Ideologi Jihad Diponegoro (2/5): Perang untuk Kemuliaan Islam

KIBLAT.NET – Banyak penutur sejarah yang mengatakan bahwa perang Diponegoro dipicu oleh perang dinasti antara kesultanan Mataram dan Surakarta dan masalah patok kuburan leluhurnya yang dilanggar. Namun kajian lain mengatakan tidak demikian. Pemikiran sejarah haruslah logis, kata Hacket Fischer, agar mencegah kekeliruan penuturan sejarah. Logikanya, butuh lebih dari itu untuk melangsungkan perang panjang yang dampaknya hingga menguras anggaran belanja sebuah negara.
Alasan dan tujuan jihad Pangeran Diponegoro dapat dilihat dari pernyataan-pernyataannya selama perang panjang melawan orang-orang kafir.

Jihad yang dilakukan oleh Diponegoro bertujuan untuk menegakkan agama Islam di Jawa. Hal ini terlihat dalam surat balasan yang ditulis oleh Diponegoro kepada Jenderal de Kock yang menanyakan maksud dan tujuan Diponegoro:

“Dhateng ingkang saudara
Jenderal de Kock ri sampunnya
Tabe kawula punika
Dene Jengandika tanya
Menggah Karsane ki Harya
Estu yen darbe karsa
Rumiyin lan sapunika
Nging luhuring kang agama
Ing Tanah Jawi sadaya
Kalamun estu andika
Tan makewedi punika
Mring agamane akar ya
Islame ing Tanah Jawa
Pan inggih purun ki Harya
Dhame lawan Jengandika
Nanging Anedha pratandha[1]
Kepada Saudara
Jenderal de Kock
Saya mohon maaf
Jika anda bertanya
Apa keinginan Aryo (Diponegoro)
Sungguh bila punya keinginan
Hanya untuk meninggikan agama
Di seluruh tanah Jawa
Jika anda benar-benar
Tidak membuat kesulitan
Kepada agama
Islam di tanah Jawa
Maka Aryo bersedia
Berdamai dengan anda
Tetapi, meminta bukti

Selain menegakkan Islam, jihad Diponegoro juga mempunyai misi untuk mendirikan negara Islam di tanah Jawa. Secara implisit hal itu disampaikan oleh Diponegoro kepada Kyai Penghulu yang hendak berangkat ke Mekkah menunaikan ibadah haji seperti yang dituturkan dalam pupuh Dandanggula (VII) berikut ini:

Syukur kaki dika janji
Lamun besuk dika prapteng Mekah
Poma aywa muleh-muleh
Matia aneng ngriku
Yen manira antuk kang Ardi
Dika kabar-kabarna
Lan dika nunuwun
Pandongane para imam
Muga kula oleha supangat Nabi
Lan kaliraning Allah
Den kuwatno manglawan mring kapir
Lan den banget andika nenedha
Sujud ing kakbahtolahi
Nunuwa ing Hyang Agung
Lestarine kang tanah Jawa
Dadya balad agama
Kaki laman estu
Wonten pitulung Hyang Suksma
Ki Pangulu den rikat andika mulih
Ki pangulu aturnya….[2]
Syukurlah kalau begitu ananda,
kamu harus janji
Jika kamu sudah tiba di Mekah
Sungguh jangan pulang-pulang
Jika perlu wafatlah di sana
Jika saya mendapat apa yang diperjuangkan
Kamu kabarkan
Dan kau pintakan
Doa kepada para imam
Semoga saya mendapat syafaat Nabi
Dan ridha Allah
Dikuatkan melawan orang kafir
Dan kamu mohonkan dengan sungguh-sungguh
Saat sujud di Ka’bah
Mohonlah kepada Tuhan
Lestarinya tanah Jawa
Menjadi balad agama
Wahai ananda, jika benar-benar
Ada pertolongan Tuhan
Ke Pengulu, cepat-cepat Anda pulang”
Ki Pengulu berkata….

Dari kutipan di atas terlihat bahwa keinginan Diponegoro adalah berdirinya balad agama yang lestari di tanah Jawa. Balad agama yang dimaksud adalah sebuah negara di tanah Jawa yang berlandaskan syariat Islam. Keinginan ini tidak hanya murni keinginan Diponegoro, tetapi menjadi keinginan dari pembantu dan pengikutnya juga. Indikasi itu terlihat dari saran Mangkubumi untuk mengangkat Diponegoro menjadi Sultan dengan gelar Abdulhamid Herucakra Amirul Mukminin Sayyidin Panatagama Khalifatur Rasul ing Tanah Jawa.

Tujuan jihad Pangeran Diponegoro juga tercermin dalam jawaban kepada Belanda yang meminta penghentian perang. Pada pertengahan tahun 1827, Jenderal De Kock mulai merintis jalan perundingan dengan menugaskan seorang pengusaha berkebangsaan Inggris (William Stavers) dan seorang pengusaha keturunan Arab (Ali Chalif) untuk berunding serta menawarkan kepada Pangeran Diponegoro untuk memilih tanah di mana saja yang diinginkannya asal bersedia menghentikan peperangan.
Menjawab tawaran Jenderal De Kock itu, Pangeran Diponegoro menjawab ia mau menghentikan peperangan dengan syarat : Pertama, semua orang Belanda harus memeluk agama Islam. Kedua, wilayah pesisir utara Jawa dikembalikan kepada Kesultanan. Ketiga, orang Belanda boleh tinggal di Jawa tetapi tidak boleh melakukan aktivitas perdagangan. Tujuan peperangan tidak lain adalah untuk memuliakan agama Islam.[3]

Ketika pihak Jenderal De Kock terus mendesak tentang tujuan penerangan yang telah dilakukan oleh Diponegoro selama lebih lima tahun, akhirnya ia memberi jawaban dengan tegas dan gamblang. Yaitu antara lain: “Mendirikan negara merdeka di bawah seorang pemimpin dan mengatur agama Islam di pulau Jawa”.
Mendengar jawaban ini Jenderal De Kock terperanjat, karena ia tidak mengira bahwa Diponegoro akan mengajukan tuntutan semacam itu. Sewaktu De Kock memberi jawaban bahwa tuntutan semacam itu adalah terlalu berat dan tak mungkin dapat dipenuhi, Diponegoro tetap teguh pada tuntutannya.[4]

Dari aspek kultural, jihad Diponegoro yang juga dikenal dengan Perang Jawa merupakan bentuk penolakan terhadap sistem budaya asing, termasuk sistem militer. Hal ini terlihat dalam susunan organisasi militer pasukan Diponegoro yang berkiblat pada Turki Utsmani untuk semakin menajamkan antipati terhadap budaya Barat.
Perang Jawa (1825-1830) adalah garis batas dalam sejarah Jawa dan sejarah Indonesia pada umumnya antara tatanan lama Jawa dan zaman modern. Itulah masa pertama kali sebuah pemerintah kolonial Eropa menghadapi pemberontakan sosial yang berkobar di sebagian besar Pulau Jawa. Hampir seluruh Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta banyak daerah lain di sepanjang pantai utara Jawa terkena dampak pergolakan itu.[5]

Sejarah telah mencatat bahwa faktor yang mendukung keberlangsungan perlawanan Diponegoro menjadi sangat hebat adalah tujuan-tujuan yang mulia tersebut. Berikut ini uraiannya:

Pertama: Perang Diponegoro bertujuan mempertahankan kedaulatan negara.

Kegiatan perlawanan militer Diponegoro adalah dalam kerangka penegakan Balad al-Islam (negara Islam). Ada tiga indikasi yang menunjukkan Perang Diponegoro bertujuan mempertahankan negara:
• Memiliki ideologi (sumber ideologi) berperang untuk mendirikan negara yang berkeadilan berdasarkan Agama Islam. Aksi kolektif militer Diponegoro jelas bertujuan untuk mendirikan balad (negara) Islam yang sekaligus merupakan bentuk reaksi penolakan terhadap perluasan pengaruh kapitalisme atau liberalisme yang dianggap mengganggu sistem sosial dan keagamaan di Tanah Jawa.Menurut Louw perjuangan masyarakat Jawa di bawah kepemimpinan Diponegoro dilandasi oleh alasan yang lebih filosofis, yaitu jihad fi sabilillah. Hal ini diakui oleh Louw dalam De Java Oorlog Van 1825-1830:
“Tujuan utama dari pemberontakan tetap tak berubah, pembebasan negeri Yogyakarta dari kekuasaan Barat dan pembersihan agama daripada noda-noda yang disebabkan oleh pengaruh orang- orang Barat.”
Hal ini tampak dari ucapan Pangeran Diponegoro kepada Jenderal De Kock pada saat penangkapannya, “Namaningsun Kangjeng Sultan Ngabdulkamid. Wong Islam kang padha mukir arsa ingsun tata. Jumeneng ingsun Ratu Islam Tanah Jawi” (Nama saya adalah Kanjeng Sultan Ngabdulkhamid, yang bertugas untuk menata orang Islam yang tidak setia, sebab saya adalah Ratu Islam Tanah Jawa)”.[6]
• Memiliki organisasi dan kondisi masyarakatnya yang mendukung. Kepemimpinannya mampu mendidik masyarakat, memupuk semangat, dan memberikan tujuan. Implikasi positifnya Pangeran Diponegoro memiliki Hegemoni Politik di wilayahnya.Dengan latar belakang ideologis, diiringi dengan kondisi sosial ekonomi saat itu yang penuh dengan kezaliman, semakin memudahkan Diponegoro untuk mendapatkan dukungan masyarakat. Kondisi tersebut antara lain: Pertama, wilayah keraton yang menyempit akibat diambil alih Belanda, Kedua, pemberian kesempatan kepada orang Tionghoa untuk menarik pajak, Ketiga, kekurangadilan di masyarakat Jawa, Keempat, aneka intrik di istana, Kelima, praktek sewa perkebunan secara besar- besaran kepada orang Belanda, yang menyebabkan pengaruh Belanda makin membesar, Keenam, kerja paksa bukan hanya untuk kepentingan orang Yogyakarta saja, tetapi juga untuk kepentingan Belanda.
Kareel A Steenbrink menyebutkan, pemikiran dan kiprah Pangeran Diponegoro menarik para ulama, santri dan para penghulu merapat pada barisan perjuangannya.
Carey menemukan 108 kyai, 31 haji, 15 Syeikh, 12 penghulu Yogyakarta, dan 4 kyai guru yang turut berperang bersama Diponegoro.
Bagi sebagian kalangan, ini cukup mengherankan. Sebab, pasca pembunuhan massal ulama dan santri oleh Sunan Amangkurat I tahun 1647, hubungan santri dengan kraton digambarkan sangat tidak harmonis. Namun Pangeran Diponegoro yang merupakan keturunan bangsawan dan ulama sekaligus, berhasil menyatukan kembali dua kubu tersebut.
• Bentuk penolakan terhadap kedaulatan sistem asing yang batil. Di samping itu sistem organisasi militer Pangeran Diponegoro- yang berkiblat ke Sistem militer Kekhalifahan Turki Usmani menunjukkan sikap hubungan formal bilateral antar dua kekuasaan politik. Terkait dengan kedaulatan, ada hubungan politik antara Pangeran Diponegoro dengan Khalifah di Turki. Bulkiyo yang berasal dari istilahBolzuk atau divisi pasukan elite Turki Usmani Janissari abad ke-16, juga digunakan sebagai nama korps pasukan elite Diponegoro.

Kedua: Kekuatan motivasi dan kecakapan para pemimpin perang Diponegoro dalam mengelola aksi-aksi untuk mencapai tujuan.

Kemampuan para pemimpin perang Diponegoro dalam menggali dan mengolah emosi masyarakatnya agar tetap berkeyakinan terhadap perjuangan, merupakan salah satu faktor pendukung hingga peperangan bisa berlangsung lama.
Secara umum kecakapan itu tercermin dari munculnya strategi baru sebagai balasan untuk strategi Stelsel Benteng. Strategi langsung yang mengandalkan keunggulan jumlah tentara yang diterapkan Diponegoro sebelumnya sudah tidak efektif kemudian digantikan dengan strategi atrisi (die Ermatung Strategie). Strategi penggerogotan mengubah sifat perangnya menjadi perang jangka panjang.

Tujuan yang mulia tersebut menjadi motivasi yang kuat bagi Diponegoro untuk tidak menyerah kepada musuh. Bahkan ketika dalam Perundingan, Diponegoro menyadari telah ditipu, ia tetap menolak menyerah dan menyatakan lebih baik mati.
Pan wus yekti nora nana maning
Begja pinatenan
Ingsun tan nedya gumingsir[7]
Sesungguhnya tidak ada lagi
Sekalipun dihukum mati
Saya tidak akan menyerah

Kesadaran itu membuatnya bersikap pasrah terhadap takdir. Ia memutuskan untuk meninggalkan Tanah Jawa karena tidak ada yang dimilikinya lagi di sana. Keputusan itu juga untuk menghormati mereka yang gugur dalam peperangan karena membela dan melaksanakan perintah.
Tujuan Diponegoro mencapai cita-cita ini terus dilakukannya, meski ia tahu bahwa ia akan kalah. Bukan keberhasilan mencapai tujuan ini yang menjadi fokus utama Diponegoro. Baginya, konsisten dalam menjalani proses adalah sebuah kemenangan tersendiri. [Bersambung]

Penulis: Diolah ulang oleh Agus Abdullah dari laporan Syamina Edisi XII / JUNI 2014

—————————————
[1] 17 Ambaristi dan lasman marduwiyota, babad diponegoro i, hal.251
[2] Ambaristi dan lasman marduwiyota, babad diponegoro i, hal. 188
[3] G. Teitler, Anatomie van de Indische Defensie, Rijks Universiteit te Leiden, 1998, hal. 16-18
[4] Abdul Qadir Djaelani , Perang Sabil Versus Perang Salib: Ummat Islam Melawan Penjajah Kristen Portugis Dan Belanda, Yayasan Pengkajian Islam Madinah Al-Munawwarah, Jakarta, 1999 .
[5] Peter Carey, The Origin of Java War (1825-1830), English Historical Review, 1976, hal. 52
[6] P. Swantoro, Dari Buku ke Buku, Sambung Menyambung Menjadi Satu, 2002.
[7] Abdul Qadir Djaelani, Perang Sabil Versus Perang Salib: Ummat Islam Melawan Penjajah Kristen Portugis Dan Belanda, Yayasan Pengkajian Islam Madinah Al-Munawwarah, Jakarta, 1999

http://www.kiblat.net/2014/12/25/ideologi-jihad-diponegoro-25-perang-untuk-kemuliaan-islam/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: