Bahaya Sukuisme

Oleh : Hepi Andi Bastoni

Purnama Jumadil Akhir 13 H menggantung di antara gemintang. Lembah Yarmuk diselimuti dingin mencucuk tulang. Dalam sebuah tenda di antara ratusan tenda yang ada, dua panglima besar Islam, Khalid bin Walid dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah sedang ditemani utusan Khalifah Umar bin Khaththab dari Madinah. Mereka duduk saling berhadapan. Di luar sana, terdapat sekitar 39.000 prajurit. Sebagian berjaga dan yang lainnya beristirahat di tenda masing-masing.

Tak seorang pun di antara mereka yang tahu bahwa utusan dari Madinah itu membawa beberapa berita penting. Pertama, Khalifah Abu Bakar ash-Shidiq wafat. Kedua, kaum Muslimin sepakat mengangkat Umar bin Khaththab sebagai penerusnya. Ketiga, Panglima Besar Khalid bin Walid diberhentikan dari al-qiyadah al-‘aamah (pimpinan umum) pasukan. Khalifah Umar menetapkan Abu Ubaidah bin al-Jarrah sebagai penggantinya.

Untuk menghindari kemungkinan terjadinya kesalahpahaman di antara para prajurit, berita itu dirahasiakan. Untuk sementara, pasukan Islam tetap berada di bawah kendali Khalid bin Walid hingga akhir pertempuran. Sebagian riwayat menyebutkan, utusan dari Madinah itu hanya menemui Abu Ubaidah bin al-Jarrah. Hingga akhir peperangan berita itu tidak ada yang tahu kecuali Abu Ubaidah, termasuk Khalid bin Walid.

Keesokan harinya perang Yarmuk berkecamuk. Pasukan Romawi yang dipimpin oleh Panglima Theodore berkekuatan 240.000 personil, jauh lebih banyak dibandingkan tentara Islam yang hanya berjumlah 39.000 orang. Karena jumlahnya jauh lebih besar, pasukan Romawi menjadikan inti kekuatannya di barisan infanteri terdepan. Dengan demikian, mereka berharap serangan yang dilancarkan mampu seketika meluluhlantakkan kaum Muslimin yang jumlahnya jauh lebih kecil.

Berbeda dengan strategi musuh, Khalid bin Walid membagi pasukannya menjadi empat bagian. Dua bagian pasukan terdepan bertugas mengacaukan pertahanan musuh. Sedangkan dua bagian lainnya yang ditempatkan di belakang adalah pasukan inti yang akan susul-menyusul menyerbu lawan. Pasukan inti ini, selain memiliki tenaga tempur yang masih segar, mereka juga menunggangi kuda yang mampu bergerak cepat dan lincah. Untuk menghindari kemungkinan munculnya serangan dari arah yang tak terduga, kaum Muslimin menempatkan pasukan pertahanan di belakang. Pasukan ini berada tak jauh dari barisan wanita yang bertugas memberikan semangat kepada pasukan dan mengobati mereka yang terluka.

Dengan strategi jitu tersebut, atas izin Allah, perang Yarmuk berakhir dengan kemenangan di tangan kaum Muslimin. Di detik-detik akhir jabatannya, Khalid bin Walid kembali menorehkan tinta emas dalam sejarah Islam.

Umat Islam seharusnya mengambil ibrah dari prestasi gemilang Khalid bin Walid. Hampir seumur hidupnya, ia tak pernah kalah. Sebagai Muslim sejati yang semata-mata mengharapkan ridha Allah, Khalid tak menghiraukan pemecatan itu. Karenanya, meski tak menjadi pimpinan umum, baik dalam perang Yarmuk maupun dalam pertempuran membebaskan wilayah Syiria dan Palestina, ia tetap berada di barisan terdepan. Semangatnya tak pernah luntur. “Saya berjihad bukan karena Umar, tapi karena Tuhannya Umar (Allah),” ujarnya mantap.

Pada masa Rasulullah saw, sosok seperti Khalid ini tidak sedikit. Sahabat semisal Khalid bin Walid, Umar bin Khaththab atau Saad bin Abi Waqqash hanya segelintir contoh figur orang-orang yang mau bekerja untuk dan demi Allah.

Hal menarik dari sosok-sosok luar biasa di atas adalah mereka hidup di masa Rasulullah saw. Beliau adalah sosok sentral yang menjadi teladan dalam segala sikapnya. Ia benar-benar al-Matsal al-A’la (teladan ideal) yang sempurna dengan segala kelebihannya.

Namun demikian, segala kelebihannya itu tak menutupi lahirnya sosok-sosok luar biasa lainnya. Ia memang tokoh sentral, tapi tetap menyisakan ruang bagi para sahabatnya untuk muncul. Buktinya, puluhan bahkan ratusan orang hebat lahir di masanya, dengan nama yang tak kalah harum. Mereka tetap bisa muncul di tengah besarnya sosok Rasulullah saw.

Sungguh berbeda dengan fenomena yang kita lihat kini. Umumnya, sebuah jamaah, kelompok atau partai sangat tergantung pada tokohnya, yang kemudian menekan lahirnya sosok baru. Tak ada regenerasi. Akibatnya, perkembangan kelompok itu pun akan terhambat, bahkan terancam bubar.

Fanatisme kelompok terhadap tokohnya, tak hanya akan menyumbat kelahiran tokoh baru, tapi juga bisa berakibat fatal: munculnya pengultusan. Dalam ajaran Islam, kultus individu sangat berbahaya. Bahkan, bisa menjurus pada dosa paling besar: syirik. Inilah yang menyebabkan Umar bin Khaththab memberhentikan Khalid bin Walid dari pimpinan umum tentara Islam menjelang perang Yarmuk.

Ketika menerima penyerahan kota Yerusalim dari Uskup Agung Sophornius, Umar mengklarifikasi tindakannya. Kepada Khalid, Ia berkata “Saya memecat Anda bukan karena sangsi dengan kemampuan Anda, tetapi khawatir orang terpesona sehingga mengultuskan Anda.”

Kalau karena pertimbangan sukuisme, Umar tidak akan memecat Khalid. Sebab, ayah Khalid bin Walid dan ibu Umar bin Khaththab berasal dari suku yang sama: Bani Makhzum.

Karenanya, dalam jenjang apa pun, tak boleh ada fanatisme buta, kultus individu dan figuritas kepemimpinan. Pertimbangan seseorang memilih pemimpin tidak berlandaskan kultus individu dan persamaan daerah asal. Jangan sampai kita seperti pengikut Musailamah al-Kadzdzab yang mengatakan, “Kami tahu Musailamah itu al-Kadzdzab (pembohong) dan Muhammad itu al-Amin (terpercaya). Tapi karena Musailamah dari Bani Hanifah dan Muhammad dari suku Quraisy, kami akan membela Musailamah.”

Pertimbangan kita memilih pemimpin karena keberpihakan dirinya dan pendukungnya pada Islam, bukan lantaran mengultuskannya karena berasal dari suku yang sama. Jangan karena berasal dari suku yang sama, pemimpin itu dipilih padahal sudah jelas permusuhan pendukungnya terhadap Islam.

(Dimuat di Majalah Sabiliku Bangkit Edisi 2/TH 01/Ramadhan 1435 H/Juli 2014 M )

http://sabiliku.com/bahaya-sukuisme-2/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: