Apa Saja Tipu Daya Jin? (2 – Habis)

JIN biasanya tidak menampakkan diri kepada manusia, karena kemauannya sendiri, kecuali ketika jin (setan) ingin menakut-nakuti manusia dan mencelakakannya. Tetapi, jin muslim yang diwawancarai oleh Muhammad Isa Dawud, juga penulis buku Dialog Dengan Jin Muslim, memberikan pendapat yang berbeda yaitu ia mengatakan bahwa, jarang (seolah-olah ada) dilakukan oleh jin yang saleh menampakkan dirinya, … bisa jadi jinnya adalah jin saleh dan manusianya tergolong sebagai Wali Allah yang saleh pula. Dan ketika jin saleh itu kebetulan menampakkan diri, ia hanya bermaksud menanyakan sesuatu yang berkaitan dengan masalah agama. Sebab, para ulama dikalangan manusia, dalam hal ilmu-ilmu ke-Islamannya, jauh lebih pandai dari pada ulama jin. Karena itu, wajar saja bila manusia mengajari jin tentang kaidah-kaidah agama Islam……(Muhammad Isa Daud, ”Dialog…”, Op Cit, hlm 55).

Penjelasan jin muslim di atas dikesankan seolah-olah peristiwa itu dibenarkan oleh akidah Islam, jika ditelaah secara teliti dan seksama ungkapan cerita itu cendrung menjurus kepada tipu daya ”setan”, karena terkesan ada usaha mencari-cari celah-celah untuk menjerumuskan umat muslim, coba saja disimak, dengan lihainya, ia mencoba mendiskripsikan sesuatu yang tidak dibenarkan menurut akidah Islam, tapi substansi kejadian dalam cerita itu seolah-olah benar dan wajar adanya dan akibatnya bisa fatal bagi umat muslim yang tidak memahaminya.

Coba saja ditelaah dengan teliti, ”ada jin saleh dan manusia tergolong sebagai Wali Allah yang saleh. Ketika jin itu kebetulan menampakkan diri, dengan maksud hanya menanyakan tentang kaidah-kaidah agama Islam. Dan hal itu dikatakan wajar”. Sangat jelas, esensi dari cerita itu bermaksud tidak lain hanya ingin menggiring umat muslim yang saleh yang tidak memahami seluk beluk jin, dengan cara membuat cerita yang kandungannya memberikan persepsi yang sangat keliru, yaitu, ”ketika jin saleh kebetulan menampakan diri, kemudian ia berkomunikasi dengan manusia yang saleh pula sebagai alasan pembenaran yang pertama dan alasan pembenaran kedua, yang ditanyakan jin saleh itu kepada manusia muslim yang saleh adalah masalah kaidah-kaidah agama Islam”.

Ungkapan cerita jin muslim itu jelas kekeliruannya, meskipun dalam cerita itu berkaitan dengan urusan agama, tapi peristiwa pertemuan jin saleh dan manusianya tergolong sebagai Wali Allah yang saleh itu tidak dapat dibenarkan menurut akidah Islam dan dapat dipastikan pula, ketika jin saleh itu menampakan dirinya, tidak menampakkan sosok dirinya yang hakiki. Artinya jin itu bukan jin muslim yang saleh dan manusia yang ditemui jin itu bukan manusia muslim yang saleh pula.

Kisah cerita yang dijelaskan oleh jin muslim itu tidak ada bedanya dengan orang-orang yang melihat dan berhubungan atau berkomunikasi dengan jin disebabkan pengaruh air sihir atau dengan cara tertentu lainnya, karena kejadian dalam cerita itu walaupun dengan cara dan maksud yang berbeda, tapi prilaku seperti yang diceritakan jin muslim itu tetap tidak dibenarkan menurut iman (akidah Islam).

Lagi pula, kejadian dalam cerita itu didukung dengan memberikan gambaran yang sangat keliru terhadap akidah Islam, yang seharusnya tidak dibenarkan menurut akidah, dengan kelihaiannya seolah-olah menjadi suatu kewajaran dan gambaran dalam cerita itu sepertinya tidak ada yang salah. Begitulah cara setan menggunakan tipu daya dalam rangka melakukan penyesatan terhadap umat muslim yang saleh.

Dan, kisah cerita itu sekaligus membuka kedok Jin muslim yang telah memberikan penjelasan di dalam buku Dialog Dengan Jin Muslim… tsb, sesungguhnya Jin Muslim itu adalah setan atau setan yang mengaku Jin Muslim. Coba saja difikirkan, siapa lagi kalau bukan setan, karena tidak mungkin jin muslim (saleh) dengan teganya menjerumuskan umat manusia muslim yang saleh. Dipertegas lagi dengan pernyataan Alm. Ustadz Kasman Sudjai bahwa, Jin-jin yang saleh (diceritakan dalam buku ”Dialog Dengan Jin Muslim”) bukan kebetulan (jarang) menampakkan diri, tetapi jin yang saleh tidak akan menampakkan diri apalagi menakut-nakuti atau mendatangi orang-orang muslim yang saleh.

Sebab, Jin-jin yang saleh itu walaupun hidup di bumi (di dimensi yang berbeda) sama dengan manusia dan mereka tidak akan berani melanggar batas-batas ketentuan yang telah digariskan Allah SWT dalam berhubungan dengan manusia. Surah Al-Jin, memberikan pedoman bagi manusia: ”Dan sesungguhnya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembah-Nya (mengerjakan ibadah), hampir saja mereka ([jin-jin] saleh) berdesak-desakan disekelilingnya (untuk mengikuti ibadah)”. (Q.s.Al-Jin/72: 19).

Maksud jin saleh mendekati orang-orang yang sedang shalat adalah untuk mengikutinya (berjamaah, [Abu Aqila, ”Kesaksian Raja Jin”, Senayan Abadi Publishing, Jakarta, 2002, hlm 26]). Dan jin-jin saleh itu tidak bermaksud untuk mengganggu dan menampakan dirinya atau bahkan berkomunikasi atau berhubungan, tetapi mereka (jin saleh itu) hanya ingin mengikuti shalat berjamaah. Pastinya tidak mengganggu (membuat takut manusia) dan bermaksud jahat terhadap orang-orang muslim (saleh) yang menjalankan ibadah shalat berjamaah ketika itu. (Kursif-Penulis). [naira naira]

HABIS

https://www.islampos.com/apa-saja-tipu-daya-jin-2-habis-50953/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: