Pudarnya Imperium AS (2/4): Proses Pembangunan Imperium Amerika Serikat

Tepat setelah terjadinya serangan 11 September tahun 2001, Zoltan Grossman merilis daftar intervensi militer AS selama 111 tahun, dari tahun 1890-2001, berdasarkan catatan Kongres dan The Library of Congress Congressional Research Service. Daftar tersebut dimulai dari pembunuhan brutal penduduk pribumi di Wounded Knee, Dakota hingga invasi militer ke Afghanistan.[1]

Sebelum Perang Dunia II, rata-rata intervensi militer yang dilakukan AS adalah 1,15/tahun, dan setelah Perang Dunia Kedua, rata-rata intervensi meningkat menjadi 1,29/tahun. Pasca Perang Dingin, yaitu sejak tahun 1989, terjadi peningkatan yang cukup tajam hingga 2,0/tahun.

Hasil tersebut kompatibel dengan hipotesis bahwa perang akan meningkat seiring dengan tumbuhnya imperium, di mana mereka semakin merasa punya hak-hak yang harus dilindungi, lebih banyak kerusuhan yang harus dipadamkan, dan lebih banyak pemberontakan yang harus dihancurkan.
William Blum juga mencatat tentang penderitaan yang terjadi dari upaya pembangunan imperium AS tersebut. Jumlahnya sangat besar: mulai dari korban, kerusakan alam, kerusakan struktur (melalui vertikalisasi), kerusakan budaya (melalui brutalisasi, mitos balas dendam dan kehormatan).

Dampak tersebut mengarah pada satu pola tunggal: membangun imperium AS berdasarkan eksploitasi ekonomi negara lain dan orang lain,menggunakan kekerasan langsung dan tidak langsung—baik secara terbuka (yang dilakukan oleh Pentagon), maupun tertutup (CIA)—dengan dukungan terbuka dan terselubung dari sekutu AS. Hasilnya adalah struktur kelas internasional yang semakin meningkatkan kesenjangan antara negara-negara miskin dan kaya, dan antara masyarakat miskin dan kaya.[2]

Bentuk Intervensi AS atas Dunia

Tidak ada tanda-tanda benturan peradaban, atau tanda-tanda ekspansi teritorial. Tapi ada semangat misionaris dan pembenaran diri yang sangat besar. Retorikanya pun berubah seiring dengan keperluan: pencegahan ekspansi Soviet, perang melawan komunisme, obat-obatan, intervensi atas nama demokrasi dan hak asasi manusia, dan yang terkini perang melawan terorisme.

Blum menyimpulkan bahwa mesin dari kebijakan luar negeri Amerika dipicu bukan oleh pengabdian terhadap moralitas, melainkan oleh kebutuhan untuk melayani kepentingan lain, yang dapat diringkas sebagai berikut:

1. Membuat dunia lebih aman bagi perusahaan-perusahaan Amerika;
2. Meningkatkan laporan keuangan kontraktor pertahanan yang telah memberikan kontribusi kepada anggota kongres;
3. Mencegah munculnya masyarakat yang bisa berfungsi sebagai contoh sukses alternatif dibanding model kapitalis;
4. Memperluas hegemoni politik dan ekonomi seluas mungkin, sebagaimana layaknya sebuah “kekuatan besar.” Atas dasar tujuan tersebut, selama periode 1945-2000, Amerika Serikat telah melakukan intervensi sangat serius ke lebih dari 60 negara.

Berikut adalah daftar intervensi AS sejak tahun 1945 hingga tahun 2000 yang dicatat oleh Blum [3]:
Dari daftar tersebut, terdapat 25 kasus pengeboman, yaitu China 1945-1946, Korea/China 1950-1953, Guatemala 1954, Indonesia 1958, Kuba 1960-1961, Guatemala 1960, Vietnam 1961-1973, Kongo 1964, Peru 1965, Laos 1964-1973, Kamboja 1969-1970, Guatemala 1967-1969, Grenada 1983, Lebanon-Suriah 1983-1984, Libya 1986, El Salvador 1980, Nikaragua 1980, Iran 1987, Panama 1989, Irak 1991, Kuwait 1991, Somalia 1993, Sudan 1998, Afghanistan 1998, Yugoslavia 1999.

Pembunuhan pemimpin asing, beberapa di antaranya adalah kepala negara, juga coba dilakukan di 35 negara. Mereka juga melakukan bantuan penyiksaan di 11 negara: Yunani, Iran, Jerman, Vietnam, Bolivia, Uruguay, Brazil, Guatemala, El Salvador, Honduras, dan Panama.

Selain itu, AS juga melakukan intervensi terhadap pemilihan umum atau mencegah terjadinya pemilihan umum di 23 negara: Italia 1948-1970-an, Lebanon 1950-an, Indonesia 1955, Vietnam 1955, Guayana 1953-1964, Jepang 1958-1970-an, Nepal 1959, Laos 1960, Brasil 1962, Republik Dominika 1962, Guatemala 1963, Bolivia 1966, Chile 1964-1970, Portugal 1974-1975, Australia 1974-1975, Jamaika 1976, Panama 1984 dan 1989, Nikaragua 1984 dan 1990, Haiti 1987-1988, Bulgaria 1991-1992, Rusia 1996, Mongolia 1996, Bosnia 1998. Dari daftar di atas, Blum menyimpulkan ada 35 (usaha) pembunuhan + 11 bantuan penyiksaan + 25 pengeboman + 67 intervensi + 23 campur tangan pada pemilihan umum negara orang lain yang menghasilkan angka total 161 bentuk kekerasan politik yang semakin parah sejak Perang Dunia II.
Dan ini adalah sebuah rekor dunia yang dilakukan oleh AS. Daftar ini bertambah seiring dengan dilancarkannya perang melawan terorisme, yang mayoritas diarahkan ke negara Muslim, yaitu: Yaman 2000, Macedonia 2001, Afghanistan 2001-?, Yaman 2002, Philippines 2002-?, Colombia 2003-?, Iraq 2003-11, Liberia 2003, Haiti 2004-05, Pakistan 2005-?, Somalia 2006-?, Suriah 2008, Yaman 2009-?, Libya 2011-?, Irak 2014 – ?, Suriah 2014-?

Musuhnya pun bergeser seiring dengan perkembangan waktu:

Tahap I – Asia Timur, Konghucu-Buddha
Tahap II – Eropa Timur, Kristen Ortodoks
Tahap III – Amerika Latin, Kristen Katolik
Tahap IV – Asia Barat, Islam

Mungkin dalam beberapa tahap terjadi tumpang tindih, tapi ini adalah gambaran umum. Pada tahap pertama fokus utama adalah pada orang-orang di Korea, baik selatan maupun utara, dan petani miskin di Vietnam yang ingin merdeka. Pada tahap kedua adalah Perang Dingin untuk menahan laju komunisme.

Pada tahap ketiga sasaran utama adalah orang-orang miskin, masyarakat pribumi yang didukung oleh para pengikut “Maois”. Dan terakhir, pada tahap keempat, yang mendominasi gambar saat ini adalah negara-negara dan gerakan Islam. Hal yang baru dalam tahap keempat ini adalah hubungannya dengan agama.

Dewan Keamanan PBB dengan anggota inti yang terdiri dari empat negara Kristen dan satu negara Konghucu tidak memiliki kewenangan dalam Islam, sebagaimana otoritas yang mereka nikmati di negara-negara Kristen di Eropa Timur dan Amerika Latin dan negara Budha di Asia Timur. Dengan kata lain, perlawanan nyata akan datang dalam fase keempat.
Blum memandang bahwa hanya orang yang naif, dungu, atau keduanya yang terkejut dengan terjadinya serangan 11 September. Terorisme negara tak terbatas dan tak bertepi yang dilakukan oleh Amerika Serikat mendapat jawaban yang sangat tidak mengejutkan: terorisme terhadap Amerika Serikat.

Dengan perkiraan sekitar 13-17 juta orang tewas, dan rata-rata 10 orang berduka atas setiap satu korban tewas, yang mengakibatkan kesedihan dan kepedihan, maka nafsu untuk membalas dendam berkembang. Namun, akar dari semua itu bukanlah pada rantai tak berujung dari kekerasan untuk membalas dendam.

Mereka adalah konflik tanpa solusi yang dibangun dalam imperium AS. Barangkali, inilah yang dimaksud oleh perencana Pentagon yang memandang bahwa “untuk mencapai tujuan tersebut, kami akan melakukan banyak pembunuhan.” Untuk mengatasinya, menurut Blum, adalah dengan dibubarkannya imperium AS.

Narasi dan Tema Intervensi AS di Dunia

Tema Umum Intervensi AS Dalam mengembangkan imperiumnya, AS menggunakan beberapa tema dan narasi sebagai bentuk eufemisme dari usaha imperialistik mereka. Grossman menyimpulkan tema umum yang dibawa oleh AS dalam setiap intervensi yang mereka lakukan adalah sebagai berikut:[4]

Pertama, mereka menjelaskan kepada rakyat AS bahwa mereka membela kehidupan dan hak-hak penduduk sipil. Namun pada kenyataannya, taktik militer yang dilakukan seringkali menyebabkan korban sipil yang sangat besar. Para perencana perang AS membuat sedikit perbedaan antara pemberontak dan warga sipil yang tinggal di zona yang dikontrol pemberontak, atau antara aset militer dan infrastruktur sipil, seperti jalur kereta api, pabrik pertanian, persediaan obat-obatan, dll.
Publik AS selalu percaya bahwa dalam perang berikutnya, teknologi militer baru akan mampu menghindari korban sipil di pihak lain. Namun ketika kematian warga sipil yang tak terelakkan terjadi, mereka selalu dicekoki penjelasan dengan dalih “kecelakaan” atau “tidak dapat dihindari.”

Kedua, meskipun hampir semua intervensi pasca Perang Dunia II dilakukan atas nama “kebebasan” dan “demokrasi,” namun hampir semua intervensi yang dilakukan sebenarnya lebih pada membela kediktatoran yang dikendalikan oleh elit pro-AS, baik itu di Vietnam, Amerika Tengah, atau di Teluk Persia.
AS tidaklah membela “kebebasan”, tapi mereka membela agenda ideologis (seperti membela kapitalisme) atau agenda ekonomi (seperti melindungi investasi perusahaan minyak). Dalam beberapa kasus ketika pasukan militer AS menggulingkan kediktatoran—seperti di Grenada atau Panama—mereka melakukannya pertama kali dengan cara yang mencegah rakyat negara tersebut dari menggulingkan diktator mereka sendiri, dan kemudian memasang sebuah pemerintahan demokratis baru yang lebih sesuai dengan keinginan AS.

Ketiga, AS selalu menuduh kekerasan yang dilakukan oleh lawan-lawan mereka sebagai “terorisme,” “kekejaman terhadap warga sipil, “atau” pembersihan etnis,” tapi mereka meminimalkan atau membela tindakan yang sama yang dilakukan oleh AS atau sekutu-sekutunya. Jika suatu Negara memiliki hak untuk “mengakhiri” negara yang melatih teroris, akankah Kuba atau Nikaragua memiliki hak untuk meluncurkan serangan bom defensif pada AS untuk mengambil teroris yang mereka lindungi? Standar ganda Washington mendefinisikan tindakan sekutu AS sebagai tindakan “defensif,” namun mereka mendefinisikan pembalasan yang dilakukan musuh mereka sebagai tindakan “ofensif.”

Keempat, AS sering menggambarkan diri sebagai penjaga perdamaian yang netral, yang tidak memiliki motif apapun selain motif kemanusiaan yang murni. Namun, setelah mereka mengerahkan pasukan di suatu negara, dengan cepat mereka membagi negara atau wilayah menjadi “teman” dan “musuh,” berpihak pada satu pihak dan memusuhi pihak yang lain. Strategi ini cenderung menyalakkan perang atau konflik sipil—seperti yang ditunjukkan dalam kasus Somalia dan Bosnia—dan memperdalam kebencian terhadap peran AS.

Kelima, intervensi militer AS seringkali kontraproduktif. Bukannya memecahkan akar konflik politik atau ekonomi, mereka justru cenderung melakukan polarisasi faksi dan selanjutnya mengacaukan negara. Akhirnya, negara yang sama cenderung akan muncul kembali lagi dan lagi dalam daftar intervensi AS abad ke-20.

Keenam, AS melakukan demonisasi pemimpin musuh dan melakukan tindakan militer terhadap mereka. Sikap ini cenderung menguatkan kekuasaan mereka dibanding melemahkan. Jika kita amati, daftar rezim yang paling ingin diserang oleh AS adalah rezim yang justru paling lama menduduki kekuasaan. Qaddafi, Castro, Saddam, Kim, dan lain-lain mungkin telah menghadapi kritik internal yang lebih besar jika mereka tidak bisa menggambarkan diri mereka sebagai David yang berdiri melawan Goliath Amerika.

Grossman menambahkan bahwa salah satu ide yang paling berbahaya dari abad ke-20 adalah bahwa “orang-orang seperti kita” tidak bisa melakukan kekejaman terhadap warga sipil. Warga Jerman dan Jepang percaya, tapi militer mereka telah membantai jutaan orang. Warga Inggris dan Prancis percaya, tapi militer mereka melakukan penjajahan brutal di Afrika dan Asia.
Warga Rusia percaya, tapi tentara-tentara mereka membunuh warga sipil di Afghanistan, Chechnya, dan di tempat lain. Warga Israel percaya, tapi tentara mereka membantai warga Palestina dan Lebanon. Warga AS percaya, tapi militer mereka membunuh ratusan ribu orang di Vietnam, Irak, dan di tempat lain.

Grossman menutup tulisannya dengan menyatakan bahwa “Serangan 11 September tidak hanya menjadi ujian bagi sikap warga AS terhadap minoritas etnis/ras di negara mereka, tetapi juga menjadi ujian bagi hubungan kita dengan seluruh dunia. Kita harus mulai bukan dengan memukul warga sipil di negara-negara Muslim, tapi dengan mengambil tanggung jawab atas sejarah dan tindakan kita sendiri, dan bagaimana tindakan tersebut telah mendulang siklus kekerasan.”

Sumber: Lapsus Syamina XVI “Pudarnya Hegemoni Imperium Amerika Serikat”
Footnote:
[1] Grossman, Zoltán (2001), “A Briefing on The History of U.S. Military Interventions”. Z Magazine. http://academic.evergreen.edu/g/grossmaz/interventions.html
[2] Blum, William (2000), “Rogue State: A Guide to the World’s Only Superpower”, Monroe MA: Common Courage Press.
[3] Blum, William (1999),“A Brief History of U.S. Interventions: 1945 to the Present,” Z Magazine.
[4] http://academic.evergreen.edu/g/grossmaz/interventions.html

http://www.kiblat.net

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: