MARAH DALAM PRESPEKTIF PSIKOLOGI ISLAMI Bagaimana Gaya Marah Anda?

Di sampaikan di Imamupsi kom.UMS prog kerja Bid. Intelektual

Marah merupakan emosi yang fitri yang dimiliki oleh semua orang maupun hewan. Akan tetapi masing-masing orang memiliki intensitas kemarahan yang berbeda, tergantung pada kuatnya penghambat yang menghalanginya dari pemenuhan suatu motif[1]. Marah akan mudah muncul jika salah satu motif dasar tidak terpenuhi atau terhambat untuk dipenuhi. Oleh karena itu tingkat kemarahan akan sesuai dengan tingkat motif yang terhambat saat ia berusaha memenuhinya.

Ada orang yang sangat mudah marah. Hampir di semua situasi ia marah-marah. Tidak peduli di rumah, di jalan, di tempat kerja atau di manapun. Sedikit hal tidak sesuai dengan keinginannya ia akan marah. Orang demikian itu biasa disebut pemarah. Jika marah-marahnya dalam kondisi ekstrim, maka akan disebut mengalami gangguan kepribadian, biasanya dengan istilah kepribadian antisosial. Penderitanya tidak boleh tersinggung sedikitpun. Semuanya harus berjalan sesuai keinginannya. Akibatnya mereka kurang mampu bergaul dengan orang lain. Tidak ada yang mau dekat-dekat pada mereka karena hanya akan dimarahi. Marah memiliki dampak buruk bagi kesehatan. Berhati-hatilah, marah bisa menyebabkan serangan jantung atau stroke. Hasil penelitian Harvard Medical School menunjukkan hal tersebut. Orang yang paling mudah marah berpeluang tiga kali lipat untuk memiliki penyakit jantung. Marah-marah pada usia muda merupakan prediktor yang baik terhadap terjadinya serangan jantung hari tua. Semakin tinggi marahnya maka semakin tinggi resikonya[2].

Najati (2008), mengatakan bahwa marah mempunyai dua batasan untuk diekspresikan diantaranya adalah[3],

1. Boleh dilakukan demi kebaikan, Marah ini dianjurkan selama motifnya memiliki sifat yang luhur dan terpuji dan patut diperjuangkan, perhatikanlah sikap Rasulullah saw yang digambarkan oleh Allah swt dalam Firman-Nya. “Muhammad saw adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersamanya keras terhadap orang-orang kafir tetapi berkasih sayang sesame mereka (QS 48:29)

2. Tidak boleh dilakukan jika motif yang mendasarinya tidak begitu penting. Jika tetap dilakukan maka kemarahannya bersifat tidak terpuji. Misalkan marah karena buku tulis yang digunakan untuk menulis di sobek satu kertas.
Lebih lanjut Najati (2008), mengemukakan bahwa marah dapat mempengaruhi dua hal yaitu, pada fisik dan pikiran maupun perilaku.

a. Pada fisik.
Jika orang mudah marah maka akan terjadi banyak perubahan pada organ tubuhnya, baik perubahan di bagian dalam maupun bagian luar terutama pada wajah dan mengencangkan otot. Diantara perubahan bagian dalam tubuh terpenting yang menyertai marah atau saat mengalami emosi lainnya adalah detak jantung yang semakin kencang, lambung mengerut aliran darah mendesak ke dada sampai akhirnya membuat wajah menjadi merah padam. Oleh karena itu, Abu said al-Khudri meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Ingatlah bahwa marah adalah bara api di dalam hati anak Adam. Tidakkah kalian melihat kedua matanya yang memerah dan urat lehernya yang menegang (HR.Tirmidzi).

b. Pengaruh marah terhadap pikiran dan perilaku.
Marah dapat membuat seseorang terlalu dini dalam mengambil keputusan. Oleha karena itu banyak orang yang menyesali hasil akhir dari keputusannya saat pengambilan keputusan itu dilakukaan bersaaman dengan marah. Perhatikanlah sabda Rasulullah saw “ Hendaklah salah seorang di antara kalian tidak menjatuhkan putusan hukum di antara dua orang saat ia sedang marah (HR. Bukhari).

Marah berdampak positif??

Marah memiliki beberapa hal yang menguntungkan bagi manusia. Pertama, marah meningkatkan energi atau intensitas dalam mencapai tujuan. Keterbangkitan marah membuat seseorang akan lebih bertenaga dan lebih fokus, plus lebih semangat mengejar tujuan. Misalnya Anda marah karena dihina goblok, maka kemarahan Anda membuat Anda lebih bersemangat dan lebih keras belajar. Lalu misalnya nilai moral Anda terancam dengan berdirinya rumah judi dan rumah bordil besar-besaran, maka lalu Anda akan jauh lebih bertenaga dalam menentangnya. Tidak hanya ngedumel, tapi Anda juga mau melakukan demonstrasi, bahkan merusak bangunannya.

Kedua, ekspresi marah berguna dalam menyampaikan sesuatu. Kita bisa menyampaikan apa yang sedang dirasakan. Selain itu kita bisa menunjukkan niat kita untuk menyerang atau berbuat destruktif. Ekspresi marah kita itu akan digunakan orang lain sebagai bahan pertimbangan untuk bertindak. Artinya marah yang kita alami akan mempengaruhi orang lain.

Ketiga, ekspresi marah bisa digunakan untuk mengintimidasi orang lain, menghadirkan kesan kuat, dan menunjukkan ancaman. Keberhasilan melakukan hal tersebut bisa membuat seseorang memperoleh sumber daya tertentu dan menghindari ancaman dan bahaya. Misalnya, menagih hutang yang lama tidak bayar sambil menunjukkan ekspresi marah, bisa membuat orang yang ditagih merasa takut sehingga mau membayar hutang.

Keempat, marah mengurangi kecemasan dilukai atau disakiti. Pada saat seseorang marah, perasaan tidak aman menghilang. Marah juga menghambat dan menghilangkan perasaan tidak memiliki harapan sampai ke kesadaran. Artinya, rasa tidak memiliki harapan tetap akan tersimpan sebagai ketidaksadaran dengan munculnya marah.

Pandangan Sigmunt Freud dalam mekanisme pertahanan diri.

Dalam mekanisme ini penulis memberikan beberapa gambaran pertahanan diri ala sigmunt freud yang dianggap olehnya sebagai coping emosi marah, diantaranya adalah[4]:

1. Melawan diri sendiri
Bentuk mekanisme penggantian yang paling khusus, di mana seseorang menjadikan diri sendiri sebagai target pengganti. Biasanya sebagai target melampiaskan rasa benci, marah dan keberingasan. Mekanisme ini dapat menjelaskan perasaan minder, bersalah dan depresi akibat kemarahan yang ditahan. Misalnya, Seorang anak yang dimarahi orang tua akan memukul-mukul kepalanya sendiri karena tidak mungkin dan sangat berbahaya jika memukul orang tuanya yang sedang marah tersebut.
1. Proyeksi
Sumber-sumber ancaman adalah dari dunia luar dan bukan bersumber pada impuls-impuls primitifnya. Pengubahan menjadi lebih mudah karena ketakutan neurotis dan ketakutan moral itu kedua-duanya bersumber dari dunia luar. Proyeksi memiliki tujuan rangkap yaitu mengurangi ketegangan dan alasan-alasan (yang sebenarnya pura-pura) mempertahankan diri agar dalam posisi aman. Dalam proyeksi seseorang mengatakan: ”Dia memarahi saya” sebagai pengganti ”Saya memarahi dia”. Seorang suami yang baik dan jujur merasa tertarik dengan wanita tetangga.
1. Rasionalisasi
Mekanisme rasionalisasi adalah usaha distorsi kognitif terhadap “kenyataan” dengan tujuan kenyataan tersebut tidak lagi akan memberi kemarahan. Mencoba memaafkan diri sendiri dan kesalahan dengan menyalahkan orang lain.
Menurut hemat penulis, Setiap bentuk pertahanan diri adalah kebohongan, bahkan saat melakukannya secara tidak sadar. Namun, kenyataan tersebut tidak mengurangi bahaya yang terkandung, bahkan cenderung menambah. Kata pepatah, “Kebohongan akan melahirkan kebohongan”. Seseorang akan terus-menerus lari dari realitas. Untuk sementara waktu Ego memang bisa mengendalikan tuntutan-tuntutan Id dan lebih memperhatikan Super Ego, namun pada akhirnya kecemasan maupun emosi marah pasti akan mendatangi, dan saat itulah kejiwaan akan tertekan.

Lalu bagaimana islam menawarkan solusi yang dirasa solutif ??

Teknik pelatihan pengendalian Marah

Bagaimana gaya marah Anda? Suka memendam emosi marah, meledak-ledak atau mengalihkan emosi marah ke hal lain? Setiap orang memiliki cara masing-masing untuk merespons emosi marah tersebut. Dan ternyata, cara Anda merespons emosi marah bisa berdampak pada kesehatan tubuh. Marah membuat orang cepet capek oleh karena itu Rasululllah saw, memberi wasiat, janganlah marah, janganlah marah, janganlah marah. Ketika marah ada urat-urat saraf kita yang sebenarnya terputus atau terbuang, padahal yang membuat kita kuat berpikir itu adalah tenaga-tenaga saraf. Anis Matta dalam tausyiahnya mangatakan bahwa Rosulullullah saw telah memberikan kita trik latihan untuk membiasakan tidak marah diantaranya yaitu,

1. Dengan sering-sering senyum.
Dr. Marita R. Inglehart, salah seorang pakar yang melakukan penelitian tetang senyum ini. Menurutnya, senyum ternyata mampu berdampak pada interaksi sosial, kepercayaan diri dan dapat mem(p)engaruhi bagaimana persepsi seseorang terhadap orang lain. Dengan demikian, benar apa yang sering disebutkan bahwa senyum memiliki dampak positif bagi siapa saja yang melakukannya. Bahkan, dalam konteks agama, senyum dikatakan sebagai ibadah karena sangking murahnya ia untuk dilakukan. Penelitian selanjutnya terkait senyum ini dilakukan oleh DR. Dewi Matindas. Menurut pakar psikologi yang satu ini, senyum merupakan pertanda awal bahwa seseorang siap dan terbuka untuk menerima orang lain. Sering kita melihat bukan, ada orang yang selalu tersenyum ketika bertemu dengan orang lain. Itu artinya bahwa ia memiliki kemampuan intrapersonal dan interpersonal yang baik. Senyum yang ikhlas akan bernilai ibadah sedangkan senyum yang terpaksa akan semakin membuat emosi marah menjadi tertekan dalam hati. da penelitian terbaru yang mengungkap bahwa senyum palsu atau tidak dari dalam hati, dapat berpotensi menyebabkan suasana hati tertekan. Akbitnya secara emosional orang yang melakukan senyum dengan terpaksa akan merasa lelah. Jika hal ini terus dibiarkan, dalam jangka panjang, menurut Brent Scott–asisten profesor manajemen, Michigan State University, AS, bisa menyebabkan yang bersangkutan seolah-olah merasa kehilangan identitas pribadi. Jadi sudah ikhlaskan anda tersenyum untuk menghilangkan emosi marah anda?[5] Hehee..Hooo….Hiiii…Haaaaa…J. AHA!!! J

1. Pahamilah dalam posisi bagaimana anda marah, jika anda marah dalam keadaan berdiri maka duduklah, karena jika kita duduk sirkulasi darah kita berubah dan jika kita marah dalam keadaan duduk maka berdirilah dan menjauhlah dari obyek yang anda marahi. Jika masih marah maka segera berwudhu. Karena air itu mendinginkan tangan dan darah kita. Jika masih tetap marah juga, maka sholat dua rakaat.

2. Hindari juga yang membuat orang lain marah. Misalnya, jika kita orang yang sangat menjaga harga diri kita, maka jauhilah orang yang membuat harga diri anda marah.

3. Jika masih belum mampu menahan marah, maka ambilah nafas sedalam-dalamnya dan tahan di dada sebanyak tiga kali sembari menenangkan diri agar bisa berpikir.

4. Jika masih belum mampu menahannya lagi, maka salurkanlah emosi marah anda melalui wajah anda yaitu dengan membuka mata lebar dengan tidak banyak berbicara. Janganlah anda marah dengan menggunakan tangan atau kekerasan fisik, karena penyaluran marah seperti itu akan membuat wibawa tangan anda akan menjadi lemah dan obyek yang anda marahi menjadi berani melawan anda. Buktikan sendiri yach,,,hheeJ

[1] Muhammad Utsman Najati,2008. The Ultimate Psychology. Pusatak Hidayah: Bandung.Hlm 107

[2] Psikologi on line. 22.Maret. 2012.

[3] Ibid Hlm109.

[4] Psikologi Kepribadian,

[5] Kompas,23 maret 2011

isaul-aja.blogspot.com/2012/10/marah-dalam-prespektif-psikologi-islami.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: