Ideologi Jihad Diponegoro (1/5): Belajar Islam dan Hijrah

KIBLAT.NET – Diskursus tentang negara Islam ternyata juga ada di tanah Jawa sejak jaman Pangeran Diponegoro. Bahkan bukan sekadar wacana, melainkan bagaimana untuk mempertahankannya. Perang Jawa yang dahsyat dan penuh patriotisme telah digerakkan dan dipimpin oleh tokoh-tokoh pejuang Islam, yang hampir sebagian terbesar berideologi Islam dan bertujuan berdirinya negara merdeka yang berdasarkan Islam.

Fakta-fakta sejarah yang terungkap, baik latar belakang yang mewarnai para tokoh Perang Jawa, masa peperangan yang memakan waktu lima tahun lebih, yang diisi dengan menegakkan syariat Islam di dalam kehidupan pasukan Diponegoro sampai pada saat perundingan dengan Belanda serta tujuan yang akan dicapai. Semuanya adalah bukti yang kuat bahwa Diponegoro dan pasukannya telah melakukan perjuangan politik Islam untuk mendirikan negara Islam di tanah Jawa.

Pangeran Diponegoro lahir sekitar 1785. Dialah putra tertua dari Sultan Hamengkubuwono III yang memerintah pada tahun 1811 hingga 1814. Ibunya bernama, Raden Ayu Mangkarawati, yang merupakan keturunan Kyai Agung Prampelan, ulama yang sangat disegani di masa Panembahan Senapati mendirikan kerajaan Mataram. Bila ditarik lebih jauh lagi, silsilahnya sampai pada Sunan Ampel Denta, seorang wali Sanga dari Jawa Timur. Saat masih kanak-kanak, Diponegoro diramal oleh buyutnya, Sultan Hamengkubuwono I, bahwa ia akan menjadi pahlawan besar yang merusak orang kafir.[1]

Kondisi keraton ketika itu penuh dengan intrik dan persaingan akibat pengaruh Belanda. Sebab itulah sejak kecil Diponegoro yang bernama asli Pangeran Ontowiryo dikirim ibunya ke Tegalrejo untuk diasuh neneknya, Ratu Ageng di lingkungan pesantren.

Belajar Islam

Diponegoro belajar mengenai Islam kepada Kyai Taptojani, salah seorang keturunan dari keluarga asal Sumatera Barat, yang bermukim di dekat Tegalrejo. Menurut laporan residen Belanda pada tahun 1805, Taptojani mampu memberikan pengajaran dalam bahasa Jawa dan pernah mengirimkan anak-anaknya ke Surakarta, pusat pendidikan agama pada waktu itu.
Di Surakarta, Taptojani menerjemahkan kitab fiqih Sirat Al-Mustaqim karya Nuruddin Ar Raniri ke dalam bahasa Jawa. Ini mengindikasikan, Diponegoro belajar Islam dengan serius.[2]

Louw dalam De Java Oorlog Van 1825 – 1830, menulis: “Sebagai seorang yang berjiwa Islam, ia sangat rajin dan takwa sekali hingga mendekati keterlaluan.”
Masa muda dijalani Pangeran Diponegoro dengan berkelana dari masjid ke masjid dan berguru dari satu pesantren ke pesantren lainnya. Kebiasaan itu membuatnya memiliki banyak guru (kyai, ulama) dan hubungan yang luas dengan komunitas santri.
Pengembaraannya di kalangan komunitas santri disertai pendalamannya atas sejarah Nabi Muhammad SAW telah mengubah sikap dan gagasannya tentang masyarakatnya. Situasi dan kondisi masyarakat Jawa masa itu dipersepsikannya identik dengan masyarakat Arab jaman pra Islam.

Hijrah

Kondisi masyarakat yang mirip dengan kehidupan Arab masa jahiliah tersebut membuat Pangeran Diponegoro merasa berkewajiban mengubahnya menjadi masyarakat Islami yang berdasarkan tuntunan Rasulullah SAW. Gagasannya itu kemudian tertuang dalam perjuangan untuk mendirikan negara Islam melalui perang Sabil terhadap orang kafir.
Pendirian Pangeran Diponegoro semakin teguh dan secara simbolik untuk menegaskan idealisme sikapnya itu, ia mulai menanggalkan pakaian Jawa dan menggantinya dengan pakaian jubah dan surban yang serba putih. “Saya bukan Diponegoro, saya adalah Ngabdul Khamid.”[3]

Faktor lain yang menginspirasi Pangeran Diponegoro untuk berjihad dan untuk membentuk negara (balad) Islam adalah kerusakan di internal keraton. Masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono IV adalah masa “keemasan” masuknya pengaruh budaya Eropa di Jawa. Pada 16 Desember 1822, Sultan Hamengkubuwono IV meninggal secara mendadak saat makan. Kemungkinan dia diracun. Kemudian pemerintah Hindia Belanda mengangkat RM Menol yang masih berusia 2 tahun sebagai Sultan Hamengkubuwono V.

Tiadanya kepemimpinan yang kuat dan disegani telah membuat wibawa keraton menjadi hilang sehingga tingkah laku para pejabat pemerintahan Hindia Belanda semakin menjadi-jadi, semakin mudah keluar masuk keraton dan mengadakan hubungan gelap dengan putri-putri keraton. Skandal seks dan perselingkuhan merebak di kalangan keluarga para bangsawan dan keluarga kalangan keraton. Korupsi, penyalahgunaan jabatan dan pemerasan rakyat meluas. Tanah-tanah milik kerajaan (Kroonsdomein) yang subur disewakan kepada orang Eropa atau orang Cina yang mendapat dukungan dari para bangsawan keraton serta Residen pemerintah kolonial Belanda. Pungutan pajak dan pungutan bea lainnya semakin ditingkatkan—tanpa mengindahkan akibat yang semakin membebani kehidupan rakyat—dengan semakin memperbanyak gerbang pajak (Tol Poorten) yang disewakan kepada orang-orang Cina.
Diponegoro hidup dalam suatu dunia yang semakin terbelah, antara mereka yang siap menyesuaikan diri dengan rezim Eropa yang baru dan mereka yang melihat tatanan moral Islam sebagai “bintang pedoman” dalam masyarakat yang telah kehilangan tambatan tradisionalnya.

Keputusannya untuk melawan pada bulan Juli 1825 adalah karena tuntutan keadaan waktu itu. Ia tidak punya pilihan lain. Dalam melakukannya ia benar-benar bersikap seperti ungkapan “kemuliaan kegagalan” (the nobility of failure) dalam tradisi samurai Jepang, yaitu kemampuan untuk tetap setia pada cita-cita meskipun tahu akan kalah atau menemui ajalnya. [bersambung]
Penulis: Diolah ulang oleh Agus Abdullah dari laporan Syamina Edisi XII / JUNI 2014

—————————
[1] Louw, P.J.F – S Hage – M nijhoff, Eerstee Deel Tweede deel 1897, Derde deel 1904, De Java Oorlog Van 1825 – 1830 door, hal. 89
[2] Dr. Kareel A. Steenbrink, 1984, Beberapa Aspek Tentang Islam di Indonesia Abad ke 19, Penerbit Bulan Bintang Jakarta hal. 29
[3] Bernhard H.M. Vlekke, Nusantara a History of Indonesia, 1959, hal. 284

http://www.kiblat.net/2014/12/24/ideologi-jihad-diponegoro-15-belajar-islam-dan-hijrah/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: