Lima Pembabakan Umat Islam Di Dunia

“Muncul babak kenabian di tengah kalian selama masa yang Allah kehendaki, kemudian Allah mencabutnya ketika Allah menghendakinya. Kemudian muncul babak kekhalifahan mengikuti manhaj (cara/metode/sistem) kenabian selama masa yang Allah kehendaki, kemudian Allah mencabutnya ketika Allah menghendakinya. Kemudian muncul babak raja-raja yang menggigit selama masa yang Allah kehendaki, kemudian Allah mencabutnya ketika Allah menghendakinya. Kemudian muncul babak penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak selama masa yang Allah kehendaki, kemudian Allah mencabutnya ketika Allah menghendakinya. Kemudian muncul babak kekhalifahan mengikuti manhaj (cara/metode/sistem) kenabian. Kemudian Nabi Shollallahu ’alaih wa sallam diam,” (HR Ahmad) .

Jadi, berdasarkan hadis di atas, ”ringkasan sejarah umat Islam di akhir zaman” terdiri dari lima babak atau periode:

Babak I: Kenabian

Di babak ini umat Islam mengalami perjuangan selama 13 tahun sewaktu di Mekkah sebelum hijrah ke Madinah di bawah kepemimpinan orang-orang kafir dan 10 tahun berjuang di Madinah sesudah hijrah dari Mekkah di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad Shollallahu ’alaih wa sallam yang memimpin masyarakat langsung di bawah bimbingan Allah melalui Kitabullah Al-Quran.

Jadi di babak pertama perjalanan sejarah umat Islam terjadi dua kondisi yang sangat berbeda. Pada paruh pertama Nabi Shollallahu ’alaih wa sallam dan para sahabat mengalami keadaan dimana yang memimpin ialah kaum kafir musyrik. Sehingga generasi awal umat ini mengalami kekalahan yang menuntut kesabaran luar biasa untuk bisa bertahan menghadapi kejahiliahan yang berlaku.

Namun pada paruh kedua babak pertama ini, sesudah hijrah ke Madinah, kaum Muslimin justru semakin hari semakin kokoh kedudukannya sehingga Allah takdirkan mereka menikmati kejayaan di tengah masyarakat jazirah Arab. Sehingga kaum musyrik Arab pada masa itu akhirnya harus tunduk kepada kepemimpinan orang-orang beriman.

Babak II: Kekhalifahan Mengikuti Manhaj (cara/metode/sistem) Kenabian

Di babak ini umat Islam menikmati 30 tahun kepemimpinan para Khulafa Ar-Rasyidin terdiri dari para sahabat utama yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Ustman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhum ajma’iin. Sepanjang babak ini bisa dikatakan umat Islam mengalami masa kejayaan, walaupun sejarah mencatat pada masa kepemimpinan khalifah Ustman dan Ali sudah mulai muncul gejala pergolakan sosial politik di tengah masyarakat yang mereka pimpin. Namun secara umum bisa dikatakan bahwa orang-orang berimanlah yang memimpin masyarakat. Orang-orang kafir dan musyrikin tidak diberi kesempatan untuk berjaya sedikitpun. Hukum Allah tegak dan hukum jahiliah buatan manusia tidak berlaku.

Babak III: Raja-Raja yang Menggigit

Di babak ini umat Islam menikmati selama 13 abad kepemimpinan orang-orang beriman. Para pemimpin pada masa ini dijuluki khalifah. Sistem sosial dan politik yang berlaku disebut khilafah islamyah berdasarkan hukum Al-Quran dan As-Sunnah An-Nabawiyyah. Namun mengapa Nabi Shollallahu ’alaih wa sallam menyebutnya sebagai babak para raja-raja? Karena bila seorang khalifah wafat maka yang menggantinya mesti anak keturunannya. Demikian seterusnya. Ini berlaku baik pada masa kepemimpinan Daulat Bani Umayyah, Daulat Bani Abbasiyah maupun Kesultanan Usmani Turki.

Walaupun demikian, umat Islam masih bisa dikatakan mengalami masa kejayaan, karena para khalifah di babak ketiga merupakan “Raja-Raja yang Menggigit”, artinya masih ”menggigit” Al-Quran dan as-sunah. Tentunya tidak sama baiknya dengan kepemimpinan para Khulafa Ar-Rasyididn sebelumnya yang masih ”menggenggam” Al-Quran dan as-sunah. Ibarat mendaki bukit, tentulah lebih aman dan pasti bila talinya digenggam daripada digigit. Tapi secara umum di babak ketiga ini hukum Allah tegak dan hukum jahiliah buatan manusia tidak berlaku.

Babak IV: Raja-Raja yang Memaksakan Kehendak (Diktator)

Sesudah berlalunya babak ketiga di tahun 1924, mulailah umat Islam menjalani babak dimana yang memimpin adalah penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak. Inilah babak dimana kita hidup dewasa ini. Kita saksikan bahwa para penguasa di era modern memimpin dengan memaksakan kehendak mereka sambil mengesampingkan dan mengabaikan kehendak Allah dan rasul-Nya. Entah disebut republik maupun kerajaan, suatu hal yang pasti ialah semuanya berkuasa tidak dengan mengembalikan urusan kehidupan sosial bermasyarakat dan bernegara kepada hukum Al-Quran dan As-Sunnah An-Nabawiyyah. Manusia dipaksa tunduk kepada sesama manusia dengan memberlakukan hukum buatan manusia yang penuh keterbatasan dan vested interest seraya mengabaikan hukum Allah Yang Mahaadil. Hukum jahiliah buatan manusia diberlakukan dan tegak dimana-mana sedangkan hukum Allah dikesampingkan sehingga tidak berlaku.

Maka kita bisa simpulkan bahwa babak keempat merupakan babak kemenangan bagi kaum kafir dan kekalahan bagi orang-orang beriman. Inilah babak yang paling mirip dengan babak pertama paruh pertama di mana Nabi Shollallahu ’alaih wa sallam dan para sahabat berjuang di Mekkah sementara kekuasaan jahiliah kaum kafir musyrik mendominasi di tengah masyarakat. Umat Islam sudah menjalani babak keempat ini selama 85 tahun sejak runtuhnya khilafah islamiah terakhir. Ini merupakan era paling kelam dalam sejarah Islam di akhir zaman. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Babak V: Kekhalifahan Mengikuti Manhaj (cara/metode/sistem) Kenabian

Betapapun dewasa ini umat Islam sedang mengalami kekalahan dan kaum kafir mengalami kejayaan, namun kita wajib optimis dan tidak berputus asa. Karena dalam hadis ini Nabi Shollallahu ’alaih wa sallam mengisyaratkan bahwa sesudah babak kekalahan umat Islam akan datang babak kejayaan kembali yaitu babak kelima dimana bakal tegak kembali kepemimpinan orang-orang beriman dalam bentuk kekhalifahan mengikuti manhaj (cara/metode/sistem) kenabian.

Saudaraku, pastikan diri kita termasuk ke dalam barisan umat Islam yang sibuk mengupayakan tegaknya babak kelima tersebut. Jangan hendaknya kita malah terlibat dalam berbagai program dan aktivitas yang justru melestarikan babak keempat alias babak kepemimpinan kaum kuffar di era modern ini. Yakinlah bahwa ada sunnatu at-tadaawul ( sunatullah dalam hal pergantian giliran kepemimpinan). Bila kepemimpinan kaum kuffar dewasa ini terasa begitu hegemonik dan menyakitkan, ingatlah selalu bahwa di dunia ini tidak ada perkara yang lestari dan abadi. Semua bakal silih berganti. It’s only a matter of time, brother.

“Ya Rabb kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir,” (QS Al-Baqarah ayat 250). [Ust. Ihsan Tandjung]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: