Takut pada Allah

Oleh: Hepi Andi Bastoni

Malam itu Abu Bakar ash-Shiddiq tak bisa tidur. Sahabat dekat Rasulullah saw itu mendesah panjang. Perutnya terasa lapar. Tiba-tiba seorang budaknya datang. Seperti diriwayatkan dari Zaid bin Arqam dalam Shahih al-Bukhari, budak itu datang membawa makanan. Karena memang sedang lapar, Abu Bakar langsung menyantap makanan itu. “Ada apa dengan Tuan? Biasanya Anda selalu menanyakan sesuatu,” tanya budak tersebut.
“Saya sangat lapar. Dari mana engkau mendapatkan makanan ini?” tanya Abu Bakar.

“Dulu aku pernah melewati sekelompok kaum jahiliyah. Lalu melalukan jampi-jampi buat mereka. Mereka pun menjanjikan sesuatu untukku. Ketika hari ini (tadi) aku melewati mereka, orang-orang itu sedang berpesta. Lalu, mereka memberiku makanan ini,” papar budak itu.

Spontan Abu Bakar ash-Shiddiq menghentikan kunyahan makanannya. Ia pun segera menghardik, “Celaka. Engkau telah mencelakakanku!”

Buru-buru Abu Bakar memasukkan jarinya ke dalam mulut untuk mengambil makanan di tenggorokannya. Ia pun berusaha memuntahkan makanan itu. Tapi tetap tidak bisa.

Abu Bakar segera mengambil segelas air kemudian meminumnya hingga muntah. Lalu ia mengambil makanan itu dan membuangnya. “Seandainya makanan itu tidak bisa dikeluarkan kecuali dengan mengeluarkan nyawaku, maka aku pasti akan melakukannya. Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Setiap jasad yang tumbuh dari sesuatu yang haram, maka nerakalah yang pantas baginya.’ Karena itu, aku takut tubuhku tumbuh dari makanan ini.”

Selain dermawan, Abu Bakar ash-Shiddiq juga dikenal wara dan begitu takut kepada Allah. Kisah yang juga pernah ditulis oleh Ahmad Salim Baduwailan dalam Jawahiru Shifat ash-Shafwah di atas menggambarkan sikap waranya.

Abu Bakar bukanlah satu-satunya teladan sikap wara dan takut pada Allah. Dalam lembaran sirah, kita juga menemukan sosok Umar bin Khaththab. Abdullah bin Isa pernah mengatakan, di wajah Umar bin Khaththab ada dua garis hitam bekasnya menangis. Demikian juga dengan para sahabat Rasulullah saw yang lain. Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Amr bin Ash dan beberapa sahabat lainnya, sering ditemukan menangis dalam kesendiriannya.

Ibnu Umar berkata, “Barangsiapa membeli baju dengan sepuluh ribu dirham, namun dari sepuluh ribu dirham tersebut ada satu dirham yang haram, maka Allah tidak menerima amalnya selama baju itu masih menempel di tubuhnya.” Ibnu Abbas menambahkan, “Allah tidak menerima shalat seseorang yang di dalam perutnya ada sedikit makanan haram.”

Begitu juga dengan mereka yang hidup pada masa era tabi’in. Diriwayatkan oleh Alqamah bin Mirtsad bahwa istri Masruq bin Ajda, seorang tabi’in, pernah bertutur tentang suaminya. “Dia (Masruq) tidak pernah sujud kecuali sampai kedua betis kakinya bengkak karena begitu lamanya shalat. Setelah selesai menangis, ia ditanya, ‘Mengapa kamu susah?’ Dia menjawab, ‘Bagaimana aku tidak susah, sedangkan dunia ini hanya sekejap dan aku tidak tahu ke mana langkahku. Di hadapanku ada dua jalan, dan aku tidak tahu ke surga atau neraka.’”

Amr bin Qais pernah meriwayatkan, Syaqiq bin Salamah al-Asadi masuk ke masjid untuk shalat. Kemudian ia menangis seperti perempuan yang tersedu-sedu.

Begitulah gambaran ibadah para salafush shalih. Begitulah ketakutan mereka terhadap Allah. Kondisi inilah yang membawa mereka pada sikap wara dan selalu berhati-hati. Para salafus shalih sangat berhati-hati terhadap apa yang akan masuk ke mulut dan perutnya. Mereka amat wara dalam menjauhi hal-hal yang syubhat apalagi yang haram.
Di zaman yang penuh godaan seperti sekarang, kita membutuhkan cermin keteladanan dari para ulama itu. Apalagi di tengah kondisi sulitnya memetakan yang haram dan halal. Ungkapan “mencari yang haram saja susah apalagi yang halal” sering terdengar di telinga kita. Tindak korupsi, praktik riba dan sederet perbuatan buruk lainnya menari di depan mata. Kita seperti tengah dipertontonkan pada sebuah pertunjukan yang membuat kita harus memilih: ikut dalam pertunjukan itu atau sekadar menonton. Masalahnya, sampai kapan kita kuat hanya menjadi penonton kalau orang-orang sekitar kita telah larut dalam pertunjukan itu. Mulanya dianggap darurat, lalu syubhat, kemudian halal untuk dirinya sendiri. Ujungnya, ia pun mengajak orang lain untuk melakukan kejahatan seperti yang ia kerjakan.

Inilah yang diisyaratkan Rasulullah dalam sabdanya, “Akan datang suatu zaman, seseorang tidak akan peduli terhadap apa yang ia ambil, apakah itu halal atau haram,” (HR Bukhari).

Mungkin dalam kondisi normal, kita sanggup bertahan. Dalam kondisi berkecukupan mungkin kita bisa menolak tindak korupsi. Dalam kondisi berkecukupan mungkin kita bisa melepaskan diri dari jerat riba. Namun bisakah kita bertahan dalam kondisi: ketika uang kontrakan rumah sudah nunggak tiga bulan, pelunasan uang pendidikan anak sudah habis masa toleransinya, anak sakit dan menuntut pembiayaan yang tidak murah? Mampukah kita bertahan saat teman-teman seangkatan sekolah dulu masing-masing sudah menetap di perumahan mewah sementara kita masih hidup dari rumah ke rumah menjadi “kontraktor”. Bisakah kita tetap bertahan saat rekan sekantor kita telah nyaman dengan kendaraan pribadinya? Sanggupkah kita bertahan dalam kondisi demikian saat segepok dana haram menumpuk di depan mata?
Barangkali, jika kondisi itu muncul sesekali masih banyak di antara kita yang bisa bertahan. Tapi bagaimana jika kondisinya berlangsung terus menerus? Kita benar-benar seperti dipertontonkan pada pertunjukan yang berlangsung selama 24 jam. Kondisi kita seperti orang yang harus memegang bara api. Dibuang lepas dipegang panas.
Para sahabat Rasulullah saw dan salafush shalih umat ini telah mampu melewati masa-masa itu. Kuncinya, mereka tetap memelihara rasa takut kepada Allah. Di mana pun berada. Dengan demikian mereka bisa menjaga dirinya, keluarga dan orang-orang sekitarnya. Allah mengingatkan, “Wahai orang-orang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu,” (QS at-Tahrim : 6).

Rasa takut kepada Allah akan membebaskan kita dari jerat dosa dan maksiat. Semakin tinggi tingkat khauf (takut) kita pada Allah, kian besar juga peluang kita untuk bertahan dalam kebenaran. Di sinilah sifat al-Khauf sejalan dengan tingkat keimanan seseorang.
Iman yang kuat akan mendorong seseorang untuk lebih bertaqwa atau takut kepada Allah, sehingga segala godaan untuk melakukan larangan-Nya dan godaan untuk meninggalkan perintah-Nya dapat dikalahkan. Sebaliknya iman yang lemah akan menjadikan seseorang lebih liar, dan bahkan rasa takutnya kepada Allah dapat dilumpuhkan oleh selain-Nya, sehingga segala rayuan syaitan yang datang kepadanya tidak dapat dihindarkan. Perintah agama diabaikan sedangkan larangannya dikerjakan.
Semua kenyataan ini kembali kepada kata kunci atau muaranya, yaitu kualitas iman dan takwa kepada Allah SWT. Orang-orang yang takut kepada Allah ialah golongan yang selamat dari keinginan untuk melakukan aksi jahat dan berbuat maksiat. Al-Qur’an menegaskan, orang yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya tidak lain adalah orang-orang yang berilmu.

Allah berfirman, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama,” (QS Fathir: 28).

Diriwayatkan dari Abu Hayyan At-Taimy, bahwa dia berkata, “Orang-orang yang berilmu terdiri dari tiga golongan: Pertama, orang yang mengetahui Allah namun tidak mengenal perintah Allah. Kedua, orang yang mengetahui perintah Allah namun tidak mengenal Allah. Ketiga, orang yang mengetahui Allah dan juga mengetahui perintah Allah.” (Kitabul Iman, Imam Ibn Taimiyah).

Sedangkan Imam Ibn Taimiyah menegaskan, “Selagi seseorang melakukan sesuatu, sementara dia juga mengetahui bahwa sesuatu itu mendatangkan mudharat kepadanya, maka orang seperti ini layaknya orang yang tidak berakal. Sebab, ketakutan kepada Allah mengharuskan ilmu tentang Allah, maka ilmu tentang Allah juga mengharuskan ketakutan kepada-Nya. Takut kepada Allah harus melahirkan ketaatan kepada-Nya. Orang-orang yang takut kepada Allah adalah orang-orang yang mengerjakan perintah-perintahNya serta menghindari segala bentuk larangan-Nya.”

http://hepiandi.com/index.php?mods=telaah&module=detailartikel&id=3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: