Perang Narasi, Sebuah Elemen 4GW (2/4): Narasi Para Jihadis

Ringkasan sebelumnya: Menurut Barat, kelompok-kelompok Jihadis mungkin telah melemah dengan terbunuhnya tokoh-tokoh berpengaruh. Tapi tidak, karena ideologi mereka senantiasa berkembang. Maka, Barat menyadari bahwa ini adalah sebuah kekuatan narasi yang ada dalam diri mereka. Sebagai penjelasan, narasi adalah usaha untuk menyampaikan sudut pandang atas satu peristiwa, sehingga publik terpengaruh untuk memandang peristiwa tersebut dari sudut pandang yang sama.

Narasi Jihadis

Bagi para Jihadis, narasi adalah senjata yang sangat penting dalam perang saat ini. Al Qaidah melakukan perlawanan yang didukung oleh sebuah narasi yang memberikan pengesahan kepada strategi mereka, menjustifikasi taktik, mempropagandakan ideologi, dan mendapatkan rekrutmen baru.

Dalam salah satu pernyataannya, salah seorang tokoh Al Qaidah, Anwar Al-Awlaki menyatakan bahwa, “Jihad di sini tidak sekadar memanggul senjata dan bertempur. Jihad lebih luas daripada itu. Apa yang dimaksud dengan jihad dalam konteks ini adalah usaha total dari Ummat untuk berjuang dan mengalahkan musuh mereka. Rasulullah SAW bersabda: ‘Perangilah orang-orang kafir dengan dirimu, hartamu, dan dengan lisanmu. Inilah yang dalam istilah Clausewitz sebagai ‘perang total’ namun dengan aturan perang Islam. Ini adalah pertempuran di medan perang dan perang untuk memenangkan hati dan pikiran.”[1]

Al Qaidah membangun narasi politiknya di atas tradisi Islam, mencocokkan dan mentransformasi elemen-elemen kunci dari Al-Qur’an dan Hadits, dari sejarah hidup Nabi Muhammad SAW dan dari sejarah awal Islam untuk tujuan ideologis mereka.[2] Melekatnya jihad dalam tradisi Islam memberi Al Qaidah tampilan yang unik dan justifikasi yang jelas. Ia juga memberikan semacam ketidakrapuhan, di mana setiap serangan padanya bisa digambarkan sebagai serangan pada Islam.[3]
Anwar Al-Awlaki, Salah satu narator Jihadis

Selain menggunakan simbolisme agama, instrumen lain yang digunakan oleh Al Qaidah dalam narasinya adalah seni retorika kuno, yaitu (a) Logos: menggunakan argumentasi rasional, (b) Ethos: menciptakan citra yang bisa dipercaya dan otentik, (c) Pathos: memanipulasi emosi dari khalayak yang disasar.[4] Retorika adalah salah satu instrumen dari soft power. Soft power bersandar pada kemampuan untuk menentukan agenda politik dalam sebuah cara yang mampu membentuk preferensi orang lain.”[5]

Kekuatan narasi Al Qaidah banyak berlandaskan pada keluhan dan persepsi yang banyak umat Islam mempercayainya—bahkan mungkin mayoritas di beberapa negara. Mereka sukses mengaplikasikan apa yang disebut oleh Harold Lasswell sebagai “manajemen perilaku kolektif melalui manipulasi simbol yang signifikan.”[6]

Aspek yang unik dari penyebaran ideologi Al Qaidah adalah kemampuan mereka untuk membangun master narasi yang bisa digunakan sebagai template bagi cabang mereka atau kelompok-kelompok lokal untuk membentuk pesan sesuai dengan kultur atau keluhan dari target audien.[7] Carlo Ciobacco menyimpulkan bahwa para pemimpin Al Qaidah sangat mahir dalam menyesuaikan narasi mereka dengan berbagai audien yang berbeda di seluruh dunia dalam rangka mengeksploitasi sensitivitas keluhan lokal. Mereka juga mampu untuk menggunakan komunikasi digital seperti internet, TV, telepon genggam untuk menyampaikan pesan-pesannya yang pada akhirnya semakin menguatkan narasi tersebut.[8]

Al Raffie mencatat bahwa Al Qaidah mendasarkan pesan-pesannya dari teks-teks Islami sebagai sumber legitimasi, sebelum mengidentifikasi pendukung kunci eksternal bagi narasi ideologis mereka. Di sinilah, dalam kesimpulan Al Raffie, kebijakan-kebijakan luar negeri AS menjadi santapan empuk kelompok Salafi Jihadi yang justru semakin mengekalkan kredibilitas klaim mereka.[9]

David Kilcullen juga menyimpulkan hal yang sama, menurutnya, “Al Qaidah sangat terampil mengeksploitasi berbagai aksi, baik oleh kelompok maupun oleh individu, dengan membingkainya dalam sebuah narasi propaganda untuk memanipulasi audien lokal dan global. Al Qaidah memiliki sebuah jaringan yang mengumpulkan informasi tentang perdebatan di Barat dan menyetorkannya kepada para pemimpin mereka beserta dengan assessment tentang efektvitas propaganda mereka. Mereka menggunakan operasi fisik (pemboman, kegiatan pemberontakan) sebagai bahan pendukung dari sebuah kampanye propaganda yang terpadu. Sisi informasi dalam operasi Al Qaidah adalah yang utama; operasi fisik hanyalah alat untuk mencapai sebuah hasil propaganda.”[10]

Hal ini, menurut Kilcullen, kontras ini dengan pendekatan Barat: “Kita biasanya merancang operasi fisik dulu, kemudian merangkai operasi informasi pendukung untuk menjelaskan tindakan kita… Dalam istilah militer, bagi Al Qaidah “upaya utama” adalah informasi; bagi kita, informasi adalah “upaya pendukung.”[11]

Pernyataan ini diamini oleh Scheuer. Menurutnya, Amerika tidak memiliki produk hati dan pikiran yang bisa dijual yang membuat kita mendapatkan perhatian di pusat publik Islam. Scheuer menambahkan bahwa Usamah bin Ladin telah dengan sukses membuat kebijakan luar negeri AS sebagai pusat dalam perang ide, di mana dukungan AS pada Israel, manipulasi mereka atas harga minyak, dukungan mereka pada Rusia dalam kasus Chechnya, serangan mereka ke negara Muslim di Afghanistan dan Irak membuat banyak muslim moderat—yang mereka sebenarnya tidak sepakat dengan tindakan para militan—membenci AS, sebagaimana polling yang dilakukan oleh Pew, Gallup, BBC, dan Zogby.[12]

Lalu, apa narasi para Jihadis tersebut? Para analis Barat, berdasarkan riset yang mereka lakukan menyimpulkan beberapa narasi yang digunakan oleh para Jihadis dalam upaya untuk melawan hegemoni AS dan sekutunya. Leuprecht et al mengidentifikasi empat elemen kunci dalam setiap narasi Jihadis, terutama yang digunakan oleh Al Qaidah:[13]

Islam diserang oleh pasukan Salib yang dipimpin oleh AS
Para Jihadis, yang oleh Barat disebut sebagai teroris, membela umat Islam dari serangan tersebut
Aksi yang mereka lakukan dalam rangka membela Islam dilakukan secara proporsional, adil, dan terlegitimasi oleh dalil agama
Tugas bagi Muslim yang baik adalah mendukung aksi tersebut

Pusat pesan utama yang dilakukan oleh para Jihadis adalah bahwa dunia Islam sedang diserang dan dikepung, umat Islam dibantai dan ditindas, dan satu-satunya respon yang tepat untuk mengatasinya adalah dengan jihad. Pesan ini diulang-ulang bertahun-tahun oleh para ulama Jihadis melalui berbagai majalah online yang dirilis oleh Jihadis maupun melalui pernyataan video. Repetisi yang mereka lakukan, melalui berbagai variasi sumber, sangat esensial dalam menguatkan pesan tersebut.

Retorika mereka pun bukan sekadar omong kosong, mereka menguatkannya dengan contoh faktual korban Muslim di Irak dan Afghanistan sebagai akibat dari tindakan rezim represif yang didukung oleh Barat, eksploitasi kekayaan dan sumber daya umat Islam, diskriminasi dan ketidakadilan terhadap Muslim minoritas, dan berbagai keluhan lain.

Narasi ini menyerukan dilakukannya jihad global. Potensi mereka berakar pada konsep fundamental dalam Perang Generasi Keempat (4GW), bahwa political will yang lebih superior, jika digunakan dengan tepat, akan mampu mengalahkan kekuatan ekonomi dan militer yang lebih besar.[14]Narasi ini sangat strategis karena:

1) ia tidak muncul secara spontan namun secara sengaja dibangun atau dikuatkan oleh ide dan pemikiran yang mampu mengungkapkan rasa kepemilikan dan identitas, serta mampu mengkomunikasi-kan sebab, tujuan dan misi; dan

2) ia bergantung pada daya tarik selektif berdasarkan bukti atau pengalaman, dan bahkan mampu mengandalkan daya tarik emosi dan analogi sejarah.[15]

Al Qaidah melihat misinya sebagai menjadi pelopor pemberontakan kaum tertindas. Al Qaidah tahu bahwa mereka tidak bisa mencapai tujuan tersebut sendiri, karenanya mereka perlu menginspirasi massa dengan pesan semangat yang dimaksudkan untuk menciptakan revolusi.

Mungkin narasi mereka dipandang terlalu melakukan simplifikasi hitam putih dari situasi sejarah masa lalu dan kontemporer yang kompleks, namun ia tidak bisa dipandang sebagai sesuatu yang tidak realistis, sebagaimana Teori Thomas yang menyatakan bahwa: “Jika seseorang mendefinisikan sesuatu sebagai hal yang riil, maka mereka menjadi nyata sebagai konsekuensinya”, yang juga selaras dengan variasi yang disampaikan oleh Paul Watzlawick bahwa: “Hal yang riil adalah apa yang diperlakukan sebagai riil.”[16]

Dalam pertempuran informasi dan pengaruh, Al Qaidah dan afiliasinya menggunakan berbagai peluang yang ditawarkan oleh internet—yang ironisnya pada awalnya dikembangkan oleh Pentagon—dengan membuat website Jihadis dan memanfaatkan media sosial dalam berbagai bahasa. Mereka dikelola secara profesional dan diupdate secara konsisten.[17]

Al Qaidah menggabungkan antara pena dan pedang, dakwah dan jihad.[18] Usamah bin Ladin pernah menulis kepada Mullah Umar: “Sangat jelas bahwa perang media pada abad ini adalah salah satu metode yang paling kuat; pada faktanya, rasionya mungkin mencapai 90% dari total persiapan dalam pertempuran.” [19] Dalam bahasa yang mirip, Aiman Azh-Zhawahiri pernah menulis surat kepada Abu Mus’ab Az-Zarqawi: “Saya katakan padamu bahwa kita sedang dalam sebuah pertempuran, dan bahwa lebih dari separuh dari pertempuran ini adalah pertempuran media. Dan kita berada dalam sebuah pertempuran media untuk memenangkan hati dan pikiran umat kita.”[20]

Hari ini, saat inti Al Qaidah di Waziristan terus digempur dengan serangan drone dan salah seorang pemimpin mereka, Usamah bin Ladin, terbunuh, narasi ideologi dan propaganda mereka masih terus hidup dan mempengaruhi persepsi dan perilaku ribuan pemuda Islam yang berderet dalam busur dari Filipina di Timur hingga Mali di Barat. Dalam sebuah rilisnya tentang Al Qaidah pada bulan September 2013, The Economist menyebut Al Qaidah sebagai “the unquenchable fire”, api yang tidak bisa dipadamkan. “Al Qaidah mungkin telah terpecah dan di beberapa tempat sudah habis. Mungkin mereka sudah dijauhi oleh kelompok lain yang memiliki ideologi yang mirip, dan mungkin beberapa afiliasinya mengabaikan para pemimpin yang sudah semakin menua. Namun, cara pandang salafi jihadi terhadap dunia yang dipromosikan dan diperjuangkan oleh Al Qaidah telah menjadi daya tarik yang belum pernah terjadi sebelumnya.[21]

Tema Utama dalam Narasi Para Jihadis

Dalam penelitiannya, Tom Quiggin menyimpulkan delapan tema utama yang sering muncul dalam literatur dan pernyataan Jihadis. Delapan tema tersebut adalah: jihad, bai’at, darul Islam, ummat, takfir, syahid, al-wala’ wa al-bara’, dan hijrah. Berikut adalah definisi dari tema-tema tersebut dalam perspektif Al Qaidah menurut kesimpulan Tom Quiggin.[22]

1. Jihad

Jihad adalah perang, menurut perspektif Al Qaidah. Ini adalah tindakan wajib bagi semua umat Islam. Kewajiban ini digambarkan sebagai “fardhu ‘ain”. Izin dari orang tua atau kerabat lainnya tidak diperlukan jika jihad sudah dalam tahap ini. Tujuan jihad adalah untuk mencapai dominasi Muslim melalui Darul Islam. ihad bersenjata adalah bentuk tertinggi dari jihad dan harus dilakukan terhadap semua musuh-musuh Islam. Ini termasuk orang-orang kafir, musyrik, serta orang-orang yang mendukung mereka.

2. Baiat

Baiat adalah janji ketaatan yang diberikan kepada amir atau pemimpin kelompok. Setelah baiat diberikan tidak boleh dilanggar. Siapapun yang melanggar baiat, maka ia berdosa.

3. Darul Islam/Khilafah Islamiyah

Konsep Darul Islam merupakan tema konstan dalam propaganda Al Qaidah. Mereka menyatakan bahwa dalam rangka menegakkan agama, pertama-tama perlu untuk mendirikan negara Islam, yang kemudian akan mengarah pada pembentukan kembali Khilafah Islamiyah. Wajib bagi semua Muslim untuk berkontribusi baik secara finansial maupun fisik untuk mencapai tujuan ini.

4. Ummat

Umat adalah komunitas kolektif semua Muslim. Siapapun yang mengikuti “jalan yang benar” adalah anggota umat yang terpilih. Jika negara-negara di mana mereka tinggal dipimpin oleh orang kafir, umat Islam tidak harus mengikuti hukum negara tersebut.
Tema Utama Narasi Jihadis

Tema Utama Narasi Jihadis

5. Takfir

Takfir adalah tindakan menuduh orang lain sebagai kafir. Hal ini dianggap sebagai tindakan yang sangat serius. Al Qaidah, bagaimanapun, telah secara rutin menggunakan istilah ini dalam upaya untuk mendiskreditkan atau meremehkan Muslim lainnya yang menentang mereka. Dengan demikian, sesama muslim kini berubah menjadi musuh.

6. Syahid

Al Qaidah menganjurkan menjadi syahid atau ‘martir’ dengan tindakan bom bunuh diri. Mereka percaya bahwa mereka akan dikaruniai surga atas tindakan ini.

7. Al-Wala’ wa Al-Bara’

Al Qaidah mendorong suasana “kita lawan mereka” melalui penggunaan istilah Al-Wala ‘Wal Bara. Konsep ini menjadi alat mereka untuk mengkategorikan teman dan musuh.

8. Hijrah.

Menurut pandangan Al Qaidah, hijrah berarti meninggalkan rumah, sifat, pekerjaan dan keluarga demi Allah. Mereka tidak perlu izin dari keluarga mereka untuk melakukan hal ini.

Selain delapan tema di atas, Halverson et al. menyusun tema lain yang menjadi master narasi bagi kalangan ekstrimis Islam, yaitu Fir’aun, Perang Salib, Jahiliyyah, Perang Badar, Munafik, Perang Khaibar, Penjajah kafir, Perbuatan setan, 1924, Nakba (hari diusirnya bangsa Palestina), dan 72 bidadari.[23]

Diambil dari Lapsus Syamina Edisi XVII/ Januari-Februari 2015

Footnote:

[1] Anwar al-Awlaki, A Question About the Method to Establishing Khilafah, kalamullah.com

[2] Zeyno Baran, Countering Ideological Support for Terrorism in Europe: Muslim Brotherhood and Hizb ut-Tahrir – Allies or Enemies?, Connections 5, No. 3 (Winter 2006), hal. 10.

[3] Sudhanshu Sarangi and David Canter, The Rhetorical Foundations of Militant Jihad, dalam David Canter (Ed.), The Faces of Terrorism: Multidisciplinary Perspectives (Chichester: Wiley-Blackwell 2009), hal. 35

[4] Bouchra Oualla, Strategies of Argumentation in the Propaganda of Jihad: The Analysis of a Jihadi YouTube Video, hal. 121-140, dalam Rüdiger Lohlker (Ed.), Jihadism: Online Discourses and Representation (Vienna: University Press, 2013), hal. 123-124.

[5] Joseph S. Nye Jr., The Paradox of American Power (Oxford: University Press, 2002), hal. 9

[6] Diana Rieger, Lena Frischlich and Gary Bente, Propaganda 2.0 Psychological Effects of Right-Wing and Islamic Extremist Internet Videos (Köln: Luchterland Verlag, 2013), hal. 6

[7] Open Source Center, Monitor 360, and Center for Strategic Counterterrorism Communications, Special Report: Al-Qaeda, September 2011, (http://info.publicintelligence.net/OSCAlQaedaMasterNarratives.pdf)

[8] Carl Ciovacco, The Contours of al-Qaeda’s Media Strategy, Studies in Conflict and Terrorism 32 (2009): 856-857.

[9] Dina Al Raffie, Whose Hearts and Minds? Narratives and Counter-Narratives of Salafi Jihadism

[10] David Kilcullen, New Paradigms for 21st Century Conflict, Smallwarsjournal.com, http://smallwarsjournal.com/blog/new-paradigms-for-21st-century-conflict

[11] ibid

[12] Michael Scheuer, Marching Toward Hell: America and Islam after Iraq (New York: Free Press, 2008), hal. 206-7

[13] Leuprecht, Christian et. Al, Narratives and Counter-Narratives for Global Jihad: Opinion versus Action, dalam “Countering Violent Extremist Narratives” National Coordinator for Counterterrorism (NCTb), Juli 2010

[14] Thomas X. Hammes. 2005. War evolves into the fourth generation, Contemporary Security Studies Vol. 26, No. 2, 2005, hal.189-221.

[15] Lawrence Freedman. The Transformation of Strategic Affairs, Adelphi Paper No. 379. London: International Institute for Strategic Studies. March 2006. h.22-23

[16] Alex P. Schmid, Al-Qaeda’s “Single Narrative” and Attempts to Develop Counter-Narratives, hal. 7

[17] Daniel Byman, The Five Front War: The Better Way to Fight Global Jihad. Hoboken (New Jersey: John Wiley and Sons, 2008), hal. 160-169;

[18] Alex P. Schmid, Al-Qaeda’s “Single Narrative”, hal. 8

[19] Document AFGP-2002-600321 in Harmony Database, US Department of Defense; Donald Holbrook, “Al Qaeda Communiqués by Bin Laden and Al-Zawahiri: A Chronology”, in Alex P. Schmid, The Routledge Handbook (2011), hal. 280.

[20] Ayman al Zawahiri, Letter from al-Zawahiri to al-Zarqawi, Federation of American Scientists (Globalsecurity.com, 2005), http://www.globalsecurity.org/security/library/report/2005/zawahiri-zarqawi-letter_9jul2005.htm.

[21] The Unquenchable Fire, The Economist (28 September 2013)

[22] http://www.terrorismanalysts.com/pt/index.php/pot/article/view/67/html

[23] Jeffry R. Halverson, H.L. Goodall Jr., and Steven R. Corman, Master Narratives of Islamist Extremism, New York: Palgrave Macmillan, 2011

http://www.kiblat.net/2015/03/05/perang-narasi-sebuah-elemen-4gw-24-narasi-para-jihadis/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: