Apa Saja Tipu Daya Jin? (1)

JIN (setan) biasanya tidak akan menampakan dirinya kepada manusia karena kemauannya sendiri, kecuali jin (setan) ingin menakut-nakuti manusia dan mencelakakannya. Jin (Setan) dengan tipu dayanya bisa saja memberikan kesan kepada manusia muslim bahwa dalam suatu peristiwa tertentu yang jelas-jelas melanggar ketentuan akidah Islam, tapi dengan kemampuan tipu dayanya (jin [setan]) peristiwa itu bisa jadi seolah-olah menjadi benar adanya menurut akidah Islam, begitulah salah satu bentuk usaha jin (setan) mencari-cari celah-celah untuk menjerumuskan umat muslim. Dan banyak umat muslim yang saleh sekalipun tidak menyadarinya.

Allah berfirman, ”Hai keturunan adam, janganlah sekali-kali kamu mau ditipu oleh setan sebagaimana dia telah dapat mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga. Dia tanggalkan pakaian (pada dasarnya ada dua macam pakaian yaitu, pakaian yang bersifat jasmaniah [fisik] untuk menutup aurat dan keindahan dan pakaian yang bersifat rohani [spritual] untuk mengisi kekosongan jiwa dengan nilai-nilai ketaqwaan) dari keduanya supaya mereka memperlihatkan auratnya.

”Dan sesungguhnya setan dan kelompok-nya dapat melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Dan sesungguhnya kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman” (QS. Al-A’raf/7:27).

Imam Al-Qurthubi, dalam menafsirkan ayat ini mengatakan bahwa, sebagian ulama berpendapat dalam ayat di atas terdapat dalil bahwa, jin itu tidak bisa dilihat, berdasarkan firman Allah yang berbunyi, dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Akan tetapi sebagian lainnya mengatakan bisa. Sebab, Allah menghendaki memperlihatkan mereka, maka Dia menampakkan tubuh mereka, sehingga dapat dilihat.

An-Nuhhas mengatakan bahwa, firman Allah yang berbunyi, ”Dari tempat yang kalian tidak dapat melihat mereka”, menunjukkan bahwa jin tidak bisa dilihat. Lagi pula, Allah SWT menciptakan mereka dalam bentuk ciptaan yang tidak bisa dilihat, kecuali ketika mereka terlihat dalam bentuk aslinya, kejadian itu disebut mukjizat Allah SWT kepada Nabi.

Al-Baihaqi meriwayatkan dalam Manaqib Asy-Syafii, dengan sanad dari Ar-Rabi, kata- nya, ”Saya mendengar Asy-Syafii” berkata, ”barang siapa mengklaim dirinya melihat jin, maka kami menganggap syahadatnya telah batal, kecuali jika dia adalah seorang Nabi”. (Muhammad Isa Dawud, Dialog Dengan Jin Muslim, Pengalaman Spritual”, Pustaka Hidayah, 1995, Jakarta, hlm 37).

Jin di dunia ini dikehendaki oleh Allah untuk tidak bisa dilihat (karena dimensinya berbeda dengan manusia), tidak bisa didengar dan disentuh oleh manusia. Mengenai keistimewaan jin dunia ini atau kemampuan khusus yang dimilikinya menjadi mudah baginya untuk melancarkan gangguan atau bergaul dan berkomunikasi dengan manusia.

Ketika jin ingin menampakkan diri dalam bentuk yang bisa dilihat manusia dan bisa terjadi ketika manusia itu sedang dalam kondisi pengaruh sihir atau jin itu sendiri yang ingin memperlihatkan dirinya kepada manusia. Tetapi dapat dipastikan semua itu bisa terjadi karena telah terpenuhi syarat-syarat tertentu yang memungkinkan jin itu menampakan diri untuk dilihat manusia.

Ibn Hajar Al’Asqallani dan “Al-Qadhi Abu Bakar Al-Baqillani mengatakan bahwa, sebagian kaum Mu’tazilah mengatakan bahwa, jin itu adalah jasad halus dan sederhana. Pendapat berbeda mengatakan bahwa, jin itu adalah makhluk halus. Ketidakmungkinan manusia untuk melihatnya karena halusnya adalah keliru.

Sebab, halusnya suatu materi tidak menjadi halangan untuk bisa dilihat, benda-benda kasar juga bisa tidak terlihat oleh mata manusia, manakala Allah SWT tidak mencipta- kan alat bagi manusia untuk dapat melihatnya. (Fath Al-Bariy fi Syarh Shahih Al-Bukhariy, juz VI, hlm. 396).

Riwayat yang lain ada pula yang mengatakan bahwa, setan pada hari itu menampak- kan diri kepada mereka dalam bentuk Suraqah bin Malik bin Ju’syam. Kemudian muncul Iblis ditengah-tengah pasukan setan dengan mem- bawa bendera. Dia menampakkan diri dalam bentuk seorang laki-laki dari Bani Mudlij dan setan dalam sosok Suraqah bin Malik bin Ju’syam. Kemudian, Jibril menemui Iblis itu, ketika Jibril melihatnya, saat itu pula tangan iblis sedang merangkul tangan salah seorang diantara kaum musyrikin. Setelah itu, Iapun melepaskan tangannya dan melarikan diri bersama pengikutnya.

Laki-laki yang dirangkulnya itu berteriak kepada Iblis, ”Wahai Suraqah, bukankah engkau telah menyatakan untuk membantu kami? Iblis menjawab, ”aku tidak menyertai kalian (berlepas tangan). Sesungguhnya aku melihat apa yang tidak kamu lihat”, riwayat ini dituturkan oleh Al Baihaqi dan perawi-perawi lainnya. [naira-naira]

BERSAMBUNG

https://www.islampos.com/apa-saja-tipu-daya-jin-1-50933/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: