Jalin Hubungan Ulama dan Umara

Oleh: Hepi Andi Bastoni

Suatu hari Abdul Malik bin Marwan, khalifah Kelima Daulah Umayyah mengutus asy-Sya’bi, seorang tabiin di masanya, menemui Raja Romawi. Setelah tiba, asy-Sya’bi segera menemui sang raja dan mendengarkan serta memperhatikan yang disampaikannya. Asy-Sya’bi pun menyam¬paikan pesan sang Khalifah kepadanya de¬ngan kemampuan diplomasi yang tinggi.

Raja Romawi begitu kagum dengan ketajaman berpikir asy-Sya’bi. Ia he¬ran akan keluasan pandangan dan kemampuannya menjelas¬kan. Atas kelebihannya itu, Raja Romawi meminta agar me¬netap beberapa hari di istananya. Ia ingin melihat lebih jauh sosok sang ulama itu.

Namun asy-Sya’bi menolak. Setelah asy-Sya’bi sedikit memaksa, akhir¬nya sang raja mengizinkannya kembali ke Damaskus. Sebe¬lum meninggalkan istana, Raja Romawi bertanya, “Apakah eng¬kau dari keluarga kerajaan?”
“Bukan, saya hanya salah seorang dari kaum Muslimin,” jawab asy-Sya’bi merendah.

Setelah memberikan izin untuk kembali, Raja Romawi berkata kepada asy-Sya’bi, “Kalau engkau sudah kembali menemui khali¬fah Abdul Malik, sampaikan kepadanya semua yang ingin diketahuinya. Lalu berikan surat ini kepadanya.” Raja Romawiitu memberikan sepucuk surat kepada asy-Sya’bi.

Setelah tiba di Damaskus, asy-Sya’bi langsung menemui Khalifah Abdul Malik dan membe¬ritahukan semua yang dilihat dan didengarnya serta menjawab semua yang ditanyakan kepa¬danya. Ketika Amirul Mukminin bangkit akan pergi, asy-Sya’bi berkata, “Wahai Amirul Mukminin, Raja Romawi menitipkan surat kepada saya untuk¬mu.” Lalu ia menyerahkan surat itu kepada Kha¬lifah dan berlalu pergi.

Setelah Khalifah Abdul Malik membaca surat, ia berka¬ta kepada beberapa pesuruhnya, “Panggil asy-Sya’bi dan suruh menghadapku.” Para pe¬su¬ruh pun memanggil asy-Sya’bi.
“Apakah engkau tahu isi surat ini, wahai asy-Sya’bi?” tanya khalifah begitu asy-Sya’bi menghadapnya.
“Tidak, wahai Amirul Mukminin,” jawab asy-Sya’bi cepat.
“Raja Romawi menulis su¬rat kepada saya yang isinya se¬perti berikut. ‘Aku sangat heran kepada orang Arab. Mengapa mereka mengangkat orang lain sebagai raja, bukan pemuda ini (maksudnya asy-Sya’bi)?”

Dengan segera asy-Sya’bi men¬jawab, “Dia (Raja Romawi) berkata seperti itu karena tak mengetahui Amirul Mukminin se¬cara langsung. Seandainya dia melihatmu lang¬sung, wahai Amirul Mukminin, tentu dia takkan berkata seperti itu.”

“Apakah kamu tahu, untuk apa Raja Ro¬mawi menulis surat begini kepadaku?”
“Tidak, wahai Amirul Mukminin,” jawab asy-Sya’bi polos.
“Sebenarnya dia menulis kepadaku seperti ini karena ingin menghasutku untuk mem-ben¬cimu. Dia ingin menyuruhku agar membunuh dan melenyapkanmu,” kata Abdul Malik.

Peristiwa yang dialami Imam asy-Sya’bi dan Khalifah Abdul Malik bin Marwan dalam kisah di atas meng¬gambarkan betapa musuh kaum Muslimin tak per¬nah diam. Mereka tak mau melihat adanya jalinan erat antara ulama dan umara. Pada ki¬sah di atas, Khalifah Abdul Malik bin Marwan adalah umara sedangkan Amir bin Syurahbil al-Himyari adalah seorang ulama. Antara ke¬duanya terjalin hubungan erat yang sangat baik.

Keadaan itu tentu saja tak menyenangkan hati Raja Romawi. Apalagi setelah ia menge-tahui watak dan kadar keilmuan asy-Sya’bi yang kala itu sangat berperan bagi Abdul Malik dalam menentukan kebijakan. Banyak kebijakan sang Khalifah yang justru lahir dari ide sang ulama. Sebaliknya, Khalifah Abdul Malik pun sangat menyegani sang ulama. Ia nyaris tak memutuskan suatu perkara besar, kecuali meminta pendapat Imam asy-Sya’bi lebih dulu.

Dalam suratnya itu, Raja Romawi sebenarnya mempunyai dua target. Pertama, se-andainya surat itu dibaca oleh Imam asy-Sya’bi, tentu akan membuat sang ulama bangga diri dan merasa “besar” di depan khalifahnya. Bisa jadi terbetik dalam haatinya untuk merebut kekuasaan. Namun, target ini tak tercapai karena asy-Sya’bi tak mem-buka surat tersebut, tapi langsung menyerahkannya pada sang khalifah. Imam asy-Sya’bi tahu, surat itu bukan untuknya tapi untuk sang Khalifah.

Kedua, seandainya surat itu dibaca oleh sang Khalifah, tentu akan menimbulkan rasa dengki di hatinya dan ada kemungkinan muncul keinginan untuk melenyapkan asy-Sya’bi dari lingkungan istana. Namun, lagi-lagi terget ini gagal. Khalifah Abdul Malik bukanlah orang yang mudah diadu domba. Selain itu, ia juga sudah sangat mengetahui watak asy-Sya’bi sehingga tak perlu ada yang dikhawatirkan.

Nah, di era sekarang, ulama (baca: orang yang mempunyai latar belakang ilmu syariah) sudah banyak yang duduk di kursi parlemen, bahkan tak sedikit yang justru berada di dalam lingkaran kekuasaan. Karenanya, tuntutan agar hubung¬an antara ulama dan umara mesti dipererat. Kematangan berpikir para ula¬ma dan umara sangat dituntut.

Eratnya hubungan antara ulama dan uma¬ra ini menjadi momok menakutkan bagi musuh-mu¬suh Islam. Mereka sangat kha¬wa¬tir, jika dua pihak ini bergandengan tangan, akan memper¬sulit gerak mereka. Sebaliknya, bagi umat Islam, terjalinnya hubungan antara ulama dan uma¬ra secara baik merupakan mo¬dal utama me¬lakukan pembangunan. Sejarah kejayaan umat Islam tak bi¬sa dilepaskan begitu saja dengan eratnya jalinan ulama dan umara ini.

Baik di masa pemerintahan Daulat Umay¬yah maupun Abbasiyah, hubungan ulama dan umara berjalan sangat baik. Para khalifah kedua ke¬rajaan itu, biasa memanggil ulama untuk minta nasihat. Sebaliknya, para ulamanya pun tak segan-segan memberikan nasihat pada para penguasa. Mereka melakukannya tanpa rasa takut dan khawatir. Sebab, mereka yakin nasihat para ulama itu akan didengar.

Adanya para ulama yang bisa mendam¬pingi umara tak lahir begitu saja. Ia dibe¬sarkan oleh iklim ilmu dan lingkungan yang baik. Asy-Sya’bi, tabiin yang lahir di Kufah enam tahun setelah khalifah Umar bin Khath¬thab wafat ini, merupakan pembelajar yang luar biasa. Mes¬kipun lahir dan dewasa di Ku¬fah, namun Madinah al-Munawarah men¬jadi dambaan hatinya.

Imam asy-Sya’bi diberi kemudahan oleh Allah un¬tuk bertemu dengan lima ratus sahabat Rasu¬lullah saw. Ia meriwayatkan hadits dari seba¬gian besar para sahabat senior, seperti Ali bin Abi Thalib, Saad bin Abi Waqqash, Zaid bin Tsabit, Ubadah bin Shamit, Abu Musa al-Asy’ari, Abu Said al-Khudhri, Nu’man bin Basyir, Ab¬dullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Adi bin Hatim, Abu Hurairah, Aisyah, dan lain-lain.

Asy-Sya’bi sangat mencintai ilmu pe¬ngeta¬huan. Ia mempunyai halaqah (majelis penga-jian) di Masjid Kufah. Para pengikutnya menge¬lilinginya secara berkelompok. Para sahabat Rasulullah yang masih hidup kala itu sering menghadiri majelisnya. Abdullah bin Umar per¬nah hadir. Ketika itu, asy-Sya’bi menceritakan beberapa peperangan dalam Islam secara rin¬ci di depan para jamaahnya. “Sa¬ya benar-benar telah menyaksikan de¬ngan mata kepala sendiri sebagian yang di¬ce¬ritakannya. Saya mende-ngar¬kannya lang¬sung dengan kedua telinga sa¬ya, tetapi dia tetap lebih baik daripada saya da¬lam men¬ceritakannya,” ujar Abdullah bin Umar.

Gambaran di atas membuktikan keluasan ilmu asy-Sya’bi dan ketajaman ingatannya. Ulama seperti inilah yang bisa menjadi pen¬damping para penguasa. Ia lahir dan besar ber¬sama ilmu dan pengetahuan.

Namun harus tetap diingat, para ulama yang memilih hidupnya untuk ‘dekat’ dengan para penguasa mesti sangat hati-hati. Ia sedang berada di wilayah yang sangat berbahaya. Ia seperti orang yang berada di tabir jurang yang dalam. Sedikit saja terpeleset, ia akan masuk dalam jurang kecelakaan.

Hudzaifah bin Yaman pernah memberikan nasihat, “Hindari oleh kalian tempat-tempat fitnah.” Ia ditanya, “Apa itu tempat-tempat fitnah?” Ia menjawab, “(Tempat-tempat fitnah) adalah pintu-pintu para penguasa: salah seorang di antara kalian masuk menemui seorang penguasa, lantas ia membenarkan penguasa itu dengan dusta dan menyatakan sesuatu yang tidak ada padanya.”

Said bin Musayyib, seorang tabiin juga menegaskan, ”Jika kamu melihat seorang alim bergaul dengan penguasa, maka hati-hatilah darinya karena sesungguhnya dia adalah pencuri.”

Sebagian ulama salaf juga menjelaskan, “Sesungguhnya tidaklah kamu mendapatkan sesuatu kehidupan dunia (dari para penguasa) melainkan mereka telah memperoleh dari agamamu sesuatu yang lebih berharga darinya.”

Jadi, ulama tak salah mendekati penguasa. Bahkan, ia bisa memainkan peran lobi. Inilah yang pernah dilakukan oleh Raja’ bin Haiwa’, seorang ulama besar yang hidup di masa Dinasti Bani Umayyah. Dialah yang berperan penting dalam suksesi pergantian jabatan dari Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik kepada kemenakannya Umar bin Abdul Aziz.

Raja’ bin Haiwa’ adalah penasihat para khalifah. Ia memang hidup di kalangan istana, tapi sikapnya terhadap penguasa meninggalkan jasa besar bagi Islam dan kaum Muslimin. Tak heran kalau literatur sejarah mengenalnya dengan Musyirul Khalifah (Penasihat Khalifah).

Jadi, saatnya ulama dan umara bergandengan tangan.

http://hepiandi.com/index.php?mods=telaah&module=detailartikel&id=4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: