Pudarnya Imperium AS (4/4): Tanda-tanda Imperium Amerika Serikat Akan Runtuh

Layaknya sebuah sistem, imperium juga mengalami siklus hidup. Mulai dari benih, hingga masa gugur atau mati. Johan Galtung dalam “On the Coming Decline and Fall of the US Empire” menjelaskan bahwa Imperium Inggris lah yang telah menabur benih bagi imperium Amerika Serikat. Kemampuan imperium mereka diasah dengan uji coba penduduk pribumi, kemudian mulai menjangkau wilayah luar negeri. Pendekatan yang digunakan untuk menjalankan imperium ini dengan intervensi militer, mendefinisikan zona kepentingan dengan mengambil alih imperium Spanyol, setelah itu menancapkan hegemoni mereka kepada dunia.

Menurutnya, sekarang ini Amerika Serikat sedang mengalami fase penuaan, dengan beban tugas pengendalian yang melimpah. Galtung tidak fokus kepada satu keputusan bahwa imperium Amerika Serikat akan jatuh. Namun, lebih kepada beberapa pertanyaan yang melandasi proses keruntuhan yang sedang dialami Amerika Serikat, yaitu:

Apa: pola pertukaran yang tidak adil dari keempat dimensi kekuasaan (ekonomi, politik, militer, dan budaya); Mengapa: mereka telah menyebabkan penderitaan, kebencian, dan perlawanan yang tidak mampu ditahan lagi; Bagaimana: melalui sinergi dari berbagai kontradiksi yang telah mematang, yang diikuti dengan demoralisasi yang dialami oleh kelompok elit imperium; Kapan: dalam prediksi Galtung, sekitar dua puluh tahun dari tahun 2000. Di mana: tergantung pada tingkat kematangan kontradiksi. Imperium, sebagaimana organisme lain, retak melalui titik kelemahannya; Oleh siapa: para imperialis yang mengalami demoralisasi, korban yang menderita, mereka yang setia kawan, dan mereka yang memerangi imperium Amerika Serikat untuk menegakkan imperium mereka sendiri. Melawan siapa: pihak yang mengeksploitasi/ pembunuh/ pengontrol/ progamer, dan siapa pun yang mendukung imperium Amerika Serikat demi mendapatkan keuntungan.

Pusat imperium (Subjek) memberikan cengkeraman rangkap empat terhadap pihak Perifer (Objek). Keempat elemen terkait dan saling mendukung totalitas imperium yang dihadirkan. Kekuatan ekonomi diwujudkan dengan sistem kapitalisme internasional, kekuatan militer dengan militerisme internasional, kekuatan politik dengan hegemoni internasional, serta kekuatan budaya dengan misionarisme internasional.

Seiring berjalannya waktu, keempat elemen ini ternyata menimbulkan sebuah kontradiksi dan kontraproduktif. Hiperkapitalisme hanya bertumpu pada Perifer dan merusak alam, intervensi militer melahirkan perlawanan, hegemoni menyulut kerinduan otonomi untuk berkuasa di rumah sendiri, sedangkan misionarisme dengan eksepsionalisme –dengan hak untuk membunuh—merangsang bangkitnya identitas lama atau munculnya identitas baru. Maka, di sinilah imperium mengalami penurunan.

Pada tahun 2000, Galtung ternyata memprediksi keruntuhan imperium Amerika Serikat. “Prediksi ini dibuat pada tahun 2000, dan waktu itu saya katakan 25 tahun. Tapi saat George W. Bush terpilih menjadi presiden, bersama dengan fundamentalisme dan visi sempitnya, saya memotongnya lima tahun, karena saya melihatnya sebagai akselerator, yang ia lakukan dengan melancarkan tiga perang: perang melawan terorisme, perang di Afghanistan, dan perang di Irak. Dan semua itu terjadi setelah AS tidak bisa menang di Korea pada tahun 1953, dan kalah pada tahun 1975 di Vietnam. Dengan kata lain, kita saat ini melakukan perang besar yang kelima.”[1]
Kondisi ini khas dengan tanda keruntuhan sebuah imperium. Galtung menyimpulkan perhitungan tersebut berdasarkan studi komparatif dari berbagai imperium yang telah runtuh. Dalam kesimpulannya, imperium bertahan selama 110-112 tahun. Imperium AS bermula pada tahun 1898, sejak keruntuhan imperium Spanyol, yang jika ditambahkan pada fenomena usia sebuah imperium, maka Galtung menyimpulkan tahun 2020 sebagai masa keruntuhan imperium AS.

Kesimpulan tersebut dikuatkan oleh berbagai pelanggaran kekuasaan empat dimensi, yaitu ekonomi, militer, politik, dan kultural. “Jika Anda mencoba untuk mendominasi dunia secara ekonomi, militer, politik, dan kultural pada saat yang bersamaan, dan keempatnya saling mendukung satu sama lain, maka semua itu tidak akan berlangsung lama. Dan inilah fase yang kita alami saat ini.”[2]
Prediksi Galtung didasarkan pada 14 kontradiksi yang terjadi pada AS saat itu. Kontradiksi adalah sebuah konflik yang sangat dalam yang membutuhkan dilakukannya perubahan sistem untuk mengatasinya. Imperium jatuh dan runtuh saat kontradiksi semakin mematang.

1. Kontradiksi Ekonomi

• Antara pertumbuhan dan distribusi.
Terjadi lingkaran setan, dengan terjadinya overproduksi yang membawa kepada pengangguran yang membawa kepada menurunnya permintaan dan kelebihan pasokan yang menyebabkan lebih banyak pengangguran.
Imperium AS memotong diri sendiri dengan mengejar pertumbuhan namun mengabaikan, bahkan mencegah, distribusi yang bisa meningkatkan permintaan dengan meningkatkan daya beli masyarakat bawah, yang jumlahnya sekitar 50% atau lebih dari masyarakat.
• Antara ekonomi riil dan ekonomi keuangan (mata uang, saham, obligasi).
Ketika perputaran pasar keuangan domestik dan global tinggi, sedangkan pertumbuhan ekonomi riil lamban dan distribusi rendah, akan terjadi akumulasi likuiditas yang tinggi yang berusaha mencari outlet. Outlet pada ekonomi keuangan adalah spekulasi.
Ekonomi produktif meresponnya dengan membuat perusahaan virtual seperti ENRON dan WORLDCOM yang membuat pertumbuhan ekonomi keuangan dengan cepat kehilangan sinkronisasi dengan pertumbuhan ekonomi produktif.
Depresiasi nilai dollar menjadi salah satu indikasi penyakit kronis tersebut. Obat bagi penyakit tersebut adalah pendistribusian sistem yang selama ini dihalangi oleh imperium AS, melalui Bank Dunia, IMF, dan WTO. Ketiadaan obat akan menghasilkan peningkatan nilai produk-produk keuangan dan akhirnya menimbulkan crash baru.
• Antara produksi-distribusi-konsumsi dan alam.
Keluarnya AS secara sepihak dari Protokol Kyoto[3] semakin menajamkan kontradiksi ini. Protokol tersebut dianggap akan menghalangi pertumbuhan ekonomi AS. Protokol ini tidak bisa diterima oleh perusahaan-perusahaan raksasa. Langkah yang diambil AS ini akan membahayakan bumi dan menunjukkan eksprersi menjijikkan dari sebuah rezim global.

2. Kontradiksi Militer

• Antara terorisme negara yang dilakukan AS dan terorisme.
Kontradiksi ini semakin terang pasca 11 September 2001, meski jumlah yang terbunuh dalam peristiwa tersebut jauh lebih sedikit dibanding pembunuhan yang dilakukan sebagai respon atasnya. AS saat ini melakukan intervensi di lebih dari 60 negara, sebuah langkah yang justru akan semakin memperparah kontradiksi.

AS melakukan psikologi polarisasi dengan menilai teman berdasarkan tujuan sah mereka, dan menilai musuh berdasarkan sarana tidak sah yang mereka pakai. Jadi terorisme negara dianggap bisa diterima karena memiliki tujuan yang sah, yaitu untuk kekalahan terorisme. Sementara terorisme yang dilakukan oleh Muslim dicela karena menggunakan sarana yang tidak sah, yaitu tindakan membunuh orang yang tidak bersalah.

Perang melawan terorisme secara de facto adalah perang melawan Islam. Perang Irak, Perang Afghanistan menunjukkan hal itu, dan semuanya tidak bisa dimenangkan. Antara AS dan sekutunya Imperium AS tidak ingin dilihat sebagai imperium, tetapi mereka memandang diri mereka sebagai sebuah kekuatan yang didukung oleh negara “maju” dan “beradab” melawan kelompok “jahat”, “pengacau”, dan “teroris”.

Kontradiksi ini nampak semakin jelas dalam perang Irak tahun 2003. Washington melakukan kesepakatan dengan pemerintah sekutu untuk melakukan aliansi dan tidak peduli dengan opini publik setempat. Penggunaan kekuatan, bujukan, tawaran dan ancaman dilakukan di belakang pintu agar tidak terekspos oleh publik. Jika publik tahu apa yang terjadi di belakang pintu, maka perlawanan akan meningkat. Tren penentangan terhadap dukungan tanpa syarat kepada imperium AS saat ini semakin tumbuh, dan kontradiksi ini akan semakin tajam jika masyarakat memberikan tekanan yang lebih pada pemerintah.

• Antara hegemoni US Eurasia dan Rusia-India-Cina
Terhadap beberapa negara yang AS tidak mampu secara total menaklukkannya, AS melakukan pendekatan kepada mereka melalui ketakutan mereka terhadap populasi Muslim. Chechnya, Kashmir dan Xinjiang adalah contohnya.
Setelah ekspansi NATO ke wilayah timur dan ekspansi yang dilakukan oleh aliansi AS-Jepang ke wilayah Barat sejak tahun 1995, ketiga negara tersebut (Rusia-India-China) berusaha semakin mempererat hubungan diantara mereka, meski bukan dalam bentuk aliansi formal.
Namun, gerakan tersebut berusaha dihentikan oleh AS dengan mengajak mereka dalam perang melawan terorisme Islam, yang pada hakikatnya adalah perjuangan yang dilakukan oleh umat Islam untuk kemerdekaan di ketiga wilayah tersebut.

• Antara tentara pimpinan Amerika Serikat-NATO dan tentara pimpinan Uni Eropa.
Ketika negara-negara Uni Eropa gagal untuk mendukung AS, mereka akan menjadi korban dari logika ganda AS: “karena mereka tidak sepenuhnya bersama kami, maka berarti mereka melawan kami.” Langkah ini akan membawa beberapa anggota Uni Eropa kepada sebuah kesatuan yang tidak berada dalam rantai komando dari Washington, kecuali sekadar dalam pertukaran informasi.

3. Kontradiksi Politik

• Antara Amerika Serikat dan PBB.
USA paling sering menggunakan hak veto di Dewan Keamanan dan mereka juga melakukan veto ekonomi secara de facto dengan menahan atau menarik dukungan terhadap program yang tidak sesuai dengan keinginan mereka.
Pengaruh ekonomi AS terhadap banyak anggota PBB, seperti mengubah tingkat bunga hutang, akan dilakukan berdasarkan pola voting. Terhadap resolusi Persatuan untuk Perdamaian yang stagnan di Dewan Keamanan PBB, AS melakukan pemblokiran terhadap usaha mengangkatnya ke Majelis Umum.

• Antara Amerika Serikat dan Uni Eropa.
Jika Uni Eropa secara bertahap membuka kerjasama dengan Rusia dan Turki, Uni Eropa akan tumbuh menjadi 750 juta jiwa. Kondisi ini akan membawa pada pergeseran dari pembebanan sepihak kepada negosiasi multilateral, dan dari perdebatan untuk mendominasi menuju dialog.

4. Kontradiksi Budaya

• Antara Yahudi-Kristen AS dan Islam.
Islam berkembang dengan cepat, Kristen tidak. Terdapat aliansi fundamentalis Kristen-Zionis berdasarkan pada gagasan bahwa Armageddon sudah dekat, dan bahwa kedatangan pertama Mesiah dan kedatangan kedua Kristus bisa jadi adalah orang yang sama. AS menyimpulkan dari Yudaisme tentang “Orang Terpilih”, “Tanah yang Dijanjikan”, dengan membawa sense eksepsionalisme pada Israel-AS.
Mereka menganggap diri berada di atas hukum, memiliki hak pembenaran diri, dan tidak memegang larangan untuk melakukan tindakan kebrutalan dalam peperangan dengan alasan keamanan mereka.

• Antara AS dan peradaban tertua.
Mulai terjadi kebangkitan di seluruh dunia, dengan budaya kuno melihat diri mereka sendiri bukan sebagai budaya museum eksotis yang hanya untuk diamati. Penghancuran artefak dari Sumer-Babilonia di Irak dipandang sebagai upaya untuk mengendalikan Irak dengan menghancurkan fokus identifikasi.

• Antara AS dan budaya elit Eropa.
Barat melihat dunia dengan empat pusat geo-budaya; Amerika Serikat, Inggris, Perancis dan Jerman, yang lain hanya boleh meniru.

5. Kontradiksi Sosial

• Antara kelompok elit negara-perusahaan dan kelas pengangguran dan pekerja kontrak.
Pekerja berusaha dibuat untuk tetap berada di atas jalur melalui ancaman pengangguran dan melalui inferioritas pekerjaan Elit negara-korporasi terorganisir dengan lebih baik, mereka membuat diri mereka tidak mampu digantikan, mempekerjakan dan memecat dari posisi aman mereka, dengan ancaman utama outsourcing dan otomatisasi untuk menyelesaikan masalah.
Sebuah masyarakat postmodern bisa melakukan pekerjaan dengan lebih sedikit pekerja, namun tidak dengan lebih sedikit pelanggan. Memecat pekerja mengurangi daya beli mereka dan secara tidak langsung memecat pelanggan. Kelompok kelas menengah di dunia dapat menekan imperium AS melalui pemboikotan produk-produk seperti minyak dari Irak, pesawat Boeing, dan barang-barang AS.

• Antara generasi tua dan muda, pria dan wanita.
Mahasiswa bangkit melawan perang Vietnam. Siswa SMA saat ini dengan mudah mendapatkan pencerahan melalui informasi di internet. Mereka juga bisa dimobilisasi melalui internet dan telepon seluler.

Dengan menyebut penindasan kebebasan sipil yang dilakukan atas nama “keamanan dalam negeri”, mampu membawa wanita masuk ke dalam jajaran pembela rumah dan keluarga. Chicanos, Hispanik, Afrika-Amerika dapat mencapai status mayoritas pada tahun 2042. Aliansi ini bisa mengalahkan struktur komando yang menguasai AS saat ini.

• Antara mitos dan realitas.
Mimpi orang Amerika hanya ada pada kebanggaan dengan beban utang yang menggunung untuk generasi berikutnya. Ini lebih merupakan ancaman daripada janji. Mimpi orang Amerika yang terkoyak secara individual juga akan mengoyak Mimpi Amerika.
Impian kebebasan hak asasi manusia terkikis oleh Patriot Act dan kebijakan lainnya pasca 9/11. Alasan utama tidak dilakukannya serangan terhadap Amerika Serikat setelah 9/11 mungkin saja disebabkan oleh kenyataan bahwa AS jauh lebih mampu untuk menghancurkan dirinya sendiri daripada serangan teror dari luar.
Momen yang digunakan AS untuk meluaskan imperiumnya. Tapi ternyata ini justru menjadi senjata makan tuan.

Saat kontradiksi di atas semakin mematang, sinkron, dan bersinergi, Pusat imperium mungkin akan mulai mengendorkan cengkeraman pada Perifer dalam sebuah tindakan yang disengaja, atau jika tidak mereka akan mengalami keruntuhan, baik secara lambat, sebagaimana yang terjadi pada Inggris, maupun secara cepat, sebagaimana yang terjadi pada Uni Soviet.

Selain itu, keruntuhan sebuah imperium juga terjadi saat kelompok elit mulai kehilangan kontrol atas masyarakat karena mereka mengalami demoralisasi. Ibnu Khaldun pada akhir tahun 1300-an menjelaskan tentang tahapan demoralisasi yang terjadi pada kelompok elit.

• Mereka mendapatkannya melalui pencapaian yang hebat dan dengan dukungan dari masyarakat seseorang menjadi seorang pemimpin.
• Pemimpin mulai mengejar kemudahan dan kemewahan.
• Pemimpin memonopoli kejayaan dengan melakukan marjinalisasi terhadap para pendukung aslinya. Ia membeli mereka.
• Dia melakukan ekspansi kekuasaan melalui penguatan orang-orang yang bisa dia kontrol (yes men)
• Sebuah dinasti keluarga berkembang dengan akumulasi kekuasaan dan kekuatan.
• Pada generasi ketiga, penguasa menjadi tak bermoral, lupa terhadap syarat yang dibutuhkan oleh Biaya kesenangan, serta biaya yang dibutuhkan untuk membeli kehormatan dan loyalitas yang tidak bisa lagi ia inspirasi melonjak di luar kemampuan yang mampu ia bayar.
• Menaikkan pajak, tapi pihak yang paling ditekan justru adalah pihak yang paling sedikit mendapatkan timbal balik.
• Melakukan metode tidak reguler untuk meningkatkan Melakukan pemerasan barang dan jasa, namun justru membuat segalanya menjadi lebih buruk dengan mengacaukan aktivitas ekonomi.
• Para tentara tidak dibayar, wilayah-wilayah yang terpencil mulai mengembangkan otonominya, dan para pejabat yang disukai masyarakat mulai merenggut otoritas kerajaan.
• Korupsi terjadi di luar lingkaran istana hingga sampai pada kebanyakan masyarakat, yang mulai bergantung pada pemerintah dan diperbudak oleh keinginan-keinginan yang tidak diperlukan yang bisa membuat mereka lupa akan agama, moralitas, dan bahkan kesusilaan.
• Usaha reformasi paling banter hanya akan menunda hal yang tak terhindarkan.
• Kondisi yang belum mapan dan kelebihan penduduk akan membawa pada kelaparan dan wabah, dan pada akhirnya membuat dinasti runtuh dari kekuasaannya.

Dengan berbagai kontradiksi tersebut, diiringi dengan demoralisasi yang terjadi di kalangan elit, Galtung memprediksi terjadinya penurunan AS secara gradual yang berujung keruntuhan pada tahun 2020. Semakin kuat sebuah imperium, semakin cepat ia meningkatkan kontradiksinya, maka semakin tinggi kekacauan internal, dan semakin dekat ia pada keruntuhan. Ini adalah sebuah hukum yang disimpulkan oleh Galtung dari analisis perbandingan 10 imperium yang diawali dengan imperium Romawi.[4]

Amerika Serikat Menghancurkan Diri Sendiri

AS kini bertindak bak gajah yang terluka, memukul dan mengibas ke segala arah. Mereka mengalami tahapan demoralisasi yang semakin mendidih, dengan emosi mengalahkan pikiran rasional. Sejak awal berdirinya, AS sudah banyak melakukan perbudakan terhadap orang-orang yang dicuri dari Afrika, pembantaian terhadap warga pribumi, hingga pencurian terhadap separuh wilayah Mexico, perang untuk melakukan penjajahan dan agresi di seluruh dunia, dan berbagai kejahatan dan kekejaman lain yang tak terhitung. Kondisi tersebut semakin nyata setelah terkuaknya penyiksaan yang selama ini dilakukan oleh AS.

Dalam sebuah bentuk yang mereka namakan sebagai “War on Terror” yang diluncurkan AS pasca 9/11. Pada kenyataannya, ini merupakan perang untuk memperluas imperium. Dengan doktrin “preemptive war”, AS membekali diri dengan hak untuk menyerang negara manapun di dunia atau melakukan pembunuhan dan tindakan militer lainnya. Tindakan ini dilakukan secara sepihak di belahan bumi mana saja yang mereka kehendaki. Hanya berdasarkan pernyataan bahwa seseorang, beberapa kelompok, atau pemerintah mungkin akan merugikan kepentingan AS di masa depan, maka mereka wajib diperangi. Hal ini dilakukan di bawah papan nama “melindungi kehidupan warga Amerika”—meski perang ini sejatinya bukan tentang melindungi keselamatan rakyat Amerika Serikat, dan tentu saja bukan tentang melindungi masyarakat dunia.

Obama terus-menerus mengejar kepentingan imperialis AS dengan mengabaikan hukum internasional dan kehidupan masyarakat. Di bawah Obama, AS telah membunuh ribuan orang dengan drone, melakukan perang kekerasan di seluruh dunia, hingga memata-matai orang dan aparat kepolisian negara demi memenuhi kepentingan perut binatang imperialis.[5]
Sebagaimana yang diungkapkan George W. Bush, “You are either with us or against us”. Semua negara kini hanya dihadapkan pada dua pilihan: mereka menerima doktrin neo kolonial Barat atau mereka akan dihancurkan, sebagaimana Irak, Afghanistan, Libya, dan Suriah.

Tidak ada logika yang bisa membantu, tidak ada negosiasi, tidak ada mediasi internasional dari PBB. Keinginan untuk berkompromi diperolok. Seruan akan rasa kemanusiaan tidak mampu menggoyahkan imperium sedikit pun.

Sangat jelas, bahwa imperium AS kini telah menyiapkan serangan pamungkas. Mereka akan menyerang, menghancurkan, dan memusnahkan. Mengapa semua itu terjadi?
Jawabannya sangat jelas: untuk pertama kalinya rasa muak akan imperium AS mulai menyebar dan mendunia. Banyak orang yang sudah mulai sembuh dari kebutaan. Topeng kebajikan dan rasionalitas telah terkoyak oleh media-media independen. Topeng itu telah jatuh, yang menampakkan wajah mengerikan, haus darah, dan rakus dari sebuah monster.
Mereka tahu bahwa ini adalah awal dari akhir mereka. Karenanya, mereka akan melakukan perang pamungkas. Bagi imperialis, perdamaian hanya punya satu makna: kekuasaan tanpa perlawanan di muka bumi. Jika seseorang berperang membela diri, ia adalah teroris dan bandit.

Semua imperium pada akhirnya runtuh: Akkad, Sumeria, Babilonia, Niniwe, Asyur, Persia, Macedonia, Yunani, Carthage, Roma, Mali, Songhai, Mongol, Tokugawa, Gupta, Khmer, Hapbsburg, Inca, Aztec, Spanyol, Belanda, Turki Utsmani, Austria , Perancis, Inggris, Uni Soviet.

Sebagian besar mereka runtuh dalam hitungan satu hingga dua ratus tahun. Alasannya tidak begitu rumit. Sebuah imperium adalah semacam sistem negara yang secara tak terhindarkan membuat kesalahan yang sama hanya dengan sifat struktur imperialias mereka. Mereka gagal karena ukuran, kompleksitas, jangkauan wilayah, stratifikasi, heterogenitas, dominasi, hirarki, dan ketidaksetaraan.

Sangat ironis, hanya satu dekade atau lebih setelah ide Amerika Serikat sebagai kekuatan imperium muncul dan diterima, dan orang-orang mulai dapat berbicara secara terbuka mengenai imperium Amerika, yang terjadi justru menunjukkan beberapa tanda-tanda ketidakmampuannya untuk terus berlanjut dan bahkan spekulasi mulai muncul mengenai keruntuhannya.

Sumber: Lapsus Syamina XVI “Pudarnya Hegemoni Imperium Amerika Serikat”

Footnote:
[1] http://www.democracynow.org/2010/6/7/johan_galtung_on_the_fall_of
[2] Idem
[3] Protokol Kyoto adalah sebuah perjanjian internasional yang dimaksudkan untuk menurunkan emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh industri dunia, yang harus dicapai pada tahun 2012
[4] Galtung, Johan (2009). “The Fall of the US Empire – and Then What?”, hal 167-221
[5] http://revcom.us/a/348/rendition-torture-and-the-values-of-the-US-empire-en.html

http://www.kiblat.net/2015/01/31/pudarnya-imperium-44-tanda-tanda-imperium-amerika-serikat-akan-runtuh/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: