Perang Narasi, Sebuah Elemen 4GW (1/4): Memahami Konsep dan Definisi

Terorisme adalah teater, begitu juga kontraterorisme. Forum publik adalah panggungnya, dan pemerintah, partai politik, masyarakat sipil, dan media semuanya adalah aktor, yang kesemuanya menjalankan perannya masing-masing. Yang penting bukan hanya apa yang kita lakukan, namun bagaimana performa kita diterima dan dipandang oleh berbagai khalayak. Teroris adalah seorang performer, namun kontraterorisme juga soal performa. Ia tidak hanya melibatkan penargetan, pengawasan, pencegahan, dan pengejaran, namun juga melibatkan proses penghasilan citra dan cerita. Dinamika teror yang sebenarnya justru terletak pada penceritaan kisahnya.[1]

National Security Strategy menyebut peperangan melawan terorisme ini sebagai “perang yang berbeda dengan perang yang pernah dilakukan dalam sejarah kita” dan menyerukan dilakukannya transformasi lembaga keamanan nasional “yang didesain dalam sebuah era yang berbeda untuk memenuhi kebutuhan yang berbeda.”[2] Dalam perang melawan teror, AS sudah mengeluarkan sumber daya dalam jumlah yang sangat besar. Triliunan dollar sudah digelontorkan untuk mengacaukan, melucuti, dan mengalahkan Al Qaidah dan sekutunya.[3]

Namun, hingga kini tujuan AS dan sekutunya untuk mengakhiri perlawanan kelompok yang mengancam hegemoni mereka tersebut tak jua mendatangkan hasil yang diharapkan. Sampai akhirnya mereka mengambil kesimpulan bahwa kesalahan terbesar dalam Perang Melawan Teror adalah keyakinan bahwa penghancuran kamp pelatihan Al Qaidah akan membawa pada kehancuran kelompok tersebut, gerakan-gerakan sekutu mereka dan ideologi Salafi Jihadi yang mereka pegang.[4]

Beatrice de Graaf berpendapat bahwa para Jihadis kini melakukan “influence warfare”, perang untuk membujuk berbagai target audien yang berbeda untuk bersatu di belakang mereka. Jika “perang ide” pada faktanya adalah medan tempur paling penting dalam perang melawan teror secara umum, de Graaf memandang bahwa AS masih mengalami kekalahan. Sebagaimana kesimpulan yang disampaikan oleh Presidential Task Force AS, Al Qaidah masih menjadi ancaman utama “bagi AS dan sekutunya, bukan hanya karena kemampuan mereka untuk melakukan serangan teror skala besar, namun juga karena kemampuan mereka untuk menyebarkan ideologi dan propaganda secara luas.”[5]

Pemerintah Obama memang dipandang cukup berhasil dalam mengeliminasi kepemimpinan inti Al Qaidah, namun demikian jangkauan pengaruh Al Qaidah mampu mencapai jauh di atas jangkauan operasionalnya. Itulah mengapa mereka tetap dianggap sebagai ancaman terbesar bagi AS dalam beberapa tahun yang akan datang. Al Qaidah Pusat memang mulai mengalami penurunan, namun ideologi dan gerakan mereka masih terus bergelora.

La Marca menyimpulkan bahwa untuk mencapai kesuksesan paripurna dalam perang melawan Jihadis, terutama Al Qaidah dan afiliasinya, dibutuhkan usaha untuk meluruhkan ideologi dan daya tarik mereka. Hanya saat “kemampuan mereka untuk melakukan regenerasi dengan menarik rekrutmen dan simpatisan baru berhasil dilemahkan dan yang lebih penting lagi… saat alasan mereka berhasil didiskreditkan, maka kita bisa mulai bisa bicara secara serius tentang kesuksesan.”[6]

Salah satu solusi populer yang ditawarkan oleh para pembuat kebijakan dan akademisi adalah dengan mengembangkan kontranarasi yang kredibel. Solusi ini berakar dari alasan dasar bahwa, “dalam pasar ide, Barat kehilangan pangsa pasarnya.”[7]

Fokus AS dan usaha kontraterorisme internasional pun bergeser. Mereka memberikan perhatian yang sangat besar pada sisi yang ‘lebih lunak’ dalam perang melawan terorisme. Perang melawan terorisme tidak hanya dilakukan dengan konfrontasi militer, namun kini juga dimainkan dalam ruang komunikasi yang meliputi ide, nilai-nilai, dan persepsi. Mereka menyadari bahwa menangkap dan membunuh teroris bukanlah strategi yang realistis. Mantan menteri pertahanan AS, Donald Rumsfeld, pernah membuat pernyataan yang fundamental dalam memorandum tahun 2003: “Apakah kita menangkap, membunuh, atau menghalangi lebih banyak teroris setiap hari daripada madrasah dan ulama radikal yang merekrut, melatih, dan menyebarkan (pemahaman) melawan kita?”[8]
Mantan Menhan AS, Donald Rumsfeld

Mereka kini menyimpulkan bahwa melakukan kontra ideologi yang menyebabkan ekstrimisme sangat penting untuk mencegah dan mengalahkan kekerasan yang muncul darinya. Bagi mereka, ide-ide Al Qaidah dan sejenisnya harus ditantang dengan kontranarasi yang lebih kuat. Pengakuan akan dilakukannya perang ide pun mulai tumbuh.[9]

Dalam peperangan melawan Al Qaidah dan sejenisnya, menurut Boukhars, hanya bisa dimenangkan jika pesan dan ideologi mereka dikalahkan.[10] Lee Hamilton, anggota Dewan Penasihat Keamanan Nasional AS juga menyimpulkan bahwa, “Ini adalah perang yang berbeda—perang ide—yang pada akhirnya akan menentukan berhasil atau tidaknya pertempuran yang kita lakukan… Kekuatan militer memang sangat diperlukan, tapi tidak cukup dengan itu. Pada akhirnya, kita hanya akan mampu mengalahkan teror jika kita memenangkan perang ide.”[11]

Perang ide adalah tentang mempunyai narasi yang lebih kredibel dan membuatnya efektif. Dalam perang melawan Jihadis, bukan kekuatan persenjataan namun narasi mereka lah yang mampu menarik para pemuda.[12] Fakta ini membuat Frank Ciluffo, mantan pejabat Keamanan Dalam Negeri Gedung Putih, mengakui bahwa, “Kita telah melakukan pertempuran yang salah. Pusat gravitasi yang sesungguhnya dari musuh kita adalah narasi mereka.”[13]

Memahami Narasi

Narasi adalah “garis kisah yang memaksa yang bisa menjelaskan peristiwa secara meyakinkan dan darinya kesimpulan bisa ditarik. Narasi bersifat strategis karena ia dirancang atau dipelihara dengan niat untuk menyusun respon pihak lain terhadap peristiwa yang sedang berkembang.”[14] Narasi tidak muncul secara spontan, namun ia dibangun atau diperkuat secara sengaja di luar ide atau pemikiran yang ada saat ini. Narasi mengekspresikan sense of identity dan sense of belonging serta mengomunikasikan sense atas alasan, tujuan, dan misi.[15] Narasi adalah sumber daya yang sangat kuat untuk mempengaruhi target audien, ia menawarkan bentuk alternatif dari rasionalitas yang berakar kuat dalam budaya, yang bisa digunakan untuk menginterpretasikan dan membingkai peristiwa-peristiwa lokal dan untuk mendorong dilakukannya aksi-aksi personal tertentu.[16]

Pakar militer David Kilcullen mendefinisikan narasi sebagai “sebuah kisah yang menyatukan yang sederhana dan mudah diekspresikan, atau penjelasan yang mengatur pengalaman manusia dan memberikan kerangka kerja untuk memahami peristiwa.”[17]

George Dimitriu menjelaskan bahwa “narasi adalah sumber daya bagi aktor politik untuk membangun makna bersama untuk membentuk persepsi, keyakinan, dan perilaku publik”, mereka mengatur sebuah struktur yang dengannya “sense bersama berhasil dicapai, yang mewakili masa lalu, masa kini, masa depan, hambatan, dan tujuan akhir yang diinginkan.”[18] Definisi lain disampaikan oleh Steve Tatham yang menjelaskan bahwa “narasi adalah sebuah penjelasan tematik dan berurutan yang menyalurkan makna dari pengarang kepada peserta tentang peristiwa tertentu.”[19]

Narasi mengacu pada “ungkapan lisan atau tertulis dari peristiwa-peristiwa yang terhubung” yang dikuatkan oleh oleh “seni bercerita.” Narasi berkaitan dengan bagaimana sesuatu diceritakan hingga ia menjadi “melekat”. Sebuah narasi ideologis berkaitan dengan tujuan strategis yang menyeluruh “untuk memenangkan hati dan pikiran” dan memberikan makna yang jelas dari peristiwa yang membingungkan. Berdasarkan sifatnya, ia hampir tidak pernah seimbang, terdiri dari setengah kebenaran dan kebohongan, demi melayani tujuan untuk memobilisasi dukungan massa untuk suatu tujuan. Dalam sebuah konflik, narasi digunakan untuk memobilisasi dukungan demi sebuah tujuan dalam perang ide melawan musuh.[20]

Narasi sangat berhubungan dengan bagaimana kognisi manusia berfungsi. Terdapat banyak bukti yang menunjukkan bahwa cerita mampu mempengaruhi kemampuan kita untuk mengingat kembali peristiwa, memotivasi seseorang untuk melakukan sebuah tindakan, mengatur reaksi emosional kita akan sebuah peristiwa, menyusun kemampuan problem solving kita, dan bahkan mendasari identitas sejati kita.[21]

Melihat pentingnya story telling dalam pemikiran manusia, tidaklah mengejutkan jika narasi menempati posisi yang sangat krusial dalam peperangan dan hubungan internasional secara umum. Michael Vlahos mengatakan bahwa:”Dalam perang, narasi jauh lebih dari sekedar cerita. Narasi mungkin terdengar seperti kata sastra yang mewah, tetapi sebenarnya ia adalah dasar dari semua strategi, yang di atasnya seluruh kebijakan, retorika dan tindakan dibangun. Narasi perang perlu diidentifikasi dan diperiksa secara kritis dengan cara mereka sendiri, karena mereka dapat menerangi sifat dalam (inner nature) dari perang itu sendiri. Narasi perang menjalankan tiga fungsi penting.

Pertama, ia adalah kerangka kerja kebijakan. Kebijakan tidak bisa eksis tanpa landasan kebenaran yang saling terhubung satu sama lain yang dengan mudah diterima oleh masyarakat—karena mereka tampak jelas dan tak terbantahkan.

Kedua, narasi bekerja sebagai kerangka kerja justru karena ia hanya mewakili visi eksistensial tersebut. ‘Kebenaran’ yang ia tegaskan secara kultural tidak mungkin untuk dibongkar atau bahkan dikritik.

Ketiga, setelah menyajikan logika perang yang tak diperselisihkan lagi, narasi kemudian secara praktis berfungsi sebagai buku pegangan retorika tentang bagaimana perang itu harus diperdebatkan dan dijelaskan.”[22]

Pemerintah AS membangun narasi strategis untuk membantu mencapai tujuan yang diinginkan. Narasi tersebut strategis karena mereka “didesain atau dipelihara dengan niatan untuk menyusun respon pihak lain atas peristiwa yang sedang berkembang.[23] Richard Jackson berpendapat bahwa dalam kasus “perang melawan teror”, narasi AS adalah wacana yang sengaja dibangun yang memiliki efek akhir terjadinya normalisasi kebijakan kontra-terorisme, menguatkan elit politik, memarjinalisasi perbedaan pendapat publik dan menegakkan persatuan nasional.

Menurutnya, narasi yang dibangun Amerika dalam ‘perang melawan teror’ telah begitu sukses hingga tertanam pada lembaga-lembaga penegakan hukum, keamanan nasional, sistem hukum dan proses legislatif dan eksekutif.[24]

Diambil dari Lapsus Syamina Edisi XVII/ Januari-Februari 2015

Footnote:

[1] Anthony Kubiak, Spelling It Out: Narrative Typologies of Terror, Studies in the Novel, 3rd ser., 36 (Fall 2004): 300.

[2] The White House, The National Security Strategy of the United States of America, September 2002

[3] Sam Stein, From 9/11 to Osama bin Laden’s Death, Congress Spent $1.28 Trillion in War on Terror”, The Huffington Post, 5 Mei 2011

[4] Dina Al Raffie, Whose Hearts and Minds? Narratives and Counter-Narratives of Salafi Jihadism, Journal of Terrorism Research, Volume 3, Issue 2, 2012

[5] Beatrice de Graaf, Why Communication and Performance Are Key In Countering Terrorism, International Centre for Counter-Terrorism—the Hague, 2010

[6] Kumar Ramakrishna, Delegitimizing Global Jihadi Ideology inSoutheast Asia, Contemporary Southeast Asia27, no.3 (2005):345.

[7] Christian Leuprecht et al., Winning the Battle but Losing the War?: Narrative and Counter-Narratives Strategy, Perspectives on Terrorism 3, no. 2 (2009)

[8] Memo from Secretary of Defense Donald Rumsfeld’, 16 Oktober 2003

[9] Michael Jacobson, Learning Counter-Narrative Lessons from Cases of Terrorist Dropouts dalam Countering Violent Extremist Narratives, National Coordinator for Counterterrorism (NCTb), Juli 2010

[10] http://www.brookings.edu/research/opinions/2009/06/22-al-qaeda-boukhars

[11] http://www.huffingtonpost.com/lee-h-hamilton/to-win-the-war-on-terror-_b_6722214.html

[12] Alex P. Schmid, Al-Qaeda’s “Single Narrative” and Attempts to Develop Counter-Narratives: the State of Knowledge, The Hague: ICCT, Januari 2014, hal.5

[13] A. Ripley, Reverse Radicalism, TIME, 13 Maret 2008

[14] Lawrence Freedman, The Transformation of Strategic Affairs, Adelphi Paper 379, London: The International Institutefor Strategic Studies, 2006, hal 22.

[15] David Betz, The Virtual dimension of Contemporary Insurgency and Counterinsurgency, Small Wars & Insurgencies 19(4), 2008, hal 515.

[16] Steven R. Corman, Understanding the Role of Narrative in Extremist Strategic Communication, dalam Laurie Fenstermacher dan Todd Leventhal (Eds.), Countering Violent Extremism: Scientific Methods and Strategies (Washington, DC: NSI Inc., September 2011), hal. 36

[17] Mark Laity, Strategic Communications, dalam A. Aykut Ömcü, Troy Bucher and Osman Aytac, Strategic Communications for Combating Terrorism, 2010, hal. 14

[18] G. Dimitriu, Strategic Narratives, Counternarratives and Public Support for War: The Dutch government’s explanation of the Uruzgan mission and its influence on the Dutch Public, Leiden University: Master Thesis, Campus The Hague, 2 Februari 2013, hal. 13.

[19] Steve Tatham, Understanding Strategic communication: Toward a Definition, dalam A. Aykt Ömcü et al, Strategic Communications for Combating Terrorismm, 2010, hal. 27

[20] http://www.terrorismanalysts.com/pt/index.php/pot/article/view/262/html

[21] William D. Casebeer dan James A. Russell. “Storytelling and Terrorism: Towards a Comprehensive ‘Counter-Narrative Strategy.” Strategic Insights 4, no. 3 (2005)

[22] Michael Vlahos, The Long War: A Self-defeating Prophecy, Asia Times, 9 September 2006.

[23] Freedman, The Transformation, hal. 22.

[24] Richard Jackson. Writing the War on Terror: Language, Politics and Counter-Terrorism. Manchester: Manchester University Press, 200

http://www.kiblat.net/2015/03/04/perang-narasi-salah-satu-elemen-4gw-14-memahami-konsep-dan-definisi/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: