Memupus Egoisme

Jenazah Rasulullah saw masih terbaring. Di salah satu sudut Madinah, tak jauh dari pasar, berkumpul beberapa sahabat Rasulullah saw. Mereka adalah kaum Anshar yang sedang membicarakan kepemimpinan kaum Muslimin pasca wafatnya Rasulullah saw. Saad bin Ubadah yang saat itu sedang sakit, diminta berbicara. Ia adalah tokoh terkemuka Bani Saidah dari kalangan Khazraj yang juga termasuk di antara peserta Baiatul Aqabah Kedua. Karena saat itu suaranya lemah, ia pun menyuruh salah seorang putranya untuk mengulangi kata-katanya dengan suara keras agar didengar oleh semua yang hadir.

Ibnu Jarir ath-Thabari mencatat pidato Saad bin Ubadah ini dalam Tarikh-nya juz II/242. Intinya, kaum Ansharlah yang berjasa besar mendukung dan melindungi Rasulullah saw dalam berdakwah. Karenanya, setelah Rasulullah saw wafat, kepemimpinan tak boleh berada di tangan orang lain. “Pimpinan itu hak kamu dan bukan hak siapa pun di luar kamu,” demikian Saad menutup kata-katanya.

Kaum Muhajirin yang masih berkerumun di sekitar kediaman Rasulullah saw mendengar adanya pertemuan Bani Saidah. Mereka berbondong-bondong ingin pergi ke tempat itu. Namun segera dicegah Abu Bakar. Akhirnya, mereka sepakat untuk mengutus Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khaththab dan Abu Ubaidah bin Jarrah.

Ketiga tokoh itu masih sempat mendengar bagian akhir kata-kata Saad bin Ubadah. Dapat dibayangkan betapa marahnya Umar. Ia bermaksus maju dan menampik pidato Saad. Namun Abu Bakar buru-buru mencegahnya.

Tokoh senior yang disegani semua pihak ini segera mendinginkan suasana. Ia berbicara cukup lama, memuji kedua belah pihak: Anshar dan Muhajirin. “Wahai sahabat Anshar, tak seorang pun yang bisa menyangkal keutamaan kalian. Allah telah memanggil kalian dengan Anshar (penolong), baik bagi agama maupun bagi Rasul-Nya. Setelah Muhajirin, tak ada yang mempunyai keutamaan seperti kalian. Kami adalah umara’ (penguasa) dan kalian adalah wuzara’ (menteri). Kalian adalah tempat berunding. Tak ada keputusan tanpa kalian.”

Meski kata-kata Abu Bakar sedingin salju, tapi karena sebelumnya kalangan Anshar telah mendengar kata-kata Saad bin Ubadah, di antara mereka segera menyanggah ucapan Abu Bakar yang menyebut mereka sebagai wuzara’. Khabab bin Mundzir segera berdiri. Kata-katanya cukup tajam menusuk telinga. Di akhir ucapannya dia berseru kepada para sahabatnya, “Jika mereka enggan menerima kenyataan ini, maka jalan satu-satunya adalah: kita punya amir (pemimpin) dan mereka punya amir.”

Tak terbayangkan kemarahan Umar. Ia pun segera berseru, “Tidak! Tak mungkin dua (kelompok) berada dalam satu tanduk. Allah takkan ridha kalian memegang kekuasaan karena Nabi bukan dari kalangan kalian.”

Kata-kata Umar itu kembali membakar emosi kaum Anshar. Khabab bin Mundzir membalas dengan kata-kata yang tak kalah tajam. Bahkan, di akhir ungkapannya ia berkata kepada para sahabatnya, “Demi Allah, jika kalian mau, mari kita ulang sejarah lama.”
Umar benar-benar tak kuasa menahan emosi. “Allah akan membunuhmu!” seru Umar.
“Engkau yang akan dibunuh Allah!” balas Khabab.

Ketegangan benar-benar memuncak. Perkelahian antar saudara di ambang mata. Suasana tegang. Semua yang hadir menahan napas. Di tengah ketegangan itulah Abu Ubaidah bin Jarrah segera maju ke depan. Pembawaannya yang penuh wibawa mampu meredam suasana. Ia pun berucap pelan tapi tegas, “Wahai para sahabatku dari kaum Anshar! Kalian adalah pihak yang pertama-tama membantu. Janganlah kalian menjadi orang yang pertama kali juga berubah pendirian.”

Kata-kata Abu Ubaidah singkat tapi benar-benar menusuk ke dalam hati kaum Anshar. Mereka diam dan menundukkan kepala. Basyir bin Saad, salah satu tokoh utama dari suku Khazraj segera berkata, “Saudara-saudaraku kalangan Anshar. Kita semua memperoleh kedudukan mulia dan paling utama dalam berjihad. Semua itu kita lakukan tak lain untuk mengharapkan ridha Ilahi dan tunduk kepada Muhammad. Lalu, layakkah kita mempersoalkan tentang kepemimpinan? Bukankah Muhammad itu dari suku besar Quraisy. Kaumnyalah yang lebih berhak untuk memegang pimpinan. Demi Allah, saya sendiri merasa tak pantas mempersoalkan masalah ini. Mari kita bertakwa kepada Allah dan jangan saling berbantah.”

Kata-kata bijak itu menyentak suasana tegang. Semua menarik napas lega. Suasana segar itu dimanfaatkan sebaik mungkin oleh Abu Bakar untuk lebih mendinginkan suasana. Ia pun maju dan berkata, “Mari kita pusatkan perhatian pada dua orang. Mari kita pilih Umar atau Abu Ubaidah!”

Hampir bersamaan keduanya spontan berkata, “Tidak! Kami takkan menyerahkan pimpinan kecuali kepadamu. Engkau tokoh termulia dari kalangan Muhajirin. Orang kedua dalam gua Tsur. Pengganti imam shalat setelah Rasulullah saw wafat. Tak ada yang layak selain engkau. Ulurkan tanganmu, kami akan membaiatmu.”

Keduanya segera berjalan ke arah Abu Bakar untuk membaiatnya. Namun, mereka didahului Basyir bin Saad yang segera memegang tangan Abu Bakar dan membaiatnya. Tindakannya itu seolah pancaran arus listrik yang menyentakkan kesadaran kaum Anshar. Mereka pun berdesak-desakkan membaiat Abu Bakar. Tak cukup sampai di situ, mereka beramai-ramai mengarak Abu Bakar ke Masjid Nabawi dan baiat pun berlangsung secara umum.

Terpilihnya Abu Bakar ash-Shiddiq sebagai khalifah pengganti Rasulullah saw itu merupakan buah dari segala kemampuan para sahabat mengendalikan emosi dan memupus egoisme. Keimanan dan cinta pada Islam-lah yang mampu meredam, mengendalikan dan menghapus fanatisme kesukuan.
Kini, kemampuan memupus egoisme itu kembali dituntut. Bukan untuk sekadar menguji tingkat keimanan, tapi musuh terlalu besar untuk kita hadapi sendiri-sendiri. Kita memerlukan para pemimpin yang tak hanya mampu memimpin partai, organisasi atau suku. Tapi juga, pemimpin yang lapang dada, diterima banyak kalangan dan semata berjuang untuk Islam.

Tak ada yang mampu meredam segala bentuk perpecahan, selain cinta kepada Islam. Kemampuan mengendalikan emosi kepentingan, berbanding lurus dengan tingkat kebenaran cinta pada Islam. Semakin baik kecintaan kita, semakin besar kemampuan kita mengendalikan emosi dan memupus egoisme.

hepi andi bastoni

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: