Perang Narasi, Sebuah Elemen 4GW (3/4): Kontranarasi Barat atas Jihadis

Ringkasan sebelumnya: Beberapa hal yang sering dijadikan narasi jihadis yaitu; Islam diserang oleh Pasukan Salib pimpinan AS, jihadis disebut teroris padahal membela umat Islam, dan menggali dukungan umat Islam. Selain itu, yang menjadi tema narasi utama tentang jihad, baiat, khilafah, ummat, takfir, syahid, al-wala’ wa al-bara’, dan hijrah.

Kontranarasi Barat

Pada awalnya, pasca serangan 11 September 2001, pemerintah AS berusaha untuk mengembangkan narasi untuk melawan daya tarik Al Qaidah di dunia Islam. Pemerintah Bush pertama kali mencoba melakukannya dengan mempromosikan demokrasi di dunia Arab. Promosi ini dimaksudkan untuk melakukan kontra terhadap keluhan-keluhan yang diungkapkan dalam narasi-narasi Al Qaidah. Demokratisasi diharapkan akan memisahkan militan salafi Jihadis dari mayoritas muslim moderat.[1]

Namun, usaha ini mengalami kendala. Pertama, para pemimpin Arab enggan untuk mentransfer kekuasaannya pada rakyat. Kedua, pemilu demokratis justru berpotensi membawa gerakan politik militan—di mana para pemimpinnya bertentangan dengan kepentingan politik AS—menduduki bangku kekuasaan. Ketiga, AS menghadapi masalah mengenai konsistensi antara kata dan perbuatan. Intervensi yang mereka lakukan di Afghanistan dan Irak serta penjara di Guantanamo dan Abu Ghuraib menghasilkan pukulan balik yang semakin meningkatkan gap antara pesan-pesan komunikasi strategis AS dan persepsi yang dimiliki publik terhadap tindakan-tindakan AS.[2]

Untuk melawan klaim Al Qaidah bahwa Islam sedang diserang dan AS memusuhi umatIslam, pemerintah Bush mengangkat Charlotte Beer dari sebuah perusahaan public relations sebagai sebagai Wakil Menteri Luar Negeri urusan diplomasi publik dan hubungan masyarakat. Dalam pendekatannya untuk memenangkan hati dan pikiran umat Islam, ia meluncurkan serangkaian iklan dengan tema Shared Value Initiatives di beberapa negara Islam.

Usaha yang sama juga dilakukan oleh pemerintah Inggris. Mereka membuat unit khusus yang disebut dengan the Research, Information, and Communication Unit (RICU) untuk melakukan kontra terhadap narasi Al Qaidah. RICU bertujuan bukan untuk menolak adanya ‘keluhan’, namun mereka lebih menekankan pada usaha untuk merendahkan posisi Al Qaidah sebagai ‘juara’ umat Islam dan kekerasan ekstrimisme sebagai solusi.[3]

Di masa Obama, dalam ceramahnya di Universitas Al Azhar Mesir, ia juga berusaha untuk meyakinkan bahwa “AS tidak—dan tidak akan pernah—berperang melawan Islam.”[4] Namun, semua usaha tersebut dirasa masih belum mendapatkan hasil yang diharapkan. Pada tahun 2011, Hillary Clinton yang saat itu menjabat sebagai menteri luar negeri AS mengakui bahwa “kita saat ini berada dalam perang informasi, dan kita kalah.”[5]

Usaha AS, Inggris, dan sekutu mereka dalam mengembangkan kontranarasi terhadap ideologi Al Qaidah pun semakin ditingkatkan akhir-akhir ini. Bahkan, Pentagon mengalokasikan anggaran hingga 1 milyar dollar pada tahun 2012 untuk melakukan kampanye komunikasi strategis. Komunikasi strategis adalah rangkaian sistematis dari aktivitas yang berkelanjutan dan saling berkaitan, yang dilaksanakan pada level strategis, operasional, dan taktis, yang memungkinkan terjadinya pemahaman dari target audien, mengidentifikasi jalur yang efektif, dan mengembangkan serta mempromosikan ide dan opini melalui jalur tersebut untuk mempromosikan dan menyokong jenis perilaku tertentu.”[6]

Sampai sejauh ini, dalam kesimpulan Schmid, kampanye komunikasi strategis AS belum mampu meluruhkan daya tarik narasi Al Qaidah secara signifikan. Schmid memandang bahwa “ide yang mengatakan seseorang dapat membentuk dan memanipulasi opini publik hanya dengan pesan tanpa mengubah aspek yang tidak populer dari kebijakan luar negeri tidak dapat lagi dipertahankan di era media sosial yang interaktif saat ini.”[7] Gambar dan kisah mengenai perlakuan kejam AS di Guantanamo dan Abu Guhraib mampu mengalahkan narasi AS tentang superioritas moral mereka.

Schmid menyimpulkan bahwa “persoalan dasar yang terus dihadapi oleh AS, baik di masa Bush maupun Obama, adalah kredibilitas di mata audien.”[8] Kredibilitas, legitimasi, dan relevansi adalah bahan kunci dari sebuah narasi. Kredibilitas adalah hasil dari kesesuaian antara kata dan perbuatan. Ia muncul saat politisi dan tentara mengatakan apa yang mereka lakukan dan melakukan apa yang mereka katakan dan mereka dipandang sebagai orang yang jujur. Gap kredibilitas antara kebijakan yang dideklarasikan dan kebijakan aktual yang dilakukan bisa dikurangi—dan tidak bisa dihilangkan sama sekali—sepanjang ada tranparansi dan akuntabilitas. Hal ini berlaku bagi kedua belah pihak, baik AS dan sekutunya maupun Al Qaidah dan kelompok jihad lainnya.[9]

Rekomendasi Kontranarasi

Jacobson menilai bahwa melawan ideologi yang menyetir ekstrimisme telah menjadi elemen penting dalam usaha untuk mencegah dan mengalahkan kekerasan yang muncul darinya. Fokus pada sisi “yang lebih lunak” dari kontraterorisme juga telah menjadi pendekatan baru yang dilakukan oleh AS dan sekutunya. Salah satu fokus dari pertempuran baru ini adalah diakuinya nilai penting apa yang dinamakan “perang ide”. Untuk itu, Jacobson mengusulkan agar ide-ide Al Qaidah harusditantang dengan kontranarasi yang lebih kuat.[10]

Barat mencoba melakukan kontranarasi dengan membedakannya berdasarkan khalayak yang mereka targetkan (tailoring counter-narratives).

dalam Perspective on Terrorism mengusulkan agar kontranarasi dilakukan dengan membedakan antara simpatisan, suporter, aktivis. Selain itu, mereka juga mengusulkan agar kontranarasi dilakukan dengan membedakan antara aksi politik yang legal, ilegal, dan aksi politik yang dilakukan dalam bentuk kekerasan. Menurut mereka, tidak ada kontranarasi tunggal yang mampu menetralisir narasi para Jihadis. Leuprech mengusulkan empat kontranarasi minimal yang diperlukan:[11]

Satu narasi harus mampu memberikan kontra terhadap persepsi bahwa Barat melakukan perang melawan Islam. Persepsi ini diterima oleh sebagian besar umat Islam. Selama pasukan Barat terus berada di negara-negara Muslim, terutama Irak dan Afghanistan, kontranarasi ini nampaknya akan sulit untuk diformulasikan.
Narasi kedua harus mampu memberikan kontra terhadap persepsi bahwa pejuang Muslim membela Islam. Berdasarkan polling di negara-negara Muslim, banyak yang mengagumi Usamah bin Ladin, namun sebagian besar responden tidak menganggap terorisme sebagai sarana yang legitimate.
Narasi ketiga harus mampu memberikan kontra terhadap persepsi bahwa aksi yang dilakukan pejuang Muslim, terutama serangan pada warga sipil Barat dan dampak yang mengenai sipil Muslim, adalah tindakan perang yang sah. Beberapa polling mengindikasikan bahwa hanya sedikit Muslim yang percaya akan persepsi ini, meski jumlah tersebut bisa dikatakan cukup besar untuk berpotensi menjadi ekstrimis. Leuprech mengusulkan agar dilakukan penelitian untuk mengidentifikasi karakteristik dari kelompok yang berjumlah kecil tapi sangat penting ini.
Narasi keempat harus mampu memberikan kontra terhadap persepsi bahwa Muslim yang baik mempunyai tugas untuk mendukung teroris. Sampai saat ini belum ada polling yang menaksir sebanyak apa atau Muslim semacam apa yang setuju dengan pandangan ini. Leuprech menjelaskan bahwa melakukan penargetan terhadap minoritas kecil ini melalui intervensi media massa akan cukup sulit dilakukan.

Konsep ini secara lebih detail dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

A. Merusak citra para Jihadis sebagai pembela umat Islam

Kelompok jihad selama ini mendefinisikan diri sebagai ath-thaliah al-muqatilah (pasukan petempur) yang membela Islam dan umat Islam. Untuk melawan narasi ini, Heffelfinger mengusulkan agar persepsi ini diruntuhkan secara menyeluruh sebagai bagian dari kontranarasi yang efektif. Hal ini dilakukan dengan berusaha menyorot bahwa Al Qaidah dan kelompok Jihadis bukan lah pembela umat Islam dan mereka bertentangan dengan syariat Islam dalam praktik dan keyakinannya.[12]

Kontranarasi Barat berusaha mendemonstrasikan bahwa warga sipil dan Muslim mengalami penderitaan atas ulah para teroris. Hal ini dilakukan dengan cara menunjukkan korban dari umat Islam dan berfokus pada kemunafikan ideologi mereka. Selain diarahkan kepada masyarakat luas, kontranarasi ini juga diharapkan mampu menyasar anggota kelompok perlawanan yang memiliki keraguan terhadap kebijakan organisasi mereka. Mereka memandang bahwa taktik ini sangat potensial. Selain menyasar umat Islam secara umum, kekecewaan dengan strategi kelompok, dalam sejarahnya, mampu menjadi alasan utama seseorang meninggalkan kelompok tersebut.

Meruntuhkan citra Jihadis sebagai pembela umat Islam diharapkan akan mampumeruntuhkan legitimasi mereka, karena mereka pada umumnya menyerukan kepada umat Islam untuk mendukung operasi mereka.[13] Persepsi bahwa Jihadis adalah pembela umat Islam bersandar pada opini publik Islam secara umum. Karenanya, AS berusaha menunjukkan bahwa, sebagaimana yang dijelaskan oleh Direktur Kontra Terorisme Nasional AS Michael Leiter, “Al Qaidah, bukan AS, yang berperang melawan Islam.”[14]

B. Mendiskreditkan filosofi keagamaan Jihadis

Pendekatan pertama dilakukan tidak hanya dengan menyanggah ajaran agama yang dipahami Al Qaidah, tetapi juga menawarkan interpretasi alternatif dari teks dan pidato kunci yang dibawakan oleh mereka. Menurut Tom Quiggin, ada delapan tema yang muncul secara teratur dalam “wacana Jihadis,” masing-masing memiliki dua interpretasi utama: interpretasi Al Qaidah dan interpretasi mainstream yang lebih klasik. Dengan mendiskreditkan keyakinan agama Al Qaidah dan sekaligus menekankan pemahaman yang lebih utama dari teks dan doktrin-doktrin Islam, Barat berusaha melemahkan komponen inspirasional dari narasi Al Qaidah dan sumber utama radikalisasi.

Secara lebih detail, usulan kontranarasi disampaikan oleh Tom Quiggin. Ia mencoba menghadirkan definisi alternatif dari beberapa tema utama yang selama ini menjadi tema khas para Jihadis berdasarkan apa yang ia sebut sebagai pandangan ulama mainstream.[15]

Jihad. Konsep jihad mengacu pada ‘berjuang untuk kebaikan’. Ada beberapa tujuan jihad. Diantaranya adalah jihad untuk kebaikan, pembangunan manusia, kesejahteraan, pendidikan, keluarga, persahabatan dan pembangunan bangsa. Ada juga jihad melawan kondisi manusia, termasuk jihad melawan kejahatan dalam diri, seperti kemalasan, kebodohan, kebencian dan kesombongan.

Baiat. Status diperbolehkannya baiat harus dipastikan oleh mayoritas para pemimpin masyarakat, yaitu para ulama, umara (penguasa) dan orang-orang yang dihormati lainnya. Ia tidak bisa diputuskan oleh satu pemimpin saja. Amir Al Qaidah tidak mewakili mayoritas masyarakat Muslim atau pemimpinnya. Oleh karena itu, ia tidak memiliki kewenangan untuk mengambil baiat dari siapa pun. Penafsiran baiat Al Qaidah tidak valid dan tidak membawa beban agama apapun.

Darul Islam. Ulama Islam percaya bahwa istilah Darul Islam adalah istilah relatif. Tidak memiliki makna yang tepat atau pasti. Tidak ada perintah yang jelas terhadap Darul Islam. Oleh karena itu, pembenaran untukmelakukan pembunuhan atau menumpahkan darah untuk mencapai hal yang samar-samar ini sangat berbahaya.

Ummat. Tidak boleh ada yang mengklaim bahwa komunitas mereka adalah satu-satunya komunitas yang benar. Tidak ada otoritas tunggal dalam Islam yang dapat membuat pernyataan seperti itu. Islam mendorong persaudaraan di antara semua umat Islam. Dalam Islam ada Piagam Madinah, yang menunjukkan bahwa harus ada perdamaian di antara umat Islam, Yahudi dan Kristen. Islam juga menganjurkan bahwa seorang Muslim yang baik harus menjadi warga negara yang baik juga.

Takfir. Muslim dilarang untuk menyatakan orang lain sebagai kafir. Jika seorang Muslim melakukan hal ini, maka ia telah melemparkan kekafiran kepada dirinya sendiri.

Syahid atau istisyhad. Bunuh diri adalah tindakan yang sangat dilarang dalam Al-Qur’an dan hadist. Allah telah memberikan Anda tubuh. Hanya Allah yang dapat memutuskan kapan tubuh tersebut akan diambil kembali. Tidak ada pengecualian untuk aturan ini. Kehidupan, baik itu manusia atau makhluk lain, adalah suci, dan harus dihormati. Siapa pun yang melakukan bunuh diri akan dianggap kekal di neraka. Pelaku bom bunuh diri akan menghabiskan waktunya di neraka dalamkeadaan tangan, kaki dan kepalanya terlepas.

Al-Wala’ wa Al-Bara’. Tidak ada mentalitas “kita melawan mereka” baik dalam Islam maupun umat manusia. Semua manusia adalah makhluk Allah dan karena itu kita harus menunjukkan rasa hormat satu sama lain. Islam harus dilihat sebagai rahmat bagi semesta alam.

Hijrah. Konsep hijrah berkaitan dengan semangat untuk terus menerus maju dan berubah dalam hidup. Dalam Islam klasik, orang-orang yang akan berhijrah juga harus mempertimbangkan keluarga mereka. Orang tua dan anak-anak harus diperhatikan sebelum hijrah. Hijrah fisik hanya bisa dipertimbangkan dalam situasi yang mengerikan ketika seseorang khawatir akan kebebasan beragamanya, hak-hak pribadi, martabat dan kesejahteraannya. Muslim harus dapat berhasil di tanah kelahiran mereka sebagai tanda syukur kepada Allah. Bahkan wajib bagi seorang Muslim untuk tetap tinggal di negaranya jika ia bisa membantu meningkatkan kemajuan komunitas Muslim di negara tersebut.

Dalam usaha ini, kredibilitas pembawa pesan adalah komponen yang paling krusiil. Pesan-pesan yang dipandang disponsori oleh negara seringkali tidak dipercaya. Untuk itu, La Marca memandang bahwa mantan teroris danjuga ulama lokal memegang peran kunci dalam penyampaian pesan ini.[16] Dalam pendapat Betz, “ini adalah perdebatan internal umat Islam dan bukan ranah kita sebagai pihak luar untuk bisa berkontribusi dalam sebuah cara yang rumit dan meyakinkan.”[17]

C. Merendahkan kredibilitas para pembawa pesan

Kekuatan narasi sangat bergantung pada kredibilitas pihak yang mempropagandakan-nya. Dengan meruntuhkan kharisma dan legitimasi yang dimiliki Jihadis, Barat berharap mampu untuk mengurangi daya tarik mereka.

Strategi ini bisa dilakukan dengan cara:

Membuat kontranarasi yang menekankan pada kemunafikan Jihadis.

Hal ini dilakukan tidak hanya dengan menunjukkan bahwa metode yang mereka adopsi tidak konsisten dengan keyakinan mereka sendiri, namun juga dengan menyorot kerusakan yang mereka lakukan atas nama Islam. Pendekatan semacam ini juga mempunyai pondasi sosial-psikologis. Dalam sebuah proses yang dikenal dengan polarisasi kelompok, “kelompok yang terdiri dari individu-individu yang berpikiran sama cenderung menjadi lebih ekstrim dalam preferensi bersama (shared preferences).[18]

Akibatnya, dinamika kelompok cenderunglebih memilih argumen dan individu yang lebih ekstrim. Fenomena ini bisa mengarah pada kompetisi dalam kelompok diantara beberapa faksi yang berbeda dan akhirnya membawa pada perpecahan. Sebagaimana yang disimpulkan oleh Jacobson, “kekecewaan dalam sejarahnya telah menjadi alasan utama yang menyebabkan militan meninggalkan kelompok mereka. Beberapa di antara mereka merasa bahwa beberapa anggota kelompok mereka atau pemimpin mereka telah melangkah terlalu jauh.”[19]

Cara lain yang dilakukan adalah dengan menguatkan suara korban terorisme, yang “suaranya biasanya sunyi dan diabaikan tapi memiliki cerita yang kuat dan meyakinkan untuk mengisahkan tentang kegagalan terorisme.” Orang-orang semacam ini juga bisa dimanfaatkan untuk membantah ungkapan Jihadis bahwa mereka sedang berperang dengan menunjukkan kehidupan biasa dari orang-orang yang mereka bunuh.”[20]

Meluruhkan brand Al Qaidah.

berpendapat bahwa Al Qaidah mampu membangun image yang sangat kuat sebagai organisasi teroris paling ditakuti di dunia, yang mampu memberikan daya tarik pada para pemuda. Hari ini, image Al Qaidah sebagai kelompok dengan skill tinggi, mematikan, dan dikelola dan dilatih secarasistematis terus berlangsung.[21] Bartlett et al. mengungkapkan bahwa “ide tentang Al Qaidah sama pentingnya dengan ide yang mereka propagandakan.”[22]

Karena itu, meluruhkan brand Al Qaidah dijadikan komponen kunci dalam kontranarasi AS. Byman dan Fair berpendapat bahwa, “mungkin beberapa teroris memiliki skill tinggi… namun yang sebenarnya terjadi adalah banyak pasukan lapangan yang bodoh dan tidak terlatih, bahkan mungkin tidak bisa dilatih… Dengan terus menerus mempublikasikan hal ini, AS berharap mampu untuk mengikis image kuat tentang kekuatan dan ketaatan teroris yang selama ini jadi andalan bagi mereka untuk melakukan rekrutmen dan pendanaan.”[23]

Merendahkan brand Al Qaidah dan para Jihadis juga dilakukan melalui humor, ledekan, dan satire. Kristin Fleischer memandang bahwa humor, ledekan, dan satire adalah “alat strategi komunikasi yang legitimate yang memiliki sejarah panjang dalam peperangan, baik secara ofensif maupun defensif.”[24]

Dalam ungkapan Waller, “Humor, ledekan, dan satire berpotensi mampu memecah belah, merusak moral, dan membuat satu organisasi kurang menarik bagi para pendukung dan calon rekrutan… Diledek berarti kehilangan respek. Berartijuga kehilangan pengaruh. Berarti juga kehilangan pengikut dan larinya para calon pendukung… karenanya mereka bisa menjadi senjata psikologis yang sangat kuat.”[25]

Menyorot kesulitan hidup, ketidakstablan finansial, dan hidup yang penuh dengan ketakutan yang dialami oleh para teroris.[26]

Realita hidup yang penuh kesulitan ini, menurut Jacobson, adalah faktor kunci untuk membuat seseorang keluar dari organisasi semacam Al Qaidah. John Horgan, ahli psikologi yang telah mewawancarai berbagai teroris dari 13 organisasi, menyatakan bahwa faktor umum yang menyebabkan keluarnya teroris dari kelompoknya adalah kekecewaan yang meluas.[27]

Menggambarkan para Jihadis sebagai kriminal yang gagal untuk hidup sesuai dengan prinsip-prisip Islam.

D. Menghalangi sampainya pesan-pesan

Jihadis hingga ke audien Ideologi merupakan senjata paling kuat yang dimiliki oleh para Jihadis.[28] Pusat pengembangan dari sebuah gerakan adalahpembangunan bingkai ideologi (ideological framework). Ideologi menawarkan sekumpulan ide yang menjadi dasar bagi tindakan-tindakan politis, baik yang dimaksudkan untuk memelihara, memodifikasi, atau menggulingkan sistem kekuasaan yang ada saat ini.[29] Ideologi juga berfungsi untuk menyelaraskan aktivitas saat terjadi kekosongan kepemimpinan atau struktur komando.[30]

Promosi ideologi ini merupakan faktor sentral dalam upaya radikalisasi.[31] Ideologi juga bergantung pada ideolog yang mempromosikan ideologi tersebut. Karenanya, menantang ideologi dan mengganggu kemampuan Jihadis untuk mempromosikannya merupakan bagian fundamental dari usaha untuk mencegah tersebarnya ide-ide mereka.[32]

Usaha ini dilakukan, menurut usulan Ciovacco, antara lain dengan membunuh, menangkap, atau mencemarkan nama baik tokoh-tokoh simbol Jihadis, mengisolasi mereka, dan mencegah suara mereka dari masyarakat.[33]

Dengan hilangnya anggota senior dan para pemikir Al Qaidah, akan membuat anggota gerakan tersebut kehilangan sebuahotoritas yang bisa mereka percaya, yang mengarahkan dan memandu mereka, meluruskan kesalahpahaman, dan mengatur barisan dengan ilmu, pemahaman, dan kebijaksanaan. Kondisi ini akan mengakibatkan terjadinya “intervensi dari orang-orang yang belum terlalu matang di jalan jihad untuk menyebarkan ide dan opini semau mereka dan menyebabkan kekacauan dan kegelapan dari sebuah visi yang benar yang harus dimiliki oleh setiap mujahid.”[34]

E. Mengeksploitasi titik lemah ideologis

Isu takfir masih terus menjadi perdebatan, baik di kalangan Jihadis maupun non-Jihadis. Meski Al Qaidah sadar atas titik lemah ini—yang ditunjukkan oleh surat Azh-Zhawahiri kepada Abu Mus’ab Az-Zarqawi—gerakan jihad masih sangat rentan diserang dengan isu takfir.[35] Kesalahpahaman dan kesalahan dalam penerapan prinsip takfir, menurut Heffelfinger, merupakan hal yang paling merusak bagi gerakan jihad. Untuk itu, Heffelfinger mengusulkan agar kesan ini terus diulang-ulang melalui berbagai suara dan berbagai sarana agar semakin kuat dan semakin menjauhkan mereka dari umat Islam secara umum.[36]

F. Mendorong perpecahan dan perselisihan narasi

Mengingat pentingnya kesatuan pikiran dan doktrin yang ditekankan oleh para pemimpin Salafi Jihadi sejak lahirnya gerakan tersebut, mendorong dan mengembangkan ketidaksepakatan dan perselisihan yang terjadi di antara mereka menjadi alat yang efektif dalam melawan mereka. Perselisihan tersebut, terutama dalam hal legitimasi takfir dan penggunaan kekerasan, akan memaksa para pemimpin jihad untuk terjebak dalam debat dan perbantahan tanpa akhir yang menguras waktu.[37]

Dalam pandangan Leuprech, persoalan utama dalam melawan narasi para Jihadis adalah dengan mengembangkan multi kontranarasi yang disesuaikan dengan masing-masing target yang spesifik. Pendapat ini dikuatkan oleh observasi Jenderal Sir Rupert Smith yang menyatakan bahwa “kita saat ini hidup di sebuah dunia konfrontasi dan konflik, bukan dunia perang dan perdamaian.”[38]

Meski demikian, Leuprech memandang bahwa Barat selama ini menargetkan orang yang salah dan untuk alasan yang salah. Ide radikal bukanlah masalah utama. Demokrasi sendiri banyak mengalami kemajuan terbesar melalui usaha para radikal yang mempropagandakan ide radikal. Pemerintah yang mengaku demokratis seharusnya tidak punya urusan terhadap apa yang diyakini ataudipikirkan oleh orang lain. Pemikiran dan keyakinan seharusnya hanya menjadi perhatian jika mereka berhubungan dengan tindakan yang ilegal.

Karenanya, sangatlah penting untuk membedakan antar tindakan legal dan ilegal, yang mana persoalan terakhir lah yang seharusnya menjadi perhatian utama pasukan keamanan dan intelijen. Dari argumen tersebut, Leuprach mengusulkan bahwa tugas kontranarasi seharusnya adalah dengan mengkounter narasi-narasi yang memiliki hubungan paling jelas dengan kekerasan.[39]

Diambil dari Lapsus Syamina Edisi XVII/ Januari-Februari 2015

Footnote:

[1] Joshua Alexander Geltzer, US Counter-Terrorism Strategy and al Qaeda: Signalling and the terrorist world-view, London: Routledge, 2010, hal. 31.

[2] Alex P. Schmid, Al-Qaeda’s “Single Narrative” and Attempts to Develop Counter-Narratives, hal. 9

[3] Alan Travis,”Battle against al Qaeda Brand Highlighted in Secret Paper, The Guardian, 26 Agustus 2008

[4] http://www.nytimes.com/2009/06/04/us/politics/04obama.text.html?pagewanted=all.

[5] Michael Pizutto, Alter-Messaging: The Credible, Sustainable Counterterrorism Strategy, (Goshen, Indiana: Center on Global Counterterrorism Cooperation, Mei 2013)

[6] Steve Tatham, Understanding Strategic Communication, 2010, hal. 19.

[7] Alex P. Schmid, Al-Qaeda’s “Single Narrative” and Attempts to Develop Counter-Narratives, hal. 14

[8] ibid

[9] ibid

[10] http://www.terrorismanalysts.com/pt/index.php/pot/article/view/66/html

[11] http://www.terrorismanalysts.com/pt/index.php/pot/article/view/68/html

[12] Chris Heffelfinger, Waiting out the Islamist Winter: Creating an Effective Counter Narrative to Jihad, hal. 5

[13] Chris Heffelfinger, Waiting out the Islamist Winter, hal. 8

[14] Michael Leiter, ceramah di the Washington Institute for Near East Policy, February 13, 2008.

[15] http://www.terrorismanalysts.com/pt/index.php/pot/article/view/67/html

[16] Mike La Marca, Defeating al-Qaeda in the “Battle of Ideas”: The Case for a U.S. Counter-Narrative, MA Thesis, , Duke University, 2012, hal. 50

[17] Betz, “Virtual,” hal. 511.

[18] Leuprecht, “Winning the Battle,” 31

[19] Michael Jacobson, “Learning Counter-Narrative Lessons from Cases of terrorist Dropouts,” hal. 13

[20] Radicalization: The Role of the Internet, Institute for Strategic Dialogue (2011), hal. 10

[21] Byman, Daniel dan Christine Fair, The Case For Calling Them Nitwits, The Atlantic, Juli/Agustus 2010

[22] The Edge of Violence: A Radical Approach to Extremism, DEMOS(2010), hal. 39

[23] Ibid

[24] Kristin Fleischer, Ridicule as Strategic Communication, COMOPS Journal, (2010),

[25] J. Michael Waller, Fighting the War of Ideas Like a Real War, (Washington, D.C.: The Institute of World Politics Press, 2007), hal. 109

[26] Michael Jacobson, “Learning Counter-Narrative Lessons from Cases of terrorist Dropouts,” National Coordinator for Counterterrorism, Januari 2010.

[27] Amada Ripley, Reverse Radicalism, TIME, 13 Maret 2008

[28] Michael Pizzuto, Alter-Messaging: The Credible, Sustainable Counterterrorism Strategy, Center on Global Counterterrorism Operation, Mei 2013, hal. 2

[29] Andrew Heywood, Political Ideologies: An Introduction. 3th Ed.: Palgrave Macmillan, hal. 10

[30] The Change Institute, Studies into violent radicalisation: The beliefs, ideologies and narratives. A study carried out by the Change Institute for the European Commission – Directorate General Justice, Freedom and Security, London: The Change Institute, 2008

[31] Alex Schmid, The Importance of Countering Al Qa’ida’s Single Narrative. Countering Violent Extremist Narratives, The Hague: NCTb, 2010

[32] UK Home Department, Prevent Strategy, dipresentasikan di Parlemen Inggris oleh Menteri Dalam Negeri, Juni 2011, hal.43

[33] http://www.the-american-interest.com/2011/07/01/ending-al-qaeda/

[34] Jarret Brachman, Abu Yahya’s Six Easy Steps for Defeating al-Qaeda, Perspective on Terrorism, vol.1, no.5, 2007

[35] Letter from al-Zawahiri to al-Zarqawi, http://www.globalsecurity.org/security/library/report/2005/zawahiri-zarqawi-letter_9jul2005.htm

[36] Chris Heffelfinger, Waiting out the Islamist Winter, hal. 13

[37] Chris Heffelfinger, Waiting out the Islamist Winter, hal. 12

[38]. Rupert Smith. The Utility of Force: The Art of War in the Modern World. London: Allen Lane, 2005, hal. 16-18, 371-372.

[39] http://www.terrorismanalysts.com/pt/index.php/pot/article/view/68/html

http://www.kiblat.net/2015/03/06/perang-narasi-sebuah-elemen-4gw-34-kontranarasi-barat-atas-jihadis/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: