BULAN SURO BULAN NAAS

Ust. Hasan Bishri, Lc

Pendahuluan

Bismillah wal Hamdulillah. Sampai saat ini masih banyak kaum muslimin yang tinggal di negri ini meyakini bahwa bulan suro adalah Bulan Naas (Sial). Apakah keyakinan itu dibenarkan dalam syari’at Islam? Lalu bagaimana kita menyikapinya? Bulan Suro adalah bulan pertama dalam kalender Tahun Jawa. Karena kalender tahun Jawa disamakan konsepnya dengan kalender Islam Hijriyah, maka bulan suro sama dengan bulan Muharram dalam hitungan tahun Hijriyah. Entah mengapa, nama Muharram diganti dengan Suro.
Menurut hemat penulis, bulan Suro itu diambil dari hari yang monumental di bulan Muharram itu sendiri, yaitu hari ‘Asyuro. Hari yang jatuh pada tanggal sepuluh Muharram dalam kalender Hijriyah. Karena penyebutan ‘Asyuro agak berat pengucapannya di lidah orang Jawa, maka diambillah kata ujungnya aja, yaitu Suro.
Sedangkan untuk mengetahui jawaban pastinya tentu kita harus bertanya kepada para pendahulu kita yang telah merumuskan konsep penentuan kalender Islam ala Jawa tersebut. Dan menurut sumber yang ada, si pencetus Kalender Islam ala Jawa adalah Sultan Agung Mataram.

Perumus Kalender Jawa

Pada waktu Sultan Agung berkuasa, Islam telah diakui menjadi agama di lingkungan istana Mataram Islam. Maka untuk tetap meneruskan penanggalan Tahun Saka yang berasal dari leluhurnya, dan ingin mengikuti penanggalan Tahun Hijriyah, maka Sultan Agung membuat kebijakan mengubah Tahun Saka menjadi Tahun Jawa. Maka ketika tahun 1555 Saka, oleh Sultan Agung diganti menjadi tahun 1555 Jawa dan berlaku untuk masyarakat pengikutnya. Sementara penetapan tanggal dan bulannya disamakan dengan tanggal dan bulan Tahun Hijriyah. Berarti tanggal 1 Suro 1555 Tahun Jawa sama dengan tanggal 1 Muharram 1043 Hijriyah dan bertepatan pula dengan tanggal 8 Juli 1633 Masehi.
Nama-nama bulan pada Tahun Jawa pun dibuat lain dan berbeda dengan nama-nama Tahun Hijriyah. Tentu saja disesuikan dengan ucapan masyarakat Jawa. Seperti bulan Muharram di tahun Jawa menjadi bulan Suro, bulan Shafar = Sapar, bulan Rabi’ul Awal = Maulud, bulan Rabi’ul Tsani = Bakda Maulud, bulan Jumadil Ula = Jumadil Awal, bulan Jumadil Tsaniyah = Jumadil Akir, bulan Rajab = Rejeb, bulan Sya’ban = Ruwah, bulan Ramadhan = Poso, bulan Syawwal = Sawal, bulan Dzulqa’dah = Dulkaidah, dan bulan Dzulhijjah = Besar.

Keutamaan Bulan Suro

Jika yang kita maksud dengan bulan Suro di sini adalah bulan Muharram seperti dalam hitungan kalender Islam Hijriyah, maka bulan Suro adalah bulan yang mulia. Karena bulan Suro termasuk empat bulan yang disucikan, yang dalam bahasa al-Qur’an dan Hadits disebut sebagai “arba’atun hurum”. Sebagaimana yang tercantum dalam surat at-Taubah ayat 36.
Allah ta’ala berfirman, “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram (suci). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah menganiaya diri dalam bulan yang empat itu…”. (QS.At-Taubah: 36).

Bulan apa saja yang masuk dalam kelompok aarba’atun huru (empat bulan yang disucikan atau dimuliakan)? Rasulullah menjawab pertanyaan itu melalui sabdanya, “Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana bentuknya semula di waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan diantaranya terdapat empat bulan yang dihormati: tiga bulan berturut-turut; Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab, bulan yang terhimpit antara bulan Jumada Tsaniah dan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Bahkan Rasulullah menyebut bulan Suro (baca; bulan al-Muharram) sebagai bulan Allah (syahrulloh). Dan tidaklah suatu nama disandarkan (disandingkan) dengan nama Allah (lafzhul Jalalah), kecuali nama itu adalah mulia atau menjadi mulia di sisi Allah. Seperti baitullah (rumah Allah) sebagai sebutan untuk masjid. Kitabullah (kitab Allah) sebagai sebutan untuk al-Qur’an. Dan lain-lainnya.

Suro bulan Kemenangan

KH. Musthofa Bisri hafizhohullah (Pengasuh Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin, Rembang, Jawa Tengah yang sering dipanggil dengan Gus Mus), pernah ditanya ‘Kenapa bulan Suro dianggap bulan sial?’ Beliau berkata, kalau ada kepercayaan bahwa bulan Suro itu merupakan “bulan gawat” atau “bulan sial”, boleh jadi itu ada kaitannya dengan tragedi terbunuhnya sayyidina Huesin bin Ali radhiyallohu’anhuma yang terjadi pada hari Asyuro di tanggal sepuluh bulan Muharram. Dalam khazanah kitab kuning sendiri, ada juga pendapat yang menghubung-hubungkan puasa Asyuro dnegan musibah Husein tersebut.

Selain itu, maaf, saya tidak tahu. Mengapa orang mengira bulan Suro itu bulan “serem”, mengapa orang pada mengeluarkan senjata dan memandikannya, mengapa orang “nyiriki” bulan itu untuk melaksanakan perhelatan dan sebagainya, terus terang saya tidak tahu. Kalau hal itu benar, artinya bulan itu memang bulan “gawat” dan “sial” ya kasihan orang Jawa dong. Wong yang punya Suro cuma orang Jawa.” (Pesantren Virtual.com).

Jika kita kembali kepada sejarah Islam, bulan Suro (baca; hari ‘Asyuro di bulan al-Muharram) justru dikenang sebagai bulan kemenangan dan kejayaan. ‘Asyuro Itu adalah hari baik, bukan hari sial atau naas. Tidak hanya kaum muslimin yang menganggap hari ‘Asyuro sebagai hari kemenangan, orang-orang Jahiliyah, orang-orang Yahudi dan Nashrani juga menganggap seperti itu. Lalu kenapa sebagaian kaum muslimin sampai saat ini masih punya anggapan bahwa bulan Suro sebagai bulan Naas. Masak lebih bodoh daripada orang Jahiliyah?
Riwayat berikut menegaskan bahwa Suro itu bulan kemenangan, bukan bulan Naas atau sial. Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma berkata, “Ketika Nabi Saw. tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi puasa pada hari Asyura, Nabi Saw. bertanya: ‘Hari apa ini?’ Jawab mereka: ‘Hari ini hari yang baik. Pada hari ini Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh-musuh mereka, karena itu Musa mempuasainya.’ Sabda Nabi Saw.: ‘Aku lebih berhak daripadamu dengan Musa. Karena itu Nabi Saw. Berpuasa di hari itu dan menyuruh (ummatnya) untuk berpuasa juga.'” (HR. Bukhari).

Suro, Puasa yang Utama

Jika yang kita maksud dengan suro di sini adalah bulan al-Muharram, maka puasa di bulan tersebut merupakan puasa sunnah yang paling utama. Dalam hadits yang shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ““Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah (yaitu) al-Muharram. Sedangkan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam”. (H.R. Muslim).
Imam Zamakhsyari rahimahullah berkata, “Bulan al-Muharram ini disebut syahrullah (bulan Allah), disandarkan pada lafazh jalalah ‘Allah’ untuk menunjukkan mulia dan agungnya bulan tersebut, sebagaimana pula kita menyebut ‘Baitullah‘ (rumah Allah) atau ‘Alullah‘ (keluarga Allah) ketika menyebut Quraisy. Penyandaran yang khusus di sini dan tidak kita temui pada bulan-bulan lainnya, ini menunjukkan adanya keutamaan pada bulan tersebut.” (Kitab Faidhul Qodir: 2/53).

Hari ‘Asyuro dan al-Muharram

Hari ‘Asyuro adalah hari kesepuluh di bulan Muharram. Ia merupakan hari yang sangat bersejarah, banyak peristiwa penting dan monumental dalam sejarah beradaban manusia yang terjadi di hari ‘Asyuro. Sehingga salah besar kalau saat ini ada yang berkeyakinan bahwa Suro merupakan hari sial atau bulan naas. Karena sejarah telah membuktikan akan agungnya hari ‘Asyuro, sehingga hari tersebut patut kita kenang dan kita syukuri.
Diantara peristiwa penting yang terjadi pada hari ‘Asyuro atau tanggal 10 Muharram adalah selamatnya Nabi Musa dan Kaumnya dari kejaran Fir’aun dan bala tentaranya. Itu merupakan karunia agung dari Allah bagi kaum yang beriman saat itu. Sehingga nabi Musa pun mengenangnya dengan melakukan ibadah puasa sebagai bentuk syukurnya pada Allah atas nikmat tersebut.

Dalam kehidupan nabi Musa, ‘Asyura saat itu merupakan hari keberuntungan bagi nabi Musa dan kaumnya, dan merupakan hari petaka bagi Fir’aun dan kaumnya. Jadi kalau kita menganggap Suro sebagai hari sial atau bulan naas, berarti kita termasuk kelompok Fir’aun dan bala tentaranya yang saat itu mengalami petaka saat itu, yaitu ditenggelamkan Allah dala lautan.
Ibnu Abbas radhiyallohu’anhuma berkata, “Ketika Rasulullah saw tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura, maka Beliau bertanya : “Hari apa ini? Mereka menjawab: “Ini adalah hari istimewa, karena pada hari ini Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, Karena itu Nabi Musa berpuasa pada hari ini. Rasulullah pun bersabda: “Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian”. Maka beliau nerpuasa dan memerintahkan shahabatnya untuk berpuasa. (HR. Bukhari dan Muslim).

Jangan mencela Suro

Sesungguhnya kita tidak boleh mencela waktu termasuk bulan Suro, yaitu mengatakan bahwa hari ini hari sial, bulan ini bulan naas, dan perkataan lain yang sejenis. Karena waktu itu beredar dan berputar tidak dengan sendirinya, tapi ada yang mengaturnya, yaitu Allah. Kalau kita mencela waktu, itu sama halnya dengan mencela yang mengatur dan memutar waktu, yaitu Allah. Dan itu merupakan sikap kurang ajar dan tidak sopan, pelakunya telah berbuat dosa besar dan akan mendapat adzab yang pedih.
Dalam hadits qudsi disebutkan, bahwa Allah ’Azza wa Jalla berfirman,’Aku disakiti oleh anak Adam. Dia mencela waktu, padahal Aku adalah (pengatur) waktu, Akulah yang membolak-balikkan malam dan siang.” (HR. Muslim no. 6000).
Dalam riwayat lain, “Allah ’Azza wa Jalla berfirman,’Aku disakiti oleh anak Adam. Dia mengatakan ‘Ya khoybatad dahr’ [ungkapan untuk mencela waktu, pen]. Janganlah seseorang di antara kalian mengatakan dengan berkata: ‘Ya khoybatad dahr’. Karena Aku adalah (pengatur) waktu. Aku-lah yang membalikkan malam dan siang. Jika suka, Aku akan menggenggam keduanya.” (HR. Muslim no. 6001).

Tiga Jenis pencela waktu

Tidak semua orang yang mencela waktu itu berdosa besar, tergantung niat (maksud) dan ungkapan kata-katanya. Dalam masalah ini ulama kita membagi menjadi tiga kategori, sebagaimana yang disampaikan oleh Syekh Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah (semasa hidupnya menjabat sebagai anggota dewan riset dan fatwa kerajaan Arab Saudi).

Pertama; jika orang tersebut hanya bermaksud memberitakan realita yang ada, bukan untuk mencela, maka ini dibolehkan alias tidak berdosa. Misalnya, saat musim kemarau berkepanjangan, ada orang berkata: ‘Udara siang ini panas sekali’. Atau saat mengalami krisis moneter, ada orang yang berkata, ‘Usaha kita saat ini mengalami kesulitan’. Dan ungkapan sejenis lainnya yang menceritakan kondisi yang ia alami apa adanya. Hal ini diperbolehkan karena setiap amalan tergantung pada niatnya. Ungkapan seperti itu pernah diucapkan oleh Nabi Luth, dan itu diabadikan dalam al-Qur’an. “Ini adalah hari yang amat sulit.” (QS. Hud: 77).

Kedua; jika orang tersebut berkeyakinan bahwa waktulah yang membuat dia tidak beruntung atau mengalami kesialan. Seakan mereka mengatakan bahwa ketidak beruntungannya disebabkan datangnya waktu atau bulan tertentu. Seperti bulan Suro ini. Banyak masyarakan kita yang berkeyakinan bahwa Suro merupakan bulan sial.
Jangan menggelar event atau acara di bulan Suro, karena akan engalami kegagalan atau kesialan. Mereka menganggap bahwa bulan Surolah yang membolak-balikkan perkara menjadi buruk, menjadi sial atau gagal. Ungkapan dan keyakinan seperti itu termasuk syirik akbar (besar). Karena hal ini berarti kita meyakini bahwa ada pengatur lain dalam hidup kita selain Allah atau bersama Allah.

Ketiga; jika orang tersebut mencela waktu, karena waktu adalah tempat terjadinya perkara yang dibenci, maka ini adalah haram (berdosa) tapi tidak sampai derajat syirik besar. Tindakan semacam ini termasuk tindakan bodoh (alias ’dungu’) yang menunjukkan kurangnya akal dan agama. Ia mengalami kegagalan dalam usahanya karena merasa waktu yang tidak tepat, waktu yang diyakini tidak memihak usahanya sehingga ia gagal total.
Hakikat mencela waktu, sama saja dengan mencela Allah karena Dia-lah yang mengatur waktu, di waktu tersebut Dia menghendaki adanya kebaikan maupun kejelekan. Maka waktu bukanlah pelaku. Tindakan mencela waktu semacam ini bukanlah bentuk kekafiran karena orang yang melakukannya tidaklah mencela Allah secara langsung.

Penutup

Allah ta’ala berfirman, “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.” (QS. Asy Syuraa: 30).
Syekh Shalih bin Fauzan hafizhohullah berkata, ”Jadi, hendaklah seorang mukmin bersegera untuk bertaubat atas dosa-dosanya dan bersabar dengan musibah yang menimpanya serta mengharap ganjaran dari Allah Ta’ala. Janganlah lisannya digunakan untuk mencela waktu dan hari, tempat terjadinya musibah tersebut. Seharusnya seseorang memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya serta ridho dengan ketentuan dan takdir-Nya. Juga hendaklah dia mengetahui bahwa semua yang terjadi disebabkan karena dosa yang telah dia lakukan. Maka seharusnya seseorang mengintrospeksi diri dan bertaubat kepada Allah Ta’ala.” (Lihat Kitab I’anatul Mustafid dan Syarh Masa’il Jahiliyyah)

Jadi, waktu dan bulan tidaklah mendatangkan kesialan dan musibah sama sekali. Namun yang harus kita ketahui bahwa setiap musibah atau kesialan yang menimpa kita sudah menjadi ketetapan Allah dan itu juga karena dosa yang kita perbuat. Maka kewajiban kita hanyalah bertawakkal ketika melakukan suatu perkara dan perbanyaklah taubat serta istighfar pada Allah ’azza wa jalla. Dengan demikian, jangan berkeyakinan bahwa bulan Suro adalah Bulan Sial. Wallohu ‘alam.

http://majalahghoib.weebly.com/membongkar-mitos-bulan-suro.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: