Ideologi Jihad Diponegoro (3/5): I’dad dan Permulaan Perang

KIBLAT.NET – Selama 12 tahun Pangeran Diponegoro mempersiapkan diri untuk perang Sabil yang dicita-citakannya.
Tegalrejo merupakan suatu markplaats, yaitu tempat menyemai gagasan, konsep ideologi, politik, kenegaraan, budaya, militer, rencana strategi dan aksi; tempat berkumpulnya pemimpin masyarakat ketika di Kesultanan Yogyakarta terjadi kekosongan kepemimpinan;[1] tempat Diponegoro memperoleh basis legitimasinya melalui permufakatan sukarela dari kelompok yang berkepentingan.[2]

Merebut Hati Rakyat

Diponegoro mendapatkan dukungan dari dua basis utama, yaitu dari kalangan komunitas santri dan pendukung berbasis kedaerahan. Para santri merupakan komunikator terdepan bagi penyampaian ide dan gagasan tentang negara Islam, perang sabil, dan masyarakat jahiliah. Mereka adalah kelompok yang memiliki jaringan luas di masyarakat.
Dalam tradisi pesantren, seorang santri yang tamat belajar wajib menjalankan semacam “inisiasi”, yaitu mengembara dari satu tempat ke tempat lain, untuk mengajarkan ilmunya kepada orang lain (dakwah). Pangeran Diponegoro memanfaatkan anggota komunitas religius untuk menjaga dan memelihara kontak- kontak hubungan dengan para pendukungnya di daerah-daerah yang jauh seraya mendorong pihak-pihak lain untuk ikut bergabung dalam perang sabil.
Selain komunitas santri, pendukung Diponegoro berasal dari lintas daerah, dengan tingkatan mutu tempur pasukan yang bertingkat. Menurut Diponegoro:

“Penduduk Madiun bagus dalam bertahan terhadap serangan pertama, namun setelah itu mereka tidak banyak berguna. Penduduk Pajang juga terkenal pemberani, tetapi tidak lama setelah itu kondisinya sama seperti yang tadi. Penduduk Bagelen lebih baik, itu kalau bertempur di daerahnya sendiri. Jika mereka harus bertempur di luar daerahnya, mereka kalah dengan cepat. Tetapi penduduk Mataram terbaik di antara semua; mereka bertarung dengan gigih dan tahu bagaimana harus prihatin dan tabah menghadapi penderitaan akibat perang.”[3]

Menyiapkan Senjata

Setelah sekian lama mempersiapkan diri dan menggalang dukungan, pendirian Diponegoro semakin teguh setelah mengalami beberapa peristiwa yang menyinggung kehormatan pribadi dan pelanggaran terhadap norma-norma kehidupan Jawa dan Islam. Ditambah lagi beban kehidupan yang makin berat bagi masyarakat lapisan bawah. Ia akhirnya mengambil keputusan untuk berbuat sesuatu, yaitu merebut kembali pulau Jawa.
Usaha menyongsong perang Jawa dimulai dengan mempersiapkan gua Selarong sebagai tempat awal untuk konsolidasi kekuatan laskar tempur para pengikutnya, membangun pabrik- pabrik mesiu yang tersembunyi dan tersebar di beberapa tempat, antara lain: desa Geger di sebelah selatan kota Yogyakarta, daerah Gunung Kidul, desa Parakan, desa Kembangarum di daerah Kedu, dan beberapa tempat lainnya.

Mengukur Kekuatan Musuh

Untuk mengetahui kekuatan musuh, Diponegoro menyebar telik sandi yang menyamar sebagai abdi pembantu rumah tangga, pekatik pemelihara kuda peliharaan, di lingkungan Keraton maupun di kediaman Patih Danurejo, Residen, Sekretaris Residen, Asisten Residen, para Ningrat yang dianggap sebagai sahabat para pejabat pemerintah Hindia Belanda, dan orang-orang lain yang dianggap sebagai lawan (musuh) dari cita-citanya mendirikan negara Islam, serta dilakukannya pembelian padi secara besar-besaran oleh masyarakat pada pertengahan 1825.

Masa Jihad Telah Tiba

Pada pertengahan Juli 1825, terjadi insiden pemancangan patok batas rencana pembebasan tanah untuk pembangunan infrastruktur transportasi jalan baru dan penutupan jalan masuk ke kediamannya di Tegalrejo. Insiden itu membuat Pangeran Diponegoro merasa sudah tiba saatnya bagi dirinya untuk mengambil keputusan untuk berbuat sesuatu dengan memobilisasi kekuatan pasukan laskar tempur sebagai awal Perang Sabil merebut kembali pulau Jawa yang tujuan akhirnya mendirikan negara Islam.
Sejak terjadinya insiden pancang dan penutupan jalan dari Yogyakarta ke Tegalrejo, kediaman Diponegoro dijaga oleh 1.500 orang pengikutnya. Mereka terpengaruh berita bahwa Diponegoro akan ditangkap. Pada 21 Juli 1825, residen akhirnya memerintahkan satu detasemen pasukan yang dipimpin oleh asisten residen, Chevallier, untuk menangkap Diponegoro. Kedatangan pasukan tersebut disambut dengan perlawanan dari pengikut Diponegoro.[4]

Dalem Tegalrejo dikepung, dihancurkan, dan dibakar. Diponegoro kemudian lari ke Selarong, sebuah desa strategis yang berada di kaki bukit kapur, kurang lebih 9 km dari Yogyakarta. Di sana, diam-diam telah lama dipersiapkan sebagai markas besar. Pada akhir Juli 1825, di Selarong telah berkumpul beberapa orang bangsawan Yogyakarta, antara lain Pangeran Mangkubumi, Pangeran Adinegoro, Pangeran Panular, Adiwinoto Suryodipuro, Kyai Mojo, Pangeran Ronggo, dan Pangeran Surenglogo.
Diponegoro memerintahkan Joyomenggolo, Bahuyuda dan Hanggowikromo untuk memobilisasi orang-orang di desa sekitar Selarong dan bersiap melakukan perang. Ia juga membuat perencanaan strategis dan langkah-langkah taktis untuk melakukan serangan.
Secara garis besar, strategi Diponegoro adalah merebut dan menguasai seluruh wilayah Kesultanan, lalu mengusir Belanda dan orang Cina keluar dari wilayah Kesultanan Yogyakarta. Nagara, terutama keraton Yogyakarta, sebagai sasaran strategis yang harus diduduki dengan mengepungnya dari semua penjuru. Pemberontakan lokal disulut untuk memecah kekuatan lawan dan kekuatan pihak-pihak yang membantu lawan.

Selanjutnya, Diponegoro mengambil beberapa langkah untuk mencapai tujuan strategisnya:
1. Menyerbu nagara (Keraton Yogyakarta) dan mengisolasinya untuk mencegah datangnya pasukan bantuan dari luar Yogya karta.[5]
2. Mengirim pesan yang berisi perintah untuk memerangi orang Eropa dan Cina.[6] Pesan itu disampaikan kepada para pemimpin pasukan ke seluruh wilayah Kesultanan; Kedu, Bagelen, Banyumas, Serang, dan wilayah Monconegoro Timur. Ia mengirim pesan yang sama kepada para demang di perbatasan Kesultanan dan Kesunanan. Diponegoro kemudian mengangkat pemimpin daerah melalui surat keputusan pengangkatan resmi yang disebut Piagem.
3. Menyusun daftar bangsawan yang dianggap sebagai lawan dan melindungi mereka yang membantu.
4. Membagi wilayah Kesultanan menjadi beberapa daerah perang[7] serta mengangkat komandan wilayah dan komandan pasukan, juga melantik beberapa pembantu utama.
5. Menyusun pasukan pengawal keraton yang terdiri atas enam korps, yaitu Pasukan Mantirejo, Pasukan Daeng, Pasukan Nyutro, Pasukan Mandung, Pasukan Ketanggung, dan Pasukan Kanoman.

Struktur organisasi, hierarki, dan susunan tugas masing-masing korps tidak meniru model Barat, tetapi meniru model organisasi Janissari, yaitu pasukan elit kekhilafahan Turki Utsmani abad ke-16, yang disesuaikan dengan kondisi Jawa. Untuk menjalankan strategi perlawanan, Diponegoro menggunakan hierarki Turki untuk kepangkatan pasukannya. Ali Pasha setara komandan divisi diadopsi menjadi Alibasah. Di bawahnya, Pasha setara komandan brigade menjadi Basah. Kemudian setara komandan batalyon adalah Dulah, yang diadopsi dari istilah kepangkatan Agadulah. Untuk setara komandan kompi, diambillah istilah Seh.

Struktur pimpinan perlawanan Diponegoro meliputi dari yang tertinggi Pramudeng Prang (Sultan Ngabdulkamid Herucokro Kabirul Mukminim Sayidin Panotogomo Senopati ing Ngalogo Sabilullah, yaitu Pangeran Diponegoro sendiri). Panglima Tentara adalah Alibasah Ngabdul Mustapa Sentot Prawirodirjo. Komandan untuk kewilayahan perang (mandala) Pajang, Yogyakarta, dan Bagelen, berturut-turut Alibasah Kasan Besari, Alibasah Sumonegoro, dan Pangeran Diponegoro.

Perang Diponegoro sebagai perang rakyat meluas di sebagian wilayah Jawa. Saleh menuangkan catatan Letnan Gubernur Jenderal LPJ (Viscount) du Bus de Gissignies yang menyebutkan adanya pasokan senjata untuk pasukan Diponegoro melewati pantai selatan (Samudra Hindia) di sekitar wilayah muara Sungai Progo.

Pada 9 Agustus 1828, diketahui ada sebuah padewakang, kapal Bugis, bersama sejumlah besar perahu kecil berangkat dari muara Sungai Progo ke arah daratan. Peristiwa ini diduga sebagai penyelundupan senjata untuk pasukan Diponegoro. Siapa yang membantu penyelundupan senjata untuk pasukan Diponegoro sampai sekarang belum terungkap. Dari Turki hanya digunakan istilah hierarki kepangkatan tentara Diponegoro.

Melihat persiapan yang begitu matang, selama beberapa tahun Diponegoro telah melakukan aksi conspiracy of silence karena dalam waktu yang relatif singkat mampu memobilisasi kekuatan. Ia dengan sengaja mempersiapkan diri untuk melakukan perebutan kekuasaan politik di Kesultanan Yogyakarta. Hal ini dimulai saat ia menolak pencalonan sebagai putra mahkota oleh John Crawfurd pada tahun 1812 hingga menolak tawaran Residen Baron de Salis untuk menjadi Sultan pada tahun 1822. Sikap tersebut menjadi bukti bahwa ia mempunyai pendirian dan ideologi tersendiri tentang negara dan sistem kenegaraan. [Bersambung]
Penulis: Diolah ulang oleh Agus Abdullah dari laporan Syamina Edisi XII / JUNI 2014
———————-
[1] P.J.F. Louw, De Java Oorlog van 1825-1830, I, 1894, hal. 97-106.
[2] Babad Diponegoro, I, 1983, hal. 103.
[3] Louw dan de klerck 1894-1909, v:743
[4] P.J.F. Louw, I, 1894, hal 85
[5] Peter Carey, Orang Jawa dan Masyarakat Cina 1755-1825, Pustaka Azet, 1986, hal. 39
[6] J. Hageman Jcz, Geschiedenis Oorlog op Java 1825 tot 1850, 1856, hal. 32
[7] Peter Carey, Babad Diponegoro An Account of the Outbreak of the Java War (1825-1830), 1981, hal. 18-36

http://www.kiblat.net/2014/12/26/ideologi-jihad-diponegoro-35-idad-dan-permulaan-perang/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: