Pudarnya Imperium AS (1/4): Amerika Serikat sebagai Sebuah Imperium

Diskusi mengenai imperium cukup menghangat di kalangan akademisi AS, terutama pasca serangan 11 September. Sebagian besar warga AS, dalam sejarah mereka, selalu menentang ide tentang “imperium AS”. Mereka menggunakan segala bentuk eufemisme untuk membatasi status superpower AS selama perang dingin dan setelahnya.
George W. Bush pun memberi jaminan bahwa “Amerika tidak pernah menjadi sebuah imperium. Mungkin kita satu-satunya kekuatan besar dalam sejarah yang mempunyai kesempatan, namun menolaknya—kami lebih memilih kebesaran daripada kekuasaan, dan keadilan daripada kejayaan.”[1]

Mengomentari pernyataan Bush tersebut, Gunter Bischoff menanggapi bahwa meskipun “mendapat gelar dari Yale, wawasan Bush tentang sejarah AS nampaknya cukup buruk.”[2]
Sebelum Bush berkuasa, “Imperium Amerika” merupakan kata kotor yang tidak berani mengungkapkan namanya. Namun, itu semua berubah pasca serangan 11 September. Banyak warga AS, terutama kalangan neokonservatif yang menjadi penasihat Bush, sangat ingin merangkul gagasan bahwa AS merupakan “imperium baru” yang mempunyai kepentingan global, meskipun Menteri Pertahanan waktu itu, Donald Rusmfeld, dengan percaya diri menegaskan bahwa “kami tidak imperialistik”.[3]

Apakah benar AS merupakan sebuah imperium?

Para ilmuwan sangat berhati-hati dalam mendefinisikan imperium. Sebagian besar menyatakan bahwa imperium adalah “menaklukkan atau menganeksasi beberapa wilayah, atau mengatur rakyatnya secara langsung.”[4] Sebagian lain berpendapat bahwa imperium adalah sistem Pusat-Perifer lintas perbatasan, dengan menggunakan budaya untuk melegitimasi struktur yang tidak seimbang antara pusat dan perifer:

• Secara ekonomi, antara yang mengeksploitasi dan yang dieksploitasi, yang menyebabkan kesengsaraan;
• Secara militer, antara pembunuh dan yang dibunuh, yang menyebabkan kematian dan penderitaan;
• Secara politik, antara pengontrol dan yang dikontrol, yang menyebabkan represi;
• Secara kultural, antara pemrogram dan yang diprogram, yang menyebabkan alienasi;

Perbatasan dalam sebuah imperium tidaklah bersifat geografis. Perbedaan antara pusat dan perifer terjadi dalam setiap dimensi kekuasaan. Pada bagian pusat cenderung bersifat mengeksploitasi, membunuh, mengontrol, dan memprogram. Sedangkan pada bagian perifer cenderung dieksploitasi, dibunuh, dikontrol, dan diprogram.

Jika Anda mengeksploitasi, membunuh, mengontrol, atau memprogram pihak lain; maka Anda berada dalam pusat imperium. Jika Anda dieksploitasi secara ekonomi, diciderai secara militer, dikontrol secara militer, dan/atau diprogram secara kultural, maka Anda berada dalam bagian perifer. Anda adalah korban dari imperialisme.[5]

Imperium dibatasi oleh garis demarkasi imperial yang sangat jelas, dan wilayah sekitar yang berada di luar perbatasan imperium tidak dianggap setara dengan mereka. Mereka yang berada dalam wilayah perifer sebuah imperium cenderung mempunyai hak yang lebih sedikit dibanding mereka yang berada dalam pusat imperium.

Pada sebuah imperium terdapat negara satelit dan juga negara hegemonik. Imperium mempunyai wilayah yang luas dan berlangsung lama. Imperium bisa merupakan daratan yang luas seperti Rusia atau China, atau merentang di seluruh dunia sebagai imperium laut sebagaimana imperium Spanyol dan Inggris. Dalam penelitian Sir John Glubbs, imperium biasanya berakhir dalam sepuluh generasi atau sekitar 250 tahun.[6]

Charles S. Maier menggolongkan imperium berdasarkan ukuran, hirarki etnis, dan sentralisasi rezim. Menurutnya, imperium adalah “sebuah struktur aturan yang secara teritorial sangat luas yang biasanya merendahkan bermacam-macam kelompok etnis dan memberikan kekuasaan eksekutif kepada kekuatan yang lebih besar.”[7]

Sedangkan Anatol Lieven menambahkan bahwa sebuah imperium berdasarkan definisinya “bukanlah sebuah pemerintahan yang diatur dengan persetujuan eksplisit dari pihak yang diatur.”[8]
Imperium adalah sekelompok bangsa atau negara yang dikendalikan oleh negara paling kuat dalam kelompok tersebut. Negara yang berkuasa dalam imperium tersebut harus memiliki rasa kebanggaan nasional yang kuat, dan rakyat dalam negara yang berkuasa tersebut harus mendukung penaklukan yang dilakukan. Negara yang berkuasa menguasai negara lain disebabkan beberapa alasan:

Negara yang berkuasa mempunyai seorang pemimpin yang bisa meyakinkan warganya bahwa penjajahan di negara lain yang mereka lakukan dimaksudkan untuk membantu rakyat. Sebagai contoh, para pemimpin Inggris mengatakan kepada rakyatnya bahwa sebagai orang Eropa kulit putih, mereka mempunyai kewajiban untuk mengangkat peradaban negara lain.

• Negara yang berkuasa akan menjajah negara yang mereka anggap sebagai ancaman
• Negara yang berkuasa akan mendapatkan keuntungan ekonomi dari penjajahan yang mereka lakukan di negara lain.
• Negara yang berkuasa ingin menciptakan “buffer zone” di beberapa negara untuk melindungi diri mereka dari serangan.
• Negara yang berkuasa ingin menyebarkan agama yang ideal versi mereka.
• Kekuasaan

Kunci Kesuksesan Imperium

1. Negara yang berkuasa harus memiliki militer yang kuat. Militer yang kuat akan membantu negara untuk mengambil alih dan mengendalikan rakyat setelah mereka berhasil mengambil alih kekuasaan.
2. Negara yang berkuasa juga perlu memiliki diplomasi yang kuat. Mereka harus mampu meyakinkan negara-negara kuat lainnya bahwa membangun sebuah imperium tidak akan mengancam keseimbangan kekuatan.
3. Perlu ada negara yang ingin ditaklukkan. Biasanya adalah negara yang mengalami kesulitan ekonomi dan politik. Juga, kadang-kadang para pemimpin di negara-negara miskin tersebut bersedia menjual negara mereka untuk kekuasaan atau kekayaan.

Jika demikian, apakah AS merupakan sebuah imperium yang melakukan imperialisme?
Jika kita mencari jawabannya dari pemerintah Amerika Serikat, maka jawabannya adalah tidak. Meski telah menjajah dua negara berdaulat hanya dalam waktu dua tahun—Afghanistan pada tahun 2001 dan Irak tahun 2003, meski terdapat lebih dari 750 instalasi militer AS di dua pertiga negara di dunia, dan meski telah berulangkali menyatakan keinginan “untuk memperluas manfaat kebebasan… ke seluruh penjuru dunia,”[9] George W. Bush tetap bersikukuh bahwa “AS bukanlah sebuah imperium”. Rumsfeld juga menambahkan bahwa “kami tidak menginginkan imperium dan kami tidak imperliastik.”[10]

Meski demikian, menurut Bischof, sejarah menunjukkan bahwa AS adalah imperium dan mereka selalu melakukan imperialisme. Amerika Serikat mempunyai konfigurasi yang lengkap untuk disebut sebagai sebuah imperium. Kesimpulan ini diartikulasikan dalam sebuah pernyataan yang diungkapkan oleh seorang perencana di Pentagon:

“Tidak akan ada perdamaian. Pada saat tertentu selama sisa hidup kita, akan ada beberapa konflik dalam bentuk yang bermutasi di seluruh dunia. Konflik kekerasan akan mendominasi berita-berita utama… Peran de facto bagi pasukan bersenjata Amerika Serikat adalah menjaga dunia tetap aman bagi ekonomi kita dan terbuka bagi serangan budaya kita. Dan untuk menggapai tujuan tersebut, kita akan melakukan cukup banyak pembunuhan.”[11]

Dengan kata lain, Amerika Serikat akan melakukan kekerasan langsung untuk melindungi kekerasan struktural yang dilegitimasi oleh kekerasan kultural. Pusat dalam imperium ini adalah Amerika Serikat dan bagian perifer adalah sebagian besar wilayah di dunia.[12]
Kedatangan mereka di Virginia pada tahun 1607 dan di Massachusetts tahun 1620 diirngi dengan pembunuhan 10 juta penduduk pribumi dan pemusnahan ratusan kultur pribumi. Tanah tersebut ditaklukkan. Ia tidak kosong, namun dikosongkan.[13]

Ekspansi AS di sepanjang benua Amerika pada abad ke-19 merupakan upaya pembangunan imperium kontinental sebagaimana yang dibangun oleh Rusia pada abad yang sama. Para ahli sejarah Eropa dan AS sendiri secara jelas mengakui terjadinya keberlangsungan imperialisme AS dari abad 19 hingga abad 20.[14]

Gagasan Suci Pendukung Imperium AS

Bangsa Amerika punya gagasan ‘suci’ untuk ‘penyebaran demokrasi’ ke penjuru dunia. Gagasan itu tertuang dalam Manifest Destiny, sebuah manifesto yang menyebutkan bahwa bangsa Amerika telah ditakdirkan oleh Tuhan untuk menyebarkan demokrasi. Manifest Destiny adalah kepercayaan historis yang menyebutkan bahwa Amerika Serikat ditakdirkan, bahkan dinobatkan oleh Tuhan, untuk menguasai daratan Amerika Utara, dari pantai Atlantik hingga pantai Pasifik.

Para pendukung Manifest Destiny percaya bahwa ekspansi itu bukan hanya bagus, tapi hal itu juga nyata (manifest) dan pasti (destiny). Konsep ini begitu mempengaruhi kebijakan negara Amerika Serikat pada tahun 1800-an. Istilah Manifest Destiny pertama kali ditemukan tercetak pada tahun 1839, namun pertama kali digunakan oleh jurnalis New York, John L. O’Sullivan, pada tahun 1845, untuk mendorong penaklukan Texas. Juga digunakan untuk melegitimasi perlawanan terhadap koloni bangsa Eropa dan suku Indian. O’Sullivan menyatakan bahwa melalui ekspansi-ekspansi tersebut Amerika Serikat dapat menjadi negara super power di bidang sosial dan politik.

Ekspansi Amerika ke Pasifik dan Timur Jauh (Filipina, Hawaii, Wake, Guam), serta ke Karibia setelah kekalahan Spanyol pada tahun 1898 merupakan kelanjutan dari misi “civilitazion” Amerika terhadap orang-orang kulit berwarna dan untuk memperkuat posisi geopolitik mereka sebagai sebuah kekuatan besar. Mereka melakukan pembangunan imperium informal di Karibia dan Pasifik yang penuh dengan kolonialisme, pos perdagangan, pangkalan militer dan usaha misionaris pasukan salib.[15]

Mereka melanjutkannya dengan intervensi militer dan pengiriman misionaris keuangan ke Karibia dan Amerika Tengah di bawah Presiden Theodore Roosevelt (1901-1909),William Howard Taft (1909-1913) dan Woodrow Wilson (1913-1921). Intervensi liberal Woodrow Wilson di Meksiko dan beberapa tempat lain menunjukkan kehadiran Amerika dalam rangka “membuat dunia aman bagi demokrasi”. Misi Amerika untuk mengekspor demokrasi—sebagai alat kendali bagi imperium liberal—pun terus berlanjut sepanjang abad.

Setelah Perang Dunia II, AS berusaha memperkuat imperium globalnya. Dalam usaha “civilization” melawan Uni Soviet pasca Perang Dunia II, AS mengembangkan kehadiran militernya secara global dan membangun sistem aliansi multilateral global dan perjanjian bilateral dengan sekutu kunci (Jepang, Taiwan, Korea).

Pada tahun 1955, AS telah mengunci sekitar 55 negara di seluruh dunia ke dalam struktur aliansi global. “Payung Nuklir” Amerika yang dibangun dalam perang dingin melawan Uni Soviet dirancang untuk menjamin perlindungan sekutu Amerika melawan Uni Soviet. Negara-negara Eropa Barat dan negeri-negeri lain di seluruh dunia memohon kepada AS untuk datang dan melindungi mereka dari ancaman Soviet; mereka memohon Washington untuk datang dan masuk ke dalam pakta militer bersama mereka untuk membantu membendung Soviet dan menjamin kelangsungan hidup mereka di dunia nuklir.

Pada awal 1950-an, saat perang berkecamuk di Korea, sekutu AS merasa mereka perlu “kekuatan keras” Amerika untuk melawan ancaman komunis. Dengan kehadiran militer dalam puluhan pangkalan, Jerman Barat dan Jepang menjadi quasi-protektorat AS.[16]

Meningkatnya kehadiran militer Amerika juga didukung oleh “soft power” AS. Budaya pop Amerika (jazz, film-film Hollywood) mulai masuk ke Eropa pasca Perang Dunia I. Dan pasca Perang Dunia II, banjir budaya pop Amerika berhasil menaklukkan Eropa Barat dan negara-negara non-komunis. Anak-anak Eropa Barat—yang segera diikuti oleh para pemuda di seluruh dunia—terpesona dengan celana jeans dan Coca Cola, serta Elvis Pressley dan James Dean. Imperium konsumsi AS ini pun menjadi tak tertahankan.[17]

Tak hanya jazz, televisi dan lemari es, banjir produksi AS juga diekspor melalui Marshall Plan[18] yang menciptakan imperium produksi. Bangsa Eropa membutuhkan pinjaman untuk mengisi “kesenjangan dolar”, dan bantuan Amerika datang dengan tekanan dari Washington untuk melakukan konvertibilitas mata uang dan penerimaan kepemimpinan ekonomi Amerika. Kehadiran geopolitik Amerika setelah Perang Dunia II juga datang dengan meningkatnya keterlibatan ekonomi Amerika dan dominasi dolar.[19]

Di atas semua itu, diplomasi publik yang dilakukan oleh Amerika secara besar-besaran memborbardir Eropa Barat, baik dengan program terbuka maupun program rahasia, dalam perang propaganda melawan Uni Soviet. Aliansi “hard power” dikuatkan oleh kampanye “soft power”, yang seringkali lebih populer dibanding pertumbuhan kehadiran AS secara militer, yang pada pertengahan 1950-an mulai mengganggu Eropa dan sekutu lainnya. Meski demikian, kehadiran imperium Amerika sebagian besar disambut dengan baik—mereka menjadi imperium dan juga sekutu. John Lewis Gaddis menyebut imperium AS bersifat konsensual, paling tidak pada sekutu-sekutu Baratnya.[20]

Perjalanan Imperium AS

Sejak akhir abad ke-19, kritikan terhadap pertumbuhan kekuatan ekonomi dan geopolitik Amerika mulai menggema, dengan menyebutnya sebagai “imperialism dollar”. Selama dekolonisasi tahun 1960-an, AS bertindak secara berbeda di “Dunia Ketiga” saat AS melakukan Perang Dingin dengan Uni Soviet. Para analis dunia mengatakan kapitalisme mulai melakukan eksploitasi ekonomi.[21]

Di negara-negara kaya mineral seperti Kongo, Vietnam, Iran, Guatemala dan Kuba AS menggunakan kontrol, baik secara rahasia maupun terbuka, untuk mengalahkan ancaman komunis. AS bekerja sama dengan diktator di seluruh dunia di negara-negara yang baru merdeka. Dalam kasus ini, AS lebih banyak melakukan perilaku imperialisme dibanding kebaikan.[22]
Dunia pasca Perang Dingin membawa AS sebagai superpower tunggal tanpa pesaing utama. Intelektual seperti Francis Fukuyama secara prematur mengumumkan “akhir sejarah” dan era abadi demokrasi. Sementara para analis geopolitik seperti Henry Kissinger dan Zbiginiew Brezinzinski memandang dunia yang muncul pasca Perang Dingin akan mengancam status kekuasaan unik AS. Pembicaraan mengenai penurunan kekuatan AS juga muncul dari para kritikus kekuasaan AS seperti Noam Chomsky dan Gore Vidal. Bahkan, sebelum invasi ke Irak tahun 2003, Immanuel Wallerstein pada tahun 2002 mengemukakan akhir dari hegemoni AS di dunia.[23]

Sementara itu, Pentagon terus membangun mesin militer yang kuat dan penuh dengan spektrum dominasi AS. Tampaknya mereka ingin mengikuti pepatah Romawi “Jika Anda ingin damai, bersiaplah untuk perang”.[24]

Meskipun anggaran pertahanan dipotong, Pentagon terus meningkatkan kehadiran militer secara global dan membangun sistem persenjataan canggih yang bisa memproyeksikan kekuatan Amerika di darat, udara dan laut dalam rangka menghadapi ancaman baru. Imperium baru dioperasikan secara sembunyi-sembunyi.[25] Jumlah pangkalan militer Amerika pun meningkat, dari 450 hingga lebih dari 700.[26]

Kekuatan Amerika meningkat drastis setelah berakhirnya Perang Dingin. Selama masa jabatan, Presiden Bill Clinton ikut campur dalam konflik etnis di Balkan. Clinton mengejar Al-Qaidah di Afghanistan dan Sudan dengan serangan pesawat tanpa awak. Dia mendorong batas depan NATO hingga ke perbatasan Rusia. Ketika George W. Bush memasuki Gedung Putih, pasca serangan 11 September 2001, ia menemukan misi baru dengan memanfaatkan trauma bangsanya untuk melakukan “perang global melawan terorisme”. Amerika pasca 9/11 mengalami sebuah “Roman moment” dengan melakukan aksi unilateral di dunia.[27]

Untuk melakukan penegasan kembali kekuatan Amerika di dunia, pemerintahan Bush mengeluarkan grand strategy baru dengan melakukan aksi pencegahan sepihak (unilateral preemption) terhadap ancaman yang dirasa akan muncul (perceived threats).[28]

Bush percaya bahwa Amerika harus memaksakan kehendaknya pada dunia karena: 1) pertama, Amerika Serikat bisa lolos dengan kebijakan semacam itu, dan 2) kedua, jika Washington tidak mengerahkan kekuatannya, Amerika Serikat akan menjadi semakin terpinggirkan.[29]
Mereka menjual serangan ke Afghanistan dan Irak dalam bentuk usaha untuk membunyikan demokrasi di Timur Tengah. Para “pembebas” dari AS berharap bahwa mereka akan disambut dengan kalungan bunga dan ciuman, namun sebaliknya mereka terjebak dalam penjajahan panjang dan jahat, dan sebuah perang yang penuh kekerasan melawan para gerilyawan.

Apakah keterlibatan Amerika di Irak menjadi ujian sesungguhnya bagi imperium AS?

Charles S. Maier berpendapat bahwa sangat logis bagi Amerika, dengan ambisi geopolitik yang besar, untuk tersedot ke Mesopotamia yang subur sebagaimana imperium-imperium sebelumnya sejak era Assyria dan Babilonia. Maier menganggap AS sebagai remaja belum matang berkekuatan besar yang sembrono dengan kekuatannya dan dengan temperamen yang belum stabil.[30]

Meski kekuatan militer Amerika tidak berkurang dan menunjukkan sebuah dominasi imperial di dunia, soft power mereka cenderung mengalami penurunan. Presiden Clinton berpikir bahwa United States Information Agency (USIA) tidak diperlukan lagi sebagai alat utama bagi diplomasi publik untuk mempromosikan kultur Amerika ke seluruh dunia.[31]

Sikap unilateralisme penuh arogansi yang dilakukan oleh Bush dan strategi preemptive-nya menghasilkan serangan balik global. Serangan 11 September dipandang sebagai awal dari serangan balik tersebut. Imperialisme Amerika dan operasi rahasia mereka menuai apa yang telah mereka tabur.[32]

Invasi ke Irak, penyalahgunaan penjara Abu Ghuraib, penyiksaan –yang oleh CIA disebut dengan bahasa penghalusan “teknik interogasi yang ditingkatkan”—di Afghanistan, Irak dan Guantanamo, telah menghasilkan munculnya sikap anti-Amerika di seluruh dunia dan berdampak pada penurunan prestise Amerika.[33]

Dengan setiap serangan drone di Pakistan dan Yaman, bahaya serangan balik semakin meningkat. Dengan setiap intervensi AS, tampilan soft power AS semakin terpuruk. Kehadiran imperium AS di Timur Dekat dan di tempat lain tidak lagi dilakukan melalui “undangan” dan konsensual, tapi lebih melalui pemaksaan. Amerika dan sistem nilai yang dibawanya yang tidak lagi menjadi model bagi dunia. Seperti yang disimpulkan Tony Judt: “Tragedi sesungguhnya adalah kita tidak lagi menjadi contoh bagi diri kita sendiri.”[34] Dunia tidak lagi percaya pada mitos “eksepsionalisme Amerika “.[35]

Paul Kennedy menyimpulkan bahwa seluruh imperium di era modern turun dan runtuh sebagai hasil dari “imperial overstretch”. Dia menyimpulkan bahwa: “Para pengambil keputusan di Washington harus menghadapi kenyataan buruk dan kekal bahwa jumlah total kepentingan global dan kewajiban Amerika Serikat saat ini jauh lebih besar daripada kekuatan negara tersebut untuk mempertahankan mereka secara simultan.”[36]

Sumber: Lapsus Syamina XVI “Pudarnya Hegemoni Imperium Amerika Serikat”

Footnote:
[1] Ferguson, Niall (2004) Colossus,“The Price of America’s Empire,” New York, hal. 6
[2] Gunter, Bischoff (2009), “Empire Discourses: The American Empire in Decline?,” Kurswechsel, hal 14–23
[3] http://www.nytimes.com/2003/04/29/world/aftereffects-military-presence-rumsfeld-says-us-will-cut-forces-in-gulf.html
[4] Porter, Bernard (2006), “Empire and Superempire. Britain, America and the World,” New Haven, CT.
[5] Myers, Wally (2013),“Is the Empire Falling? Mostly from Johan Galtung’s The Fall of the US Empire–And Then What?”, http://www.ncveteransforpeace.org/issues/Empire_Falling.pdf
[6] Glubb, Sir John (1976, 1977),“The Fate of Empires and Search for Survival,” Blackwoods, http://dariusthemede.tripod.com/glubb/
[7] Maier, Charles S. (2006), “Among Empires. America’s Ascendancy and Its Predecessors,” Cambridge, MA.
[8] Ferguson, Niall (2004) Colossus,“The Price of America’s Empire,” New York, hal. 10
[9] http://www.monde-diplomatique.fr/cahier/irak/a9687
[10] http://www.nytimes.com/2003/04/29/world/aftereffects-military-presence-rumsfeld-says-us-will-cut-forces-in-gulf.html
[11] http://www.monde-diplomatique.fr/cahier/irak/a9687 11Parameters, Summer 1997, hal. 4-14: US Army War College dan Constant Conflict, informationclearinghouse.info.http://www.informationclearinghouse.info/article3011.htm
[12] Galtung, Johan (2009). The Fall of the US Empire – and Then What? Successors, Regionalization or Globalization? US Fascism or US Blossoming?. Stadtschlaining, Austria, TRANSCEND University Press. Hal. 18
[13] http://churchandstate.org.uk/2010/10/the-fall-of-the-us-empire/
[14] Porter, Bernard (2006)
[15] Gunter, Bischoff (2009). hal. 16
[16] Ferguson, Niall (2004). “Colossus. The Price of America’s Empire”. New York. Hal 12
[17] Maier, Charles S. (2006). “Among Empires. America’s Ascendancy and Its Predecessors”. Cambridge, MA. Hal 238
[18] Program ekonomi skala besar pada tahun 1947–1951 oleh Amerika Serikat yang bertujuan membangun kembali kekuatan ekonomi negara – negara di Eropa setelah Perang Dunia II usai. Inisiatif penamaan diambil dari nama menteri luar negeri AS saat itu, George Marshall. Negara-negara Eropa Barat yang menerima bantuan ekonomi melalui Marshall Plan harus bersedia bekerja sama dengan Amerika Serikat untuk meningkatkan produksi secara maksimal, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan volume perdagangan.
[19] Maier, Charles S. (2006). hal. 214
[20] McCormick Thomas (1989). “America’s Half-Century. United States Foreign Policy in the Cold War”. Baltimore. Hal. 2ff
[21] Gaddis John Lewis (1997). “We Now Know. Rethinking Cold War History.” Oxford. Hal. 17
[22] Gunter, Bischoff (2009). Hal. 17
[23] Wallerstein, Immanuel (2002). “The Incredible Shrinking Eagle. The End of Pax Americana”. Foreign Policy. Juli 2002. Hal. 60-68.
[24] Zakaria, Fareed (2009). “The Post-American World”. New York. Hal. 115
[25] Kaplan, Robert D. (2003). ”Supremacy by Stealth. Ten Rules for Managing the World”. Atlantic Monthly. Juli 2003. Hal 66-83.
[26] Johnson, Chalmers (2004). “The Sorrows of Empire. Militarism, Secrecy, and the End of the Republic”. New York. Hal. 24
[27] Zakaria, Fareed (2009). “The Post-American World”. New York. Hal. 217
[28] Lieven, Anatol (2002).”The Push for War”. London Review of Books. Oktober 2002
[29] Wallerstein, Immanuel (2002). Hal. 66
[30] Maier, Charles S. (2006). “Among Empires. America’s Ascendancy and Its Predecessors.” Cambridge, MA. Hal 293
[31] Bischof, Günter (2007). “U. S. Public Diplomacy. Lecture delivered at Europäisches Forum Alpbach”.
[32] Johnson, Chalmers (2004). “The Sorrows of Empire. Militarism, Secrecy, and the End of the Republic.” New York. Hal 8.
[33] Bischof, Günter (2007)
[34] Judt Tony (2004). “Dreams of Empire.” New York Review of Books. 4 November 2004. Hal 41.
[35] Hodgson Geoffrey (2009). “The Myth of American Exceptionalism”. Hew Haven, CT.
[36] Kennedy Paul (1987). “The Rise and Fall of the Great

http://www.kiblat.net/2015/01/27/pudarnya-imperium-14-amerika-serikat-sebagai-sebuah-imperium/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: