab tafsirnya telah menyediakan satu bab khusus tentang hujjah dalam menyanggah orang yang mencela al-Qur’an dan menyangkal mushaf utsmani dengan (dakwaan) adanya penambahan dan pengurangan. (al-Qurthubi, 1 : 80-86).

Pengaruh metodologi Bibel

Sepanjang sejarah sejak Leo III (741) hingga abad 21 ini, kajian orientalis terhadap al-Qur’an selalu diwarnai dengan paradigma yahudi-kristen. Mereka menggunakan metodologi bibel untuk diterapkan kepada al-Qur’an. Pendeta Edward Sell, misalnya menyeru sekaligus mendesak agar kajian terhadap historisitas al-Qur’an dilakukan. Menurutnya, kajian kritis-historis al-Qur’an tersebut perlu menggunakan metodologi analisa bibel (biblical criticism). Untuk merealisasikan gagasannya, ia menggunakan higher criticism dalam bukunya Historical Development of The al-Qur’an, yang diterbitkan pada tahun 1909, di Madras, India.

Pendeta Alphonse Mingana di awal-awal artikelnya menyatakan bahwa : “Sudah tiba masanya untuk melakukan kritik teks terhadap al-Qur’an sebagaimana telah kita lakukan terhadap Bibel Yahudi yang berbahasa Ibrani-Aramik dan kitab suci Kristen yang berbahasa Yunani”. (Alphonse Mingana, Syiriac Influence on the style of the Kur’an, Manchester Bulletin 11 : 1927). Nildeke, Schwally, Bergstresser, dan Pretzl bekerja sama menulis buku Geschichte des Qorans (sejarah Qur’an). Buku yang menggunakan metodologi bibel ini, mereka tulis selama 68 tahun sejak edisi pertama dan selama 40 tahun sejak diusulkannya edisi kedua. Hasilnya, sampai saat ini, Geschichle des Qorans menjadi karya standar bagi para orientalis khususnya dalam sejarah kritis penyusunan al Qur’an.

Dalam perkembangannya, metodologi tersebut juga sudah diterapkan oleh sebagian pemikir muslim. Mohammed Arkoun, misalnya yang menganjurkan para sarjana muslim untuk menggunakan metodologi kritis ‘ala’ yahudi – nasrani dalam melakukan kritik teks – teks suci al Qur’an. Bahkan Mohammed Arkoun menegaskan bahwa studi al Qur’an sangat ketinggalan dibanding dengan studi bibel “Quranic studies lag considerably behind biblical studies to which they must be comnpared”. (Mohammed Arkoun, The Unthought in Contemporary Islamic Thought, London : Saqi Books, 2002). – Adnin Armas, Republika, 2005.

https://mujahidiendalary.wordpress.com/2013/07/30/sejarah-al-quran-dalam-persepsi-orientalism/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: