BULAN SURO BULAN KESELAMATAN

Ust. Hasan Bishri, Lc.

Bulan Suro adalah bulan pertama dalam Kalender Jawa Islam, sedangkan Muharram adalah bulan pertama dalam Kalender Hijriyah. Bagi orang Jawa atau mereka yang menggunakan Kalender Jawa Islam, bulan Suro adalah nama lain dari bulan Muharram. Mungkin nama Suro itu diambil dari nama hari yang sangat fenomenal di bulan ‘Asyura, yaitu hari kesepuluh yang dalam syari’at Islam disebut dengan hari ‘Asyura (‘Asyuro).

Pada masa pra-Islam, ‘Asyura diperingati sebagai hari raya resmi bangsa Arab. Pada masa itu orang-orang berpuasa dan bersyukur menyambut ‘Asyura. Mereka merayakan hari itu dengan penuh suka cita sebagaimana hari Nawruz yang dijadikan hari raya di negeri Iran.
Dalam sejarah Arab, hari ‘Asyura (10 Muharram) adalah hari raya bersejarah. Pada hari itu setiap suku mengadakan perayaan dengan mengenakan pakaian baru dan menghias kota-kota mereka. Sekelompok bangsa Arab, yang dikenal sebagai kelompok Yazidi, merayakan hari raya tersebut sebagai hari suka cita. (Wikipedia).

Suro Hari Keselamatan

Dalam beberapa kitab disebutkan bahwa banyak peristiwa heroik (kegembiraan dan keselamatan) yang terjadi di bulan Muharram (Suro), terutama di tanggal sepuluh (‘Asyura). Di antaranya adalah; hari diterimanya taubatnya Nabi Adam ‘alaihis salam. Hari berlabuhnya kapal Nabi Nuh ‘alaihis salam hingga para penumpangnya di dalamnya selamat dari banjir bandang. Hari selamatnya Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dari kobaran api Raja Namrud.
Hari keluarnya Nabi Yunus ‘alaihis salam dari perut Ikan. Hari kesembuhan Nabi Ayyub ‘alaihis salam dari penyakit yang telah dideritanya selama 18 tahun. Hari dibebaskannya Nabi Yusuf ‘alaihis salam dari penjara akibat fitnah Zulaikha. Namun dari sekian banyak peristiwa bersejarah tersebut, penulis hanya menemukan 2 peristiwa saja yang dilandaskan pada dalil hadits yang shahih. Sedangkan peristiwa lainnya hanyalah qiila wa qoola (katanya atau konon).

Shahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaih wa sallam tiba di Madinah, beliau menjumpai orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura’. Beliau bertanya kepada mereka: “Hari apa ini, kalian berpuasa padanya?” Mereka menjawab: “Hari ini adalah hari Istimewa, di mana Allah telah menyelamatkan Nabi Musa ‘alaihis salam beserta kaumnya, dan Allah menenggelamkan Fir’aun beserta pasukannya. Nabi Musa ‘alaihis salam berpuasa (padanya) sebagai rasa syukur kepada Allah, oleh karena itu kami juga berpuasa. Rasulullah bersabda: “Kami lebih berhak dan lebih utama kepada Nabi Musa dari pada kalian”. Rasulullah pun tetap berpuasa, dan beliau memerintahkan (para sahabatnya) untuk berpuasa juga.” (HR. Muslim).

Abu Hurairah radhiyallahu’anh berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaih wa sallam melewati sekelompok orang Yahudi yang sedang berpuasa pada hari ‘Asyura’. Rasulullah bertanya: “Kalian puasa apa ini?” Mereka menjawab: “Hari ini adalah hari di mana Allah menyelamatkan Nabi Musa ‘alaihis salam dan Bani Israil dari tenggelamnya (di Laut Merah). Pada hari ini juga Allah menenggelamkan Fir’aun. Pada hari ini juga perahu Nabi Nuh ‘alaihis salam berlabuh di gunung Judiy. Nabi Nuh dan Nabi Musa ‘alaihimas salam pun berpuasa padanya sebagai rasa syukur kepada Allah”. Rasulullah bersabda kembali: “Aku lebih berhak atas Musa, dan aku juga lebih berhak untuk berpuasa pada hari ini”. Rasulullah pun memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa juga.” (HR. Ahmad).

Suro Bukan Bulan Sial

KH. Musthofa Bisri hafizhohullah (Pengasuh Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin, Rembang, Jawa Tengah yang sering dipanggil dengan Gus Mus), pernah ditanya ‘Kenapa bulan Suro dianggap bulan sial?’ Beliau berkata, kalau ada kepercayaan bahwa bulan Suro itu merupakan “bulan gawat” atau “bulan sial”, boleh jadi itu ada kaitannya dengan tragedi terbunuhnya sayyidina Huesin bin Ali radhiyallohu’anhuma yang terjadi pada hari Asyuro di tanggal sepuluh bulan Muharram. Dalam khazanah kitab kuning sendiri, ada juga pendapat yang menghubung-hubungkan puasa Asyuro dnegan musibah Husein tersebut.

Selain itu, maaf, saya tidak tahu. Mengapa orang mengira bulan Suro itu bulan “serem”, mengapa orang pada mengeluarkan senjata dan memandikannya, mengapa orang “nyiriki” bulan itu untuk melaksanakan perhelatan dan sebagainya, terus terang saya tidak tahu. Kalau hal itu benar, artinya bulan itu memang bulan “gawat” dan “sial” ya kasihan orang Jawa dong. Wong yang punya Suro cuma orang Jawa.” (Pesantren Virtual.com).

Ada satu lagi menurut penulis yang menyebabkan banyak orang yang menganggap bulan Suro adalah bulan Sial. Yaitu pengaruh keyakinan animisme dan dinamisme yang masih melekat dalam keyakinan mereka. Sebagaimana diceritakan dalam dunia Wayang. Ada sosok Batara Kala (Raksasa jahat pemangsa manusia), yang katanya berkeliaran di bulan Suro ini untuk mencari mangsa. Batara Kala mengincar anak manusia yang tipenya Sukerta (salah kejadian) untuk dijadikan mangsa. Sehingga manusia tipe Sukerta harus diruwat agar selamat. Itu kata mereka.

Jangan Mencela Bulan Suro

Sesungguhnya kita tidak boleh mencela waktu termasuk bulan Suro, yaitu mengatakan bahwa hari ini hari sial, bulan ini bulan naas, dan perkataan lain yang sejenis. Karena masa atau waktu itu beredar dan berputar tidak dengan sendirinya, tapi ada yang mengaturnya, yaitu Allah. Kalau kita mencela waktu atau masa, itu sama halnya dengan mencela yang mengatur dan memutar waktu, yaitu Allah. Dan itu merupakan sikap kurang ajar dan tidak sopan, pelakunya telah berbuat dosa besar dan akan mendapat adzab yang pedih.
Dalam hadits qudsi disebutkan, bahwa Allah ’Azza wa Jalla berfirman,’Aku disakiti oleh anak Adam. Dia mencela waktu, padahal Aku adalah (pengatur) waktu, Akulah yang membolak-balikkan malam dan siang.” (HR. Muslim no. 6000).

Dalam riwayat lain, “Allah ’Azza wa Jalla berfirman,’Aku disakiti oleh anak Adam. Dia mengatakan ‘Ya khoybatad dahr’ [ungkapan untuk mencela waktu, pen]. Janganlah seseorang di antara kalian mengatakan dengan berkata: ‘Ya khoybatad dahr’. Karena Aku adalah (pengatur) waktu. Aku-lah yang membalikkan malam dan siang. Jika suka, Aku akan menggenggam keduanya.” (HR. Muslim no. 6001).

Bulan Suro atau Muharram seperti bulan yang lain. Kalau kita isi dengan kezhaliman dan kemaksiatan, maka pelakunya akan mendapatkan dosa dan murka Allah. Kalau kita isi dengan ketaatan dan ibadah kepada Allah, maka akan menjadi bulan keberuntungan karena pelakunya dapat limpahan pahala dari Allah. Bahkan Syari’at Islam telah menegaskan bahwa bulan Muharram itu bulan Suci, bulan dilipatgandakannya pahala dari kebaikan kita, dan bulan dilipatgandakannya dosa dari kemaksiatan kita, sebagaimana yang tersirat dalam firman Allah di surat at-Taubah ayat 36. Demikian, semoga bermanfaat, wallohul musta’an.

http://majalahghoib.weebly.com/membongkar-mitos-bulan-suro.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: